25 Juni 2011

598

Saya kembali!

Heheh... bertemu orang-orang yang bicara dengan pohon, menonton perdebatan Fred Singer lawan Pavel Kabat, mengunyah State of Fear-nya Crichton, mual-mual menonton ulang An Inconvenient Truth, jatuh cinta sama Bjørn Lomborg... akhirnya saya kembali ke posisi awal. Halah, nanaonan atuh Neng?

Emma memperkenalkan saya pada Plows, Plagues and Petroleum: How Humans Took Control of Cimate. Saya bertemu Emma di sebuah kursus, di mana kami harus membuat elevator pitch tentang penelitian kami. Maksudnya, berusaha menarik perhatian seseorang (profesor, calon bos, calon pemberi dana) dalam waktu setara satu kali naik lift. Kalimat pembuka Emma kira-kira adalah "It's not greenhouse gas that causing global warming", bukan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Sebagai seorang skeptik (karena skeptis itu seksi, hehe... ngomong-ngomong skeptik belum ada lema-nya di KBBI. peragu?), tentu saja saya langsung menyambar ide itu. Etapipak... jangan pernah percaya sama kalimat pembuka karena tujuannya cuma untuk menarik perhatian semata sehingga kadang menyesatkan. Berdiskusi singkat (walaupun tidak di lift), Emma merekomendasikan buku tersebut di atas dan saya menemukannya di perpustakaan. Oh... untungnya Bapak Ruddiman sudah 68 taun, kalau tidak mungkin saya juga ingin menikahinya :D

Ruddiman mula-mula membahas "sejarah" iklim. Sejak kehadiran manusia purba hingga 8000 taun yang lalu, iklim bumi hanya dipengaruhi faktor-faktor ini: orbit bumi terhadap matahari, bintik matahari, dan insiden-insiden masif seperti meteor jatuh atau gunung meletus. Dua faktor pertama menghasilkan siklus iklim yang relatif teratur dan konsisten terhadap berbagai temuan seperti jejak fosil dan konsentrasi karbondioksida dan metana (keduanya adalah gas-gas rumah kaca). Jadi runtuhlah harapan saya bahwa Ruddiman akan menyangkal peran gas-gas rumah kaca terhadap iklim.

Yang buat saya menakjubkan adalah ketika Ruddiman membahas perkembangan "peradaban" manusia dari 4 juta taun yang lalu ke 8000 taun yang lalu hingga sekarang. Selama 4 juta taun sejak manusia purba mulai berdiri di atas dua kaki, perkembangan signifikan selanjutnya terjadi 1,5 juta taun kemudian ketika jaman batu dimulai dan 3 juta taun kemudian ketika api "ditemukan". Kebayang gak bahwa manusia baru menggunakan api selama 1 juta taun terakhir? 150.000 taun yang lalu, manusia modern (Homo sapiens) berevolusi, mulai mengenal peralatan logam dan sistem kemasyarakatan, tapi masih berburu dan meramu serta nomaden. Baru sekitar 8.000 taun yang lalu manusia mulai menetap dan bertani.

Saya yakin tak ada orang yang tidak menyadari betapa besar lompatan teknologi yang dibuat manusia seabad terakhir ini. Teknologi yang saya pakai untuk mengetik tulisan ini mungkin bahkan belum terbayangkan 50 taun yang lalu. Tapi kalau diliat dari perspektif lain, teknologi abad XX dan XXI ini tak lain adalah buah 'berdiri di bahu raksasa' alias dibangun dari jutaan keping informasi yang dikumpulkan umat manusia sejak... 8.000 taun yang lalu?

Bayangkan ketika manusia pertama kali menyadari bahwa ia bisa membudidayakan tanaman. Membuka sawah dan ladang. Mengembangbiakkan ayam dan sapi dan kerbau. Membangun rumah. Membuat saluran irigasi. Saya gak bisa mendeskripsikannya seindah Ruddiman, tapi ketika membacanya saya benar-benar takjub. Super sekali

Baiklah. Hingga 8000 taun yang lalu iklim bumi berubah mengikuti siklus yang teratur. Begitu juga konsentrasi karbondioksida dan metana. Metana diproduksi oleh lahan basah seperti rawa-rawa. Sederhananya, ketika posisi bumi lebih dekat ke matahari, sirkulasi monsoon tropis yang memicu hujan menguat. Semakin banyak hujan, semakin luas lahan basah yang tergenang. Hal yang sama juga terjadi di daerah dekat kutub ketika sebagian es mencair. Dan karena metana adalah gas rumah kaca, maka terjadi umpan balik positif yang semakin meningkatkan suhu bumi. Tapi setelah beberapa lama posisi bumi menjauh dari matahari, suhu menurun, luasan lahan basah menyempit dan konsentrasi metana ikut berkurang. Demikian terjadi seterusnya.

Untuk karbondioksida, detailnya sedikit lebih rumit tapi ceritanya kurang lebih sama. Bumi mendekat ke matahari, suhu meningkat, karbondioksida meningkat, umpan balik positif. Bumi menjauh dari matahari, suhu menurun, karbondioksida menurun. Dan seterusnya.

(Haduh, kepencet 'publish post' padahal belum selesai ceritanya. Ntar dilanjut ya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar