not so egg-nymore
Saturday, May 24, 2008
9:33 AM

Awal minggu ini, gue ikutan konferensi Sanitation Challenge. Gak bawa makalah si, cuma nonton aja. Ini konferensi internasional pertama gue. Gila, seru aja. Tadinya gak kebayang gue bakalan ngapain karena... ya ampun, gue ngerasa culun banget. Gak bawa makalah, tesis masih nyari-nyari topik. Gue bahkan praktis baru belajar tentang pengolahan air buangan 4 bulan terakhir (yang di ITB gak diitung, udah gada bekasnya ;))). Sementara yang dateng kek yang dewa-dewa gitu :D. Tapi ternyata gue bisa juga tuh berdiskusi sama orang-orang yang dateng.

Ada beberapa catatan tidak penting, seperti kehadiran seorang peserta yang menurut hemat gue sangat mirip Todd Anderson :D Sayang dia selalu di sesi sebelah. Lalu, bahwa 'toilet' anyaman bambu yang suka nangkring manis di kolam ikan itu nama resminya adalah sky toilet. Haha, padahal gue suka menyebutnya helikopter :D Dan yang selalu membuat gue dan hadirin tertawa, adalah ketika ada peserta yang mempresentasikan sebuah sistem pengolahan air limbah yang ceritanya novel untuk diterapkan di negara maju, tapi menggunakan pengolahan biologis aerobik sebagai inti. Hmm... kalimat gue agak roaming dan mengandung sejumlah paradoks termasuk paradoks bahasa, karena sebenarnya tidak ada yang salah dengan pengolahan aerobik. Yang salah adalah ketika si peserta itu dengan naif melakukan presentasi di depan Gatze Lettinga, pakarnya pengolahan anaerobik. Ini analog dengan numpang syuting di STEMA, atau "ngelawak di depan Jojon" (Widyastama, 2002) :D

Catatan-catatan yang agak penting adalah sebagai berikut:
Pertama, sebenarnya hasil penelitian yang dipresentasikan di sini gak canggih-canggih amat. Terutama untuk skala penelitian, kalo mo dibandingin sama yang gue kerjain dulu, ga jauhlah. Dan emang sanitasi adalah bidang yang ruang lingkup teknologinya sangat luas, mulai dari cubluk sampe teknologi nano ;). Memandang sistem secara keseluruhan, apakah sistem itu tepat guna atau tidak, menjadi lebih krusial daripada jenis teknologi yang digunakan. Yang berbeda dengan apa yang gue kerjain dulu adalah cara melakukan penelitiannya. Perencanaan dan metode yang digunakan. Yang harusnya gue gunakan. Padahal perencanaan dan metode itu hal yang sangat dasar. Demikian juga dengan perumusan pertanyaan, yang harusnya diajarkan di kuliah filsafat ilmu yang harusnya diwajibkan di tingkat satu (hihi, ini topik lain lagi). Pingin jeduk-jedukin kepala ke meja rasanya. Yaa... mudah-mudahan ini cuma gue aja. Anggaplah itu kenaifan seorang peneliti pemula yang melakukan penelitian seenaknya sehingga hasilnya tidak dapat diandalkan dan tidak valid. Bahkan menurut gue sendiri yang ngelakuin.

Kedua, ternyata ada banyak negara yang jauuuh lebih menderita dari Indonesia. Liatlah negara-negara Afrika yang sibuk dengan kekeringan, kelaparan, dan perang saudara itu. Dengan mengecualikan beberapa daerah konflik, keadaan Indonesia harusnya jauh lebih baik. Segala jenis sumber daya harusnya ada. Dan rakyat harusnya tidak menderita, tidak antri beras, tidak antri minyak tanah, tidak rebutan subsidi BLT. Harusnya. Tapi tidak. Pelajaran moralnya adalah, Indonesia ternyata diurus secara salah oleh orang-orang yang tidak kompeten. Baru tau Ran? Pantesan metode penelitian lo ngaco ;))
[337] 2 comments

___________________________

Tuesday, May 20, 2008
9:31 PM

Bandung, 2001

Malam agaknya tidak pernah benar-benar turun di ruangan dua kali tiga meter persegi itu.

Ada keakraban yang kental dan pekat, sekental kopi dalam gelas-gelas bekas akua yang isinya tinggal separuh, sepekat asap rokok yang kotaknya bertuliskan peringatan pemerintah bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Tas-tas dengan warna asli yang meragukan digeletakkan sembarangan bersama buku Fluid Mechanics setebal lima senti. Di rak, Das Kapital bersisian dengan Pendidikan Kaum Tertindas dan Rich Dad, Poor Dad, di bawahnya Religion of Java, Bumi Manusia, Jejak Langkah, Supernova, Muslim Tanpa Masjid, Schaum's Outline of Discrete Mathematics, dan Kamasutra. Di sudut yang lain ada sebuah komputer yang monitornya menampilkan screensaver ikan dan speaker aktif-nya memutarkan Crawling untuk ketiga kalinya. Tak jauh, sebuah kaki telanjang tak sengaja menendang printer ringkih yang ditempeli kertas bertuliskan “print warna 400/lbr hitam-putih 250/lbr (kertas sendiri) kertas + 50/lbr”. Pemilik kaki itu tidur lelap, kepalanya tepat berada di bawah bendera dengan lambang dan tulisan “Pusat Studi Humaniora”.

Hanya jam dinding yang menunjukkan pukul 1.15 dan dengkur pelan pemuda awal 20-an itu saja yang sedikit menunjukkan bahwa saat itu adalah tengah malam. Atau dini hari, tepatnya. Empat orang lain di ruangan itu, juga pemuda awal 20-an, sedang membuat partai. Truf, permainan wajib mahasiswa se-Indonesia.

“Tiga… tiga… dua… lima…,” salah seorang dari mereka, pemuda gondrong dengan kaus putih yang belel sekali, menyeringai. “Ca?”

“Haha! Turun tiga-lah!” pemuda berkemaja kotak-kotak di sebelahnya menjawab dengan bersemangat sambil mengambil kartu lima sekop-nya.

“Anjiiis!” pemuda yang duduk tepat di seberang si gondrong, berkaus hitam dengan tulisan “Since 1920”, mengumpat.

Permainan-entah-ronde-keberapa dimulai. Suara lembut kartu dibanting diselingi umpatan dan makian yang agak kurang intelek sebenarnya. Dan percakapan agak serius.

“Hah? Karin mana lagi nih?”

“Hehe, multifokus itu penting kawan,” si pemegang truf menyeringai.

“Maksud lo multifokus tapi gak dapet satupun?” teman di sebelahnya, pemuda keriting dengan kaus merah, menyambar.

“Gak gitu. Multifokus tuh investasi perasaan lo lebih kecil tapi peluang keberhasilan lebih gede.”

Jam dinding bergerak malas ke pukul 2.00. Kartu-kartu masih dikocok dan dibagikan.

“Masukin racun ke sumber air. Itu cara yang paling gampang.”

“Bukannya air Cikapundung itu emang udah beracun?”

“Hahaha! Lo pikir yang lo minum hari-hari tuh aer apaan?”

“Maksud lo taro sianida di reservoir-nya PDAM?”

“Yaa… kira-kira gitulah.”

“Kalo gue sih, total demolition. Ratain aja pakek bom.”

“Gak kreatif lo.”

“Oh yeah, dan ide meracuni sumber air itu original ya?”

“Kenapa gak culik aja anaknya walikota, trus minta tebusannya apa… gitu.”

“Hah! Lo abis nonton apaan?”

“Kalo gue sih, gue sebar sebelas insinerator raksasa, kontrolnya gue bikin online, gue penuhin plastik. Kalo operasinya bareng dengan temperatur di bawah tiga ratus, gue jamin Bandung mabuk sama dioksin.”

“…”

“Anjiiis! Udah truf lagi?”

Kangen. Kangen bugos. Kangen presidium malam. Kangen diskusi teologi. Kangen Jeproet Society.
Bonus track: tata cara bermain truf dan perangkat lunak yang mendukung
[336] 2 comments

___________________________

Friday, May 09, 2008
7:36 AM

Subj:aku telat magdalena lenny
Untuk week day (ataupun week end sama saja... sighhh), aku baru kelar lab work around 7pm. Paling cepet 6:30pm.
tergantung kerjaannya beres tepat waktu atau ngga.
Tapi pkknya seberesnya dr lab aku k hoevestein, ok?
Ih pengen ikut ke Nijmegemmmmm,,hikshikssss :(

Lenny
Subj:Re: aku telat ahmad komarulzaman
waduh len... kirain telat apaaaaaan, boro pas baca judulnya udah pucet:-S, koq ngadu telat ke gw, emang gw ngapainnnnn...
eeeeeh ternyata...#-o

-ak-

Subj:Re: aku telat Widyarani
Lho, kok elo yg pucet mad? emang lo ngapain??? :))

rani

Subj:[OOT]Re: aku telat ahmad komarulzaman
makanya prasaan pengalaman berkunjung ke kamar leni tuh baru 2 malem yang lalu deh..
itu juga cuman ngoprek2 sapedah...ga lebih ga kurang...iyakan len??:-/

Subj:[OOT]Re: aku telat awang maharijaya
POKOKNYA AHMAD HARUS TANGGUNG JAWAB...!!! kenapa baru sekarang? kenapa gak lima tahun yang lalu? kenapa gak setahun yang lalu? kenapa gak lima bulan yang lalu... :)

Subj:[OOT]Re: aku telat Widyarani
jadi inget ini :D

awang, ada apa dgn 5 bulan yg lalu? :-?

rani
(aduh maap jadi nge-junk, abisan seru)

Subj:[OOT]Re: aku telat PERDANA, Jimmy
Bapak setengah baya tinggi besar berkumis tebal dan berkacak pinggang (BSBTBBTBP): Siapa pelakunya?
Gadis dst dst (GDSTDST): Herman
BSBTBBTBP: Apa?
(disadur dari sini disitir dari email Rani sebelumnya)

Wah wah, teh rani..

Jadi inget film era 80an yang selalu disemarakkan dengan deburan ombak dan gadis india yang tercantik di zamannya, seperti yang ini.

rgds,
JIM (kok ikut ngejunk yaw)

Film-film taun '80-an (dan menurut hemat saya, juga film-film taun '70-an) memang disemarakkan sejumlah adegan fenomenal, yang menjadi klasik dalam sejarah perfilman Indonesia. Sebagai contoh adalah adegan Pak Haji mengusir setan. Atau pertengkaran suami istri sambil memecahkan piring.

Istri Cerewet Yang Diselingkuhi Suaminya (ICYDS): Terlalu! (Memecahkan satu piring) Kamu anggap apa aku ini Pa? Kamu pikir aku buta? (Memecahkan satu piring) Kamu pikir aku tak tau kau tidur sama perempuan pelacur itu?!
Suami Selingkuh Yang Tidak Mau Kehilangan Istrinya (SSYTMKI): Ma. Papa menyesal! Papa khilaf.
ICYDS: Menyesal! (Memecahkan satu piring) Semudah itu kamu menyesal? (Memecahkan satu piring) Kamu tidak tau betapa hancurnya hatiku! (Memecahkan satu piring)
SSYTMKI: Ma! Sabar Ma! Malu didengar tetangga!
ICYDS: (Memecahkan satu piring) Biar! Biar mereka dengar! (Memecahkan satu piring) Biar mereka tau lelaki macam apa kamu ini? (Memecahkan satu piring)

Kalau tidak salah, salah satu pengeluaran terbesar produksi film zaman itu adalah pembelian properti (piring).

Adapun mengenai nama, umumnya tokoh antagonis dalam film-film tersebut (pengusaha penipu, si ganteng maut yang menghamili tokoh utama lalu kabur ke luar negeri, si ganteng maut yang memacari tokoh utama demi membalas dendam pada ayahnya) menyandang nama seperti Herman, Roy, atau Johan, sedangkan tokoh protagonis (pengusaha baik hati, pria tulus yang menikahi tokoh utama yang hamil, pria tulus yang menikahi tokoh utama putri seorang pria yang mempunyai masa lalu kelam) menyandang nama seperti Gunawan, Boy, atau Joni. Nama Anton sering dipersepsikan sebagai antagonis, namun film fenomenal Kampus Biru menjadikan Anton tokoh utama yang protagonis.

Untuk nama-nama tokoh perempuan, tercatat beberapa nama populair seperti Vera, Rini, Poppy, dan Ida.

Hasil pencarian asal-asalan di Katalog Film Indonesia (Kristanto, 2005) hanya menemukan satu nama tokoh Ahmad, yaitu Ahmad Syarief (dipanggil Pak Syarief), ayah Samtidar "yang semula kaya raya jadi jatuh miskin, karena usahanya bangkrut" dalam film Samtidar. Adapun nama Lenny ditemukan secara tidak sengaja pada film Dimadu, sebagai adik Arifin yang dijadikin istri kedua oleh Mochtar. Sependek pengetahuan saya (tolong dikoreksi), nama Jimmy dan Awang tidak ada presedennya dalam sejarah perfilman Indonesia.

Disclaimer: Tulisan ini disusun secara asal-asalan, dalam pengaruh kafein, dan tanpa kajian menyeluruh terhadap sumber informasi yang terpercaya.
[335] 5 comments

___________________________

Saturday, May 03, 2008
10:48 AM

I watched There Will Be Blood last night. To be frank, I didn’t really get the movie :D Well, it’s Paul Thomas Anderson’s for God’s sake (lame defense, eh :P). I can grasp the big picture but I think I missed lots of things, so I’ll just write about this and that.

Do I like it? Yes, I think it’s a good movie. Am I forced to say that because it’s PTA’s, Oscar nominee, has Daniel Day-Lewis in it, and I dragged The Dowty and Mba Fifi to watch it? Probably :D

Okay, this and that.

I insist to watch it in theatre because I always imagine a Punch-Drunk Love look-alike visualization will look amazing in big screen. Even after the trailer gave me obvious hints that the movie would look nothing like Punch-Drunk Love, I still eager to see it in big screen (well, it’s not that big, we have a small cozy theatre here, I’ll write about this sometime). The picture (oh, awrite, cinematography?) is still juara (champion). There were few scenes that still took my breath away. It was dry, harsh, but beautiful in a way.

The acting was brilliant. I guess there’s nothing more to discuss about Daniel Day-Lewis :D I particularly like (the young) H.W. Ugh, and yeah, I was confused about Eli/Paul. At one point we thought about multiple personality. I wonder where Paul went :-?

The scoring was, umm… corny (someone might kill me for saying that). The music was performed by Radiohead’s Jonny Greenwood. There were also some classical tracks. I mean, it’s not corny corny, it’s just predictable like playing tense music before thrilling scenes (I can’t really describe it well). Or perhaps it was meant to be like that, a kind of comic. Or I’m starting to be like those guys in dunia-film :D

I—being totally unfair—sometimes see Punch-Drunk Love as a short version of Magnolia. Kind of Paul Thomas Anderson for Beginners :D And I sort of think that There Will Be Blood is like a Magnolia rip-off, extended version of the Tom Cruise part. Well, it’s just a glimpse of thought and it’s not entirely true, but seeing Eli in his church, can’t help compare it to Frank T.J. Mackey (ugh, I’m being cynical). Anyway, the story is… hmm… will think about it later :D
[334] 1 comments

___________________________

Thursday, May 01, 2008
11:56 AM

Koninginnedag or Queen's Day is an exaggerated made up festivity to celebrate the Queen’s three-months’-late birthday, which actually just an excuse to have party and get drunk. It’s very Dutch and I enjoyed it :D

I was looking for something :-? genuine(?), so I stayed in Wageningen. People had already packed at centrum very early in the morning for the traditional vrijmarkt (flea market). It’s when people grab a few shabby blankets and spread them on the street side, bring the most peculiar things from their attics or garages in a few boxes and hoping that other people will find something attractive in the lump. I went there at 10.30, had eyes on a few things but not exactly buying anything. But some fellow Indonesian students had already a bag full of I-don’t-know-what, and they were even starting the second round of shopping :D There were also children’s playing square and a couple of games including balap karung (I don’t know the English name—let alone Dutch—for this game). Too bad I missed them, just had the chance to see Mayor van Rumund posed with the proud winners before the town hall.

After having lunch and didn’t know what else to do, we grabbed our bikes and think of nothing. Then we just found out that bus ride was free for the day, so we decided to jump on a bus and went to Arnhem.

Arnhem was—of course—much more crowded than Wageningen. There were music concerts every few blocks away. We—had nothing particular in minds—decided to find the Rheine River and get crocodilized there. But it was too windy by the riverside. So we went to Arnhem’s vrijmarkt, took a look around and watched the unsold stuffs were tucked into the junk truck. I found a pair of boots, costs only 2 euros, which is perfect for a 125 euros conference I will attend watch this month :P. And then we grabbed coffee in an ice cream stall (well, I had coffee, Ahmad and Lenny had chocolate, Rian had spa and Reza had dropjes—this is unimportant details, innit?) and watched the crowd from the second floor of the stall.

Such a lazy and pleasant day :)
[333] 0 comments

___________________________

Tuesday, April 29, 2008
1:09 AM

This is my favorite Pearl Jam's song. I've always dreamed of making a video out of it (yea, yea... dream on Ran :D). This guy had a different idea, but he also think of black and white. I don't know, that's how the song feels like...

[332] 0 comments

___________________________

Monday, April 28, 2008
11:10 PM

Years ago in LFM, we were watching Man on the Moon, a biopic of Andy Kaufman. The ending showed an appearance of Tony Clifton, Kaufman's alter ago. After the movie, we had a long debate over the finale. Who did Clifton? Was it Bob Zmuda? But Zmuda was there. Did Kaufman actually fake his own death? But how…?

The debate went on (for a few days, I think) until Johan came with the fact that the scene was not real. It was Zmuda who did Clifton. Of course, making an open ending (a smart choice made by Milos Forman and the scriptwriters) strengthening Kaufman’s character as pictured in the whole movie.

So it was a bit of turn off.

I was reminded of that experience after watching Into the Wild yesterday. It was a great movie. I adore Sean Penn and I fell in love with Chris. And then of course, as any master student with scientific mind person with broadband would do, I checked wikipedia.

Well, it’s not exactly a turn off, but there’s surely a controversy. Or I’d better say, the other side of the story.

So I’ve been thinking, is it really a good idea to check the facts regarding a biopic, or movies based on true story in general? Sometimes it can really spoil the movie. I really can’t remember any movie at this moment, but I was sure I had had been disappointed, knowing the truth, after really excited about a movie. Too much information not always a bless.
[331] 4 comments

___________________________


widyarani, rani untuk teman, arian '79, senang menonton film-film bergenre film-biasa-tentang- orang-biasa, gemar membaca, malas menulis buku harian karena lebih sering meracau di sini

email || friendster || multiply


Oleh2 Jalan2





Gemar Membaca

Widget_logo


Tengok Kiri Tengok Kanan



aroengbinang project, the || bapak blog indonesia || Care4Lupus || dongeng pak rovicky || Indonesia Today || Kantor Berita ITB || GaneshaTV || gombalisme || Google || IMDb || Jalan2 Makan2 || KH Mustofa Bisri || koen.co.ro || KOMPAS || LayarKata || mas iman || mbah wiki/ grandpa wiki || Omuniuum || ons kleine klasse || Planet Pak Budi || Priyadi || pustakalana || Resonansi || TerraNet || WorldChanging


Kotak Seru!





Handai Taulan

alia, mbak || aree || awie || boit || bubin LantanG || budibadabadu || cselvalva || della lfm || dua sisi dian || ebonk || endless jon || erika || gelembung roy || gondez || heidy || hyoutan || imponk || imra || irwan the advertiser || jimboy || joko anwar || justin || mas proctor || mumun munce || neng viertje || nila-nila || pabalatak || pepson || polpot || rian || safik || si novi || stanum || syah adrian || tetangga sebrang lapangan || the quick brown fox || tining || twinny || uni rini || vino ||

Kapan Ya?

2008
05 04 03 02 01
2007
12 11 10 09 08 07 06 05 04 03 02 01
2006
12 11 10 09 08 07 06 05 04 03 02 01
2005
12 11 10 09 08 07 06 05 04 03 02 01
2004
12 11 10 09 08 07 06 05


Blog Ini Didukung Oleh










design is modified from blogskin created solely by Rainonme-

©rani.2oo6