18 Agustus 2019

753

Because I was kinda busy with season two, I didn't explore too many series this year. So unlike last year, I only have one comedy series recommendation:


It's that good that it earns an extra space between letters so I can emphasize the point. It started looking like a cheesy 90 sitcom but it's anything but. The twist is so brilliant I didn't see it coming (although, to be fair, I've never seen anything coming).

Apparently Michael Schur also created The Office, Parks and Rec, and Brooklyn 99. I finished Brooklyn 99, quitted The Office in season 5 or 6-ish (things getting too relationshipy in weird way, no regret there). I quitted PnR halfway through season 3, maybe I should revisit there.

In the meantime...


03 Agustus 2019

752

30 Juni 2019

751

Hari Jumat sore kemarin, ponsel pintar gue tiba-tiba mati. Gak pake ba-bi-bu, mati aja. Kata Obie, kemungkinan IC batrenya ngadat karena sembarangan mengecas.

Mati kok ya Jumat sore, pas udah ngerencanain akhir pekan léyéh-léyéh sambil ngacapruk di grup cacamarica_hey_hey :(

Karena gue orangnya ilmiah dan rasional animis spiritual drama, gue mencari sebab-sebab nonteknikal kenapa si hape ngadat. Tiba-tiba kepikiran bahwa si hape ini belum dikasih nama. Bahkan dipikir-pikir, semua ponsel gue gak pernah dikasih nama dari jaman kalo ketinggalan mesti balik lagi sampai sekarang suka ditinggal-tinggalin di kantor. Apakah karena—walaupun udah ketergantungan—gue gak menganggap hape sebagai belahan jiwa? Padahal dulu punya hape yang pernah ngambek cuma gara-gara mau diganti casing-nya.

Gawai-gawai gue yang lain pada dikasi nama si. Dulu yang pertama dikasi nama laptop gue periode 2007-2010, si Mprit. Lalu si ipod, Maliq. Terus gantinya Mprit yang dengan sangat tidak kreatif dikasi nama Maximilienne. Terus kindlelaras yang panggilannya kadang Laras kadang Atik. Dan tentu saja karena sudah ada Atik, ketika Maliq hilang penggantinya gue kasi nama Teto. Adiknya Atik namanya kindlegalten, belum ada nama panggilan dan bahkan gak jelas jenis kelaminnya. Kayaknya harus ganti nama.

Selain ngasi nama gawai sendiri, kadang jadi apal juga nama gawai orang lain. Dulu si lumayan banyak, sekarang hasil kokoréh cuma ingat ipod-nya Budi dan Wildy dulu masing-masing namanya Didi Kempod dan Celine. Dan sejak teman-teman itu beranak-pinak, tentu lebih imperatif buat gue ngapalin nama anak-anak mereka ketimbang nama gawainya. Itu aja masih tantangan abad ini :P
Setelah dicas dengan baik dan benar, akhirnya si hape hidup lagi. Pirtinyiinnyi… masi harus gue kasi nama gak ya?

20 Juni 2019

750

I'm kidding myself thinking that noone's gonna get hurt, aren't I? At the very least, me would.


Not there yet, but I'm gonna be and come out stronger

30 Mei 2019

749

Kuldesak : Jalan Buntu Siapa?

Gambar diambil dari Kineklub LFM ITB

Judul ini yang pertama kali terpikir sama gue setelah nonton Kuldesak karena, seperti mungkin juga banyak orang lain, gue pikir film ini gak jelas, kalo gak mau dibilang jelek. Maunya bicara banyak tapi kok timpang. Maunya alternatif tapi kok standar.

Gue gak bisa menghilangkan imej bahwa film ini adalah 4 film pendek dengan 4 sutradara, dan bukannya sebuah film utuh dengan satu tim sutradara. Sifatnya memang jadi subyektif sekali. Mungkin karena film ini udah di-ekspos jauh-jauh hari dengan gebyar bintang-bintangnya, dengan Ryan Hidayat-nya, juga label independen-nya. Tapi lebih mungkin, penyebabnya adalah gue ngeliat ada perbedaan kualitas dari empat film pendek itu, yang mau gak mau membuat gue memperbandingkan bahkan secara ekstrem meng-klaim sebuah segmen sebagai paling baik dan segmen lainnya sebagai jelek sekali.

Garapan Rizal Mantovani (dengan segala permohonan maaf), adalah segmen yang gue kategorikan sebagai jelek. Ceritanya absurd (sebenarnya absurd tidak terlalu menjadi masalah, namun yang gue liat adalah penyederhanaan, bahkan pembodohan), aktingnya payah, juga adanya inspirasi yang gak pada tempatnya. (Katanya Rizal nyontek Pulp Fiction, tapi gue belum nonton jadi gak bisa ngebandingin)

Soal inspirasi juga, kayanya gak bisa lepas dari Riri Riza. Ceritanya standar dan latar belakangnya klise sekali. Padahal akting Ryan Hidayat sebagai Andre dan idiom Kurt Cobain yang dipilih lumayan asik. Sayang gak dieksplorasi lebih jauh. Satu hal yang agak menarik adalah Riri tampaknya mencoba sedikit puitis. Ia banyak bermain dengan kata-kata.

Segmen Mira Lesmana agaknya merupakan “penelanjangan” atas film ini. Kalimat terakhir yang berkesan itu adalah suatu pengakuan, atau mungkin apologi, dari mereka berempat, “Kok jadi gini sih? Gue kan cuma mau bikin film.” Sebenarnya ceritanya lumayan menarik. Sayang akting Wong Aksan minim banget. Jadi kontras sama Tio Pakusadewo, juga Bucek Depp yang lumayan all out.

Dan yang gue klaim sebagai yang terbaik mau gak mau adalah milik Nan T. Achnas. Kesimpulan ini pertama kali di tengah-tengah film gue dapat (secara analitis) dengan menyisihkan keempatnya satu per satu. Dengan kata lain, seperti gue bilang sebelumnya, gue membandingkannya dengan yang lain. Dan memang, segmen ini beda banget sama tiga segmen yang lain. Ia tidak bicara tentang (anak) orang kaya, tidak bicara tentang “Henry” (tokoh Macaulay Culkin di film The Good Son yang dikisahkan sebagai pembunuh berdarah dingin namun tanpa penjelasan mengenai latar belakangnya). Ia juga satu-satunya segmen tanpa pistol dan darah. Tapi saat ia gue anggap sebagai film yang berdiri sendiri (dengan pengandaian tiap segmen adalah sebuah film pendek) gue menemukan bahwa ia memang layak ditonton. Ceritanya yang mengalir dengan tokoh-tokoh yang terkesan biasa-biasa saja (bahkan meskipun Budi dan Yanto digambarkan sebagai homo) justru menjadi alternatif yang tidak biasa. Secara unik, mungkin juga ironis, Nan menempatkan Oppie sebagai penjaga karcis bioskop, yang kita temui setiap kali kita menonton film tapi hampir pasti tidak kita acuhkan. Penggambaran persahabatan yang menyenangkan hati dan pengungkapan masa lalu yang gak vulgar tetapi miris. Dan yang juga menarik adalah detail-detail yang digarap Nan yang sangat mendukung cerita. Ia tidak bersibuk-sibuk dengan icon Amerika atau detail dalam arti fisik. Adegan bola plastik atau cetusan “Anak saya” di sini lebih realistis dan dengan sendirinya lebih bicara. Mungkin yang sedikit mengganjal adalah ending-nya yang blur.

Gue jadi berpikir, apakah seandainya film ini dipecah menjadi empat gue akan menonton semuanya, punya Nan aja, atau tidak sama sekali. Tapi gue pikir, kalo Nan berdiri sendiri, judulnya gak akan Kuldesak. Seperti juga Horror, Homo, dan Hero-nya Poison. Kalau gue tonton Horror-nya aja, yang menampilkan poison dalam arti fisik, dia tetap Horror dan bukan Poison, karena ketiga cerita itu adalah satu kesatuan. Gitu juga maunya Kuldesak.

Ada satu bagian di perempat akhir film ini yang menggambarkan keempat tokoh tersebut (Aksan, Andre, Oppie, Bianca) dalam situasi yang bisa dibilang sama. Bingung, gak tau mo ngapain dan gak bisa ngapa-ngapain. Cul de sac. Di sinilah klimaks film ini menurut gue, bagian ketika benang merah tak kasat mata yang dimaksud empat sutradaranya terlihat transparan.

Gue lalu mencoba memandang film ini secara utuh dan gue kembali ke saat gue menonton film ini. Dengan berbekal apriori dan segala subyektivitas gue, penilaian pertama gue adalah film ini lebih bagus dari yang gue kira. Dalam arti, bayangan gue akan film ini sebelumnya lebih buruk lagi. Ini mungkin sebuah permakluman dan tetap tidak melegakan, apalagi meningkatkan kualitas film ini walaupun terus terang gue menganut standar ganda untuk film Indonesia. Tapi gue jadi curiga, jangan-jangan penilaian pertama gue gak obyektif juga.

Lalu gue merunut film ini lagi dari awal. Ternyata ada penilaian yang gue paksakan, juga hal-hal yang luput dari perhatian gue. Misalnya segmen Andre yang gue kira punya Mira. Karena gue udah apriori sama Mira dan gue udah tau Riri sebagai pembuat film pendek dan dokumenter, dengan “semena-mena” gue klaim segmen Aksan lebih bagus dari Andre. Rada kecewa juga waktu tau bahwa ternyata kebalik. Lalu, masih segmen-nya Andre, soal burung hantunya Iwa K itu bukan hanya gak gue perhatiin banget, malah cenderung gue anggap norak. Waktu Heldi nanya dan Riri ngejelasin, baru gue ngeh bahwa burung itu adalah lambang persahabatan Iwa dan Andre yang akhirnya malah menambah nilai plus untuk segmen yang tadinya gue rasa biasa ini.

Yang lainnya adalah interpretasi dari sudut lain yang mungkin bahkan gak diharapkan sama sutradaranya sendiri. Dan ini sah-sah aja. Seperti interpretasinya Bakul atas segmen Aksan. Menurut dia, tokoh utamanya itu bukan Aksan (seperti release dari Day 4 Night sendiri), melainkan sang provokator Tio Pakusadewo. Ada benarnya juga sih, dengan catatan, Tio gak mengalami cul de sac seperti Aksan.

Di luar ceritanya, ada juga hal-hal yang menarik untuk dicermati. Pengambilan gambarnya asik-asik. Gitu juga lagu-lagunya. (Kayanya dua faktor ini yang bikin Kuldesak dituduh sebagai video klip panjang). Editingnya boleh diacungin dua jempol (banyak yang komplein mood-nya terputus-putus, tapi kata gue sih asik-asik aja). Yang rada ironis justru bintang-bintang (baca : public figure) yang bertebaran. Di satu sisi ini jadi selling point, di sisi lain gue (dan juga kebanyakan orang, kali), masih star-figure-minded. Jadi yang diliat bukan peran, tapi tokoh. Apalagi akting mereka rata-rata garing.

Akhirnya, boleh aja kan gue punya pendapat sendiri yang beda sama pendapat orang lain atau justru menyetujui pendapat orang lain. Sah juga kan kalo gue berubah pendapat sekiranya ada pemikiran lain yang gue pikir lebih tepat. Pendapat gue akan film ini adalah seperti apa yang gue tulis sebelumnya. Dan gue setuju kata-katanya Riri, kurang lebih, “Mungkin banyak yang ngerasa gak dapet apa-apa dari film ini, tapi saya yakin banyak juga yang mendapatkan sesuatu.” Terakhir, lepas dari semua, Kuldesak tetap adalah “sesuatu”, yang mungkin tidak dan tidak akan menjadi besar dan terlupakan tapi tetap harus kita hargai.

18 Februari 1999 20:11
Rani


*Tokoh-tokoh yang diperankan Oppie, Bianca, dan lain-lain (kecuali Tio Pakusadewo dan Bucek Depp, karena nama perannya gak familiar) tetap gue sebut dengan nama aslinya karena gue nilai mereka masih bermain sebagai diri sendiri.
Bakul dan Heldi yang disebut dalam tulisan ini adalah kru LFM angkatan ’94. Dialog antara Heldi dan Riri Riza berlangsung pada acara “Kuldesak : Bedah Film” yang diselenggarakan LFM, Februari 1999.

27 April 2019

748

I believe season two is the ultimate challenge for showrunners. Imagine you have an idea for a show. You put the juiciest bits in the pilot. The show is greenlit for season one. You put your ideas into season one, and if you don’t know whether there will be season two or not, they are most (if not all) of your best ideas.

And then there’s season two…

Yet, some seasons two are the best seasons of the series. Maybe because the characters have grown comfortable with each other. Maybe because the showrunners have been more confident. Maybe because there are lots of feedback from season one.

So I’m going to have a look at some season twos of my favorite shows.

Atlanta

Season two shows that things are getting even harder to Earn. Nothing is settled. All ends are loose. The most talked-about episode is Teddy Perkins, which is creepy and brilliant. My personal favorite is FUBU, which at time hits too close to home.
Compared with season one: On par, maybe better.

Community

Lots of good stories. Interesting character developments. Okay, it’s been a while since I watched it but of the three seasons that actually matter, season two is my favorite.
Compared with season one: Better!

Silicon Valley

A lot of things going on in season two, and it seems like Richard got beaten up (figuratively) in every episode. Season one had the geekiest dick joke of all times, but season two had its moments.
Compared with season one: Different, but still as funny.

Marvelous Mrs Maisel

Season one is brilliant and super-funny. Season two is still funny but a bit weird, like some things don’t add up. Zachary Levi plays Dr Benjamin Ettenberg, Midge’s new love interest. Lenny Bruce returns, singing his heart out and crushing me to crumbles.
Compared with season one: Slightly less good, but Zachary Levi!

The Orville

Everyone praises The Orville season two. The show touches many different buttons. Sometimes it’s the ideals to do the right things, the other time it’s the dream of a perfect girl. And a perfect relationship. And a perfect career. Confession: my biggest laugh was Bortus’ frolicking-by-the-lake scene, it’s just so absurd and funny.
Compared with season one: Improving in an unseen direction.

Derry Girls

The pilot was the funniest thing I see in a while, and season one finale was both heartwarming and heartbreaking. I find episodes one and two of season two as not living up to season one, yet. But episode three has the absurdity that we all love and cherish. I still have two episodes that I haven’t watched.
Compared with season one: So far so good.

20 April 2019

747

Mengejar Monster (Heidelberg, Jerman)

One thinks Heidelberg by day—with its surroundings—is the last possibility of the beautiful; but when he sees Heidelberg by night, a fallen Milky Way, with that glittering railway constellation pinned to the border, he requires time to consider upon the verdict.
(Mark Twain, A Tramp Abroad)

Walaupun seorang teman juga pernah merekomendasikan Heidelberg karena keindahannya, saya mengunjungi Heidelberg bukan karena Mark Twain. Saya ke Heidelberg karena karya lain yang lebih populer nge-pop, manga berjudul Monster karya Naoki Urasawa.


Heidelberg adalah kota kecil (109 km2, 150 ribu penduduk) di lembah antara Sungai Neckar dan Sungai Rhine. Kota lama (Altstadt) merupakan deretan bangunan bergaya barok yang dibangun di atas reruntuhan kota abad pertengahan di mana gereja dan balai kota berhadap-hadapan di alun-alun (Marktplatz). Nina Fortner/Anna Liebert, tokoh protagonis dalam Monster, tinggal di kota ini bersama orang tua angkatnya. Saudara kembar Nina, Johan, adalah seorang psikopat yang sedang dilacak jejaknya oleh Kenzo Tenma, dokter bedah yang pernah menyelamatkan nyawa Johan.

Nina adalah seorang mahasiswa hukum di Universitas Heidelberg, universitas tertua di Jerman yang terkenal dengan studi humanioranya. Universitas ini didirikan pada tahun 1938 oleh Elektor Ruprecht I sehingga universitas ini juga dikenal dengan nama Universitas Ruprecht-Karl (Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg). Karl Friedrich adalah Adipati Baden yang menetapkan Universitas Heidelberg sebagai milik negara di tahun 1803.
Gedung dengan jam di puncaknya itu adalah gedung universitas lama (Alte Universität), yang merupakan tempat kedudukan rektor dan senat. Gedung-gedung lainnya tersebar di seluruh kota. Fakultas-fakultas humaniora berlokasi di Altstadt, sementara fakultas sains dan kedokteran berlokasi di seberang Sungai Neckar. Walaupun Altstadt, terlebih jalan utama dan pusat belanja Hauptstraße selalu dipadati turis, atmosfer kota pelajar masih sangat terasa. Tempat favorit saya selama di Heidelberg adalah taman kecil di belakang gedung universitas baru, tak jauh dari gedung lama dan Hauptstraße. Tak banyak turis yang tersasar ke sana, dan kita bisa menjumpai mahasiswa yang duduk-duduk membaca atau makan siang atau tidur-tiduran sambil berjemur menikmati matahari dan mendengarkan gemericik air mancur.


Atraksi turis utama di Heidelberg adalah reruntuhan kastil di atas bukit beserta taman dengan pemandangan ke arah kota. Johan meminta Nina untuk datang ke kastil pada hari ulang tahun mereka yang kedua puluh. Sayang ketika saya ke sana, beberapa pekerjaan renovasi sedang berlangsung.


Mengunjungi sebuah kota karena sebuah komik ternyata lebih geek sekaligus lebih tricky dari yang saya bayangkan. Menurut komik, orang tua angkat Nina tinggal di Necker Lane nomer 16. Google Maps memberi tahu saya bahwa di Heidelberg terdapat Neckarhamm dan Neckarweg. Baik -hamm maupun -weg bisa diterjemahkan menjadi Lane. Sayang dua-duanya terdapat di seberang sungai, jauh dari tempat gaul saya. Di Aldstadt saya menemukan Untere Neckarstraße 16. Oh, well...

Lepas dari "petualangan" mencari Nina Fortner, Heidelberg adalah kota yang sangat menyenangkan untuk berkeliling kota dengan berjalan kaki atau bersepeda, menikmati pemandangan dari funicular atau kapal yang melayari Sungai Neckar, serta menyusuri Philosophenweg atau piknik di tepi sungai. Banyak hal tentunya sudah berubah sejak Mark Twain menulis A Tramp Abroad, hampir satu setengah abad yang lalu. Tapi keindahan yang pernah memukau Twain, suasana kota yang hidup, atau bahkan coklat Studentenkuß yang pernah menjadi sogokan favorit para mahasiswa untuk pendamping (chaperone) gadis pujaan mereka, membuat Heidelberg tak terlupakan.