12 April 2005

Ada dua Indonesia di negeri Khatulistiwa ini dan dua-duanya tidak saling mengenal.
(Jakob Sumardjo, Sebuah Kebanggaan Bernama Indonesia, KOMPAS, 9 April 2005)

Kalimat paling nendang yang gue baca minggu kemarin. Walaupun saya sedikit bertanya-tanya, di Indonesia manakah mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi teknik itu berada, secara hari gene... siapa sih orang miskin yang bisa kuliah?

Kalimat yang saya baca di kereta Bandung-Jakarta itu kepikiran lagi ketika beberapa jam sesudahnya gue berdiri berdesak-desakan di bis Senen-Ciputat. Gue bawa ransel segede gelebug, kedempet-dempet, dan membayar 3500 untuk tempat duduk dan AC yang tidak gue nikmati, how nice. Udah gitu dikomplen lagi sama ibu-ibu yang duduk dan terkena ransel gue (did I say it's segede gaban?). Udah mah gue lagi high temper, bawaan pingin nyolot aja. Gak liat apa gue kedempet, gak toleran banget sih! (tapi yang ada gue malah nyengir asem, "Maaf, Bu")

Terus gue jadi ngahuleng sesaat. Si ibu-ibu itu berhak lho marah. Dia bayar kok. Dan gue juga berhak menuntut supaya gue dan ransel gue bisa duduk.

Tapi ini Indonesia, Bung! Negara dengan rakyat paling sabar sedunia, yang masih bisa ketawa dalam situasi segetir apapun.

Ada dua Indonesia di negeri Khatulistiwa ini dan dua-duanya tidak saling mengenal.

But hey, gue di Indonesia mana sih?*

* Menurut Aburizal Bakrie, gue ada di Indonesia-nya rakyat karena sebagai CPNS gol IIIa gaji saya masih di bawah 1 juta rupiah, which I assume adalah standar miskin untuk seorang Aburizal Bakrie.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar