20 November 2004

Kamar saya lagi, berantakan-banget-minta-diberesin. Sudah 3 jam 29 menit sejak saya menggeser sofa one-seater saya ke depan "instalasi" laptop-adaptor-kabel telpon ini. Sekitar 15 jam setelah kembali dari perjalanan terlunta-lunta di bis bukan-eksekutif Wonogiri-Solo-Jakarta. 19 jam (terhitung sejak menunggu di pool Jalan Veteran, Solo) yang menguji rasa humor saya, sebagian berkenaan dengan "hari-hari gini" setaun yang lalu (saya punya cerita lagi, tapi belum sekarang).

Saya orangnya panikan. Orang-orang yang kenal dekat saya seharusnya tau. Tapi saya cenderung panik sendiri. Artinya kalo ada orang lain yang sudah duluan panik, saya malah cenderung tidak panik. Hehe, gimana ya. Ya pokoknya gitu.

Ini ada hubungannya dengan sebuah pesan singkat hari Senin 15 November malam dari +6281808649xxx, yang intinya menyuruh saya mengakses website sebuah lembaga pemerintah untuk melihat apakah nama saya ada di situ atau tidak sebagai salah seorang yang "lolos prakualifikasi untuk mengikuti tes tertulis". Saat itu saya baru sampai di Solo dan karena malam sebelumnya saya baru saja melihat website tersebut (dan menemukan nama saya), saya tidak merasa harus mencari warnet dan mengikuti anjuran SMS tersebut. Dan ketika akhirnya saya buka website-nya, sekitar dua setengah jam yang lalu, saya baru tau kalo saya seharusnya mendaftar pada hari Jumat 19 November 2004 pukul 08.00-09.30. Tepatnya ketika saya masih mengulek bawang merah-bawang putih-merica untuk sop iga masakan nyokap di rumah eyang saya di Solo.

Karena tadi belum ada teman yang panik, maka jadinya sayalah yang panik. Panik yang beda-beda tipis dengan kesal, karena sebenarnya akal sehat saya sudah memberi tau bahwa nggak mungkinlah 4489 orang bisa hadir di Jakarta pada hari Kamis-Jumat kemarin di hari-hari libur dan semua moda transportasi fully-booked seperti ini. Ditambah pikiran bahwa saya belum mengajukan cuti untuk hari Rabu dan gara-gara ini saya harus minta ijin keluar kantor hari Senin besok. Tapi nyokap tercinta mengingatkan saya bahwa biar gimanapun saya masih jauh lebih beruntung dibandingkan banyak orang. Gimana dengan mereka yang tinggal di (atau mudik ke) Makassar atau Palembang? Saya masih beruntung mudik cuma ke Solo. Tinggal pun di Serpong saja dan kerja di daerah Thamrin, cuma setengah jam ber-taksi ke Gatot Subroto. Jadi mikir, kalo saya jadi apply ke ESDM malah tinggal nyebrang jalan ;)

Ada hantu yang ikut saya mudik kemarin. Sialan bener. Hantu yang mengganggu ketika saya dalam perjalanan, menunggu nasi liwet, menyesap secangkir kopi, hingga menonton sinetron Menuju Puncak. Hari-hari tanpa internet dan siklus monoton makan-tidur (sesekali diselingi memelototi infotainment dan ejaan keriting Dibawah Bendera Revolusi Djilid Pertama) bikin hantu itu tambah rajin datang. Bahkan menyelinap di mimpi-mimpi saya. Sebelumnya nggak pernah!

Mudah-mudahan besok-besok dia nggak dateng lagi. Capek saya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar