05 Mei 2022

761

Sejak beberapa bulan lalu, gue punya hobi baru: nonton bulu tangkis. Iye emang gara-gara Thomas Cup. Si Anak Baru tapi ya mayan totalitas mengikuti seluk-beluk dunia per-BL-an yang ternyata genre-nya campur-campur ada drama, ada thriller, dan tentunya (gak mungkin gue ngikutin kalo ga ada yekan) komedi. 

Sebenarnya mulai tertarik nonton badminton tu gara-gara liat Minions di Asian Games 2018. Secara dulu nonton badminton awal-pertengahan 90-an masih yang pake poin 15, terus kudu servis untuk dapet poin. Lama gak nonton terus liat Minions yang... anjrit gak bisa gue omongin pake kata-kata. It's a totally different game from what I've used to know. Jadilah gue mulai ngikutin dikit-dikit khusus Minions sih. Sayang waktu itu infrastruktur dan pergaulan tidak mendukung. 

Sampai akhirnya gue beli TV baru dan langganan internet rumah hahaha. Sesimpel itu. 

Tapi gak akan setotalitas itu juga ngikutinnya kalo gue gak mulai asik mainan twitter sejak awal pandemi. Gara-gara twitter jadi kenal dunia BL (badminton lovers cenah, walopun totalitas masih ngga tega mendaku). Jadi tau manusia bernama Fajar Alfian (liat betapa recehnya beliau di twitter dan kalikan kerecehan itu setidaknya dua kali lipat untuk instagram, tiktok, dan youtube). Dan jadi sibuk mengikuti akun-akun atlit di instagram (yang si guenya sendiri sampai detik ini belum pernah posting). 
Si BL-BL ini ternyata banyak juga yang baru ngikutin sejak Thomas Cup atau mentok-mentok olimpiade, jadi gak veteran-veteran amat. Dan jelas gak veteran karena banyak anak kiciknya... belasan taun sampe awal dua puluhan. Paling mentok akhir dua puluhan kayaknya. Dan entah kenapa banyak yang anak Kpop, jadi kultur fandom-nya kebawa. Hence, drama. 

Gara-gara anak-anak kicik ini (ya tante memang sudah tua) jadi kenalan sama kosakata mereka, budaya pop paling engga permukaan. Padahal sebelumnya sebodo amat hahaha. Jadi nemu aspiring writers yang fanfic dunia badminton-nya bisa bikin nangis dan ketawa (dan secara ga langsung, yang tadinya gue memandang fanfic sebelah mata, jadi nemu fanfic Harry Potter yang seru tapi "seru"). Ya tapi kadang jadi ikutan kebawa drama-drama overthinking yang apasihdeh. Pinginnya sebenarnya lebih nikmatin pertandingan alih-alih remahan di luarnya, apalagi yang terkait kehidupan pribadi atlit-atlit. Tapi konten receh-receh di sela-sela turnamen, apalagi kalo yang mengunggah mereka sendiri, sungguh menghibur. 

Bakalan sampe kapan nih mantengin badminton? Gak tau, lama-lama bakal bosen juga kayaknya. Tapi selagi masih suka, nikmatin aja yagasih?

10 April 2022

760


I just finished reviewing for an OA journal. They asked me to submit my report within ten days and did not offer any compensation whatsoever (I submitted after two weeks, just because). They did not even offer me a discount off their €1,790 APC. 

I accept every reviewing request I receive as long as the topic is within my field. I need the learning more than the extra time I have to put to work on it. I also don’t have any distinguished presence to stand against a journal, however unfair (i.e. normal) their behaviour towards authors and reviewers. Maybe I just don’t have any principle whatsoever. 


From all the questionable fund allocations that I have to face recently, I never really object the fact that there is no budget allocation for APC. For proofreading services, probably. But if I have €9,500 or even a discounted €1,790 fund, I’d rather spend it on chemicals, small equipments, or research assistants. They can easily worth one or more future articles. Because the problem is not institutions unwilling to pay APC, but publishers still charge egregious fee for publishing and subscription when everything is on the internet these days. And actually, as long as there are institutions willing to pay the egregious fee, the publishers will still be happy to charge for it. And everyone just want to publish so badly so what’s the point of taking stand against the whole publishing world. 


PS: There are people who are taking stand, working on a better scientific publishing environment. Forgive me for being too lazy to provide examples and links. It is Sunday and I just want to rant.

25 Juli 2021

759

Picture taken from The Upturned Microscope

I’d been fascinated with the idea of circular economy for some times. I lump it with valorisation and value chains and the likes, don’t really dwell into each specific definition, if any. A few weeks ago, I asked J to be a speaker in an upcoming mini-symposium. I proposed a (somewhat vague) theme about LCA and circular economy and to my surprise, he said he didn’t like the term. CE, I mean. It suggests that it is an end of itself, while we should focus on efficient use of whatever scarce materials we have. Since then, my fascination has faltered. 

I used to watch The Office, then Parks and Rec and enjoyed both. I also enjoyed Community S02E16 Intermediate Documentary Filmmaking. But then, of course, because I’m that kind of fan, I watched the episode with Dan Harmon’s commentary.


This is Dan speaking, not Abed

Dan bitterly jokingly opens the commentary by saying that the episode was his offensive swipe at Community’s successful competitors namely Modern Family, Parks and Rec, and The Office. Dan thinks that mockumentary is kinda cheat because ‘you can jump cut, you can whip pan, you can do VO, you can have people addressing the camera, explaining jokes. It about triples the amount of jokes you’re be able to do per minute.’ More about it here.


So the point is, I’m just prone to ‘appeal to authority’ fallacy. J’s my supervisor so he’s the authority. And I think Community is one of the peak TVs and Dan Harmon is a genius so that’s that. But truth is, I’m just as easily swayed by random guy on twitter if his/her previous arguments established an aura of authority. So I don’t know, I guess it’s okay as long as I’m conscious of the thought process and can retrace back the change of mind? 

18 Juli 2021

758


Budi dan gue mulai ngeblog di waktu yang kurang lebih sama di tahun 2004 berbekal tutorial dari Bapak Blog Indonesia (OMG! Laman ini masih ada!) Sebagai aspiring writers, kami menemukan tempat bermain baru setelah lepas dari bugos LFM. Tujuh belas(!) tahun berlalu, karir menulis kreatif saya practically nonexistent dan blog saya tinggal jadi tempat curcol dan kode-kodean yang di-update tiap cawu. Sementara itu, karir menulis Budi melesat bukan hanya di blog tapi juga berbagai media lainnya. Tapi karya yang paling pecah sejauh ini ternyata masih berakar dari blog: Trocoh, sebuah buku berisi 41 tulisan pendek (esai? kolom? artikel?). 

Membaca Trocoh, terbayang penuhnya isi kepala seorang Budi Warsito. Kenal sudah sangat lama dan setiap mampir ke kineruku untuk curhat kami bisa ngobrol ke sana kemari selama berjam-jam, ternyata irisan minat saya dan Budi nggak segitu banyaknya. Oleh karena itu, banyak sekali momen-momen 'Wah, baru tau,' 'Oh iya ya,' dan 'Anjrit ga kepikiran!' Walaupun ada juga momen-momen 'Naon sih ieu' tapi ya kelokan-kelokan tak terduga itulah yang membuat buku ini asik dibaca. 

Dalam sebuah wawancara, Budi pernah bilang bahwa ia mengeksplor berbagai media dalam menuliskan yang kelak menjadi cikal-bakal Trocoh. Selain blog ada mailing list, twitter, WA group, instagram, dan entah apa lagi. Tapi buat saya, semangat Trocoh kok ya tetap semangat blog di awal-awal 2000an itu. Menuliskan hal-hal yang menarik minat, gak terlalu memikirkan apa yang sedang tren, gak peduli ada yang baca atau enggak (ok yang ini boong, buat apa ada kanal komen), gak peduli akan ide-ide “besar”, karena besar atau kecil itu kan hanya state of mind.

Ternyata saya pernah menulis seperti ini di tahun 2006.
Soe Hok Gar itu salah satu nickname untuk Budi
karena dia *eh* garing, sedangkan Tjik Rantje tak lain
adalah Ariani Darmawan yang kelak menjadi istrinya

26 Mei 2021

757

Gue pertama kali nonton Friends waktu SMA, pertengahan ’90-an lah. Tayangnya hampir tengah malam di RCTI. Waktu itu rasanya paling keren sedunia deh udah nonton Friends. Maklum anak SMA Lain-lain.
Seperti pernah gue tulis di sini, gue berevolusi bersama Friends. Dimulai dengan keren-kerenan, lalu nonton rame-rame bareng, yeah, friends, lalu ‘menjadi’ sedikit Monica, sedikit Ross, sedikit Rachel, sedikit Phoebe, sedikit Chandler, dan sedikit Joey di kehidupan nyata. Entah gimana gue bisa nyamain kehidupan gue sama kehidupan enam lajang kulit putih umur 20-an nan rupawan di New York City, tapi rasanya iya aja. 
Dan dari sekian banyak teori kenapa Friends segitu berhasilnya, yang paling bisa gue beli ya itu: kita merasa terhubung entah gimana sama karakternya. Friends juga ditulis sesuai dengan cara menulis komedi situasi yang baik dan benar (atau bisa jadi dibalik: cara menulis komedi situasi yang baik dan benar dicontohkan oleh Friends—saking teladannya sekelompok calon penulis berusaha mengikutinya ketika mengembangkan komedi situasi mereka sendiri di serangkaian malam-malam tanpa masa depan). Friends berhasil menjadi cetakan komsit nongkrong. Mungkin ada yang lebih lucu dan lebih cerdas di masanya (Seinfeld? Will and Grace?), tapi Friends mungkin yang paling… balans. 

Dalam rangka reuni halal bi halal Friends, atau sebenarnya karena kepingin aja sih, gue akan membahas satu pendahulu dan tiga penerusnya.
     

Living Single

Inget gak di tahun ’90-an dan sebelumnya, ada serial ‘putih’ dan serial ‘hitam’? Growing Pains dan The Huxtables. After school specials dan Fat Albert. Beverly Hills 90210 dan… Fresh Prince of Bel Air (mungkin bukan contoh yang tepat). Friends dan Living Single. 
Ya, Living Single juga bercerita tentang enam orang lajang umur 20-an di New York City, dan bagaimana mereka bergelut dengan karir, kisah cinta, dan pertemanan. Bedanya, di dunia Living Single, semua pemerannya berkulit hitam. Dan, oh ya, Living Single mulai tayang tahun 1993, satu tahun sebelum Friends. Bagaimana Living Single mempengaruhi bahkan mungkin dijiplak oleh Friends bisa dibaca di sini, di sini, dan di sini
Buat saya sih Living Single masuk kategori lumayan. Lumayan seru, lumayan lucu. Agak ketinggalan zaman (relatif karena semua komsit dari tahun ’90-an memang terasa ‘agak ketinggalan zaman’). Jujur gue merasa lebih terhubung sama Friends dibanding Living Single, mudah-mudahan bukan (tapi bisa jadi) karena gue rasis, tapi lebih karena gue menonton Friends pada saat yang tepat dan Living Single baru setahun yang lalu. Hal yang gue gak suka dan akhirnya bikin berhenti menonton sebenarnya terutama ini: bising. Hampir semua karakter ngegas ngomongnya, jadi lelah hayati.
 

How I Met Your Mother

Bahwa How I Met Your Mother adalah versi lebih baru dan lebih canggih dari Friends, bukan cuma kata si gue tapi mereka sendiri:

   

Penekanan di ‘lebih canggih’ sih. Kalau Friends adalah bagaimana komedi situasi harus ditulis, How I Met Your Mother adalah bagaimana komedi situasi harus dibongkar, diambil esensi kelucuannya, dan ditulis ulang dengan sejumput ganja dan setitik hiperbola.
 

Happy Endings

Kalau How I Met Your Mother ngece kebiasaan nongkrong di kafe-nya Friends, Happy Endings malah mengabsen karakter mana yang penjelmaan siapa. 


Happy Endings mungkin merupakan versi tepat-secara-politis-nya Friends. Ada karakter kulit hitam. Ada karakter gay (yang saking gak stereotipnya membuat Jack McFarland seperti karikatur). Yang membuat Happy Endings gak berhasil menurut gue adalah mereka membuat kotaknya terlalu kecil. Jane dan Alex kakak beradik. Alex meninggalkan Dave di altar. Jane, Alex, Dave, dan Penny berteman sejak kecil. Penny pacaran dengan Max sebelum Max mengakui dia gay. Brad dan Max mengikuti serial Real World yang gak pernah tayang. Entahlah, di Friends juga banyak cerita latar yang mirip, tapi di Happy Endings alih-alih menghela cerita malah membuat kehabisan napas.
 

Coupling

Coupling, katanya, adalah jawaban BBC untuk Friends. Tiga cewek, tiga cowok. Pertemanan, petualangan romansa, dan kekacauan. Nongkrong di bar bawah tanah. Kayak kenal ya. 
Coupling mulai tayang tahun 2000, bahkan ketika Friends masih tayang. Gue baru nonton musim pertama, tapi aslina bodooor. Biasanya serial Inggris, kayak The Office, lajunya terlalu lambat buat gue. Tapi Coupling pas aja.
 

How I Met Your Mother (Lagi)

Apakah How I Met Your Mother, yang mulai tayang tahun 2005, menjiplak Coupling? Entahlah. Buat gue, lucunya beda sih. Mungkin ada faktor lucu Amerika dan lucu Inggris, ditambah 24 episode per musim di Amerika memberi ruang yang lebih luas untuk ngembangin cerita dibanding enam episode per musim di Inggris. Tapi dua-duanya gue suka.


Dari sekian banyak jelmaan Friends, gak semuanya asik (New Girl, halooo) dan mungkin cuma How I Met Your Mother yang suksesnya sebanding. Jadi, apakah kita masih bisa berharap pada komedi situasi nongkrong, atau sudah saatnya pindah ke lain hati? 

14 Desember 2020

756

Did I hurt you that bad?

Or do you love her that much?

12 Juli 2020

755

Selama pandemi ini, ke-keukeuh-an gue memakai transportasi umum menjadi bumerang. Sebelumnya gak pernah kebayang bakal ada situasi menerus di mana kendaraan pribadi menjadi pilihan paling bertanggung jawab. Untungnya, karena penelitian-penelitian yang gak terkait covid praktis ditunda tahun ini, hampir semua kerjaan bisa gue kerjain di rumah (dan karena hal-hal yang bukan kosumsi publik, kerja di rumah saat ini buat gue ternyata lebih enak daripada di kantor). Saat gue sekali-kali harus keluar rumah, gue pakai taksi1. Yang ga banget adalah kalo gue perlu keluar rumah yang ga penting-penting banget, misalnya ke indo*maret. Yakali gue mesti bayar taksi 50 ribu cuma buat beli sabun.

Jadilah gue beli sepeda. Kekinian kan?


Sejauh ini tantangan terbesar dalam bersepeda adalah jalur yang menanjak. Ya bayangin aja dulu dari perapatan Rooseveltweg sampai Biotechnion itu nanjaknya gak sampai 1 km, itupun kemiringannya gak sampai 5%. Dan mungkin ada faktor bahwa “dulu” itu lebih dari 10 tahun yang lalu ketika umur masih kepala dua hahaha.

Tapi setelah jalur menanjak, imbalannya di arah sebaliknya jalurnya menurun dong? Euh, tidak semudah itu Fergusso. Emang sih enak kalau turun gak ngos-ngosan. Tapi tantangannya menjaga kecepatan supaya tetap stabil, dan di saat seperti ini kangen berat sama sepeda-oma gue yang pake rem kaki. Udah gitu kondisi jalan tea yang gak selalu mulus (ini teh belum ngomongin kegaiban jalur sepeda ya, masih kondisi “jalan mobil” aja). Bayangin lo di jalan menurun, bergantung sama rem tangan untuk ngatur kecepatan, terus ujug-ujug aspalnya bergelombang sementara di belakang ada motor yang ngebut juga.

Menjaga supaya bersepeda bagai meniti shiratal mustaqim alias di satu jalur lurus juga ternyata sulit. Alasannya karena sepeda itu relatif ringan dan selama bersepeda, setengah badan kita terus-menerus bergerak. Hal ini ga kerasa sama gue sebelumnya karena di Wageningen ke mana-mana juga lewat jalur sepeda; asal gada yang mau nyusul mah lenggak-lenggok dikit ga apalah. Lah kalo yang mau nyusulnya angkot apa kabar?

Tapi yaa… kalau berlatih mah (mudah-mudahan) lama-lama terbiasa deh. Jalur nanjak asal sabar gak kepingin ngebut lama-lama sampai juga. Sekarang udah bisa ke supermarket yog*ya seberangnya Unpar. Target jangka panjang sebenarnya pingin nyepeda ke kantor, tapi ini kayaknya masih jauuuh banget. Bukan cuma perlu latihan fisik tapi juga mental. Kemarin keluar sepedaan gak sengaja bareng jam pulang kantor aja jiper, padahal Ciumbuleuit ya gak parah-parah amat lalu lintasnya.

Jadi sementara nyepeda untuk belanja dulu aja deh.


______________________________
1 Naik taksi termasuk kegiatan berisiko sedang, lumayan dibandingkan kendaraan umum yang termasuk risiko tinggi. Sementara pertanggungjawaban gue itu aja dulu deh.