25 Juli 2021

759

Picture taken from The Upturned Microscope

I’d been fascinated with the idea of circular economy for some times. I lump it with valorisation and value chains and the likes, don’t really dwell into each specific definition, if any. A few weeks ago, I asked J to be a speaker in an upcoming mini-symposium. I proposed a (somewhat vague) theme about LCA and circular economy and to my surprise, he said he didn’t like the term. CE, I mean. It suggests that it is an end of itself, while we should focus on efficient use of whatever scarce materials we have. Since then, my fascination has faltered. 

I used to watch The Office, then Parks and Rec and enjoyed both. I also enjoyed Community S02E16 Intermediate Documentary Filmmaking. But then, of course, because I’m that kind of fan, I watched the episode with Dan Harmon’s commentary.


This is Dan speaking, not Abed

Dan bitterly jokingly opens the commentary by saying that the episode was his offensive swipe at Community’s successful competitors namely Modern Family, Parks and Rec, and The Office. Dan thinks that mockumentary is kinda cheat because ‘you can jump cut, you can whip pan, you can do VO, you can have people addressing the camera, explaining jokes. It about triples the amount of jokes you’re be able to do per minute.’ More about it here.


So the point is, I’m just prone to ‘appeal to authority’ fallacy. J’s my supervisor so he’s the authority. And I think Community is one of the peak TVs and Dan Harmon is a genius so that’s that. But truth is, I’m just as easily swayed by random guy on twitter if his/her previous arguments established an aura of authority. So I don’t know, I guess it’s okay as long as I’m conscious of the thought process and can retrace back the change of mind? 

18 Juli 2021

758


Budi dan gue mulai ngeblog di waktu yang kurang lebih sama di tahun 2004 berbekal tutorial dari Bapak Blog Indonesia (OMG! Laman ini masih ada!) Sebagai aspiring writers, kami menemukan tempat bermain baru setelah lepas dari bugos LFM. Tujuh belas(!) tahun berlalu, karir menulis kreatif saya practically nonexistent dan blog saya tinggal jadi tempat curcol dan kode-kodean yang di-update tiap cawu. Sementara itu, karir menulis Budi melesat bukan hanya di blog tapi juga berbagai media lainnya. Tapi karya yang paling pecah sejauh ini ternyata masih berakar dari blog: Trocoh, sebuah buku berisi 41 tulisan pendek (esai? kolom? artikel?). 

Membaca Trocoh, terbayang penuhnya isi kepala seorang Budi Warsito. Kenal sudah sangat lama dan setiap mampir ke kineruku untuk curhat kami bisa ngobrol ke sana kemari selama berjam-jam, ternyata irisan minat saya dan Budi nggak segitu banyaknya. Oleh karena itu, banyak sekali momen-momen 'Wah, baru tau,' 'Oh iya ya,' dan 'Anjrit ga kepikiran!' Walaupun ada juga momen-momen 'Naon sih ieu' tapi ya kelokan-kelokan tak terduga itulah yang membuat buku ini asik dibaca. 

Dalam sebuah wawancara, Budi pernah bilang bahwa ia mengeksplor berbagai media dalam menuliskan yang kelak menjadi cikal-bakal Trocoh. Selain blog ada mailing list, twitter, WA group, instagram, dan entah apa lagi. Tapi buat saya, semangat Trocoh kok ya tetap semangat blog di awal-awal 2000an itu. Menuliskan hal-hal yang menarik minat, gak terlalu memikirkan apa yang sedang tren, gak peduli ada yang baca atau enggak (ok yang ini boong, buat apa ada kanal komen), gak peduli akan ide-ide “besar”, karena besar atau kecil itu kan hanya state of mind.

Ternyata saya pernah menulis seperti ini di tahun 2006.
Soe Hok Gar itu salah satu nickname untuk Budi
karena dia *eh* garing, sedangkan Tjik Rantje tak lain
adalah Ariani Darmawan yang kelak menjadi istrinya

26 Mei 2021

757

Gue pertama kali nonton Friends waktu SMA, pertengahan ’90-an lah. Tayangnya hampir tengah malam di RCTI. Waktu itu rasanya paling keren sedunia deh udah nonton Friends. Maklum anak SMA Lain-lain.
Seperti pernah gue tulis di sini, gue berevolusi bersama Friends. Dimulai dengan keren-kerenan, lalu nonton rame-rame bareng, yeah, friends, lalu ‘menjadi’ sedikit Monica, sedikit Ross, sedikit Rachel, sedikit Phoebe, sedikit Chandler, dan sedikit Joey di kehidupan nyata. Entah gimana gue bisa nyamain kehidupan gue sama kehidupan enam lajang kulit putih umur 20-an nan rupawan di New York City, tapi rasanya iya aja. 
Dan dari sekian banyak teori kenapa Friends segitu berhasilnya, yang paling bisa gue beli ya itu: kita merasa terhubung entah gimana sama karakternya. Friends juga ditulis sesuai dengan cara menulis komedi situasi yang baik dan benar (atau bisa jadi dibalik: cara menulis komedi situasi yang baik dan benar dicontohkan oleh Friends—saking teladannya sekelompok calon penulis berusaha mengikutinya ketika mengembangkan komedi situasi mereka sendiri di serangkaian malam-malam tanpa masa depan). Friends berhasil menjadi cetakan komsit nongkrong. Mungkin ada yang lebih lucu dan lebih cerdas di masanya (Seinfeld? Will and Grace?), tapi Friends mungkin yang paling… balans. 

Dalam rangka reuni halal bi halal Friends, atau sebenarnya karena kepingin aja sih, gue akan membahas satu pendahulu dan tiga penerusnya.
     

Living Single

Inget gak di tahun ’90-an dan sebelumnya, ada serial ‘putih’ dan serial ‘hitam’? Growing Pains dan The Huxtables. After school specials dan Fat Albert. Beverly Hills 90210 dan… Fresh Prince of Bel Air (mungkin bukan contoh yang tepat). Friends dan Living Single. 
Ya, Living Single juga bercerita tentang enam orang lajang umur 20-an di New York City, dan bagaimana mereka bergelut dengan karir, kisah cinta, dan pertemanan. Bedanya, di dunia Living Single, semua pemerannya berkulit hitam. Dan, oh ya, Living Single mulai tayang tahun 1993, satu tahun sebelum Friends. Bagaimana Living Single mempengaruhi bahkan mungkin dijiplak oleh Friends bisa dibaca di sini, di sini, dan di sini
Buat saya sih Living Single masuk kategori lumayan. Lumayan seru, lumayan lucu. Agak ketinggalan zaman (relatif karena semua komsit dari tahun ’90-an memang terasa ‘agak ketinggalan zaman’). Jujur gue merasa lebih terhubung sama Friends dibanding Living Single, mudah-mudahan bukan (tapi bisa jadi) karena gue rasis, tapi lebih karena gue menonton Friends pada saat yang tepat dan Living Single baru setahun yang lalu. Hal yang gue gak suka dan akhirnya bikin berhenti menonton sebenarnya terutama ini: bising. Hampir semua karakter ngegas ngomongnya, jadi lelah hayati.
 

How I Met Your Mother

Bahwa How I Met Your Mother adalah versi lebih baru dan lebih canggih dari Friends, bukan cuma kata si gue tapi mereka sendiri:

   

Penekanan di ‘lebih canggih’ sih. Kalau Friends adalah bagaimana komedi situasi harus ditulis, How I Met Your Mother adalah bagaimana komedi situasi harus dibongkar, diambil esensi kelucuannya, dan ditulis ulang dengan sejumput ganja dan setitik hiperbola.
 

Happy Endings

Kalau How I Met Your Mother ngece kebiasaan nongkrong di kafe-nya Friends, Happy Endings malah mengabsen karakter mana yang penjelmaan siapa. 


Happy Endings mungkin merupakan versi tepat-secara-politis-nya Friends. Ada karakter kulit hitam. Ada karakter gay (yang saking gak stereotipnya membuat Jack McFarland seperti karikatur). Yang membuat Happy Endings gak berhasil menurut gue adalah mereka membuat kotaknya terlalu kecil. Jane dan Alex kakak beradik. Alex meninggalkan Dave di altar. Jane, Alex, Dave, dan Penny berteman sejak kecil. Penny pacaran dengan Max sebelum Max mengakui dia gay. Brad dan Max mengikuti serial Real World yang gak pernah tayang. Entahlah, di Friends juga banyak cerita latar yang mirip, tapi di Happy Endings alih-alih menghela cerita malah membuat kehabisan napas.
 

Coupling

Coupling, katanya, adalah jawaban BBC untuk Friends. Tiga cewek, tiga cowok. Pertemanan, petualangan romansa, dan kekacauan. Nongkrong di bar bawah tanah. Kayak kenal ya. 
Coupling mulai tayang tahun 2000, bahkan ketika Friends masih tayang. Gue baru nonton musim pertama, tapi aslina bodooor. Biasanya serial Inggris, kayak The Office, lajunya terlalu lambat buat gue. Tapi Coupling pas aja.
 

How I Met Your Mother (Lagi)

Apakah How I Met Your Mother, yang mulai tayang tahun 2005, menjiplak Coupling? Entahlah. Buat gue, lucunya beda sih. Mungkin ada faktor lucu Amerika dan lucu Inggris, ditambah 24 episode per musim di Amerika memberi ruang yang lebih luas untuk ngembangin cerita dibanding enam episode per musim di Inggris. Tapi dua-duanya gue suka.


Dari sekian banyak jelmaan Friends, gak semuanya asik (New Girl, halooo) dan mungkin cuma How I Met Your Mother yang suksesnya sebanding. Jadi, apakah kita masih bisa berharap pada komedi situasi nongkrong, atau sudah saatnya pindah ke lain hati? 

14 Desember 2020

756

Did I hurt you that bad?

Or do you love her that much?

12 Juli 2020

755

Selama pandemi ini, ke-keukeuh-an gue memakai transportasi umum menjadi bumerang. Sebelumnya gak pernah kebayang bakal ada situasi menerus di mana kendaraan pribadi menjadi pilihan paling bertanggung jawab. Untungnya, karena penelitian-penelitian yang gak terkait covid praktis ditunda tahun ini, hampir semua kerjaan bisa gue kerjain di rumah (dan karena hal-hal yang bukan kosumsi publik, kerja di rumah saat ini buat gue ternyata lebih enak daripada di kantor). Saat gue sekali-kali harus keluar rumah, gue pakai taksi1. Yang ga banget adalah kalo gue perlu keluar rumah yang ga penting-penting banget, misalnya ke indo*maret. Yakali gue mesti bayar taksi 50 ribu cuma buat beli sabun.

Jadilah gue beli sepeda. Kekinian kan?


Sejauh ini tantangan terbesar dalam bersepeda adalah jalur yang menanjak. Ya bayangin aja dulu dari perapatan Rooseveltweg sampai Biotechnion itu nanjaknya gak sampai 1 km, itupun kemiringannya gak sampai 5%. Dan mungkin ada faktor bahwa “dulu” itu lebih dari 10 tahun yang lalu ketika umur masih kepala dua hahaha.

Tapi setelah jalur menanjak, imbalannya di arah sebaliknya jalurnya menurun dong? Euh, tidak semudah itu Fergusso. Emang sih enak kalau turun gak ngos-ngosan. Tapi tantangannya menjaga kecepatan supaya tetap stabil, dan di saat seperti ini kangen berat sama sepeda-oma gue yang pake rem kaki. Udah gitu kondisi jalan tea yang gak selalu mulus (ini teh belum ngomongin kegaiban jalur sepeda ya, masih kondisi “jalan mobil” aja). Bayangin lo di jalan menurun, bergantung sama rem tangan untuk ngatur kecepatan, terus ujug-ujug aspalnya bergelombang sementara di belakang ada motor yang ngebut juga.

Menjaga supaya bersepeda bagai meniti shiratal mustaqim alias di satu jalur lurus juga ternyata sulit. Alasannya karena sepeda itu relatif ringan dan selama bersepeda, setengah badan kita terus-menerus bergerak. Hal ini ga kerasa sama gue sebelumnya karena di Wageningen ke mana-mana juga lewat jalur sepeda; asal gada yang mau nyusul mah lenggak-lenggok dikit ga apalah. Lah kalo yang mau nyusulnya angkot apa kabar?

Tapi yaa… kalau berlatih mah (mudah-mudahan) lama-lama terbiasa deh. Jalur nanjak asal sabar gak kepingin ngebut lama-lama sampai juga. Sekarang udah bisa ke supermarket yog*ya seberangnya Unpar. Target jangka panjang sebenarnya pingin nyepeda ke kantor, tapi ini kayaknya masih jauuuh banget. Bukan cuma perlu latihan fisik tapi juga mental. Kemarin keluar sepedaan gak sengaja bareng jam pulang kantor aja jiper, padahal Ciumbuleuit ya gak parah-parah amat lalu lintasnya.

Jadi sementara nyepeda untuk belanja dulu aja deh.


______________________________
1 Naik taksi termasuk kegiatan berisiko sedang, lumayan dibandingkan kendaraan umum yang termasuk risiko tinggi. Sementara pertanggungjawaban gue itu aja dulu deh.

01 Januari 2020

754

┏━━┓┏━━┓┏━━┓┏━━┓
┗━┓┃┃┏┓┃┗━┓┃┃┏┓┃
┏━┛┃┃┃┃┃┏━┛┃┃┃┃┃
Hapuskan Angkot Bandung
┃┏━┛┃┃┃┃┃┏━┛┃┃┃┃
┃┗━┓┃┗┛┃┃┗━┓┃┗┛┃
┗━━┛┗━━┛┗━━┛┗━━┛

Setelah bertaun-taun belain angkot Bandung1, akhirnya gue menyerah dan mengakui kenyataan bahwa angkot sudah saatnya dipensiunkan. Ya ngapain juga sih dipertahankan kalau khalayak tidak menghendaki.

Dibilangin: Jumlah mobil pribadi 40 kali lebih banyak dari angkot, belum lagi motor pribadi.
Khalayak: Dasar angkot, bikin macet aja!

Dibilangin: Jumlah angkot jauh berkurang karena karena kalah bersaing sama angkutan daring.
Khalayak: Dasar angkot, bikin macet aja!

Dibilangin: Taksi dan ojek daring mangkal sembarangan, mengokupasi taman dan trotoar dan bahu jalan.
Khalayak: Dasar angkot, bikin macet aja!


Mau dibenahin pun percuma. Dipasangin tv, dikasih wifi dan buku bacaan, dipakein interior mewah, dibikinin aplikasi… tetap tidak membuat orang mau naik angkot.

Terus gantinya apa? Bus kota? LRT? MRT? Ojol? Taksol?

Dua yang terakhir mah gak usah dibilangin ya. Pada prakteknya memang mereka yang menggantikan angkot. Walaupun ada indikasi era bakar duit akan memudar dan tarif bisa jadi akan memahal, angkutan daring masih akan jadi andalan hingga jangka waktu yang sulit ditentukan. Hanya perlu diingat bahwa sejatinya angkutan daring adalah kendaraan pribadi yang mengangkut penumpang2. Dari perspektif arus lalu lintas, tidak ada efisiensi layaknya angkutan umum yang memiliki jalur tetap dan keriuhan. Bahwa angkutan daring membunuh angkutan umum, yang kita rasakan secara intuitif, sudah terbukti dengan data di beberapa kota besar. Pada kondisi angkutan umum yang buruk saat ini di Bandung dan Indonesia pada umumnya, angkutan daring menjadi kontra-insentif bagi pemda untuk melakukan perbaikan3.

LRT, MRT, dan angkutan berbasis rel lainnya tentu ideal. Saat ini ada Kereta Bandung Raya yang sebenarnya memiliki jalur strategis, hanya saja penggunaannya belum optimal. Untuk membuat moda baru kekinian, tentu saja perlu modal besar dan kemauan politik. Solusi parsial seperti rute yang terpotong sepertinya kurang bermanfaat—dan pada kenyataannya tidak terwujud juga.

Bus kota adalah pilihan ideal selanjutnya. Saat ini ada sekitar selusin trayek bus kota di Bandung. Sayangnya ketepatan waktu, frekuensi, dan kedisiplinan naik-turun penumpang masih menjadi pekerjaan rumah besar untuk menjadikan bus kota sebagai sarana angkutan utama. Juga tidak semua jalan “utama” di Bandung dapat mengakomodir bus kota berukuran besar, apalagi jalur bus khusus yang steril. Untuk jalan-jalan berukuran sedang yang dominan di Bandung, bus ukuran medium (kapasitas duduk 20-30 penumpang) mungkin bisa digunakan.

Untuk jalan-jalan berukuran kecil (lokal, perumahan), seharusnya bisa dilayani dengan minibus berkapasitas 10-15 penumpang. Kapasitas yang kecil bisa dikompensasi dengan jumlah mobil yang lebih banyak, tentu disesuaikan dengan kepadatan rute. Rute tentu saja bergantung pada pola pergerakan masyarakat terkini, yang dapat dimutakhirkan sesuai kebutuhan4. Pengelolaan idealnya oleh BUMD yang disubsidi pemda, walaupun pengelolaan oleh pihak swasta juga memungkinkan selama masih berorientasi pelayanan. Namanya? Boleh Bandung Microtrans atau Kuriling Bandung atau apalah yang kekinian dan menjual. Yang penting bukan angkot. Omat nya. Bukan Angkot5.

_____________________________________
1 Untuk adilnya, saya memang punya privilese dengan hidup yang ramah-angkot: waktu menglaju harian yang tak lebih dari 2x30 menit dan sopir angkot yang saroleh.
2 Berdasarkan definisi berikut (cetak tebal dari saya): "Transportasi umum (dikenal pula sebagai transportasi publik atau transportasi massal) adalah layanan angkutan penumpang oleh sistem perjalanan kelompok yang tersedia untuk digunakan oleh masyarakat umum, biasanya dikelola sesuai jadwal, dioperasikan pada rute yang ditetapkan, dan dikenakan biaya untuk setiap perjalanan." Angkutan daring hanya memenuhi kriteria akses masyarakat umum dan dikenakan biaya. Hal yang sama berlaku untuk taksi reguler dan ojek pangkalan.
3 Contoh paling telanjang spektakulernya adalah ketika Dishub Bandung mewajibkan karyawannya menggunakan Grab ke kantor, yang kemudian tidak bisa dipenuhi bahkan oleh Kadishub-nya sendiri.
4 Rute angkutan umum Bandung yang sudah berusia puluhan tahun sangat genting untuk dikaji ulang. Dari contoh ala-ala seperti ini saja terlihat tumpang tindihnya rute angkot di Bandung.
5 Bukan Angkot Bandung disingkat... BAB. Jurus Tukul ternyata tidak selalu jitu di setiap kesempatan.

18 Agustus 2019

753

Because I was kinda busy with season two, I didn't explore too many series this year. So unlike last year, I only have one comedy series recommendation:


It's that good that it earns an extra space between letters so I can emphasize the point. It started looking like a cheesy 90 sitcom but it's anything but. The twist is so brilliant I didn't see it coming (although, to be fair, I've never seen anything coming).

Apparently Michael Schur also created The Office, Parks and Rec, and Brooklyn 99. I finished Brooklyn 99, quitted The Office in season 5 or 6-ish (things getting too relationshipy in weird way, no regret there). I quitted PnR halfway through season 3, maybe I should revisit there.

In the meantime...