After writing about how rebel vis-a-vis counter-culture is just marketing in disguise, suddenly I'm bored with Windows. Does anyone have experience running office 2003 on wine? I'm thinking of moving to Ubuntu. (no I don't want to move to MacOSX. it's not rebellious enough :D)
And, EID MUBARAK everybody :)
18 September 2009
16 September 2009
448
Gue baru saja menyelesaikan kuliah di program sains lingkungan, tapi gue lebih suka bilang bahwa gue mengerjakan teknologi lingkungan. Bukannya gue berpikir bahwa 'teknologi' itu lebih keren dari 'sains' (setidaknya gue beranggapan keduanya sama kerennya, atau sama membosankannya, tergantung diliat dari mana), tapi lebih karena gue gak berbicara sama pohon. Gue gak makan sayuran organik dan gak pake sendal kulit kayu buatan suku terasing. Gue udah beli coklat verkade sebelum mereka memasang tanda 'fair trade' di bungkusnya.
Iya sih itu semua stereotipe, tapi sampai seorang teman sekelas gue bilang 'Gue tinggal di hutan hujan tropis selama setaun dan selama itu gue praktis ngomong sama pohon', gue gak mengira bahwa gue akan ketemu orang yang benar-benar menjalankan hidup seperti itu.
Makanya gue bahagia banget baca buku ini. Puas gitu. Kayaknya ketidakpedulian gue sama lingkungan terjustifikasi :P
Ngga ding :D
The Rebel Sell (diterjemahkan menjadi Radikal Itu Menjual) membahas perkeliruan gerakan-gerakan budaya tanding, salah satunya aktivisme lingkungan. Gue pikir Spaargaren 101 tidak cukup memodali gue untuk ikut-ikutan mengkritik. Kalo orang mau bicara sama pohon atau bikin petisi menolak perburuan ikan paus, ya silakan aja. Selama gak ngeganggu gitu. Nah justru yang dibahas buku itu, kadang-kadang, aksi-aksi budaya tanding itu malah kontraproduktif terhadap apa yang diperjuangkan. Contohnya? Liat ulasannya Mumu aja ya, males nulisnya :P
Kadang-kadang, emang mudah kok tergelincir. Gue sempet ngerjain proyek tentang makanan lokal. Pernah denger tentang food miles? Kedengaran masuk akal kan? Emang masuk akal kalau lo tinggal di Indonesia, itu pun gak selalu. Dari sudut pandang lingkungan, terkadang memproduksi makanan secara lokal dampak lingkungannya bisa lebih besar daripada mengangkut makanan dari daerah lain (liat bagian bawah artikel wikipedia yang tadi). Dan kalo lo kebetulan tinggal di negara maju, ada dampak ekonomi yang juga harus diperhitungkan.
Jadi pesan moralnya, teliti sebelum bicara dengan pohon. Mungkin dia tidak mau mendengar. Mungkin lebih baik lo melakukan hal lain yang lebih berguna.
Iya sih itu semua stereotipe, tapi sampai seorang teman sekelas gue bilang 'Gue tinggal di hutan hujan tropis selama setaun dan selama itu gue praktis ngomong sama pohon', gue gak mengira bahwa gue akan ketemu orang yang benar-benar menjalankan hidup seperti itu.
Makanya gue bahagia banget baca buku ini. Puas gitu. Kayaknya ketidakpedulian gue sama lingkungan terjustifikasi :P
Ngga ding :D
The Rebel Sell (diterjemahkan menjadi Radikal Itu Menjual) membahas perkeliruan gerakan-gerakan budaya tanding, salah satunya aktivisme lingkungan. Gue pikir Spaargaren 101 tidak cukup memodali gue untuk ikut-ikutan mengkritik. Kalo orang mau bicara sama pohon atau bikin petisi menolak perburuan ikan paus, ya silakan aja. Selama gak ngeganggu gitu. Nah justru yang dibahas buku itu, kadang-kadang, aksi-aksi budaya tanding itu malah kontraproduktif terhadap apa yang diperjuangkan. Contohnya? Liat ulasannya Mumu aja ya, males nulisnya :P
Kadang-kadang, emang mudah kok tergelincir. Gue sempet ngerjain proyek tentang makanan lokal. Pernah denger tentang food miles? Kedengaran masuk akal kan? Emang masuk akal kalau lo tinggal di Indonesia, itu pun gak selalu. Dari sudut pandang lingkungan, terkadang memproduksi makanan secara lokal dampak lingkungannya bisa lebih besar daripada mengangkut makanan dari daerah lain (liat bagian bawah artikel wikipedia yang tadi). Dan kalo lo kebetulan tinggal di negara maju, ada dampak ekonomi yang juga harus diperhitungkan.
Jadi pesan moralnya, teliti sebelum bicara dengan pohon. Mungkin dia tidak mau mendengar. Mungkin lebih baik lo melakukan hal lain yang lebih berguna.
15 September 2009
447
My Dutch university was being very Dutch and the Spanish university that I apply to was being very Spanish. Klopt. Verdadero.
-emang belanda ma spanyol susah bener akur
-emang belanda ma spanyol susah bener akur
09 September 2009
446
The last four weeks
a.Seeing from the eyes of Teto.
and this morning
b. (The late) Bening laughed at my face.
At theend beginning of the day, there's always Mas Bono :D
a.
and this morning
b. (The late) Bening laughed at my face.
At the
Langganan:
Postingan (Atom)