23 November 2008

391

Gue ke IDFA, International Documentary Festival Amsterdam, kemarin. Cuma sehari, itupun cuma nonton tiga empat film. Puas? Tentu tidak, hehe. Pingin lagiiiiiiiii...

Kalo pas ke IFFR dulu sak-Rotterdam rasanya suasananya festival banget, kali ini gue ngerasa kehebohan cuma di jalan kebab dan sekitarnya. Hehe, tempat jualan tiketnya di Regulierbreestraat, yang di situ banyak rumah makan Turki jadi gue nyebutnya jalan kebab. Pathe Tuschinski juga di situ. Jalan dikit, ketemu Pathe Munt. Halah, gak jauh-jauhlah pokonya.

Gue agak-agak telmi dalam memilih film, baik di rumah maupun di lokasi, sehingga ketebaklah: kehabisan. Huhuu... sedih. Pingin banget nonton film pembukanya, Enjoy Poverty (berdoa, mudah-mudahan diputer di Cinemec atau Movie-W).

Film pertama, Playing, dari Brazil. Idenya bagus si, tentang beberapa perempuan yang diaudisi untuk menceritakan kisah mereka dalam sebuah film. Terus kisah mereka diinterpretasikan ulang oleh aktris profesional. Masalahnya adalah filmnya statis banget. 100 menit isinya cuma orang cerita. Paling ngubah sudut pengambilan gambar dikit. Satu-satunya variasi adegan cuma naik tangga. Cape aja gitu nontonnya.

Film kedua dan ketiga biasa aja. Lucanamarca lumayan menarik si. Tentang pembunuhan massal di sebuah desa di puncak gunung oleh PKI-nya Peru. Maksud gue, menarik karena lo bisa ambil benang merah dengan apa yang (pernah) terjadi di Indonesia.

Dan film ketiga, juga tentang komunis. Hehe, hari gini? (soalnya film-film tentang Islam fundamentalis udah pada abis tiketnya) Yodok Stories, gue kasi 6 skala 7 ni film. Ceritanya edan, tentang korban-korban yang berhasil kabur dari kamp konsentrasi di Korea Utara. Dan cara nyeritainnya juga asik. Film ini made my day.

Tapi tentu saja tetap ada tukgling-nya (suara latar Edo: "Rani bangeeeet..."). Gue ga beli kartu diskon karena mahal banget, 20 euro dan baru impas setelah 8 film. Ga mungkinlah gue nonton sebanyak itu. Ternyata... kartu diskon itu bisa didapatkan gratis dengan menunjukkan studenkaart, dan gue baru menyadarinya dalam kereta menuju Wageningen. GUBRAKKK!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar