27 Juni 2006
26 Juni 2006
24 Juni 2006
237
Saya jarang nonton TV. Padahal sempat menulis untuk televisi (dan menulis modul "Menulis untuk Televisi", hehe. Draft-nya ke mana ya?). Gak ada alasan khusus sih, gimana lagi pinginnya aja.
Lagian kalo dipikir-pikir, adanya DVD bajakan mau tidak mau mengubah paradigma menonton televisi (halah, bahasanya). Serial-serial baru yang bahkan belum tayang, udah ada bajakannya di Glodok. Jangan lagi serial lama. Bahkan udah ada paket hemat, 1 musim lengkap dalam 1 keping (serial setengah jam) atau 2 keping (serial satu jam). Memang agak rawan di kualitas dan teksnya jadi cuma bahasa Inggris, tapi yah... namanya juga bajakan.
Sebenarnya kalo bisa milih sih, gue lebih seneng menonton serial secara "normal", dari minggu ke minggu di televisi. Seneng aja gitu ada sesuatu yang diharapkan seminggu sekali (haha, kaciri jomblo). Masalahnya suka adaaa aja gitu yang gak cucok. Ya ada kerjaan-lah, ketiduran-lah. Kayak dulu gue ngotot pingin nonton 24 tiap Jumat malem di SCTV. Trus yang mulailah kerja-nyampe-rumah-jam-setengah-sembilan- malem, dan malah mulai nglembur-lembur presentasi dan nginep di kosan Onid. Bubarlah si Jack Bauer dan akhirnya gue beli juga DVD-nya di Dalem Kaum toh. Kemarin, gue udah namatin Lost musim pertama ketika tau serialnya lagi tayang di Indosiar tiap Sabtu sore. Yah, nasib...
Kayaknya "serial" terakhir yang gue tonton di TV adalah... American Idol. Hehe, gak penting banget ya. Gue berenti nonton sejak Chris Daughtry keluar. Hiks.
Kalo akhir-akhir ini agak sering nonton TV, tentunya untuk nonton piala dunia. Tentunya nonton di TV karena gak ada DVD bajakannya. Kalopun nanti ada yang jual seperti dulu pernah dilakukan seorang teman, gue juga gak tertarik membelinya. Udah gak penting kalee...
Ngomong-ngomong, piala dunia sekarang tertib banget ya? Yang maju perdelapan final hampir semua tim-tim unggulan dan tak ada kejutan-kejutan spektakuler dari tim-tim tak diunggulkan. Eh, kecuali Ghana kali ya? Pokoknya hampir sesuai perhitungan di atas kertas deh. Jerman banget-lah :P
(Huhuuu... baru sedih karena Korsel gagal ke perdelapan final. Hiks hiks...)
Lagian kalo dipikir-pikir, adanya DVD bajakan mau tidak mau mengubah paradigma menonton televisi (halah, bahasanya). Serial-serial baru yang bahkan belum tayang, udah ada bajakannya di Glodok. Jangan lagi serial lama. Bahkan udah ada paket hemat, 1 musim lengkap dalam 1 keping (serial setengah jam) atau 2 keping (serial satu jam). Memang agak rawan di kualitas dan teksnya jadi cuma bahasa Inggris, tapi yah... namanya juga bajakan.
Sebenarnya kalo bisa milih sih, gue lebih seneng menonton serial secara "normal", dari minggu ke minggu di televisi. Seneng aja gitu ada sesuatu yang diharapkan seminggu sekali (haha, kaciri jomblo). Masalahnya suka adaaa aja gitu yang gak cucok. Ya ada kerjaan-lah, ketiduran-lah. Kayak dulu gue ngotot pingin nonton 24 tiap Jumat malem di SCTV. Trus yang mulailah kerja-nyampe-rumah-jam-setengah-sembilan- malem, dan malah mulai nglembur-lembur presentasi dan nginep di kosan Onid. Bubarlah si Jack Bauer dan akhirnya gue beli juga DVD-nya di Dalem Kaum toh. Kemarin, gue udah namatin Lost musim pertama ketika tau serialnya lagi tayang di Indosiar tiap Sabtu sore. Yah, nasib...Kayaknya "serial" terakhir yang gue tonton di TV adalah... American Idol. Hehe, gak penting banget ya. Gue berenti nonton sejak Chris Daughtry keluar. Hiks.
Kalo akhir-akhir ini agak sering nonton TV, tentunya untuk nonton piala dunia. Tentunya nonton di TV karena gak ada DVD bajakannya. Kalopun nanti ada yang jual seperti dulu pernah dilakukan seorang teman, gue juga gak tertarik membelinya. Udah gak penting kalee...Ngomong-ngomong, piala dunia sekarang tertib banget ya? Yang maju perdelapan final hampir semua tim-tim unggulan dan tak ada kejutan-kejutan spektakuler dari tim-tim tak diunggulkan. Eh, kecuali Ghana kali ya? Pokoknya hampir sesuai perhitungan di atas kertas deh. Jerman banget-lah :P
(Huhuuu... baru sedih karena Korsel gagal ke perdelapan final. Hiks hiks...)
10 Juni 2006
236
Ini kedua kalinya gue terdampar pada jam delapan pagi di Jakarta. Setelah berjuang membulatkan tekad untuk mandi subuh-subuh, dengan semangat mengejar 30 ribu naik angkot ke stasiun... dan ketinggalan kereta. Akhirnya naik travel, malah nyampe jam delapan.
Kenapa gue bilang terdampar, karena dokter gigi gue prakteknya jam sembilan pagi. Dan apa coba yang lo lakukan jam delapan pagi di Jakarta, hari sabtu lagi? Kepikir juga sih untuk menyambangi rumah teman yang tak jauh dari situ. Masalahnya waktunya nanggung banget. Nanti baru sebentar berhandai-handai, sudah harus pergi. Beberapa minggu yang lalu, yang gue lakukan adalah... jalan dari Komdak ke Farmasi.
Hari ini, setelah bengong beberapa saat di halte, gue memutuskan mengikuti ke mana kaki melangkah. Lalu dapet ide tempat hiburan yang buka selama 24 jam: warnet. Sayang ide itu tersusun ketika mendekati halte hilton, yang cuma beda satu halte dari farmasi. Jadilah gue jalan lagi ;p
Ngomong-ngomong, jam-delapan-pagi-hari-sabtu di Jakarta menarik juga. Ada polisi-polisi lagi senam di Komdak, ada yang ngepel jembatan busway, ada bapak-bapak tua yang kerjaannya nyapu di jembatan farmasi. Kadang-kadang gue kangen Jakarta.
Kenapa gue bilang terdampar, karena dokter gigi gue prakteknya jam sembilan pagi. Dan apa coba yang lo lakukan jam delapan pagi di Jakarta, hari sabtu lagi? Kepikir juga sih untuk menyambangi rumah teman yang tak jauh dari situ. Masalahnya waktunya nanggung banget. Nanti baru sebentar berhandai-handai, sudah harus pergi. Beberapa minggu yang lalu, yang gue lakukan adalah... jalan dari Komdak ke Farmasi.
Hari ini, setelah bengong beberapa saat di halte, gue memutuskan mengikuti ke mana kaki melangkah. Lalu dapet ide tempat hiburan yang buka selama 24 jam: warnet. Sayang ide itu tersusun ketika mendekati halte hilton, yang cuma beda satu halte dari farmasi. Jadilah gue jalan lagi ;p
Ngomong-ngomong, jam-delapan-pagi-hari-sabtu di Jakarta menarik juga. Ada polisi-polisi lagi senam di Komdak, ada yang ngepel jembatan busway, ada bapak-bapak tua yang kerjaannya nyapu di jembatan farmasi. Kadang-kadang gue kangen Jakarta.
06 Juni 2006
235
Setelah mengalami kejeprutan yang cukup panjang kemaren, gue memutuskan untuk membuat semacam peta kejeprutan. Apa-apa yang bikin gue jeprut, tahapan-tahapan yang harus diambil untuk mengatasinya, dan targetan-targetan yang harus dicapai (serta tarikan dari setiap kegiatan tentunya, huahaha!). Berhasil juga lho. Gue sampe kagum sama ide gue sendiri ;)
01 Juni 2006
234
Kantor sedang membosankan jadi saya mengajak Soe Hok Gar nonton. Mungkin ada hubungan sebab-akibat antara kebosanan dan penurunan kecerdasan, sebab film yang kami tonton adalah Lentera Merah. Setelah 100 menit yang seolah tak ada habisnya, akhirnya saya keluar dari Regent sambil bertanya-tanya dalam hati, "Gimana caranya ke Astor yang murah kalo gue kepaksa nonton film kek gini lagi?"
Lalu kami bercakap-cakap.
"Ran, lu bikin review-nya ya."
"Gak, gak, gak," saya menggeleng-gelengkan kepala.
"Elu kan udah ikutan workshop menulis review. Ayolah. Nanti gua kirim ke Timbuktu Pos. Ada temen gua Badu di situ."
"Aduuuh gue gak sanggup deh."
"Semua overhead ditanggung. Tiket lu diganti."
"Gue mendingan bayarin lo daripada disuruh nulis."
Percakapan di atas, tentu saja, tidak sungguh-sungguh terjadi. Tapi saya sungguh-sungguh menyesal telah menjerumuskan Soe Hok Gar untuk menonton film ini. Makanya saya bikin posting ini. Sekedar menebus dosa. Saya peringatkan, mungkin akan banyak bocoran cerita. Ah, tapi gak penting juga sih. Saya memutuskan menggunakan pendekatan Marselli Sumarno yang saya dapat dari workshop yang disebutkan Soe Hok Gar di atas. Oh, saya lupa, percakapan itu cuma khayalan.
1. Tema dan maksud-maksud apa yang ingin dikatakan sutradara?
Kayaknya sutradara Hanung Bramantyo (termasuk juga penulis skenario Ginatri S. Noer dan entah siapa lagi yang ikut bertanggung jawab) ingin mengangkat suatu tema keren: pembantaian PKI tahun '60-an. Tak lupa jurnalis-jurnalis muda yang idealis dan kritis, mungkin sedikit radikal. Dan sebuah film horor yang tidak biasa, dengan hantu-hantu dan cara-cara kematian yang maunya lain dari yang lain. Oya, pesan moral film ini dibacakan dengan lugas di akhir film. Gak bakal kelewat deh.
2. Bagaimana peran masing-masing unsur dengan kontribusinya terhadap tema, maksud utama, atau efek totalnya?
Soe Hok Gar bilang, pembuat film ini pasti ngerasa apa yang ditulisnya keren. Dia memang suka sok berbakat cenayang, dan mulai membayangkan adegan-adegan proses kreatif yang tidak kreatif.
"Kayaknya seru juga tuh, kalo hantunya mahasiswa radikal, aliran kiri."
"Kayaknya keren ya matinya ditusuk-tusuk kartu. Kartu 6 sama 5!"
"Hantunya pasti gak bisa pake komputer. Pake mesin tik, keren gak?"
Dan seterusnya. Saya yakin sih kejadian sebenarnya gak begitu. Walo gimanapun hasilnya terasa seperti itu dan ada akal sehat yang terpaksa ditumbalkan. Kasian sekali.
Karakter-karakternya juga gak meyakinkan sebagai jurnalis yang dan seterusnya dan seterusnya itu. Judul-judul artikelnya memang sangar-sangar, tapi dari dialog-dialognya gak ada tuh yang tampak cerdas dan seterusnya dan seterusnya sehingga Lentera Merah jadi majalah yang segitu disegani. Dan tugas pertama para calon jurnalis yang bermisi menegakkan kebenaran ini adalah meliput tempat-tempat berhantu di UNI (ini singkatan dari Universitas Nasional Indonesia), menantang sekali. Oya, Hanung sendiri bilang, "Mereka semua stupid." Mau gimana lagi.
5. Apa reaksi personal kita terhadap film itu?
(Menurut Marselli Sumarno, ini nomer 5 tapi secara urutan bahasan gue kayaknya lebih enak ditulis di sini)
Film ini membuat saya sebal karena membuat saya takut. Tidak, tidak pake berhasil. Saya memang penakut, tapi film ini tidak membuat saya takut lewat bangun suasana yang mencekam. Darah menetes-netes, bedak putih-mata hitam, tangan terjulur, dan seterusnya dan seterusnya. Yeah, right. Saya cuma sebal karena dikagetkan, jadi sebenarnya film ini gak bikin takut. Cuma bikin kaget. Dan menggelikan. Tapi lebih banyak menyebalkan.
3. Bagaimana ambisi film itu terlihat dalam usaha-usaha penyajiannya?
Ambisi film ini adalah menakut-nakuti dengan keren.
4. Apakah film itu gagal atau berhasil, dan kenapa?
Kalo soal menakut-nakuti, seperti saya bahas sebelumnya, film ini malah bikin sebal. Kalo soal keren, menurut saya sih yang keren cuma tampangnya yang jadi Iqbal. Film ini gagal karena gagal tampil meyakinkan, yang disebabkan defisiensi akal sehat dari awal sampai akhir film. Tentunya bukan karena ini film hantu, toh setelah menentukan latar dan karakter, ada alur akal sehat yang harus dipatuhi. Baca saja tulisan Pak J.B. Kristanto.
Katanya latar belakang Hanung bikin film ini adalah karena tanggal lahirnya 1 Oktober yang selama bertahun-tahun diperingati dengan bendera setengah tiang (seingat saya biasanya bendera setengah tiang itu tanggal 30 September, tapi mungkin juga saya salah). Hanung lalu baca bukunya Soe Hok Gie (tidak ada hubungan sodara dengan Soe Hok Gar) dan mencomotnya sebagai judul. Haibat. Sangat berwawasan. Selanjutnya mungkin Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan... untuk film melodrama tentang suka-duka polisi lalu lintas. Walopun cuma diambil sebagai judul, film ini emang nampak terinspirasi sosok Soe Hok Gie. Bahkan setelah semua berlalu, Iqbal (yang agak-agak mirip Nicholas Saputra) diceritakan pergi ke Semeru. Kebetulan sekali ya.
Ngomong-ngomong di akhir film ada tangan terulur dan jreng-jreng... tangan siapakah itu? Biasanya di film-film horor ini standar buat ngegantung cerita, benar? Brarti hantunya masih ada, dan kita bisa mengharapkan kehadirannya taun depan, tanggal 20 Juli 2007. Mudah-mudahan saya tidak sedang bosan di kantor pada tanggal segitu.
Lalu kami bercakap-cakap.
"Ran, lu bikin review-nya ya."
"Gak, gak, gak," saya menggeleng-gelengkan kepala.
"Elu kan udah ikutan workshop menulis review. Ayolah. Nanti gua kirim ke Timbuktu Pos. Ada temen gua Badu di situ."
"Aduuuh gue gak sanggup deh."
"Semua overhead ditanggung. Tiket lu diganti."
"Gue mendingan bayarin lo daripada disuruh nulis."
Percakapan di atas, tentu saja, tidak sungguh-sungguh terjadi. Tapi saya sungguh-sungguh menyesal telah menjerumuskan Soe Hok Gar untuk menonton film ini. Makanya saya bikin posting ini. Sekedar menebus dosa. Saya peringatkan, mungkin akan banyak bocoran cerita. Ah, tapi gak penting juga sih. Saya memutuskan menggunakan pendekatan Marselli Sumarno yang saya dapat dari workshop yang disebutkan Soe Hok Gar di atas. Oh, saya lupa, percakapan itu cuma khayalan.
1. Tema dan maksud-maksud apa yang ingin dikatakan sutradara?
Kayaknya sutradara Hanung Bramantyo (termasuk juga penulis skenario Ginatri S. Noer dan entah siapa lagi yang ikut bertanggung jawab) ingin mengangkat suatu tema keren: pembantaian PKI tahun '60-an. Tak lupa jurnalis-jurnalis muda yang idealis dan kritis, mungkin sedikit radikal. Dan sebuah film horor yang tidak biasa, dengan hantu-hantu dan cara-cara kematian yang maunya lain dari yang lain. Oya, pesan moral film ini dibacakan dengan lugas di akhir film. Gak bakal kelewat deh.
2. Bagaimana peran masing-masing unsur dengan kontribusinya terhadap tema, maksud utama, atau efek totalnya?
Soe Hok Gar bilang, pembuat film ini pasti ngerasa apa yang ditulisnya keren. Dia memang suka sok berbakat cenayang, dan mulai membayangkan adegan-adegan proses kreatif yang tidak kreatif.
"Kayaknya seru juga tuh, kalo hantunya mahasiswa radikal, aliran kiri."
"Kayaknya keren ya matinya ditusuk-tusuk kartu. Kartu 6 sama 5!"
"Hantunya pasti gak bisa pake komputer. Pake mesin tik, keren gak?"
Dan seterusnya. Saya yakin sih kejadian sebenarnya gak begitu. Walo gimanapun hasilnya terasa seperti itu dan ada akal sehat yang terpaksa ditumbalkan. Kasian sekali.
Karakter-karakternya juga gak meyakinkan sebagai jurnalis yang dan seterusnya dan seterusnya itu. Judul-judul artikelnya memang sangar-sangar, tapi dari dialog-dialognya gak ada tuh yang tampak cerdas dan seterusnya dan seterusnya sehingga Lentera Merah jadi majalah yang segitu disegani. Dan tugas pertama para calon jurnalis yang bermisi menegakkan kebenaran ini adalah meliput tempat-tempat berhantu di UNI (ini singkatan dari Universitas Nasional Indonesia), menantang sekali. Oya, Hanung sendiri bilang, "Mereka semua stupid." Mau gimana lagi.
5. Apa reaksi personal kita terhadap film itu?
(Menurut Marselli Sumarno, ini nomer 5 tapi secara urutan bahasan gue kayaknya lebih enak ditulis di sini)
Film ini membuat saya sebal karena membuat saya takut. Tidak, tidak pake berhasil. Saya memang penakut, tapi film ini tidak membuat saya takut lewat bangun suasana yang mencekam. Darah menetes-netes, bedak putih-mata hitam, tangan terjulur, dan seterusnya dan seterusnya. Yeah, right. Saya cuma sebal karena dikagetkan, jadi sebenarnya film ini gak bikin takut. Cuma bikin kaget. Dan menggelikan. Tapi lebih banyak menyebalkan.
3. Bagaimana ambisi film itu terlihat dalam usaha-usaha penyajiannya?
Ambisi film ini adalah menakut-nakuti dengan keren.
4. Apakah film itu gagal atau berhasil, dan kenapa?
Kalo soal menakut-nakuti, seperti saya bahas sebelumnya, film ini malah bikin sebal. Kalo soal keren, menurut saya sih yang keren cuma tampangnya yang jadi Iqbal. Film ini gagal karena gagal tampil meyakinkan, yang disebabkan defisiensi akal sehat dari awal sampai akhir film. Tentunya bukan karena ini film hantu, toh setelah menentukan latar dan karakter, ada alur akal sehat yang harus dipatuhi. Baca saja tulisan Pak J.B. Kristanto.
Katanya latar belakang Hanung bikin film ini adalah karena tanggal lahirnya 1 Oktober yang selama bertahun-tahun diperingati dengan bendera setengah tiang (seingat saya biasanya bendera setengah tiang itu tanggal 30 September, tapi mungkin juga saya salah). Hanung lalu baca bukunya Soe Hok Gie (tidak ada hubungan sodara dengan Soe Hok Gar) dan mencomotnya sebagai judul. Haibat. Sangat berwawasan. Selanjutnya mungkin Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan... untuk film melodrama tentang suka-duka polisi lalu lintas. Walopun cuma diambil sebagai judul, film ini emang nampak terinspirasi sosok Soe Hok Gie. Bahkan setelah semua berlalu, Iqbal (yang agak-agak mirip Nicholas Saputra) diceritakan pergi ke Semeru. Kebetulan sekali ya.
Ngomong-ngomong di akhir film ada tangan terulur dan jreng-jreng... tangan siapakah itu? Biasanya di film-film horor ini standar buat ngegantung cerita, benar? Brarti hantunya masih ada, dan kita bisa mengharapkan kehadirannya taun depan, tanggal 20 Juli 2007. Mudah-mudahan saya tidak sedang bosan di kantor pada tanggal segitu.
Langganan:
Postingan (Atom)
