20 Februari 2006




Gue masuk bioskop untuk nonton Jomblo dengan dua hal di pikiran:
1. Gue tidak berharap nonton film bagus, tapi gue yakin gue akan bisa nyantai dan ketawa-ketawa
2. Gue akan sangat subyektif sama film ini

Gue nonton di Regent yang terisi kira-kira 20-30an penonton, hampir semua ABG tentu saja :P Kalo dari respon yang gue tangkep sih—celetukan dan suara tawa—gue berkesimpulan rata-rata mereka suka film ini. Gue? Tentu!

Ada satu hal tentang Jomblo (ide cerita dari novel yang kemudian diangkat ke film): lo bisa suka (banget) atau sangat-sangat benci ceritanya. Dan gue pikir ini ada hubungannya dengan apakah lo bisa menerima konsep yang ditawarkan Adhitya Mulya tentang cewek-cowok atau enggak. Misalnya konsep bahwa seorang cewek mau dijadiin selingkuhan. Atau seorang cewek justru datang ke cowok yang sudah merenggut kegadisannya (halah, bahasanya). Atau konsep bahwa cowok menganggap cewek adalah makhluk terindah di dunia tapi dalam saat bersamaan bisa melakukan hal-hal yang nyakitin si cewek (daleeem... daleeem...)

Nah, secara gue bisa nerima, gue juga bisa nikmatin film ini. Setuju sama Stania, adaptasi ini lebih bagus dari novelnya. Ada hal-hal yang dengan bijak dihindari Hanung-Salman Aristo. Emang cara menghindarnya kadang-kadang rada cupu sih, tapi secara keseluruhan film ini ngalir dengan enak.

Dari film ini, gue semakin yakin kalo orang Indonesia gak bisa quoting. Petuah-petuahnya Doni (Christian Sugiono) itu rada-rada maksa euy. Tapi di luar itu aktingnya lumayan dan... ganteng pisan euy :P Bimo (Denis Adhiswara), gimana ya. Ada yang agak-agak berlebihan (dan katanya ada yang salah ya? pelajaran dari resensi-resensi yang gue baca: ganja gak bikin halusinasi). Dan menurut gue Denis emang cenderung berlebihan (gue cuma suka peran dia sebagai Mamet di AADC). Tapi gue ngerasa karakter Bimo itu emang eksis di UNB, eh, ITB, eh *lieur* Rizky Hanggono sebagai Olip... yeah, gimana yah. Rizky Hanggono gitu. Tapi—maap-maap kalo gue komentar gak pada tempatnya nih—berdasarkan pengalaman gue, orang Sumatera yang sekolah di Bandung itu kalo gak rame banget, cenderungnya malah diem banget. Nah, gue ngerasa Olip nih masuk tipe yang kedua.

Dan bintangnya tentu sang narator Agus (Ringgo Agus Rahman). Serius, maennya bagus banget. Natural, nyunda (mendengar si Agus ini yang nonton Garasi pasti nyesel pernah mendengar logat sunda teramat maksa keluar dari mulut Fedy Nuril dan Aries Budiman). Dan yang buat gue hebat, si Ringgo ini bisa ngebawain dialog-dialognya Adit dengan natural, menggunakan kata-kata seperti "fluktuasi" dan "kasual" dalam percakapan secara... kasual :P Dan, entah sengaja atau enggak, si Ringgo ini agak mirip Adit. Kalo gak percaya buktiin aja sendiri :D

Buat gue sih film ini tentu saja... ITB! ITB! ITB! Hehe... Menyenangkan sekali.

Cupu lho, katanya film ini sempet diprotes juga di ITB. Gue gak ngikutin sih, tapi kalo gak salah karena dianggap bisa memberikan citra buruk buat ITB. Di novelnya emang ada adegan ML. Trus dulu ada anak UI yang nanya, emang anak ITB kaya gitu ya? Padahal orang juga bisa bedain kali, mana ITB mana oknum. Lagian di situ kan UNB, bukan ITB. Atau jangan-jangan... memang ada konspirasi untuk menjatuhkan citra ITB. Makanya karakter Bimo dibikin keterlaluan. Denis kan anak UI! (lempar granatnya, kabuuuuuur!)

.
.
.
.
.
.
.
.
.

Udah aman?

Hehe, seperti yang gue bilang gue akan sangat subyektif sama film ini. Dan gue jadi berpikir-pikir, seberapa banyak sih referensi yang lo butuhkan untuk menonton sebuah film? Ini contoh ni ya. Garin Nugroho menganggap Bulan Tertusuk Ilalang sebagai film terbaiknya, tapi Joko Anwar menganggap film tersebut cuma bisa dimengerti sama orang Jawa. Sekedar catatan, gue nonton BTI dengan terjemahan bahasa Inggris, dan untuk dialog-dialog bahasa Jawa, gue lebih ngerti bahasa Inggris-nya daripada bahasa Jawa-nya. Tapi gue rasa bukan itu (bahasa) sih intinya, secara kita juga bisa nonton film dengan bahasa Yugoslavia dan tetep nangkep maksudnya. Aduh, contohnya terlalu berat kali ya.

Tapi apa iya sih UNB eh ITB segitu teralienasinya dari dunia luar sehingga cuma anak ITB yang bisa ngerti. (Jadi teringat sebuah skenario 90 halaman tentang ITB tapi yang gak pernah jadi dibuat gitu deeh *snif*) Soalnya sih rasanya di situ gak ada sesuatu yang terlalu ITB, eh, UNB apa ITB siiih? Kecuali cara ngomong kali, tapi bukannya Monty Tiwa lebih dahsyat (kabur lagi, hehe!). Ayo dong, ada anak UI yang mo komentar? :)

Kesimpulan yang berhasil gue ambil dari film ini:
1. Kayanya taun ini passing grade TL bakal naek.
2. Kayanya laptop-nya Olip bagusan diganti komputer deh. Tepatnya komputer rakitan yang casing-nya dibuka dan ditempelin stiker "UNB inside", "CIVILization", jeung sajabana.
3. Kalo gue gak salah, gak ada referensi di mana tepatnya letak UNB dan UNJAT ini. Tapi secara mereka menuju Unjat dengan angkot coklat yang merupakan angkot daerah Sumedang (dan tentu saja karena namanya Universitas Jatinangor, bodoh!), kita simpulkan saja bahwa Unjat berada di daerah Jatinangor. Berarti, kalo melihat peta di film dan juga kenyataan bahwa ada angkot kuning (yang disinyalir adalah angkot Dipati Ukur-Panghegar) yang lewat di depannya, bisa disimpulkan bahwa UNB terletak di daerah... Ujung Berung!

12 komentar:

  1. annnnyyyyyinngggg... (pake "y", bukan "j" biar Vira gak protes, hehehe), gw suka banget banget banget ama POSTING INI!!! you rock, girl! dan, elo tau gak sih? UNB itu kan aslinya singkatan dari Ujung Nu Berung. berarti, kesimpulan elo BENAR.

    BalasHapus
  2. Hore, ternyata banyak pendaoat kita yang sama :D (cari pendukung).... terutama tentang pemain2nya... Heeh, bener2, si CHristian Sugiono ngomong 'One night stand'-nya aja kaku ... beda sama Ringgo.
    Ah, sayang nih gak ada permalinknya, kalo ada kan bisa gue trackback.

    BalasHapus
  3. permalink ada di jam
    http://eggophilia.blogspot.com/2006/02/gue-masuk-bioskop-untuk-nonton-jomblo.html

    gue blum bs trackback :D

    BalasHapus
  4. wildy! wildy! wildy!6/3/06 23:18

    Ah, kayaknya tema posting ini adalah sepakat. Gw ketawa2 bacanya. Dan lu gak menyisakan komentar lagi buat gw, sepakat sekali. Sarujuk. Bahkan gw sepakat jg sama komentar2 sebelumnya. Terus buat apa gw komen?

    Ini aja deh, sebagai orang jogja (gw curiga karakter Bimo satu sma sama gw, ada 2 sma di jogja yang plg bnyk masuk unb, eh itb, eh.., dan sma yang satunya itu alim sekali anak2nya...jadi, ya gitu deh..). Menurut gw bahasa jawanya Dennis udah cukup bagus, walaupun, sering sekali kesaru sama bahasa jawa-jawa timuran atawa suroboyo (yang memang lebih banyak populasinya di it..eh, unb dibanding anak jogja, jd si adit preferensinya mungkin ke situ).

    Ini komen narsis atau apa sih?

    TL! TL! TL!

    hwehehehe...

    BalasHapus
  5. Ih ini yang komen anak ITB semua nih jadi pada setuju semua dan gak ada kritik yang cukup serius.
    Gue baca reviewnya di sinemaindonesia.multiply.com dikasih kancut 2.....

    BalasHapus
  6. atuh coba liat eric sasono. seperti biasa banyak kutipan nitze :P

    Dengan begini, Jomblo menjadi sebuah film yang sangat jujur dari para laki-laki tentang diri mereka. Sekalipun seluruh penggambaran film ini adalah laki-laki dengan segala persoalan dan cara pandang mereka, tetapi semuanya adalah semacam pengakuan terbuka baik disengaja maupun tidak. Secara disengaja, film ini mungkin berusaha memperlihatkan kebodohan laki-laki dan betapa rapuhnya mereka di hadapan perempuan sekaligus betapa semunya persahabatan dan komunalitas mereka. Namun sub-teks yang muncul secara tidak disengaja memperlihatkan bahwa pandangan-pandangan yang sangat berorientasi laki-laki dan dipenuhi oleh stereotipisme terhadap perempuan ini ternyata dipercaya dengan demikian naïf oleh para pembuat film ini. Namun paling tidak, kejujuran dan kenaifan ini telah menghadirkan semacam refleksi yang bisa disetujui maupun tidak. Dari sinilah perdebatan memang seharusnya dimulai.

    BalasHapus
  7. Yah... mungkin karena seperti yang elo bilang Ran: yang ngeliat "Jomblo" sebagai konteks ITB ya cuma anak ITB. Soalnya kan emang... ITB Patriarkis gitu looohhh..... Dan film ini jadi semacam nostalgia buat alumni ITB karena bisa menggambarkan kepatriarkisannya itu... hehehe

    Buat gue sih film ini buat hiburan ringan aja. Gue sama sekali gak mikir segala aspek feminisme waktu nonton film ini secara itu kenyataan juga gituloh...

    BalasHapus
  8. Name mumun6/3/06 23:20

    jadi penasaran pisan pengen nonton! hehehehe... sial...

    BalasHapus
  9. ikansapi6/3/06 23:21

    ..Di novelnya emang ada adegan ML. Trus dulu ada anak UI yang nanya, emang anak ITB kaya gitu ya? Padahal orang juga bisa bedain kali, mana ITB mana oknum.

    >> emangnya semua anak ITB itu alim..?? Guess again, my friend!

    >> trus, kenapa ya film Indonesia jarang banget yg make nama suatu tempat (sekolah, perg.tinggi, kantor, dll) seperti apa adanya aja, ga usah disamarin pake nama2 lain. Kalo film luar kan banyak tuh yg begitu. jadi lebih kerasa real, gitu lho..

    BalasHapus
  10. maksud gw kalo ada anak itb yg melakukan seks di luar nikah ga brarti semua anak itb ky gitu, makanya gw bilang oknum.

    iya, knapa sih nama universitas mesti fiktif? lucu juga enggak

    BalasHapus
  11. akhirnya gua nonton jomblo... dan pas banget baca reviewnya teh Rani. berasa berlanjut pas ke review... GUA SUKA BANGET! huahahahha...

    BalasHapus
  12. akhirnya gua nonton jomblo... dan pas banget baca reviewnya teh Rani. berasa berlanjut pas ke review... GUA SUKA BANGET! huahahahha...

    BalasHapus