I (Ibu yang Satu Itu) : Jadi ada yang suka sama gue gitu.
S (Saya) : But he knows you're taken?
I : Yep.
S : Not just taken but taken as going to be married?
I : Yeah...
S : ???
I : Tapi orangnya baek banget...
S : What?
Kesimpulan: gue harus mengurangi pake bahasa inggris biar hidup gak terlalu kaya ciklit ;P
26 Desember 2005
20 Desember 2005
Ada post-it note yang dah nempel di kompie gue dua mingguan lebih. Saking lamanya sampe lupa ;P Baru tadi pagi gue buang dan teuteup dua dari empat item yang tertulis di situ tidak gue kerjakan.
Post it slalu mengingatkan gue sama Aldiar (my former partner in crime, hehe). He LOVES post-it. I mean he really looves it, he uses bunch of them everywhere, on the station, on quotations, on (our official working) yellow book. Waktu gue memperkenalkan software magic notes, dia pake sebentar trus balik lagi ke post-it. Waktu di Prapanca ada aturan clean-desk policy (yang brarti meja harus bersih ketika pulang), paniklah dia dan segala post-it nya itu. Walhasil, ketika pulang mejanya emang bersih. Tapi coba buka lacinya, there lay all the post-it notes ;)
Post it slalu mengingatkan gue sama Aldiar (my former partner in crime, hehe). He LOVES post-it. I mean he really looves it, he uses bunch of them everywhere, on the station, on quotations, on (our official working) yellow book. Waktu gue memperkenalkan software magic notes, dia pake sebentar trus balik lagi ke post-it. Waktu di Prapanca ada aturan clean-desk policy (yang brarti meja harus bersih ketika pulang), paniklah dia dan segala post-it nya itu. Walhasil, ketika pulang mejanya emang bersih. Tapi coba buka lacinya, there lay all the post-it notes ;)
19 Desember 2005
A Little of This, A Little of That. Maan, whatta hectic days...
Jiffest. Jiffest taun ini gue bener-bener puasss... Nonton film-film keren dan nonton (harfiah) workshop script development. Senangnya... Dan amat sangat banyak kebetulan gitu. Kebetulan mesti nganterin dokumen hari Senin tanggal 12, kebetulan mesti sidang tanggal 16, dan kebetulan yang paling tukgling adalah... sebenarnya gue pingin ikutan workshop short-documentary. Tapi pas ngulik ide dapetnya malah fiksi gitu. Ya, daripada enggak gue submit-lah itu skrip dan tentunya gak tembus (gak shortlisted kalo istilah mereka). Tapi taunya boleh dateng sebagai observer dan—surprise, surprise—ternyata observer itu boleh ikutan ke mana aja. Jadi dengan tidak sopannya gue ikutan workshop short-doc dan tidak sekalipun ikutan workshop short-fiction ;P
From Ciputat With Love. Kalo lewat pasar Ciputat yang gak pernah gak macet itu, sekarang lagi banyak spanduk. Bukan, bukan FPI. Spanduk mendukung pembuatan flyover gitu. Ada yang model-model orde baru kayak,
Bioskop-bioskop Itu. Salah satu peserta workshop short-doc ngangkat tema dua dari hanya-tiga bioskop di Jogja yang udah hampir mampus. Yang satu sisa pun mungkin akan mampus juga kalo 21 jadi masuk Jogja. Gue tetep gak begitu ngeh sama sistem distribusi film, tapi mungkin Bandung sedikit beruntung dengan adanya Ir. Cannes Parwez Servia itu, seenggaknya tidak semua bioskop di Bandung adalah 21.
BTW, Kamis kemarin untuk ketiga kalinya gue gagal nonton Harry Potter (gue sarankan link 21 di atas gak usah di-klik deh, tepu! untuk jadwal film di Bandung PR lebih bisa dipercaya). Keluar dari BIP gitu (bayangkan suatu sore tiris habis ujan, suasana sedikit melankolis) tak sengaja gue melayangkan pandang ke seberang jalan dan menangkap tulisan "Panti Karya". Hey!
Yang sekarang jadi Dunkin Donuts itu dulunya bioskop "Panti Karya". Gue pikir bangunannya udah ga ada, taunya cuma dikasi cladding aja untuk nutupin tampakan bangunan lamanya. Baru ngeh sekarang. Huhu... jadi inget waktu kecil, seinget gue dua kali nonton di situ. Yang pertama The Sound of Music, yang kedua film Warkop entah yang mana. Ah...
Irony.
Now, I have one irony-of-my-life on my left wrist. Huehehe, why-oh-why...
All The Best Men Are Already Taken. Malem minggu kemarin (bayangin, malem minggu!) Chomo SMS gue ngabarin dia baru tunangan dan akan segera menikah bulan Februari. *sigh* Apparently all the best men are already taken.
Oh, well, congratulations! :)
*sambil-pundung-dan-berlalu*
Earbug.
Jiffest. Jiffest taun ini gue bener-bener puasss... Nonton film-film keren dan nonton (harfiah) workshop script development. Senangnya... Dan amat sangat banyak kebetulan gitu. Kebetulan mesti nganterin dokumen hari Senin tanggal 12, kebetulan mesti sidang tanggal 16, dan kebetulan yang paling tukgling adalah... sebenarnya gue pingin ikutan workshop short-documentary. Tapi pas ngulik ide dapetnya malah fiksi gitu. Ya, daripada enggak gue submit-lah itu skrip dan tentunya gak tembus (gak shortlisted kalo istilah mereka). Tapi taunya boleh dateng sebagai observer dan—surprise, surprise—ternyata observer itu boleh ikutan ke mana aja. Jadi dengan tidak sopannya gue ikutan workshop short-doc dan tidak sekalipun ikutan workshop short-fiction ;P
From Ciputat With Love. Kalo lewat pasar Ciputat yang gak pernah gak macet itu, sekarang lagi banyak spanduk. Bukan, bukan FPI. Spanduk mendukung pembuatan flyover gitu. Ada yang model-model orde baru kayak,
"KAMI ELEMEN MASYARAKAT TANGERANG CIPUTAT MENDUKUNG PEMBANGUNAN FLYOVER"Ada yang sok-sok preman,
"GUE KAGAK MAU TAU FLYOVER KUDU BURUAN DIJADIIN"Tapi ada satu yang paling nendang,
"LAKSANAKAN FATWA MUI NO 8 TAHUN 2005 UNTUK MEWUJUDKAN FLYOVER CIPUTAT"Hehe, can somebody please suggest me what "Fatwa MUI No. 8/2005" is about?
Bioskop-bioskop Itu. Salah satu peserta workshop short-doc ngangkat tema dua dari hanya-tiga bioskop di Jogja yang udah hampir mampus. Yang satu sisa pun mungkin akan mampus juga kalo 21 jadi masuk Jogja. Gue tetep gak begitu ngeh sama sistem distribusi film, tapi mungkin Bandung sedikit beruntung dengan adanya Ir. Cannes Parwez Servia itu, seenggaknya tidak semua bioskop di Bandung adalah 21.
BTW, Kamis kemarin untuk ketiga kalinya gue gagal nonton Harry Potter (gue sarankan link 21 di atas gak usah di-klik deh, tepu! untuk jadwal film di Bandung PR lebih bisa dipercaya). Keluar dari BIP gitu (bayangkan suatu sore tiris habis ujan, suasana sedikit melankolis) tak sengaja gue melayangkan pandang ke seberang jalan dan menangkap tulisan "Panti Karya". Hey!
Yang sekarang jadi Dunkin Donuts itu dulunya bioskop "Panti Karya". Gue pikir bangunannya udah ga ada, taunya cuma dikasi cladding aja untuk nutupin tampakan bangunan lamanya. Baru ngeh sekarang. Huhu... jadi inget waktu kecil, seinget gue dua kali nonton di situ. Yang pertama The Sound of Music, yang kedua film Warkop entah yang mana. Ah...
Irony.
MONICA |
All The Best Men Are Already Taken. Malem minggu kemarin (bayangin, malem minggu!) Chomo SMS gue ngabarin dia baru tunangan dan akan segera menikah bulan Februari. *sigh* Apparently all the best men are already taken.
Oh, well, congratulations! :)
*sambil-pundung-dan-berlalu*
Earbug.
Tak bisakah kau menunggukuFaaaan! I blame YOU for this!
Hingga nanti tetap menunggu
08 Desember 2005
Hehe, belum sempet bikin posting soal PP Penyiaran, tau-tau ditunda. Tapi secara ditundanya itu bukan untuk direvisi, tapi justru menunggu UU Penyiaran-nya diamandemen dulu[1] biar taat hukum, so it's still out there, I guess.
Kayaknya dari empat PP itu (PP 49 tentang Kegiatan Peliputan Lembaga Penyiaran Asing, PP 50 mengenai Penyelenggaraan Penyiaran Swasta, PP 51 soal Lembaga Penyiaran Komunitas, PP 52 yang mengatur Lembaga Penyiaran Berlangganan), PP 50 yang paling bermasalah. Waktu itu sih gue cuma nonton SCTV yang ngebahas ini[2], ada beberapa poin yang dinilai merugikan:
Pemegang saham asing maksimal 20% baik secara langsung atau tidak langsung.
Gue pikir poin ini makes sense (do we still have this kind of pride setelah Laksamana Sukardi menjual Indosat *wink*). Cuma "secara langsung atau tidak langsung" itu memang tidak jelas.
Perubahan direksi harus dilaporkan dan mendapat izin dari pejabat terkait atau menteri.
This is ridiculous.
Lembaga penyiaran yang mempunyai stasiun relay di ibukota provinsi harus melepaskan kepemilikannya selambat-lambatnya Desember 2007.
Kalo gak salah ini turunan dari UU Penyiaran. Gue sendiri sangat mendukung ide media lokal (TV, in particular). Cuma teuteup aja gimana gitu, I mean, kita udah kebablasan punya 12 TV nasional (eh, kalo jaringan radio kaya Elshinta dan Hard Rock itu diitung juga gak sih?), do the government actually expect them to give up their ownership? Whatever seeh... Go, local TV, go![3]
Pemerintah (dalam hal ini Menkominfo) berhak memberi sanksi bagi siaran yang berisi fitnah, menonjolkan unsur kekerasan, cabul atau penyalahgunaan narkotika serta mempertentangkan SARA
Kalo pengertian gue nih, dulu wewenang ini ada di KPI, trus sekarang pindah (balik lagi) ke Depkominfo. Bedanya, KPI itu supposed to be lembaga independen sedangkan Depkominfo itu... ya Depkominfo. Pemerintah maksudnya. Artinya mau gak mau posisi pers sebagai pilar keempat demokrasi terancam karena nasibnya ada di tangan eksekutif (Ciee... bahasa gue keren gini. Ini sebenarnya mengulang bahasan di SCTV itu kok, hehe). Mungkin bisa diliat di sini.
Langsung aja gitu Depkominfo dituduh jadi reinkarnasi Deppen. Masih inget dong Deppen jaman Orde Baru. Gawat neh, ntar tau-tau semua TV Swasta (yang sudah jadi lokal semua, BTW) harus merelay siaran TVRI berisi liputan khusus Presiden SBY meresmikan peternakan sapi. Tidaaaak, tidaaaaak....!
Dan kalo arahnya ke situ, mungkinkah "efek Deppen" ini akan menyerang ke media cetak juga? Dan mungkinkah akan menyerang BLOG? Hmm hmm... kalo You-Know-Who yang jadi Menkominfo sih mungkin aja akan diterbitkan "Surat Ijin Pembuatan Blog" yang masa berlakunya harus diperpanjang tiap taun, terus harus dilaporkan berapa posting per hari, berapa hit per hari, dan tak lupa komen yang berisi fitnah, menonjolkan unsur kekerasan, cabul atau penyalahgunaan narkotika serta mempertentangkan SARA harus dimoderasi, hehehe.
Jadi inget kontroversi UU Penyiarannya sendiri, 2002/2003 gitu ya? Rata-rata stasiun TV menolak bareng-bareng gitu deh. Justru waktu itu KPI yang dicurigain bakal jadi Deppen baru, bukan begitu bukan.
Yang lucu waktu SCTV wawancara Ade Armando (koordinator KPI), entah perasaan gue aja atau gayanya SCTV emang gitu, kok terkesannya malah rada mojokin. Seolah-olah KPI keberatan sama PP Penyiaran itu karena mempengaruhi kedudukan KPI. Padahal emphasize-nya seperti berkali-kali ditegaskan Ade Armando adalah kebebasan pers. They're on the same side. Harusnya SCTV menempatkan Ade Armando sebagai narasumber, bukan pihak yang punya kepentingan. Hehe, jangan-jangan ada yang masih masih menyimpan dendam atas "pertempuran" tiga taun yang lalu *wink*
Ugh! I miss discussing this kinda stuff with Mas Abang Sporty!
Kayaknya dari empat PP itu (PP 49 tentang Kegiatan Peliputan Lembaga Penyiaran Asing, PP 50 mengenai Penyelenggaraan Penyiaran Swasta, PP 51 soal Lembaga Penyiaran Komunitas, PP 52 yang mengatur Lembaga Penyiaran Berlangganan), PP 50 yang paling bermasalah. Waktu itu sih gue cuma nonton SCTV yang ngebahas ini[2], ada beberapa poin yang dinilai merugikan:
Pemegang saham asing maksimal 20% baik secara langsung atau tidak langsung.
Gue pikir poin ini makes sense (do we still have this kind of pride setelah Laksamana Sukardi menjual Indosat *wink*). Cuma "secara langsung atau tidak langsung" itu memang tidak jelas.
Perubahan direksi harus dilaporkan dan mendapat izin dari pejabat terkait atau menteri.
This is ridiculous.
Lembaga penyiaran yang mempunyai stasiun relay di ibukota provinsi harus melepaskan kepemilikannya selambat-lambatnya Desember 2007.
Kalo gak salah ini turunan dari UU Penyiaran. Gue sendiri sangat mendukung ide media lokal (TV, in particular). Cuma teuteup aja gimana gitu, I mean, kita udah kebablasan punya 12 TV nasional (eh, kalo jaringan radio kaya Elshinta dan Hard Rock itu diitung juga gak sih?), do the government actually expect them to give up their ownership? Whatever seeh... Go, local TV, go![3]
Pemerintah (dalam hal ini Menkominfo) berhak memberi sanksi bagi siaran yang berisi fitnah, menonjolkan unsur kekerasan, cabul atau penyalahgunaan narkotika serta mempertentangkan SARA
Kalo pengertian gue nih, dulu wewenang ini ada di KPI, trus sekarang pindah (balik lagi) ke Depkominfo. Bedanya, KPI itu supposed to be lembaga independen sedangkan Depkominfo itu... ya Depkominfo. Pemerintah maksudnya. Artinya mau gak mau posisi pers sebagai pilar keempat demokrasi terancam karena nasibnya ada di tangan eksekutif (Ciee... bahasa gue keren gini. Ini sebenarnya mengulang bahasan di SCTV itu kok, hehe). Mungkin bisa diliat di sini.
Langsung aja gitu Depkominfo dituduh jadi reinkarnasi Deppen. Masih inget dong Deppen jaman Orde Baru. Gawat neh, ntar tau-tau semua TV Swasta (yang sudah jadi lokal semua, BTW) harus merelay siaran TVRI berisi liputan khusus Presiden SBY meresmikan peternakan sapi. Tidaaaak, tidaaaaak....!
Dan kalo arahnya ke situ, mungkinkah "efek Deppen" ini akan menyerang ke media cetak juga? Dan mungkinkah akan menyerang BLOG? Hmm hmm... kalo You-Know-Who yang jadi Menkominfo sih mungkin aja akan diterbitkan "Surat Ijin Pembuatan Blog" yang masa berlakunya harus diperpanjang tiap taun, terus harus dilaporkan berapa posting per hari, berapa hit per hari, dan tak lupa komen yang berisi fitnah, menonjolkan unsur kekerasan, cabul atau penyalahgunaan narkotika serta mempertentangkan SARA harus dimoderasi, hehehe.
Jadi inget kontroversi UU Penyiarannya sendiri, 2002/2003 gitu ya? Rata-rata stasiun TV menolak bareng-bareng gitu deh. Justru waktu itu KPI yang dicurigain bakal jadi Deppen baru, bukan begitu bukan.
Yang lucu waktu SCTV wawancara Ade Armando (koordinator KPI), entah perasaan gue aja atau gayanya SCTV emang gitu, kok terkesannya malah rada mojokin. Seolah-olah KPI keberatan sama PP Penyiaran itu karena mempengaruhi kedudukan KPI. Padahal emphasize-nya seperti berkali-kali ditegaskan Ade Armando adalah kebebasan pers. They're on the same side. Harusnya SCTV menempatkan Ade Armando sebagai narasumber, bukan pihak yang punya kepentingan. Hehe, jangan-jangan ada yang masih masih menyimpan dendam atas "pertempuran" tiga taun yang lalu *wink*
Ugh! I miss discussing this kinda stuff with Mas Abang Sporty!
[1]Somebody please help me here. Kalo ada aturan yang gak cocok sama aturan di atasnya, aturan yang di atasnya yang diubah, gitu? I'm lost.
[2]Maaf, walopun saya ngebahas UU Penyiaran, saya termasuk jarang nonton siaran TV ;P
[3]Apa kabar STV dan Bandung TV yang tidak pernah saya tonton itu? Malah lebih sering nongton O Channel sama JakTV ;P
Langganan:
Postingan (Atom)