22 November 2005

The KRLs. Saya kangen KRL. Yep, seriously, lengkap dengan segala ke-tukgling-annya. Dan kemaren ke pulang dari Kamis sampe Minggu, sempet naek KRL tiga kali. Puas deh.

Gue seneng karena:
1. Ketemu Andrey dan Fitri
2. Si Tukang-Koran-Nyengir itu masih inget sama gue
3. Tentunya selalu ada si tukang tahu berhadiah cabe
4. Ketemu Yandhrie (eh, ini mah gak di KRL sih, tapi seneng aja)
5. Bisa beli mangga goceng lima biji (harga optimal yang dicapai di Kebayoran, di Tanah Abang harganya masih goceng tiga)
6. The pengamens yang Yang-Main-Biolanya rada cakep itu bawain lagu Peterpan (tapi abis itu bawain lagu Radja, *hiks*)

Hmm, ingat misteri transportasi Jakarta yang tidak bisa saya pecahkan? Well, gue dah tau satu jawabannya (a lil bit slow, actually). Pijakan kaki KRL ekonomi itu dibikin miring karena—entah jalurnya kekecilan atau bodi keretanya yang kegedean—kalo pijakan kaki itu dilurusin bakalan nabrak peron. Anyway, that leads to another mystery, secara hal tersebut tidak terjadi pada KRL eksekutif. Padahal KRL eksekutif itu bekas Jepang sedangkan KRL ekonomi itu bikinan PT INKA (pesanan?), apakah hal tersebut tidak terpikirkan ketika mendesain kereta dan atau peronnya? Hmm...

Tentang mikrolet gue masih belum nemu jawabannya. I leave that one to Bung Wildan to find the answer ;)

The Meeting of Indonesian Scientist in the 21st Century. Hehe, judulnya keren ya? Tapi lumayan asik kok. Inspiring lecture from 1996 Nobel Lauriate Douglas Osheroff, trus what-so-called "bright young scientists" mulai Danny Hilman yang pakar gempa sampe Puspita Lisdiyanti yang membuat buku-buku daras biologi harus ditulis ulang.

Pak Rodani, guru fisika gue di SMA pernah bilang gini. Ketika seorang ilmuwan mempelajari partikel dan bagian-bagiannya, dia akan merasa "besar". Sebaliknya ketika seorang ilmuwan mempelajari alam semesta, dia akan merasa "kecil".

Acara dua hari kemarin bikin gue berpikir, semakin banyak lo belajar dan ke arah manapun, lo akan semakin merasa "kecil dan tidak tau apa-apa".

The Anak SMU. Anak SMU (iya, SMU yang sekolah menengah umum) itu lucu. Pikirannya ruwet, suka menyusah-nyusahkan hal yang mudah. Sebagai contoh, Gbr 1 di sebelah adalah semacam peta konflik dari film Me vs High Heels yang gue tonton beberapa bulan yang lalu. No, I'm not trying to criticize the movie like these guys, gue cuma pingin menunjukkan betapa beratnya jadi anak SMU.

Nah, dalam situasi seperti Dina (ketika cowok lo ternyata suka sama cewek lain), di dunia yang lebih sederhana (also known as real world) kayanya gue akan melakukan salah satu dari dua hal ini. Kalo gak 1) ngomong baek-baek sama Sasha and ask her politely—sebagai sesama cewek—to step aside a lil bit, atau 2) ngomong baek-baek ke Roland, lo tuh sebenarnya sukanya sama siapa. But nooo, dalam dunia SMU, you don't do that. Yang lo lakukan adalah menambah satu tokoh yang suppose to be cowok sangat ganteng sebagaimana ditunjukkan pada Gbr 2.

Jadi Dina membuat skema yang sangat kejam untuk mempermainkan perasaan Sasha yang sebenarnya gak tau apa-apa, dengan memanfaatkan Arnold yang suka banget sama dia. Hmm... *gosok-gosok tangan*

Perlu diingat juga bahwa Sasha mempunyai latar belakang yang dalem untuk menjadi cewek tomboy. Dan endingnya pokoknya oke banget deh...

Oh, well, I promise I'm not talking about this movie as a movie.

See, berat kan jadi anak SMU? Gue ngerasain kok. In fact, I wrote several short stories with the same complicated tukgling plot, hehe.

(ditulis di pagi hari setelah mencoba mengonsep serial dengan segmen remaja *sigh*)

The Waiting. Harap-harap cemas menunggu besok.

3 komentar:

  1. badu nan huhu8/3/06 08:27

    iya tuh, suruh Bang Wildy Nan Sporty untuk ngupdate blog-nya. *hehe look who's talking*

    buset, me vs. high heels! lu nontonnya telat sih datengnya! gw dong, dari awal! *bangga yg tak perlu* what about the series? oh my god.

    gimana dengan the waiting? ada kabar? yg itu bukan sih? kayaknya molor deh.

    BalasHapus
  2. badu nan huhu8/3/06 08:29

    eh kmrn baca di Yandhrie nulis ttg seorang peneliti LIPI. beli Tempo yg itu juga? di Tukang-Koran-Nyengir? itu sama dengan Pak Topeng nggak sih?

    BalasHapus
  3. *evil*

    Gue baru tahu kalau pemain biola di kereta lu anggap keren. Nttar gue kasih tau deh, lu fans-nya...hehehehe *evil*

    BalasHapus