01 Juli 2005

Reaktor penelitian fusi nuklir skala beneran pertama di dunia akan dibangun di Prancis (BBC News, 28 Juni 2005). Berarti (mudah-mudahan) satu langkah lagi menuju reaktor komersial fusi nuklir pertama di dunia. I think it's great. Tentu. Energi bersih dalam jumlah praktis tak terbatas.

Udah gitu Jan Vande Putte dari Greenpeace International komentar, "With 10 billion [euros], we could build 10,000MW offshore windfarms, delivering electricity for 7.5 million European households." Seriously, windfarm-nya segede apa dan apa gak ngeganggu ekosistem laut? Hehe, sok tau gue. Tapi mungkin dia ada benarnya. "Governments should not waste our money on a dangerous toy which will never deliver any useful energy. Instead, they should invest in renewable energy which is abundantly available, not in 2080 but today."

Ada ide yang berkeliaran di kepala gue beberapa bulan ini. Rada gak nyambung sama yang di atas sih. Di milis Migas sempet rame soal izin PLTN di Indonesia. Gue gak ngikutin banget waktu itu. Pro-kontra sih jelas. Milis tetangga (milis Lingkungan) gue gak langganan karena public. Tapi jelas banyak yang kontra di situ. Salah satunya menyanggah anggapan bahwa kalo ditangani dengan benar, nuklir adalah energi yang bersih.

However, the cleanliness of nuclear power is nonsense. Not only does it contaminate the planet with long-lived radioactive waste, it significantly contributes to global warming.
While it is claimed that there is little or no fossil fuel used in producing nuclear power, the reality is that enormous quantities of fossil fuel are used to mine, mill and enrich the uranium needed to fuel a nuclear power plant, as well as to construct the enormous concrete reactor itself.
(Helen Caldicott, 9/3/2001)


Gimana ya... gue sebenarnya gak terlalu ngerti dan gak bisa bilang pro atau kontra. The thing is, kita (Indonesia maksudnya) butuh sumber energi dengan kapasitas sebesar PLTN. But... there are so many external factors. Terutama politik dan kebijakan dan (mungkin) popularitas. Mungkin kaya kasus GMO (genetic modified organism, u know, the one that dragged sophia latjuba's husband), kasusnya udah di-push secara politis (sama LSM, sebelum bawa-bawa suaminya sophie) sebelum dibahas secara ilmiah.

Gue ngeliatnya gini, Jepang yang trauma bom atom aja punya 52 PLTN. Kalo soal dampak lingkungan nih, hampir semua power plant punya dampak lingkungan. Kecuali angin dan matahari, mungkin, yang sampai saat ini belum ekonomis. Cuma emisi radioaktif lebih serem dari emisi CO2 kali ya.

Untuk kasus Indonesia, gue ngutip dari milis Migas lagi.

Saya cuman kuatir aja, kalau masalah teknologi insyaallah kita mampu, cuman apa ada yang bisa jamin kalau dana pembangunannya nggak dikorupsi yang berdampak thd kekuatan bangunan dan instalasi PLTN tsb.

Hehe, that's exactly what I'm afraid of termasuk juga disiplin soal safety. We don't want someone like Homer Simpson to run our nuclear plant, right? Oh, ok, not as slobby as Homer, tapi kita emang masih lemah soal safety dan disiplin kan?

Dan dunia udah bergerak ke fusi. Indonesia, fusi, kapan ya?

Misalnya nih, sebelum reaktor fusi ini bener-bener running, tau-tau direktur ITER atau kepala lab atau apalah gitu ditemuin mati. Terus ada "perampokan" yang menyebabkan data-data penting ilang. Terus seorang jagoan mirip Keanu Reeves "kebetulan" tau soal pertemuan beberapa komisaris/direktur perusahaan minyak
terbesar di Texas. Trus... Hehehe... *slapme! slap me!*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar