05 Mei 2005

Hmm... tentang Janji Joni dan waktu internal dan Kompas.

Emang sih, gue nulis posting Janji Joni itu setelah baca Kompas. Tapi sebenarnya sih kalopun gak baca, gue akan tetap mempermasalahkan ketidaksesuaian waktu. Cuma mungkin istilahnya bukan "waktu internal" kali ya.

Dari gue sendiri sih dasarnya adalah pengalaman berada di sisi situ. Maksudnya jadi orang yang melaksanakan suatu pemutaran film. Walopun bukan bagian nganter-nganternya, toh gue ngerasain gimana tegangnya kalo rol udah mau abis, gimana nungguin orang buru-buru nge-rewind film (pake rewinder manual, hehe), gimana kalo rol film jatuh dan harus diulur sampe 20 meter untuk digulung lagi. Gue ngerasain tuh, walopun selama enam taun di LFM gue cuma sekali jadi teknik (hehe, sue me!).

Jadi... dari situlah gue (bukan Kompas) bilang bahwa waktu di film itu agak janggal. Gue cuma gak bisa (atau males) ngebahasain kejanggalan yang cuma feeling itu pake bahasa yang sistematis dan dimengerti orang lain. Jadi ya udah, pinjem bahasannya Kompas aja. Toh maksudnya sama ;P

Masalahnya adalah, kejanggalan itu bisa diterima apa enggak? Untuk urusan ini gue senang sekali mengutip JB Kristanto—unfortunately seorang wartawan Kompas yang lain (Badu pasti ketawa, minimal nyengir, liat saya ngutip ini lagi).

"Logika dalam" ini datang saat sang pencipta mengawali ciptaannya dalam bentuk apa pun. Ia bisa berimajinasi berupa karakter satu tokohnya, bisa juga plot sebuah cerita, sebuah masalah tertentu, sebuah citra tertentu atau sebuah gambar tertentu. Begitu sudah menetapkan awalan tadi, maka tercipta pulalah sebuah logika tertentu, yang secara teori tetap berpatokan pada ilmu logika umum. Pada saat itu, sang pencipta tidak lagi bebas. Ia harus mematuhi konsekuensi logis dari yang sudah ditetapkan sebelumnya. Ia tidak lagi bisa semena-mena memperlakukan tokoh ciptaannya, atau jalan cerita yang sudah disusun awalannya. Ini merupakan hukum umum dan dasar penciptaan karya seni dari jenis apa pun. Hal ini pula yang menyebabkan perlunya ada penelitian khusus dan mendalam mengenai apa yang diperlukan sampai ke soal-soal yang sangat sepele sekali seperti jenis tata rambut, pakaian, tingkah laku, dan lain-lain.
(JB Kristanto. Film Indonesia dan Akal Sehat. 2001)

Apa Janji Joni melanggar "logika dalam" itu?

Kata gue, iya.

Apa bisa diterima?

Kata gue lagi, bisa. Kenapa bisa? Hehe, pokoknya bisa aja.

Mungkin bisa karena kejanggalan itu mungkin (mudah-mudahan) tidak dirasakan semua orang. Mungkin bisa karena kejanggalan itu adalah perpanjangan dari ide dasar film ini. Mungkin bisa karena, overall, film ini komikal banget kok. Mungkin bisa karena—walaupun mungkin gak sopan membandingkan Janji Joni sama Citizen Kane—film sekelas Citizen Kane sekalipun mengandung kesalahan logika dalam (baca budibadabadu: senja truman yang lain).

Dan yang jelas sangat BISA sekali karena gue SUKA film ini, hehehe :D

NB: ngomong2 soal JB Kristanto, ada yang mau minjemin scanner+ocr untuk proyek demi kemajuan database perfilman indonesia? ;P

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar