22 Mei 2011

584

Di mana kita sudah salah melangkah?

Gue sangat menikmati membaca tulisan Jeffrey Winters ini (versi detik). Baiklah, menikmati mungkin bukan kata yang tepat. Tapi Winters mungkin menjelaskan bahwa kita tidak salah melangkah, hanya saja jalannya memang sudah berlubang dan hancur. Bukan demokrasi yang menciptakan DPR tak bermutu dan pemerintahan yang tidak efektif. "...it is not the presence of democracy since 1998 that is the problem, but instead the absence of an impersonal system of constraints on oligarchs (the rule of law) that could tame them as Suharto’s personal system once did." Bukan kehadiran demokrasi sejak 1998 yang menjadi masalah, melainkan ketiadaan sistem (aturan hukum) pengekang elit penguasa, sebagaimana dulu dilakukan Suharto dengan sistem (preferensi) pribadinya.

Walopun ini mendukung tesis semua salah orbaTM gue, gue berusaha tidak menelan bulat-bulat kata-kata Winters. Lagi pula, mungkin sudah waktunya berhenti mencari siapa yang salah. Kecuali... jika bagian dari kegagalan masalah kita adalah ketidakmampuan medeteksi (sumber) masalah yang sesungguhnya?

Jadi mesti gimana dong? Ganti ke khilafah? Winters ga bilang apa-apa tu, sialan bener. Mengharapkan perubahan besar dan sistematis sepertinya sia-sia, apalagi yang sesungguhnya bertanggung jawab membentuk sistem ya calo-calo di Senayan itu. Alternatifnya ya, lupakan saja (masih bingung Pemilu mau golput atau ngga). Lebih baik mendukung, sukur-sukur berpartisipasi dalam inisiatif-inisiatif 'kecil' yang berdampak besar seperti Indonesia Mengajar. Dan merayakan plus mendoakan sedikit pemimpin yang amanah seperti Pak Jokowi.

Ada ide lain?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar