19 September 2006

253

Akhir-akhir ini gue meragukan kecerdasan otak gue. Bukan saja karena telmi menyadari korelasi ongkos ojeg terhadap angkot, tapi juga karena setelah belasan artikel gue baca tentang insiden banjir lumpur panas di Sidoarjo, gue tetap belum sepenuhnya mudeng apa yang terjadi. Mungkin juga karena wawasan gue soal geologi agak cupet sih. Selain kuliah Mektan 3 SKS (halo Pak Humi, pa kabar?) kayanya gak pernah lagi berurusan dengan tanah dan batuan.

Karena gue langganan milis migas Indonesia yang banyak diisi sama praktisi—tentunya—migas, gue banyak dapet informasi tentang LuSi (lumpur Sidoarjo—gak, Bud, gue gak bikin-bikin emang istilahnya itu) dari sudut pandang permigasan (halah, maksudnya eksplorasi dan sejenisnya) dan geologi. Waktu kemarin main ke milis lingkungan, sudut pandangnya beda banget (yaelah, ran, ke mana aja). Coba aja bandingin tulisannya Pak Koesoemadinata dengan analisisnya ecoton ini. Aduh, gue jadi inget membuka situs JIL sambil berselancar ke situs sabili, hehe.

Kayaknya ini bukan sesederhana ahli geologi vs ahli lingkungan (hmm... gue yakin kalopun emang ada pengkubuan seperti itu, niatnya sama-sama baik kok). Dari awal emang banyak informasi simpang-siur. Ada yang bilang fenol tinggi-lah, ada merkuri-lah. Dikutip wartawan pulak tanpa nyebutin hasil analisis siapa atau siapa. Secara Lapindo Brantas itu punyanya Bakrie, insiden ini jadi bermuatan politis. Belum lagi muatan ekonominya. Sosial? *hiks* Adakah yang benar-benar memikirkan ratusan pengungsi yang rumahnya tenggelam itu? Jangan-jangan cuma jadi komoditas politik aja. B*****t!

Gue tidak kompeten untuk beropini dari sudut pandangan geologi dan bahkan lingkungan (hehe), jadi agak lega juga akhirnya menemukan laporan kajian lingkungan dari UNDAC ini. Dengan berprasangka baik bahwa mereka netral dan gak punya kepentingan, gue anggap laporan ini cukup obyektif. Yang gue tangkep kira-kira gini:
- Hasil analisis tidak menunjukkan adanya komponen toksik (hidrokarbon atau logam berat) melebihi kadar normal dalam lumpur. Meskipun demikian beberapa studi terpisah (dari lembaga lain) memang ada yang menunjukkan kehadiran logam berat, utamanya merkuri. Kemungkinan besar lumpur tidak bersifat seluruhnya homogen, dan mungkin ada kontaminan lain seperti limbah industri.

- Meskipun demikian LAGI, lumpur ini memiliki kadar garam tinggi sehingga tidak mungkin dibuang langsung ke sungai karena akan membunuh biota perairan di dalamnya.

- Pembuangan langsung ke sungai juga akan menimbulkan masalah sedimentasi yang pada gilirannya membunuh biota dasar sungai dan mengakibatkan pendangkalan yang dapat menyebabkan banjir.

- Pembuangan langsung ke laut juga kayaknya gak disarankan. Istilah yang dipake sudden release. Kalo gradual release boleh gak?

- Di udara ambien tidak ditemukan gas-gas toksik. Kehadiran hidrogen sulfida hingga 700 ppm pada awal insiden disebabkan adanya deposit dalam tanah yang terlepas bersama semburan, dan kadarnya turun hingga 0 ppm pada hari ketiga.

Catatan gue: Argumen propembuangan ke sungai salah satunya adalah toh Kali Porong juga udah penuh limbah industri. Sebenarnya kelayakan pembuangan ke sungai kan bisa aja diitung dengan rumus pengenceran sederhana. Ada yang punya data debitnya gak? Kalo dibuang ke laut, akan menimbulkan sedimentasi di laut juga (yang kata Pak Kusuma gak masalah karena toh lumpur itu asalnya dari laut purba juga). Gimana kalo limpahannya aja?

Penanganan yang direkomendasikan UNDAC antara lain:
1. Penguatan tanggul
2. Memperkuat koordinasi untuk mempertajam analisis dan interpretasi
3. Menetapkan strategi jangka menengah
4. Mengkaji pemanfaatan kembali lumpur
5. Tetap memantau dampak pada manusia

Hmm, keknya umum banget ya. Di dokumennya lebih rinci kok. Yang menyedihkan, dokumen itu bertanggal Juli 2006. JULI. Sekarang SEPTEMBER dan nampaknya belum ada satupun dari kelima rekomendasi itu yang dijalankan. Hari Minggu kemarin tanggul jebol. Dan kalo pemerintah (atau siapapun!) mengeluarkan data resmi dan terpercaya mengenai kandungan lumpur itu, tentunya soal layak atau gak layak dibuang ke sungai gak akan jadi debat kusir kan?

*bingung mengakhiri tulisan ini. ada ide?*

3 komentar:

  1. senangnya, rani meracau lagi.
    tenang aja ran, gak usah ngerasa gak jenius.
    bandingin aja bobot content posts elo ama posts gue. hehehe...

    BalasHapus
  2. well, you babbling about your things and i about my things, academic-wise, sort of ;)

    BalasHapus
  3. butuh ending? tulis aja: warga memukuli pemerintah, dan suasana pun menjadi kacau. goro-goro. FADE OUT.

    *wink*

    BalasHapus