18 Juli 2005

Teman Seperjalanan. Saya sering pergi-pergi sendiri tapi termasuk jarang ngobrol sama orang yang ketemu di jalan. Mungkin tampang gue terlalu jutek kali *hehe* Anyway dari yang jarang itu, mmm, mungkin yang paling aneh adalah beberapa bulan yang lalu di kereta dari Bandung ke Jakarta. Yang di sebelah gue itu cowok dan anehnya gue baru inget sekarang kalo badannya tinggi gede. Kenapa aneh? Karena dia bilang kalo dia barusan kabur dari rehab bareng dua orang temennya. Kabur buat maen doang ke Bandung, balik ke Jakarta masuk rehab lagi. Tepu gak ya, mengingat badannya gede gitu (selama ini gue ngira kalo pemadat badannya mesti kurus kering).

Tapi dia bilang salah satu dari dua orang temennya itu pemain sinetron lho. Ya, gue sih maaf-maaf aja gak kenal ;P

Kalo kemaren, setelah ngobrol gak penting, ternyata yang di sebelah gue adalah anak oseano ITB 2001 yang pindah ke STISI. Dan setelah itu... obrolannya tetep gak penting siy...


Grogol, Sebuah Spanduk.
HINDARI JL. HASYIM ASYHARI (LAMPU MERAH ROXY)
ADA PEKERJAAN FLAY OVER

Pompa Bensin Techno Park, Spanduk Lain.
Sayangi diri anda. Narkoba bukan untuk dicicipi. Narkoba untuk dimusnahkan.
Is it just me atau spanduk ini mengundang pertanyaan-pertanyaan filosofis? Kalo untuk dimusnahkan, kenapa dibikin? Tapi bukannya kita (manusia) juga suatu saat akan musnah (baca: mati). Lalu kenapa Tuhan menciptakan manusia. Apakah benar Tuhan menciptakan manusia? Ah... *lieur*

Mungkin karena blogging type gue ;P

Your Blogging Type is Pensive and Philosophical
You blog like no one else is reading...
You tend to use your blog to explore ideas - often in long winded prose.
Easy going and flexible, you tend to befriend other bloggers easily.
But if they disagree with once too much, you'll pull them from your blogroll!


Kompas di Sebuah Kursi Kosong. Seumur-umur nih, baru dua kali gue ngeliat orang ninggalin Kompas (baru) di kendaraan umum. Sekali di Sudirman Express, dan kemarin di shuttle bus Mangga Dua-BSD. Kenapa itu noticable buat gue?

Pertama, Kompas itu mahal. Kalo dulu KoranTempo dan Media Indonesia dijual 1000 di kereta (kalo dari Lampu Merah sampe Warta Kota mah udah gak usah ditanya ya), Republika 1500, Kompas 2000. Kan mahal tuh.

Kedua, Kompas itu tebel. Bacanya lama. Bahasannya relatif lebih dalem dari KoranTempo. Satu jam Sudirman-Tanah Abang dengan segala gangguannya belum tentu selesai.

So what did I do with it? Gue ambil dan bawa pulang, tentunya ;P

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar