13 Maret 2005

...

“Ada sebuah mobil menerjangnya. Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Shock! masih terbayang ketika tubuh Hendra terseret beberapa meter oleh mobil jahanam itu. Aku pikir dia mati.

“Kamu tahu apa yang dikatakannya ketika siuman dari pingsan selama satu malam?”

Toni menggeleng cepat. Dia seperti menanti kelanjutan ceritanya. Roy memang paling ahli kalau sudah mendramatisir sebuah cerita, sehingga orang-orang yang mendengarnya akan larut terbawa arus cerita.

“’Di mana ini? Di surga?’ katanya sambil menahan sakit. Aku bilang, ‘Di neraka! Nggak bakalan deh, surga mau nampung orang macem kamu!’ ledekku lagi. Dia hanya meringis ketika mendengar suaraku.

“’Kamu licik, Roy!’ makinya padaku. ‘Kenapa nggak kasih tahu ada mobil waktu itu? Cewek sialan!’ makinya lagi kepada cewek-cewek yang kami gombalin waktu itu.

“’Heh, mereka ada di sini,’ bisikku sambil menunjuk ke arah pintu. Cewek-cewek itu loyalitasnya tinggi juga. Padahal kenal aja belum. Baru maen mata di jalan doang. Tapi cewek-cewek itu memang sangat menyesal karena merasa terlibat dengan kecelakaan itu.

“Lalu ketika dia menyadari ada sesuatu yang ganjil dengan kondisi tubuhnya, sedikit pun kami tidak mendengar suara tangis, penyesalan, atau keputusasaannya.”

“Kenapa dia, Roy?”

“Tangan kirinya diamputasi sampai ke sikut. Semua orang yang sedang menunggunya begitu tegang dan bingung harus berbicara apa kepadanya nanti. Tapi apa katanya ketika melihat tangan kirinya yang sudah buntung?”

“’Cuman ini?’ katanya memegangi tangan kirinya. Sedikit pun tidak terlukis pada wajahnya rasa keputusasaan! Lalu apa komentarnya lagi? ‘Ah, ini aku anggap seperti kehilangan daging beberapa kilo saja. Malahan aku bersyukur, karena aku hanya bisa berbuat dosa dengan satu tangan saja.’

...


(Gola Gong. Balada Si Roy: Happy New Year!)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar