___________________________
11 Maret 2009
04:05
Kadang-kadang gue kerja gak dibayar. Senep? Tentu saja.
Pertanyaannya, seandainya gue percaya karma, manakah di antara dua kemungkinan ini yang pernah gue lakukan:
Orang kerja buat gue dan gak gue bayar ATAU Gue gak kerja tapi dibayar ?
:D
[420]
___________________________
09 Maret 2009
08:09
Dongeng, Untuk Siapa?
Untuk pembaca dewasa, mungkin adalah sesuatu yang taken for granted, bagian dari masa lalu yang memang sudah demikian adanya. Romantis, cenderung ajeg, mungkin sedikit tercampur-baur antara dongeng yang satu dengan yang lain. Sifat dongeng yang universal telah lama diketahui. Perhatikan betapa dongeng Bawang Merah-Bawang Putih memiliki kemiripan dengan Cinderella, Sangkuriang sejatinya mirip Oedipus, dan keluguan/kecerdasan Si Kabayan identik dengan Nasrudin Hoja. Keajegan dan keuniversalan ini membuat dongeng sejak dulu menjadi media penyampai nilai-nilai moral.
Pembaca dewasa mungkin menemukan dongeng dalam bentuk sejatinya, cerita dari ibu atau nenek sebagai pengantar tidur atau penenang kala rewel. Pengalaman ini, tentu, menambah nilai romantis dari dongeng. Sejak Disney mengadaptasi Snow White and the Seven Dwarfs menjadi film kartun sejak tahun 1937, tafsir dongeng menjadi relatif seragam. Tapi milenium baru menawarkan dongeng dalam bentuk yang lebih nyata: film dengan teknik animasi yang luar biasa halus, game, dan merchandise. Dan pilihan pun semakin beragam. Bahkan Disney pun kehabisan stok dongeng klasik, setelah mengambil kisah sejarah dari Amerika sampai Cina, mengarang fabel, hingga memunculkan kisah yang sama sekali baru. Anak-anak saat ini mungkin menganggap tokoh ibu peri sangat basi dibandingkan Profesor Dumbledore dalam serial Harry Potter. Perlukah dongeng dipertahankan?
Sebagian kalangan menganggap perlu. Setidaknya dongeng, khususnya cerita rakyat ”asli” Indonesia, menawarkan keajegan dan nilai-nilai universal yang mungkin terlupakan oleh Spongebob Squarepants sekaligus mempertahankan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang berasaskan moral Pancasila (fiuh...) Pada tahun 1992, misalnya, Penerbit Grasindo menerbitkan Seri Pendidikan Budaya yang telah disahkan penggunaannya di sekolah dengan keputusan Dirjen Dikdasmen Depdikbud No:430/C/Kep/R/1993. Wah...
Penerbitan buku-buku ini merupakan semacam kecelakaan dalam penafsiran ”bagaimana menyampaikan nilai-nilai luhur bangsa”. Buku-buku ini sebenarnya menarik. Cerita Rakyat dari Jawa Barat, misalnya, ditulis oleh sastrawan-budayawan Saini K.M. sedangkan Cerita Rakyat dari Bali ditulis oleh antropolog James Danandjaja. Penuturan mereka runut dan hidup, sayang terkesan terburu-buru karena bukunya seolah dibuat setipis mungkin. Hanya sedikit napas untuk drama. Kisah Lutung Kasarung yang cukup panjang disajikan hanya dalam 20 halaman termasuk Pembicaraan. Pembicaraan?
Keharusan menyampaikan nilai-nilai luhur bangsa membuat dari sebuah dongeng harus dapat disimpulkan makna yang terkandung di dalamnya. Dalam Cerita Rakyat dari Jawa Barat terdapat subbab Pembicaraan yang merupakan panduan untuk diskusi. Dalam Cerita Rakyat dari Bali, kesimpulannya bahkan sudah ditulis di akhir cerita!
Tampilan buku-buku ini juga masih kurang menarik. Sebagian besar berisi tulisan yang terkesan dijejalkan. Kesan terburu-buru mungkin didapat dari paragraf-paragraf panjang, bahkan dialog-dialog di tengah paragraf. Ilustrasi hanya sedikit, berkesan seadanya. Dan percayalah, pencantuman keputusan Dirjen Dikdasmen Depdikbud yang mirip peringatan di bungkus rokok itu bisa membuat gentar calon pembaca.
Penerbit Gramedia—induk perusahaan Grasindo—juga pernah menerbitkan Seri Dongeng Klasik Indonesia. Pada seri ini Lutung Kasarung tampil dalam 61 halaman bergambar dan berwarna, dengan huruf yang mudah dibaca. Ilustrasinya cukup cantik, dengan karakter yang cukup meng-Indonesia (mengingat banyak buku yang ilustrasinya mirip manga). Tidak ada kesimpulan. Bagaimana dengan pelajaran moral dan nilai luhur bangsa? Entahlah.
Apakah buku dongeng anak harus seperti Seri Dongeng Klasik Indonesia? Rasanya ya. Bagaimanapun dunia anak adalah dunia penuh warna. Berdoa saja ada pelajaran moral dan nilai luhur bangsa yang terserap, tapi jika tidak, setidaknya anak-anak akan senang membacanya.
(maap lagi narsis mengagumi tulisan sendiri. aslinya terbikin taun 2006 untuk pustakalana dengan sedikit suntingan)
[419]
___________________________
08 Maret 2009
18:38
I hate Disney's Winnie-the-Pooh. Maybe it's just a sheer arrogance, that Disney's Pooh is not the "original" Pooh. Maybe it's just too mainstream. Maybe I think it's just simply lame, a reflection of today's generation's meaningless, consumer- driven lives (Julia Stiles, 10 Things I Hate About You).
Ouch! Whose shoe is this?
Anyway, I also think that Ernest Sheppard's illustration of Pooh is brilliant. It depicts the bear-with-a-very-little-brain very well. So I don't see any point on giving him a red shirt and other stuffs after that.
On the other hand, I don't like John Tenniel's illustration for Alice's Adventures in Wonderland. She looks like a 40 years old woman in a 6 years old girl body. Spooky, I think.
[418]
___________________________
02 Maret 2009
00:39
The other day I got a very nice email from Yahoo, notifying that they're closing down their Briefcase feature. That brings some bittersweet memories.
 I mainly used Briefcase from mid-2003 to end-2004. My dad's notebook didn't have floppy drive, so I just put some things I need in Briefcase and download it at home (for those good-ol'-floppy era, check out this 1994 unaired 24 pilot). I had a USB flash drive since 2004 but, check this out, most computers I used back then were still using Windows 98! I know! But what can I say? Sometimes I can just install the driver using the preloaded CD (assuming that I don't need administrator access for that, which sometimes exactly the case), but most of the times it was plain easier to just upload it to, guess what, Briefcase.
So I had some ppt files, chat archive, email draft I was about to send to my sort-of-ex, some photographs and lots of other junks in that Briefcase. At that time, I also used geocities to host pictures for my blog, since blogger back then didn't allow direct photo upload.
The use of flash drive after that was inevitable since everyone using it. Beside my work at the office, I also did some freelances, all heavily relied on flash drive. Funny that when I used it most, I lost mine. Twice! I remembered that Sony was sort of worried because the last thing I load into the lost flash drive was a serial concept that we develop together, and he was afraid someone might stole it.
Here, I have online storage for my work at campus. A few months ago, I also start using Gspace. So essentially, if I don't have to change my OS, I don't count much on flash drive anymore. Except now I do.
When I start writing my thesis, I used zotero. The thing is that I had to use two different libraries at home and campus. Problem solved when I use zotero with portable firefox on my flash drive :)
*edo would say that this graph will look much more cooler with timeline
The fact that I practically rely my life on online storage and flash drive gives me chill sometimes. Just last week Gmail was down for 2.5 hours, and I started to panic. Oh well...
[417]
___________________________
| | | | |