___________________________
27 September 2008
06:18
 Pada bulan Desember 2005, sebuah LSM bernama Médecins du Monde membagikan tenda untuk kaum tunawisma di Paris untuk membantu mereka bertahan menghadapi musim dingin. Dalam waktu singkat, tenda-tenda ini menyebar dan menciptakan pemandangan yang membuat risi para Parisian. Pemerintah akhirnya menyiapkan dana sebesar 7 juta euro untuk membangun tempat penampungan 24 jam bagi para tunawisma ini.
Gue gak tau kelanjutannya gimana.
Yang jelas waktu ngeliat foto karya Bruno Fert itu di pameran World Press Photo 2006, gue langsung bilang sama Ahmad yang barengan gue waktu itu. "Kalo di Indonesia ada kaya ginian, pemerintah akan langsung mengambil tindakan, dengan mengajukan proyek untuk menyediakan lebih banyak tenda." :D
-eh, ternyata Médecins du Monde punya proyek juga di Indonesia
[369]
___________________________
25 September 2008
14:26
I didn't know that I'd miss you two this much.
Just had a glance on my photo folder. Seeing the cart laying helpless next to the couch. Picturing you on ISA-or-whatever event, coming in a rush with Shaina shaking on the front bicycle cart, on her as-heavy-as-herself jackets that make her move like robot.
Last time I visited Rina in Aachen, when I left Aji said, "Nanti kalo Tante Rani ke sini lagi, Insya Allah Asiah udah bisa jalan ya."
What can you do when we meet again, Shain?
[368]
___________________________
22 September 2008
02:48
Gue baru tau ada blog yang bikin ribut ini (salinan posting dan ke-1200++ komen-nya ada di sini dan sini dan sini). Hahaha. Gue ko bacanya jadi nostalgic gini. Salah ya?
Gue ngerasa dididik *halah* dalam kultur ITB di mana orang-orang berego tinggi bisa beradu pendapat dalam tensi tinggi dan bahasa keras. Atau sarkastik dalam banyak lapis. Kadang-kadang ga maksud kok, cuma untuk menegaskan pesan aja. Kadang-kadang lucu juga. Dan ga personal. Seenggaknya itu yang gue belajar.
Walopun mungkin gue belajarnya di luar kelas. Atau di luar jurusan tepatnya, karena jurusan gue nampaknya pecinta damai. Dulu ada seorang penggembira di milis jurusan yang setiap 2-3 taun sekali mempesona anak-anak baru dengan caci-makinya terhadap jurusan, tapi dia sekarang udah diblok dari milis. (Oh iya, gue adalah angkatan yang masih menggunakan istilah jurusan alih-alih departemen).
Jadi yaa... baca komen-komen itu, emang banyak yang rada katro dan sangat berbau senioritas sih. Tapi banyak juga yang gayanya ITB banget, hahaha *kebanggaan tidak pada tempatnya*
Dan karena gue terbiasa dengan kultur itu, jadi lumayan kebawaan deh. Soalnya sebelum ini pun, anak-anak yang masuk LIPI angkatan gue surprisingly karakternya sangat mengingatkan gue sama ketika gue pertama masuk ITB *tapi jangan tanya sesudah jadi PNS jadi gimana yah*
Karena ngerasa sama itulah, ketika sejak setaun yang lalu gue masuk lingkungan baru lagi, gue nganggepnya yaa kurang-lebih samalah. Ternyata, hehe...
Jadi gue menanyakan pertanyaan gue yang dulu. Apakah...
...ITB segitu teralienasinya dari dunia luar sehingga cuma anak ITB yang bisa ngerti? Njr*t tulisan gue ITB! ITB! ITB! banget ga sih? *pingin muntah*
[367]
___________________________
20 September 2008
13:13
WARNING: this is a loooong ramble about nothing. just copy-paste it from my 43things, so if you're lost and curious about the context, just have a look there.
log #11
I know… it’s been forever since last time I logged. And you know what, the shooting is pretty much done, but I’ll talk about it later. Just a quick review. Covering the thesis writing process. Some cutie cutie (I know… the scene of Shaina running around won’t add much, almost nothing, to the movie, but I couldn’t help it. She’s just too cute). The “pop-up” closure (more, later). Some scene in Paris. Thesis defense. The interview. That’s pretty much it. Roughly 500 minutes in total. I’m not satisfied. - The writing process was ok, I think I could capture the tense, except…
- Something sad happened. Mbak Yoen’s dad was passed away about 2 weeks before the deadline. Let’s put all the empathy away and be a ruthless filmmaker for a while. I was still in Salzburg when I found out about it. Nobody told me, I just opened my email in the right moment. I didn’t even have time to think. Even if someone did tell me, I probably still don’t know what to do. Maybe some sneak peek from the “tahlilan” (could ask someone do it with just the video function of regular digicam). I did call Mbak Yoen on the last minute, she was already in Schiphol on the way back to Indonesia. And I stupidly didn’t remember that my digicam can also record video! But even then, what could I do. I called using a headset, it was impossible to record any sound anyway (come to think of it, maybe it can be done somehow with the computer, but… yeah, really, picture me in an internet stall, just got a shocking news, so short time, not only because Mbak Yoen was in Schiphol already but I was also on the way to Munich). Bottom line, the moment has passed.
- The closure. I didn’t plan it to be a closure but I got it. The PERFECT closure, dialogue-wise, with the WORST angle you can think of. Stupid! Ifan reminded me that, despite the credo in Leonard school, I actually can take a re-shot. But I don’t know. Again, the moment has passed. You can not re-create the emotion. Although, I DID take a re-shot.
- I made an interview. It was supposed to be fill-ins for the uncaptured gaps. Including, probably, the ugly closure. I was thinking in conservative way, discovery channel look. But even that I couldn’t do properly. Not with a sleepy-yet-over-excited kid around (and she paid a particular interest on my handycam and tripod, oh well…). I haven’t checked the result. Maybe I should.
The interview was supposed to be, you know, it. The wrap. But now I’m thinking of some more additional shots. The graduation ceremony (it was on the original plan, but somehow I exchange it with Paris trip. maybe still worthwhile to do, although I can’t. I have a practical. maybe should ask someone to do it). And I’m thinking of taking shots of Schiphol and Maastricht, just to get an impression. Will think about it. It’s just, I’m running out of time.
[366]
___________________________
18 September 2008
16:23
Kuis gilaaaaa (via Enda)
[365]
___________________________
15 September 2008
23:27
Pelajaran moral hari ini: Ternyata temperatur memang sudah terlalu rendah untuk pake sendal.
 Untung di tas sepeda ada sepatu.
 Sementara di belahan dunia lain ada yang baru mau musim semi, di sini hari masih panjang tapi sudah dingin.
*menghela napas panjang*
Mudah-mudahan saya memang lebih alim, bukan cuma "lebih tahan gak pacaran" (Prasetyo, 2008).
[364]
___________________________
12 September 2008
22:46
When I opened my friendster sometimes ago, I just realized that I lost a friend. I mean, someone was leaving my friendster. That is weird because all my friendster friends are Indonesian. We don't cut out friendship by ruthlessly leaving someone's friendster. We don't even reject a friend request. We just simply ignore it so if by any chance we meet the person who made the request, we can apologetically say, "I'm sorry, I haven't checked my friendster for a while." (Friendster is actually record the last time you login so this excuse is probably not working, but still...) If anything, your cousin's boyfriend's neighbor's sister or whatever might add you as friend and as long as you can track this relationship down (it's three instead of six now, by the way), you will happily add her to your friend list.
The funny thing is that, the person who just left my friendster, then added me to his facebook. I had a chat with Edo at the time and Edo suggested me to send him a message:
Sorry, only accept both friendster and facebook, not separately. I actually never met that guy. He was a client, we exchanged emails. I think it's probably worthwhile to maintain this kind of relationship, although for such I'd rather use linkedin. Hmm... maybe I should ask him to connect to my linkedin (I'm thinking of asking one of my teacher too. I found his linkedin once and he only has one connection, probably the guy who invited him in the first place. Poor Harry)
So basically, in the social-networking-sphere, I know everyone in my network except a very few people that I added by accident, mostly because I thought he/she was someone else or we've met somewhere. Except for goodreads. I add everyone to my goodreads. As long as we read the same books, we are friends.
After all, 68% of these accounts are fake.
[363]
___________________________
11 September 2008
08:39
+ Do you always wake up this early? - It's Ramadhan. I have to have breakfast at this hour. + I thought it's later, six o'clock or something. - No, the limit is five o'clock. Did I wake you up? + No, I just get home twenty minutes ago.
+ would be my corridormate, who's in the middle of her thesis-finishing process. Hehe, rock on, girl!
[362]
___________________________
10 September 2008
14:24
Kira-kira dua setengah minggu yang lalu, gue duduk-duduk sama Mba Vivi di lantai bawah Forum, nemenin Merry, Mba Niken, dan Mba Cia yang lagi nunggu kejelasan nasib dari CSA. Karena cuaca (di luar) dingin menggigit, gue membeli secangkir coklat panas produk mesin Douwe Egbert dan mulai menyeruput sambil sesekali menjawab pertanyaan ini-itu. Hehe, sotoy aja. Kan senior.
Setelah beberapa saat, seorang mas-mas berambut coklat dan muka bersahabat menghampiri kita. Dia bilang dia bertugas mengantar mahasiswa baru ke WICC, karena saat itu belum ada apartemen yang kosong. Segala koper dan uba-rampenya masi numpuk di tempat Mba Adian di Hoevestein, tapi mas-mas itu tidak keberatan mengantar ke sana. Dia— belakangan kita tau namanya Joost, baru menyelesaikan bachelor-nya di jurusan geografi kalo ga salah, sehingga secara resmi termasuk spesies brondong—juga ga keberatan kalo gue dan Mba Vivi ikutan, sekedar menunaikan tugas kita sebagai penjemput dan menemani kalo-kalo mbak-mbak yang baru datang ini butuh bantuan.
Jadilah kita rame-rame ngikutin Joost. Gue menyambar jaket gue dan cangkir coklat, lumayan, isinya masi setengah gitu. Tapi dasar geradakan, si coklatnya melompat keluar cangkir. Sebagian tumpah ke jaket gue... yang warnanya putih dong. Tapi gue buru-buru kabur karena sebagian coklat itu menetes ke lantai, dan mas-mas di resepsionis udah ngeliatin gue gitu.
* * *
Setaun yang lalu, oknumnya masi gue dan Mba Vivi bersama beberapa orang sesama mahasiswa baru plus Mba Adian berdiri di depan WIR menunggu mobil jemputan yang akan mengantar mahasiswa baru yang belum dapet apartemen ke penampungan sementara di holiday park. Tak lama datanglah mobil itu, yang disupiri oleh Mas Thomas yang legendaris.
Gue kok ngga inget ya tampangnya si Mas Thomas itu. Katanya si cakep, tapi gue merasa cakepnya itu hanya ilusi, sindrom baru ngeliat bule seperti gue—katakanlah—ketika baru liat Ben gitu. Padahal mah biasa aja. Yang jelas Mas Thomas ini menjadi figur yang legendaris di milis WUR 2007. Yang belum ngeliat bertanya-tanya, yang udah ngeliat keukeuh kalo Mas Thomas itu ganteng. Sangking legendarisnya, semua mahasiswa yang magang jadi supir WUR kita panggil Mas Thomas (lho, ini bentuk penghargaan ya). Kayanya figur lain yang menimbulkan keributan seperti itu cuma Si N***, yang sempat membuat jari seseorang teriris *hehe, lirik-lirik yang lagi di Jakarta*
* * *
Seminggu yang lalu ketika gue ke Hoevestein, Adhel dengan bersemangat menghampiri gue.
"Tante Rani, jaket putihnya mana?"
"Ada di sepeda. Kenapa Dhel?"
Sambil cekikikan, Adhel menjawab, "Jaket putih yang ketumpahan coklat, gara-gara liat Mas Thomas yang ganteng."
Tiba-tiba Mba Adian dateng. "Iya Rani, Adhel cerita-cerita ke semua orang, gara-gara liat Mas Thomas yang ganteng, Tante Rani numpahin coklat ke jaket."
GUBRAAKKKKK!!!!
[361]
___________________________
09 September 2008
11:52
For Wildan Only. Does the background look familiar? 
 Me and Van Gogh. We've met in Veluwe and Amsterdam. But we'll always have Paris 
 LFM Reunion. Picture is taken from Cindy's site. Thank's guys. It was reeeely fun! 
 Next Time: Jim's Tomb. Picture is currently unavailabe.
[360]
___________________________
08 September 2008
03:41
Beberapa hari ini rasanya bosan setengah mati. Sempat berpikir untuk menulis dalam bahasa Inggris karena bored to death terdengar kewl sekali (hey, berima ), tapi gue lagi sering lurking ke blog seorang ekspat. Gue seneng cara dia nulis tentang keseharian tapi tetep ada sesuatu, walopun cuma sepetan cerdas, yang bikin tulisannya tetep berharga untuk dibaca. Gue ngerasa agak kehilangan kemampuan itu (heheh, ini maksudnya dulu ngerasa pernah punya, gitu?). Cuma kalo lagi seneng tulisan seseorang, suka agak-agak terpengaruh walopun ga niat.
Hihi, bilang aja emang lagi males nulis bahasa Inggris 
Sebenarnya lagi agak banyak yang harus dikerjakan. Masalahnya cuma kurang motivasi. Duh!
Dan defisiensi kafein. Nah, alasan yang lebih bagus. Nampak lebih bisa dipertanggungjawabkan. Dan cuaca, ah, ya, jangan lupa cuaca yang seolah-olah teriak kenceng-kenceng "Welkom in Nederland!". Kalo gak harus ngelab, ketimbang bersepeda mendaki bukit melawan angin kencang dan sesuatu yang dideskripsikan accuweather.com sebagai light shower, mendingan di rumah, selimutan sambil nonton Monster.
Ah ya, gue lagi kecanduan Monster, lagi. Gara-gara waktu di Praha nyasar ke toko buku, dan gue langsung teringat buku cerita yang ada di komik itu (versi anime-nya gue unggah taut di sini). Bukan cuma toko buku itu si, tapi juga toko boneka dan toko cenderamata, hehe. Maksud gue gaya seni dekoratifnya (hmm... bener gak sih istilahnya), termasuk juga boneka (marionette), mengingatkan gue sama buku itu. Dan karena gue males baca scanlation-nya, jadilah gue nonton anime-nya saja. Tetap seru. Lebih seru malah, karena gue udah pernah ke beberapa tempat yang tersebut di dalamnya. Hihi, mohon maap kalo membuat iri Abis ini, Master Keaton 
Tentu saja, menonton anime bukanlah amalan yang dianjurkan dalam bulan suci ini. Ngomong-ngomong, biasanya gue menyempatkan diri membaca setidaknya satu buku yang tidak sekuler. Taun kemarin, kayanya gue lagi sibuk membaca Research Methodology: A Step-by-Step Guide for Beginners. Taun ini, sudah diniatkan membaca tapi ga ada bukunya. Maksud gue, masa baca Bilal lagi? Untung kemarin ke pameran buku (injek-injek nomer tiga). Ada Islam-nya Karen Armstrong, lumayanlah daripada ga ada. Cuma entah kenapa gue gatel pingin bikin catetan-catetan kecil, tidak selalu karena gue ga setuju sama pemikirannya Armstrong tapi ya, pingin aja. Atau karena gue keseringan baca jurnal? (hmmm... ngga deh. beneran)
Dan terus gara-gara tulisan Mas Aroengbinang, sekarang malah mainan goodreads lagi. Adooooh.... Rani, kapan belajarnya???!!!
[359]
___________________________
| | | | | | | | | | | |