31 Juli 2008

355

Travel blues. Gitu deh kalo mau jalan. Selalu mendadak melankolis. Padahal jalannya masi minggu depan. Masa mau semingguan murung-murung ga jelas *halah*

Ga jelas si... karena biasanya emang ga ada alasan. Begitu mulai jalan ya asik-asik aja. Tapi kemaren kayanya rada-rada parah tu. Pakek sakit kepala dan masuk angin segala. Sakit kepala karena (calon) teman seperjalanan tidak jelas apakah jadi mau bareng atau nggak. Masuk angin gara-gara stres dan telat makan. Duh, ga mutu banget deh.

Dan semua ini diperparah dengan kumbang di telinga gue yang begitu tak bermutu: *tarik napas panjang* Swear-nya Dewa. Swear deh, males banget...

Akhirnya demi mengobati penasaran, gue bongkar-bongkarlah KamuTabung (atau TabungKamu?). Walhasil...


Gue ngakak setengah mati. Dan entah kenapa, pada menit ke 3:11 gue teringat Soe Hok Gar. Langsung deh gue buka YM, klik kanan > Stealth settings > Appear Online to Selected Contacts. Dan tebak siapa orang pertama yang menyapa gue :D

(gue, walopun ngaku rasional dan ilmiah, sebenarnya percaya ESP. ini termasuk guilty pleasure bukan sih?)

Makasih Bud (juga mas guekerenabiss, Dewa 19, dan d**n s*str* kali ya), untuk bikin gue ketawa tadi pagi. Kalo ga ada elo mungkin gue udah melepaskan stres dengan menyanyikan lagu Swear sekenceng-kencengnya. Kerusakannya ga kebayang deh :D

29 Juli 2008

354

Kemaren gue ke CoBrA, museum seni modern, di Amstelveen. Di sana lagi ada pameran gewoon anders! (just different!). Deskripsinya sih pameran ini adalah tentang gairah seksual, gender, dan konstruksi identitas dalam seni rupa di abad 21 *halah* Hanya saja pameran ini lebih berfokus pada LGBT, alih-alih heteroseksualitas yang lebih jamak kita jumpai.

Menonton Will and Grace secara intensif, gue pikir gue cukup siap untuk pameran ini. Ternyata tidak. Pusing liat display-display seksualitas yang vulgar. Ada sih yang menarik, menggelitik (apakah ini terjemahan yang tepat untuk intriguing?), menyentuh dan bikin kasian, indah juga mungkin. Tapi sering kali kok masokistik. Bikin sakit perut gitu.

Tapi membaca artikel ini, gue baru menyadari bahwa gue mungkin homofobik. Karena banyak display di situ tetep akan bikin gue sakit perut kalo isinya pasangan hetero. Secara gue adalah kabid kine klub yang gak pernah nonton bokep. Jangankan lagi mengoleksi film bergenre huruf ke-24 dalam abjad :D Oh, ok, ini memang bukan bokep. Ini seni.

Kesimpulan: ternyata gue memang gak sanggup mengunyah seni modern :D

27 Juli 2008

353


Higs. He really is leaving. Miss him already :(

22 Juli 2008

352

I think stupidity lack of education is a major problem in Indonesia. Probably the most important problem. That's why I argued that it's important to make everyone smart. Or clever. Or have brain. Or...

Are these terms all similar?

Because I just read this article. And, probably for the first time in my life, these girls had successfully made me think that brain is overrated. I mean, come on...

Cewek bodoh juga manusia. :D

eggophilia: adeuuuh... disukain d**n s*str* *suit suit....*
b********: MAJALAHNYA yg disukain, bukan tulisan gw
b********: lagian d**n s*str* gitu loh, apa sih yg lo bisa arepin
b********: (BANYAK sih) :P
eggophilia: :))
b********: hehehehe
eggophilia: lho dia kan sering diskusi intensif tentang masa depan bangsa ini *still amaze with those words* :D
b********: hahahahaha
b********: iya, tolol bener ya doi
b********: orang2 bilang ke gw, "Cantik sih, tapi bego."
b********: gw bilang ke mrk, "Bego sih, tapi cantik."
(names are hidden to avoid fan's protest)

That so I thought.

Although there's a thing called pintergenic (I think it's from Ahmad), which means that being smart can make someone looks more beautiful. Or handsome actually, because we were talking about guys. But it doesn't go the other way around. I mean, a dumb handsome guy is still handsome. Whether he's still charming or not, that's another thing.

And up till now, I still secretly have crush on Tomtom :D

[picture is taken from Gatra]

21 Juli 2008

351

Pingin menulis lagi. Karena ini dan itu sih, seperti biasa. Tapi utamanya adalah karena gue menemukan Leonard (ngomong-ngomong, menemukan Leonard rasanya seperti ketika menemukan abang yang satu itu. pingin teriak keras-keras, tapi kan ya tengah malem :D)

Masalahnya adalah lagi-lagi gue gak bisa menuliskan apa yang gue pikirkan secara runut. Ga ada kerangka teoritis, ga ada metodologi. Tentu saja diskusi dan kesimpulannya berantakan. Oh, gue lupa. Ini bukan tesis. Tapi tetep aja, kalo guenya aja bingung, gimana lagi yang baca :D

Baiklah. Hanya remah-remah tidak penting. Film-filmnya Leonard, mau tidak mau, membuat gue mempertanyakan banyak hal. Misalnya ini.


Kenapa Rumidjah tidak boleh (bersalaman)?
-Agamanya berbeda.

(terjemahan bebas. audio-nya gak jelas ;)))

Beberapa bulan yang lalu, gue nyaris menangis ketika bisa shalat di mesjid. Aneh rasanya. Lo memaknai banyak hal secara berbeda.

Kemarin, gue ke gereja St. Stevens di Nijmegen. Entah kenapa gue ngerasa sangat diterima.


Padahal mah biasa aja. Yang namanya gereja di sini emang obyek wisata (ngomong-ngomong, mesjid di Paris itu juga obyek wisata). Dan kemarin di sana juga lagi ada pameran musim panas. Jadi ga ada yang aneh.

Gereja ini adalah gereja oikumene. Mungkin itu sebabnya dia terasa sangat ramah.


Kalo gue ngomong Subhanallah di gereja, apakah gue termasuk kaum sepilis? :D

15 Juli 2008

350


Hihi, terbukti kan jadwal liburan makan-makan doang. Besok masi kosong niy...

13 Juli 2008

349

It's holiday and here's my daily cycle:
  • Waking up
  • Going through my fridge to see if there's anything for breakfast
  • Having breakfast
  • Chatting, browsing, blogwalking, whatever you call it
  • Having lunch
  • Taking a nap or reading something (or both)
  • Waking up, feeling depressed that my life is really useless
  • Buzz Tia or Ahmad, asking them to go cycling or whatever (depend on whether it's raining or not), or calling Mbak Yoen, asking if I can come by to see Shaina (and have dinner)
  • Sitting before my desk, chatting, browsing, blogwaking, thinking of what to do tomorrow
  • Going to sleep
...and the cycle continues.

Anyway, having a lot of spare time make me going through old "gak penting" hobby, watching romantic comedy and sitcom Friends. Well, it just occur to me that I'd better watch something "heavy" like Ingmar Bergman or Béla Tarr (eyes on Budi ;;)), but what the heck. I love these all-feel-good movies :D

Something's Gotta Give. Hmm... I do think Jack Nicholson is sexy :D Yea... of course he's old, but, ah... perfect cast anyway. This movie just shows that rom-com is not only about thirty something. Before this, there was As Good As It Gets, actually. Again, Good Old Uncle Jack, with Helen Hunt. Love both, although, I prefer As Good As It Gets, a bit.

This movie was aired on TV a couple of days ago and I watched it with Tia. Tia just re-watched Music and Lyrics, which is also one of my favorites. "Cora Corman. Biggest star in the world, bigger than Britney and Christina put together." And Hugh Grant as an '80s has been. Brilliant! I was also going to watch this movie if I didn't suddenly get the urge to watch...

When Harry Met Sally. Yeah... it's a little bit... ummm... old :D And predictable (of course, it's predictable because I watched it for the zillionth time). And a little bit sexist? (Hmm... Nora Ephron was involved somewhere) But the thing is, I stick to my theory that this shape the face of rom-com for... ever. No, no, exaggerated. At least, bunch of rom-coms following the exact same plot (That's what I wrote a couple of years ago for an article titled "Laugh Story" that was recklessly edited to the lame "You Make Me Laugh" "U Make Me Laugh" :D To summarize (1) The man meet the woman (2) Fatal attraction (3) Here comes trouble (4) ...and they finally live happily ever after). Plus, Meg Ryan was synonymous to rom-com for a long time. And this scene is still phenomenal to date. Definitely a classic :D

Friends. Oh... awrite... Friends? Again? But watching Friends is... easy. Maybe not as sharp as Seinfeld or Will and Grace, but that's actually it. You don't think, you just watch and laugh, even if you watch it for God knows how many times.

I started watching Friends in high school. Because it was cool. Then, I watched it again in college, with my good friends. That's what made it worth. And later, after leaving college, I became them.

The "reality bites" things, how the real world treats you, money problems, uncertainty, failed relationships. Especially in the first 2 or 3 seasons, when things weren't so complicated and I definitely could identify myself with the story. Even now, at least the last point still bugging me ;)

Anyway, watching Friends is like examining an example of "how to write a situation comedy". The three acts structure, the characterizations, everything! You can identify the elements rather easily, and you can see it as negative or positive thing. Because even now, I still point out "this twist" or "that subplot", which actually make the watching less fun. In general, it reminds me of malam-malam tanpa masa depan the good old days in Srigading :D How's our beloved Rumah Deket going, by the way :-?

And one more thing. My way of watching Friends is also evolved with time. First, in television. Then, with original VCD. Next, pirated DVD. And now, broadband streaming :D

[pictures were taken from here, here and here]

11 Juli 2008

348


My desk today, somewhere around 2 PM (noo... no, it's not always like this. it's usually messier :D)

1. Power
2. LAN cable
3. USB to iPod
4. USB to printer. But the printer was off, actually, because I needed the socket for
5. DV to handycam
6. USB to mouse
7. USB to external HDD

03 Juli 2008

347

Akhir-akhir ini di kepala gue bercampur-baur banyak hal. Acak. Gak penting. Gak mencerahkan. Tapi masih satu tema. Dan ngabis-ngabisin kapasitas otak gue yang terbatas untuk ngapalin emoticon shortcuts buat ceting. Maka baiknya dimuntahin aja. Walopun basi. Karena nulisnya disambil-sambil sama maen sudoku, buka-buka Metcalf & Eddy, dan ngerjain makalah refleksi. Dengan status YM: 'blogito ergo sum, terbit kapan2'

Konsekuensi dari pikiran-pikiran yang tercetus dari banyak insiden. Bahasan tidak terstruktur. Tidak kronologis. Tidak apapun.

Tentang 1 Juni. Dan FPI. Dan Ahmadiyah. Dan AKKKKBBBB... (what?) Basi? Banget. Gue sebenarnya menghindar dari beropini. Karena gue tau gue sudah bias. Karena gue gak suka mereka dengan alasan-alasan yang menurut gue sangat jelas.

Ketika nampaknya media-media arus utama beramai-ramai mengecam (kenapa? karena dalam AKKBB banyak orang-orang media?), perang opini terjadi di blog dan milis. Mungkin juga SMS. Atau mungkin di media arus utama juga, tapi gue gak ngikutin. Lalu keluar SKB, Munarman menyerahkan diri. Lalu.

Sudah?

[Mas Harry Sufehmi menulis tentang bagaimana situasi berubah 180 derajat]

[oh iya, bagi para penggemar teori konspirasi, sebenarnya insiden ini hanyalah tipu daya antek-antek zionis untuk memecah belah umat islam. atau setidaknya, seperti halnya EURO2008, hanyalah bagian dari taktik pemerintah untuk mengalihkan perhatian dari BBM]

Dan lalu, akar masalahnya adalah Ahmadiyah. Kenapa sih Ahmadiyah demikian pentingnya untuk dibela atau dimusuhi. Statistik, tolong?

[Ndoro Kakung menulis cukup lengkap tentang Ahmadiyah di sini, di sini, dan di sini. Sisi lain ada di sini]

Gue?

Tapi gue inget cerita seorang teman. Suatu kali dia lagi jeprut. Lalu tiba waktu shalat. Dia masuk ke sebuah mesjid, meminjam mukena dan shalat. Ketika mau pergi, dia baru nyadar kalo mesjid itu mesjid Ahmadiyah. Dan itu membuatnya bahagia sekali.

Teman yang aneh.

[yea... yea... gue tau kalian tau siapa temen gue itu ;))]

Tentang Jalaludin Rakhmat dan Irshad Manji. Dan Buya Syafii. Dan Kebiasaan Lama Membentur-benturkan Kepala ke Meja. Akhirnya selesai juga membaca Islam dan Pluralisme. Tadinya mau bikin tulisan sendiri. Bukan review. Gak sanggup. Terlalu berat. Tapi memang memaksakan menyelesaikan buku ini (walopun kalo mengingat belinya setaun yang lalu... ) dalam rangka pusing mencari pencerahan. Atau mencari bahan tulisan ;))

Iya, terlalu berat. Untuk kritisi, silakan digugling sendiri aja.

Terus gara-gara tulisan Ifan, gue jadi baca Irshad Manji dari sini. Belum selesai sih.

Dan Buya Syafii. Kalo berbicara tentang negara Islam, gue selalu ingat ini.
Titik kisar hidupnya diawali ketika bertemu seorang cendekiawan dan pembaru Islam dari Pakistan, Prof Fazlur Rahman, yang juga pengajar di kampus orientalis Universitas Chicago, Amerika Serikat.

"Berikan saya seperempat kemampuan intelektual Anda, saya akan mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Profesor Fazlur hanya tertawa, dan berkata bahwa saya boleh mengambil semua pikiran beliau," ujar Syafii sambil tertawa seolah menertawakan sikapnya sendiri saat menjadi mahasiswa di AS.
(Syafii, Anak Panah Muhammadiyah, Ari Susanto dan Agnes Rita Sulistyawaty, Kompas, 8 September 2006)

Hubungannya apa ya? Karena Buya Syafii adalah tokoh yang sangat gue kagumi aja. Ada yang punya transkrip atau skrinsyut wawancara beliau di Sinar Harapan yang katanya berbau rasisme itu? Gue cuma menemukan klarifikasinya di sini. Trus kemaren sempet kumat lagi, buka-buka situs JIL bersamaan dengan sabili dan hidayatullah. Ngomong-ngomong ga bisa pasang taut ke situs JIL, lagi dalam perbaikan. Jangan-jangan disabotase #:-S

Dikutip dari milis:
Yang menjadi masalah kaum JIL adalah mereka membawa perdebatan dalam filsafat, sosiologi dan tafsir agama ke level grass root, yang jelas akan menimbulkan friksi2.
(Pak Dje)

Jadi inget tulisan Pepson. Tritunggal (trinitas) itu bukan 1+1+1=3 tapi 1=1=1. Baca sendiri aja. Gak rasional? Gak tau. Menurut mereka rasional kok. Dan menurut Kang Jalal, ya itu kebenaran yang benar menurut mereka (halah, mbulet). Kalo gue, gue cuma kagum sama Kang Jalal. Di mata gue, orang yang bisa mengakui kebenaran versi agama lain tapi tetap meyakini bahwa Islam adalah yang paling baik (baca: paling benar), itu berarti tingkat keimanannya tinggi. Gue gak sanggup kaya gitu. Karena menurut gue Islam itu benar, maka yang lain salah tidak benar. Kalo gue mengakui yang lain benar juga, maka bisa-bisa iman gue goyah dan gue ganti agama. Tapi itu mah perspektif gue. Perspektif sebaliknya, seperti gue saranin di atas, silakan digugling.

Tentang Homoseksualitas. Teman Belanda gue suka mengejek kaum homo. Dan karena dia lucu (bukan lutu. yaah... lutu juga sih dikit. bronis yang jelas), kita jadi selalu tertawa dibuatnya. Tapi gue bilang sama dia bahwa di Belanda ini homoseksualitas legal, jadi dia tidak seharusnya begitu. Lah kalu di Indonesia? Apa mesti dirajam?

Dulu pernah ngebahas sama Ifan soal terminologi straight dan gay. Yang katanya lebih politically correct. Jadi mereka yang gay itu nyadar dong kalo mereka tidak lurus (definisi leksikal straight di sini)

[oh, gue lupa kalo Ifan pernah nulis agak panjang di sini]

Ini kenapa dibahas? Oh iya, gara-gara Irshad Manji. Bukan ad hominem.

Yang ini bukan tentang homoseksualitas tapi males bikin judul baru. Kemarin itu diskusi sama seorang teman. Orang Suriname. Pacarnya banyak. Dan kita membuat situasi hipotesis seandainya dia datang ke Indonesia dan seterusnya dan seterusnya sampai akhirnya dia mengajak gue menikah. Gue bilang,

"My mother would freak out."

Dan itu masalah budaya. Purbasangka. Mungkin rasisme. Maaf. Apakah orang Indonesia itu umumnya xenofobia?

"Okay, what about you then?"

"I believe I should marry someone with the same religion as mine, because marriage is not just about two people, it's a...,"
gue lupa kata apa yang gue pake untuk menerjemahkan "ibadah".

Tentang Mengenal Allah Lewat Akal. [oh, jadi inget Harun Yahya juga. silakan liat di sini]

Oh iya, judul bukunya Harun Yahya, Mengenal Allah Lewat Akal. Gak masalahin isinya. Udah lupa. Tapi itu yang gue pikirin. Allah harus bisa, dan memang bisa, dikenal lewat akal.

Sebenarnya ketika "ruang santai bercahaya", masa-masa diskusi teologi itu, dapet apa sih? Cuma m*st*rb*s* otak doang. Gak ngaruh ke solat gue, gak bikin gue tambah dermawan.

[tulisan usang gue]

Satu orang juga ikut berdiskusi sama gue dan si Suriname itu. Dan kita membahas takdir. Ah, ya. Teman gue yang lain itu, orang Indonesia, percaya mukjiizat. Gue enggak. Maaf. Tuhan tidak akan melanggar hukum yang Dia ciptakan.

Dan menurut gue, Tuhan yang menciptakan makhluk hidup dengan mekanisme evolusi jauh lebih keren dari Tuhan yang menciptakan makhluk hidup dengan seketika. Duh, bisa dirajam gue ngomong gini yak? :P

Tentang... Hmmm... Terakhir Deh. Temen gue yang orang Indonesia itu, ternyata punya perspektif yang beda sama gue tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dalam Islam. Dia yang lebih konservatif, seperti Islam melarang pacaran, misalnya. Dan yang lainnya seperti masyarakat yang berprasangka. Jadi kecampur-campur deh bahasannya.

Kemarin itu, gue ambil Presentation Skills. Karena garing ide, gue bikin presentasi ini. Pas bikinnya ada dua nuktah penting.

Pertama, adalah ketika mencari bahan, gue kesandung-sandung ke banyak halaman dan forum yang... yah, gitu deh. Cape. Tau ga, waktu gue nonton film yang bikin ribut itu, hal yang melintas di kepala gue adalah, yaah... kenapa sih ada orang-orang yang ngasih bahan sehingga film kaya gini bisa dibuat?

Kedua, gue percaya bahwa agama (Islam) itu sederhana dan tidak menyusahkan. Tapi gue gak yakin pesan itu nyampe dalam lima belas menit (ya iyalah...). Dan kitanya (baca: orang Islamnya) sendiri masih merumitkan yang sederhana. Menurut gue sih, seenggaknya.

[lagi, tulisan menarik dari Mas Harry Sufehmi, sayang baru kebaca sekarang]

Dan umat itu mudah sekali dibuat resah ya? Cape deh.

Kesimpulan. Untuk sementara, dalam lingkup Indonesia, menurut gue yang paling utama adalah semua orang harus dibuat pinter. Harus ngerti filsafat ilmu walopun ga harus apal ajian-ajiannya. Setelah pinter, silakan memutuskan mo jadi Islam kampung atau kota, liberal atau fundamental, atheis, agnostik, kristen, yahudi, apapun.

Obvious, isn't it?

[jadi lo ngerasa udah pinter ran? ]

Sidang pembaca, maafkan saya membuang-buang waktu anda untuk tulisan gak mutu yang nampaknya terpanjang sepanjang sejarah saya ngeblog.

Off me go.

[gue sedikit mengedit tulisan ini. gak biasanya si, tapi ada referensi-referensi yang sayang dilewatin]