Awal minggu ini, gue ikutan konferensi
Sanitation Challenge. Gak bawa makalah si, cuma nonton aja. Ini konferensi internasional pertama gue. Gila, seru aja. Tadinya gak kebayang gue bakalan ngapain karena... ya ampun, gue ngerasa culun banget. Gak bawa makalah, tesis masih nyari-nyari topik. Gue bahkan praktis baru belajar tentang pengolahan air buangan 4 bulan terakhir (yang di ITB gak diitung, udah gada bekasnya

). Sementara yang dateng kek yang dewa-dewa gitu

. Tapi ternyata gue bisa juga tuh berdiskusi sama orang-orang yang dateng.
Ada beberapa catatan tidak penting, seperti kehadiran seorang peserta yang menurut hemat gue sangat mirip
Todd Anderson 
Sayang dia selalu di sesi sebelah. Lalu, bahwa 'toilet' anyaman bambu yang suka nangkring manis di kolam ikan itu nama resminya adalah sky toilet. Haha, padahal gue suka menyebutnya helikopter

Dan yang selalu membuat gue dan hadirin tertawa, adalah ketika ada peserta yang mempresentasikan sebuah sistem pengolahan air limbah yang ceritanya
novel untuk diterapkan di negara maju, tapi menggunakan pengolahan biologis aerobik sebagai inti. Hmm... kalimat gue agak
roaming dan mengandung sejumlah paradoks termasuk paradoks bahasa, karena sebenarnya tidak ada yang salah dengan pengolahan aerobik. Yang salah adalah ketika si peserta itu dengan naif melakukan presentasi di depan
Gatze Lettinga, pakarnya pengolahan anaerobik. Ini analog dengan numpang syuting di STEMA, atau "ngelawak di depan Jojon" (Widyastama, 2002)

Catatan-catatan yang agak penting adalah sebagai berikut:
Pertama, sebenarnya hasil penelitian yang dipresentasikan di sini gak canggih-canggih amat. Terutama untuk skala penelitian, kalo mo dibandingin sama yang gue kerjain dulu, ga jauhlah. Dan emang sanitasi adalah bidang yang ruang lingkup teknologinya sangat luas, mulai dari cubluk sampe teknologi nano

. Memandang sistem secara keseluruhan, apakah sistem itu tepat guna atau tidak, menjadi lebih krusial daripada jenis teknologi yang digunakan. Yang berbeda dengan apa yang gue kerjain dulu adalah cara melakukan penelitiannya. Perencanaan dan metode yang digunakan. Yang
harusnya gue gunakan. Padahal perencanaan dan metode itu hal yang sangat dasar. Demikian juga dengan perumusan pertanyaan, yang harusnya diajarkan di kuliah filsafat ilmu yang harusnya diwajibkan di tingkat satu (hihi, ini topik lain lagi). Pingin jeduk-jedukin kepala ke meja rasanya. Yaa... mudah-mudahan ini cuma gue aja. Anggaplah itu kenaifan seorang peneliti pemula yang melakukan penelitian seenaknya sehingga hasilnya tidak dapat diandalkan dan tidak valid. Bahkan menurut gue sendiri yang ngelakuin.
Kedua, ternyata ada banyak negara yang jauuuh lebih menderita dari Indonesia. Liatlah negara-negara Afrika yang sibuk dengan kekeringan, kelaparan, dan perang saudara itu. Dengan mengecualikan beberapa daerah konflik, keadaan Indonesia
harusnya jauh lebih baik. Segala jenis sumber daya
harusnya ada. Dan rakyat
harusnya tidak menderita, tidak antri beras, tidak antri minyak tanah, tidak rebutan subsidi BLT. Harusnya. Tapi tidak. Pelajaran moralnya adalah, Indonesia ternyata diurus secara salah oleh orang-orang yang tidak kompeten. Baru tau Ran? Pantesan metode penelitian lo ngaco