26 Februari 2008

320

Kapan itu gue makan sama Ifan, dan entah kenapa kita jadi membahas saus tomat. (Gue bilang entah kenapa karena gue ga biasa menambahkan saus tomat di makanan gue, jadi mungkin Ifan pelakunya. Anyway...) Gue dengan sembrono mencetuskan bahwa saus tomat mengandung antioksidan dan Ifan langsung menyambar,

"Saus tomat?"
"Beneran kok. Tomat itu bisa mencegah kanker."
"Tapi saus tomat??!!"

Ya sudah, gue tidak mendebat lagi. Sebenarnya sempet baca di advertorial-nya saus tomat ABC bahwa saus tomat itu kandungan antioksidannya lebih bagus dari tomat segar, tapi itu kan iklan dan iklan kan suka boong *lirik-lirik Shafiq*

Teringat obrolan itu ketika kemaren belajar untuk ujian TP1 dan mengerjakan soal latihan berjudul making lycopene better bioavailable. Skrinsyut daripada pendahuluan soalnya adalah sebagai berikut:

Jadi intinya mah karotenoid, termasuk lycopene yang ada dalam tomat, yang berasal dari sayur dan buah segar justru tidak terserap dengan baik oleh sistem pencernaan. Pemrosesan makanan, misalnya membuat tomat jadi pasta, membuat ukuran partikel menjadi lebih kecil sehingga tingkat penyerapannya lebih tinggi.

Jadi bisa aja tuh saos tomat-pepaya busuk mengandung sejumlah antioksidan yang bioavailable. Walopun tentu saja kalopun iya, keberadaannya tidak lebih signifikan dari pewarna tekstil yang karsinogenik :D

Tapi ternyata mengetahui fakta ini tidak membantu gue dalam ujian. Tiga setengah jam berkutat dengan dua soal, walhasil gue mendatangi Anja dan minta ujian ulang aja. Tapi Anja bilang mau liat dulu hasil gue. Tau deh... :((

Karena patah hati ga bisa ngerjain ujian (sama Arjen si, sebenarnya), tadi gue lari sore Chungking Express. Sendiri lagi. Biasanya sama Ahmad, tapi dia lagi harus menghadiri banyak undangan. Maklumlah orangnya populer dan multiprofesi, gak kaya gue yang cuma bisa kampanye hitam mengejar popularitas semu. Dia juga lagi ada dilema politik, karena baru saja merintis karir, tau-tau di-recall sama partai oposisi yang dulu membesarkan namanya. Jadinya akhir-akhir ini kalo mo ketemuan sama dia mesti bikin appointment dulu jauh-jauh hari.

Jadilah gue lari sendiri, cuma ditemenin si iPod dan Kang Harry. Lumayan dapet 10 putaran dengan kecepatan rata-rata 1 lagu kurang dikit atau 3-3,5 menit per putaran . Jadi kecepatan difusinya menurut Maxwell-Stefan... Duh, TIDAAAAAAAAK :((

Pelajaran moral hari ini:
  1. Lagu swing jazz ternyata asik juga buat nemenin lari.
  2. iPod cukup kompatibel untuk digunakan mengukur kecepatan lari, tapi tidak untuk menghitung koefisien difusi.
  3. Saus tomat, walopun mengandung antioksidan, tidak serta-merta meningkatkan kecerdasan. Apa lagi saos pepaya busuk.

23 Februari 2008

319

Bermula dari surat-e dari Ahmad ke milis[1] 2007 ini:

Yang ditanggapi oleh Jimmy seperti ini:


Dan membuat naluri kewartawanan Mba Alfi terusik:


Hingga akhirnya Ahmad membuat pernyataan maaf:


Dan Jimmy malah dengan semena-mena menuduh gue mencari popularitas semu (kata lainnya tren sesaat (TM)):


Untuk meyakinkan khalayak bahwa eksistensi pensil[2] tersebut adalah benar adanya, maka gue mencoba mengambil fotonya. Tapi entah kenapa hasilnya kok aneh ya? Apa filmnya rusak? Yang jelas bukan gara-gara RSI.



[1]Mailing list bahasa Indonesianya apa sih? Masa daftar persuratan, hihi :D

[2]Yang bener pensil apa pinsil sih?

13 Februari 2008

318


Kenapa ya...?

10 Februari 2008

317

Gara-gara mengunjungi blog-blog seleb (bukan seleb blog, hehe), jadi nyasar ke blog-nya Tyas Abiyoga, produsernya Naga Bonar (Jadi) 2, yang kalo gak salah tak lain adalah anaknya Budiati Abiyoga. Hmm... sampai sini, sudah merasa ada yang aneh? Yup, gak ada halaman yang cukup bermutu yang gue bisa tautkan. Menurut gofugyourself, tidak punya lema di wikipedia sama saja dengan tidak eksis. Bahkan di IMDb, entah siapa yang memasukkan data, nama beliau ditulis Budiasi Abiyoga. Duh... :(

Padahal Budiati Abiyoga adalah salah satu pahlawan [1] gue. Di Festival Film Kine Klub taun 2000 [2], gue milih beliau untuk penghargaan... apa ya namanya gue lupa. Semacam lifetime achievement award gitu. Yang akhirnya jatuh ke tangan (alm) Teguh Karya. Tapi... dari belasan film yang kita tonton waktu itu, sekitar setengahnya diproduksi sama Prasidi Teta Film, ya tak lain Ibu Budiati itulah.

Selain kenyataan bahwa beliau memproduksi banyak film-film keren, yang agak personal buat gue adalah... beliau lulusan TL! Teknik Penyehatan, tepatnya, dan bahkan pernah jadi ketua HMTP. Jadi kalo gak salah tangkep waktu ngobrol di FFKK itu, beliau bilangnya tetep jadi konsultan juga. Keren deh pokoknya.

Ngomong-ngomong soal pahlawan, gue punya pengalaman lain yang agak-agak gak mutu dan memalukan. Ceritanya waktu orientasi CPNS LIPI [3]. Kita ada satu sesi di LIPI Pusat, presentasi dari orang-orang yang diharapkan dapat memberi inspirasi gitu. Setelah sambutan-sambutan yang... gitu deh, tampil Pak Arief Rachman. Tau dong, beliau kalo presentasi kan yang asik gitu. Ngantuk gue mendadak ilang.

Cuma ya emang dasar, karena malemnya acara sampe larut di tempat kita nginep di Pondok Gede, jadilah selesai Pak Arief gue ngantuk lagi. Dan muncullah pembicara berikutnya, seorang dokter dari UI yang sudah bertekad untuk menjadi peneliti. Beliau melanjutkan sekolah di Australia, ada fotonya dengan rambut gondong dan celana cutbray. Ketika beliau mulai bercerita tentang DNA dan degenerasi telomer, gue setengah mati berusaha supaya tidak terdegenerasi ke alam mimpi.

Usaha yang agak sia-sia.

Sampai saat-saat terakhir menjelang presentasinya berakhir, ada suara-suara yang menembus otak bebal gue. Eijkman. DNA. Eijkman. Telomer. Eijkman.

Ya ampun! Itu kan Pak Sangkot Marzuki[4]! Lembaga Eijkman! Salah satu yang menginspirasi gue untuk jadi peneliti. Dan gue TIDUR??!!

What have I missed? :((

[1]Terjemahan dari hero, hmmm... heroine tepatnya. Aneh ya? Abis apa dong, hihi :D

[2]Festival gak penting ngabis-ngabisin anggaran Senakki :P Halo Pak Jufri! :D

[3]Duh, sampe sini aja udah gak mutu ya? :(

[4]Profesor Sangkot Marzuki adalah peneliti di bidang biologi molekuler dan medis, pendiri sekaligus Direktur Lembaga Biologi Molekul Eijkman. Pahlawan gue yang lain. Gue baca profilnya bertaun-taun yang lalu dan yup, kisahnya menginspirasi gue untuk pingin jadi peneliti.

06 Februari 2008

316

Jum'at dinihari tanggal 30 May 2003

Ternyata ada seorang teman ITB senior yang tidak mau menyebutkan angkatan berapa dan dari jurusan mana. saya mengenal dia sebagai anak ITB karena pada dini hari tadi bernyanyi, menyanyikan lagu mentari dua. Dia seorang karyawan Unocal, dan bermain gitar di atas Helipad menyongsong matahari terbit.

"indah sekali....... walaupun saya melihatnya tidak begitu jelas, namun keindahaan ciptaan Tuhan masih bisa saya tangkap. Ternyata dunia sangat luas..... namun sayang dimataku dunia terbatasi oleh dua bingkai besi kecil dan terhalang lensa tipis......," si oom tua itu berujar sambil membersihkan kacamatanya yang berembun.

dia pun mulai memainkan guitarnya......

"kulihat disana sinar mu merekah...

Berikanlah cahaya mu pada negeri ku....

dengarlah suara... seruan rakyat mu

tertindas terbelenggu, menanti tangan mu....

berikan cahaya mu bagi negri ku......."

Dia pun berceritra tentang kerinduannya pada kampung halamannya di nun jauh di sana.... sebua desa terpencil di Tasik Malaya.... kerinduan pada para petani yang mencangkul sawah dan kebun... pada anak-anak gembala kerbau.... dan pada kuburan sang istri yang meninggal pada saat melahirkan anaknya.

Saya pun terbawa suana si oom.... ikut menyanyi... walaupun suara saya tidak semerdu waljinah atau dorce gamalama.... tapi cukup PeDe untuk bersaing dengan suara Rio Febrian lah... hehehehe.... Kita bernyanyi tentang kerinduan.... kedamaian.... dan mulai mengantuk. tepat jam lima tiga puluh kitapun beranjak dari helipad menuju galley untuk bersantap pagi dan berlanjut ke ruang tidur masing-masing.... sambil mengantungi kerinduan didalam relung jangung.

saya terbangun, jam ditangan menunjukan jam sepuluh...... "Wakitunya Coffee Break !!!"

saya pergi keradio Room, saya dapatkan pesawat telpon dan saya pijit sederet nomor kombinasi.....

"halo....., kamu masih meeting?........ nggak.. nggak ada apa-apa........ cuman saya mau bilang saya kangen sama kamu....."

(gak sengaja nemu tulisan ini ketika mengacak-acak arsip lama dengan kata kunci "gombal". ditulis oleh seseorang yang udah gak mungkin menuntut hak cipta ke gue. damai di sana mbah)

02 Februari 2008

315

"Anders dan studeren, wat gaat je doen in Nederland?" guru les Belanda gue bertanya. Selain kuliah, mo ngapain lo di Belanda?

"Ik wil naar festival en museum gaan," jawab gue. Gue pingin pergi ke festival dan museum. Dan minggu kemarin gue ada di International Film Festival Rotterdam! Waa gilaa! Mengingatnya aja masi bikin gue seneng gini. Gue seneng film-filmnya, gue seneng crowd-nya, semua deh.

Menurut wikipedia dan situs resminya, IFFR adalah festival yang sangat ramah pada orang-orang biasa. Mahal sih (nanti gue bahas ini), tapi tidak sombong. Pilihan filmnya cukup asik dan dengan semangat Hubert Bals, banyak menampilkan karya-karya pendatang baru. Gue selalu tertarik melihat film pertama seorang sutradara, melihat ledakan ide-ide atau kenaifan seorang pemula. Bukan kebetulan 4 dari 6 film yang gue tonton adalah film perdana.

Parents' DayTapi yang ini bukan. Roditelskii Den (Parents' Day) adalah film Rusia, eh, Uni Sovyet taun 1982. Ceritanya tidak luar biasa. Tapi ada perasaan mirip-mirip depresi yang menggantung di udara, yang lalu pecah oleh tawa. Sangat-sangat Rusia, eh? Sebenarnya yang diputer dua film, film pertama adalah Ostrova. Alexander Sokurov (Island. Alexander Sokurov), sebuah dokumenter tentang sutradara yang tidak gue kenal dengan film-film yang tidak gue kenal. Dan gara-gara malam sebelumnya siaran sama kadal sampe tengah malam, jadilah gue terkantuk-kantuk menontonnya :D

End of the LineIde Fim da Linha (End of The Line) menarik dan menggelitik tentu saja. Dan sutradaranya ganteng, hihi. Ini film pertamanya Gustavo Steinberg dan dibiayai sama Hubert Bals Fund. Tidak ada yang terlalu baru, tapi temanya nyambung sama tulisan gue sebelum ini dan cukup bikin gue mikir seperti harapan sutradaranya yang ganteng itu *keukeuh* Ini film sangat-sangat dunia ketiga, dan kayanya kondisi perfilman di Brazil lebih parah dari Indonesia. Tiket bioskop setara 6 euro, dengan standar hidup kira-kira sama dengan di Indonesia. Sutradaranya yang ganteng aja pro-pembajakan, karena itu satu-satunya cara supaya filmnya bisa ditonton orang, padahal gue gak mau beli bajakan film Indonesia. Tapi kenapa di festival ini ada 10 film panjang Brazil dan 2 film panjang Indonesia ya :-

Waltz in StarlightMenonton Hoshikageno Waltz (Waltz in Starlight), ada atmosfer mentah yang sering gue temuin di film-film "indie" produk euforia "bikin film itu gampang". Sutradaranya seorang fotografer, dan tentunya lo mengharapkan gambar-gambar indah kaya kartu pos. Tapi gambar-gambarnya amatir banget, kaya video rumahan. Awalnya gue ngerasa biasa aja, tapi lama-lama kok jadi keren. Biografi yang diceritakan seperti lo bercerita tentang kakek lo sendiri, mungkin gak penting buat orang lain tapi penting buat lo. Duh, gue gak bisa menjelaskan kenapa gue menganggap film ini keren. Yang jelas personal banget, dan sutradaranya (ternyata) gak berpretensi macem-macem. Jadi apa yang ngebedain amatir, naif, sama jujur?

Naissance des PieuvresNaissance des Pieuvres (Water Lilies), tentang tiga cewek umur lima belas taun; satu cantik, satu biasa aja dan dadanya masih rata, satu gemuk. Terdengar Jennifer Love Hewitt gak sih? Tadinya agak malas menonton film ini, tapi ternyata walopun mepet tiketnya masih ada. Dan ternyata gak nyesel. Keren. Malam sebelumnya gue liat diskusi sama sutradaranya, dan moderatornya berusaha menekankan bahwa yang "kalah", yang sebenarnya paling unsecure (ini semacam unlogic, hehe) adalah si cantik, dan pemenang sesungguhnya adalah si gemuk. Lagi, Jennifer Love Hewitt, eh? Menurut gue sih gak begitu. Akhir film ini memberi sedikit rasa gak enak di perut seperti Inarritu, yaa begitulah umur 15 taun. Lo merasa buntu, tenggelam dan ga bisa keluar, dan itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam 85 menit. Itu selesai di suatu pagi ketika lo bangun dan tiba-tiba mencintai diri lo sendiri, dan mungkin saat itu lo sudah berumur 19 atau 25 taun.

Go with Peace JamilGo With Peace Jamil, sebuah film tentang perseteruan syiah-sunni yang berlokasi di Denmark. Gue gak begitu hepi sama film ini, sebenarnya karena gak sesuai ekspektasi gue. Gue berharapnya dengan latar di Denmark, film ini bercerita tentang pergulatan batin seorang muslim dalam lingkungan nonmuslim (cieeh...) Taunya ya... kaya film gangster biasa.


Waktu Budi ngeliat daftar film yang diputer, dia langsung histeris ngeliat The Man from London-nya Béla Tarr, sementara gue yang... sapa tu? "Lucky you, Ran," katanya. "Film itu ditunggu-tunggu banyak orang." Ok deh... ternyata nasip memutuskan gue masih bisa mendapatkan sebuah tiket. Dan ini hasilnya.

The Man from London
Gimana kalo Ariani baca ini dan menemukan salah satu kuratornya cuma pura-pura ngerti Béla Tarr, Bud? ;)

Pokoknya gue puas banget deh. Ada sih yang gak kesampean, seperti nonton Flower in the Pocket (salah satu film arus baru Malaysia) dan You, the Living. Juga gak nonton film pendek (selain Parents' Day) dan seenggaknya salah satu dari film sineas generasi keempat-nya Cina.

Gue ke Rotterdam dalam keadaan bangkrut di akhir bulan. Sendiri lagi (dan si iPod dengan baik hatinya menghadiahi lagu One is the Loneliest Number). Padahal tiketnya mahal banget, 9 euro per film tanpa tijgerpas. Kalo pake tijgerpas jadi 6 euro, tapi baru buk setelah 5 film. Tadinya gue gak menyangka bakal nonton segitu banyak, tapi ternyata... :D Sebagai kompensasi atas ketidakmampuan menahan diri dalam membeli tiket, gue superngirit di sektor-sektor lain seperti makan siang dan makan malam dengan jalan ngebekel. Tapi bukan cuma gue aja tu ternyata, orang-orang juga pada bekel. Oh, gue lupa, ini Belanda :D

Tips-tips buat yang mau ke IFFR (tepatnya, yang harus gue inget-inget buat taun depan):
  1. Beli tijgerpas. Karena toh gue memang tidak (akan) bisa menahan diri. Kalo ngepas 5 atau lebih, sukur. Kalo 4, anggep-anggep beli souvenir 3 euro. Kalo 3, kayanya ga mungkin :D
  2. Beli tiket lewat internet kayanya cukup 1 (soalnya biaya pesennya 0,70 euro sendiri, kurang ajar), karena toh biasanya juga agak-agak nebak-nebak milih filmnya. Ambil yang sepagi mungkin. Maksudnya kalo bakal nyampe Rotterdam jam 11, cari tiket yang jam 12-jam 13an biar ga bengong (yang berpotensi menghasilkan kerusakan seperti belanja atau membeli tiket asal).
  3. Cari info film sebelum berangkat, tapi pilih di tempat karena nyari di internet gak nyaman dan di buklet lo bisa dapet rekomendasi film-film yang layak tonton. Begitu dapet buklet, langsung pilih-pilih film dan beli semua, terutama untuk besoknya karena sangat mungkin keabisan.
  4. Jangan lupa diselidiki apakah film itu mengandung teks bahasa Belanda atau Inggris. Coba tebak dari enam film yang gue tonton, yang mana yang gue salah liat :D
  5. Bawa bekal memang ide yang bagus untuk mengirit. Dan jangan sampe ketinggalan minum di dalam teater :D
  6. Mbok ya kalo ada kesempatan ngobrol sama sutradara ya ngobrol. Kapan lagi ketemu coba?
Ngomong-ngomong, kayanya asik juga kalo tema jalan-jalan dibikin festival film. Jadi jalan ke Venezia pas lagi Venice International Film Festival, ke Berlin pas lagi Berlin International Film Festival, dan seterusnya. Oke deh, cek jadwalnya dulu.
Berlin International Film Festival: 7-17 Februari 2008
*glk*

(di tab sebelah, rekening bank gue teriak-teriak minta berenti dieksploitasi)