29 Mei 2008

339


See these shoes? Looks like a pair of very innocent shoes, rite? Look comfy too, things that will take you miles of miles walking without making your feet ache. And they come in other colours too, so you have your choice. Look sophisticated enough to wear before a giant phallus or in the centre of the pseudo-capital city of the Netherlands as well.


However, if you do wish to own these shoes, bear in mind that some peculiar things might happen. 11,400 kilometers apart, same incident :-?



[photographs are taken from unionfive, Tia's and Ifan's]

27 Mei 2008

338

Ini adalah contoh nyata dari pengabaian terhadap hak atas kekayaan intelektual yang berujung mengenaskan. Gara-gara sebaris kalimat di tulisan gue sebelumnya, yang tidak memberikan kredit selayaknya terhadap pencetus ide brilian gue tentang filsafat ilmu, jadi gue terpaksa harus bikin tulisan baru lagi!!! Benar-benar tidak sangkil dan mangkus.

Baiklah. Filsafat ilmu. Harap dicatat, segala pemikiran gue di sini hanyalah refleksi dari obrolan YM dengan sodara Edo, salah-benarnya harap dikonfirmasi ke beliau ;))

Menurut wikipedia, filsafat ilmu adalah "bidang ilmu yang mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari sains, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial". Gue baru ngambil kuliah ini dua periode yang lalu, cuma tiga kali kuliah tambah satu makalah yang nyaris gak kelar gue kerjain kalo gak disemangatin Rian, tapi itu lain cerita (o iya, yang merekomendasikan literatur untuk makalah ini juga Edo, ntar protes lagi dia :D). Dulu(?) di ITB, kuliah ini adalah kuliah pilihan di Fisika, yang ngajar Pak Armahedi Mahzar. Gue dan Edo membahas bahwa kuliah ini harusnya jadi kuliah wajib untuk semua mahasiswa. Sekarang gue menyesal dulu gak ngambil.

Gara-garanya, kemarin mata gue ampe jereng bacain diskusi tentang Harun Yahya di sini. Dan sekali-dua gue harus tanya om wiki tentang istilah-istilah macam argumentum ad verecundiam dan dikotomi palsu. Bodoh. Bukan istilah-istilahnya, tapi kenyataan bahwa gue, mahasiswa program master, tidak mengenal istilah-istilah itu. Hmmm... bukan masalah istilahnya yang mirip "ajian Harry Potter" (Komarulzaman, 2008). Tapi bahwa itu adalah suatu sistem logika yang harusnya dikuasai setiap orang yang nekat masuk perguruan tinggi. Pantesan anak ITB pada sotoy (termasuk gue :D). Sampe gue membuat hipotesis bahwa anak ITB itu belum tentu pintar, tapi pasti belagu. Jika ada yang pintar tapi gak sotoy, "itu adalah suatu pengejawantahan suatu rendah diri yang keterlaluan dimana gejala ini sangat langka ditemukan pada pribadi lulusan perguruan tinggi paling prestisius di bandung ini" (Perdana, 2008).

Kadang-kadang emang kek otak-atik gathuk. Tak usah kasih contoh ya (duh, gimana sih, sudah tak mengerti filsafat ilmu, malas pula). Pokoknya kenyataan bahwa
A: Sebagian besar mahasiswa ITB angkatan '97 tidak mengambil kuliah Filsafat Ilmu
B: Gue mahasiswa ITB angkatan '97
Kesimpulan: Gue mungkin tidak mengambil kuliah Filsafat Ilmu
menunjukkan bahwa secara umum ada kesalahan dalam sistem pendidikan di ITB. Lho? Kejauhan :D

PS: Trus, apa kesimpulan gue tentang Harun Yahya? Hihi, udah pada taulah. Tergantung mo baca Hidayatullah apa ngubek Google Scholar :- Ngomong-ngomong, itu Mas Joko kayanya lagi diintai sama antek-antek Zionis *kabuuuuuuuuuuuuur*

24 Mei 2008

337

Awal minggu ini, gue ikutan konferensi Sanitation Challenge. Gak bawa makalah si, cuma nonton aja. Ini konferensi internasional pertama gue. Gila, seru aja. Tadinya gak kebayang gue bakalan ngapain karena... ya ampun, gue ngerasa culun banget. Gak bawa makalah, tesis masih nyari-nyari topik. Gue bahkan praktis baru belajar tentang pengolahan air buangan 4 bulan terakhir (yang di ITB gak diitung, udah gada bekasnya ;))). Sementara yang dateng kek yang dewa-dewa gitu :D. Tapi ternyata gue bisa juga tuh berdiskusi sama orang-orang yang dateng.

Ada beberapa catatan tidak penting, seperti kehadiran seorang peserta yang menurut hemat gue sangat mirip Todd Anderson :D Sayang dia selalu di sesi sebelah. Lalu, bahwa 'toilet' anyaman bambu yang suka nangkring manis di kolam ikan itu nama resminya adalah sky toilet. Haha, padahal gue suka menyebutnya helikopter :D Dan yang selalu membuat gue dan hadirin tertawa, adalah ketika ada peserta yang mempresentasikan sebuah sistem pengolahan air limbah yang ceritanya novel untuk diterapkan di negara maju, tapi menggunakan pengolahan biologis aerobik sebagai inti. Hmm... kalimat gue agak roaming dan mengandung sejumlah paradoks termasuk paradoks bahasa, karena sebenarnya tidak ada yang salah dengan pengolahan aerobik. Yang salah adalah ketika si peserta itu dengan naif melakukan presentasi di depan Gatze Lettinga, pakarnya pengolahan anaerobik. Ini analog dengan numpang syuting di STEMA, atau "ngelawak di depan Jojon" (Widyastama, 2002) :D

Catatan-catatan yang agak penting adalah sebagai berikut:
Pertama, sebenarnya hasil penelitian yang dipresentasikan di sini gak canggih-canggih amat. Terutama untuk skala penelitian, kalo mo dibandingin sama yang gue kerjain dulu, ga jauhlah. Dan emang sanitasi adalah bidang yang ruang lingkup teknologinya sangat luas, mulai dari cubluk sampe teknologi nano ;). Memandang sistem secara keseluruhan, apakah sistem itu tepat guna atau tidak, menjadi lebih krusial daripada jenis teknologi yang digunakan. Yang berbeda dengan apa yang gue kerjain dulu adalah cara melakukan penelitiannya. Perencanaan dan metode yang digunakan. Yang harusnya gue gunakan. Padahal perencanaan dan metode itu hal yang sangat dasar. Demikian juga dengan perumusan pertanyaan, yang harusnya diajarkan di kuliah filsafat ilmu yang harusnya diwajibkan di tingkat satu (hihi, ini topik lain lagi). Pingin jeduk-jedukin kepala ke meja rasanya. Yaa... mudah-mudahan ini cuma gue aja. Anggaplah itu kenaifan seorang peneliti pemula yang melakukan penelitian seenaknya sehingga hasilnya tidak dapat diandalkan dan tidak valid. Bahkan menurut gue sendiri yang ngelakuin.

Kedua, ternyata ada banyak negara yang jauuuh lebih menderita dari Indonesia. Liatlah negara-negara Afrika yang sibuk dengan kekeringan, kelaparan, dan perang saudara itu. Dengan mengecualikan beberapa daerah konflik, keadaan Indonesia harusnya jauh lebih baik. Segala jenis sumber daya harusnya ada. Dan rakyat harusnya tidak menderita, tidak antri beras, tidak antri minyak tanah, tidak rebutan subsidi BLT. Harusnya. Tapi tidak. Pelajaran moralnya adalah, Indonesia ternyata diurus secara salah oleh orang-orang yang tidak kompeten. Baru tau Ran? Pantesan metode penelitian lo ngaco ;))

21 Mei 2008

336

Bandung, 2001

Malam agaknya tidak pernah benar-benar turun di ruangan dua kali tiga meter persegi itu.

Ada keakraban yang kental dan pekat, sekental kopi dalam gelas-gelas bekas akua yang isinya tinggal separuh, sepekat asap rokok yang kotaknya bertuliskan peringatan pemerintah bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Tas-tas dengan warna asli yang meragukan digeletakkan sembarangan bersama buku Fluid Mechanics setebal lima senti. Di rak, Das Kapital bersisian dengan Pendidikan Kaum Tertindas dan Rich Dad, Poor Dad, di bawahnya Religion of Java, Bumi Manusia, Jejak Langkah, Supernova, Muslim Tanpa Masjid, Schaum's Outline of Discrete Mathematics, dan Kamasutra. Di sudut yang lain ada sebuah komputer yang monitornya menampilkan screensaver ikan dan speaker aktif-nya memutarkan Crawling untuk ketiga kalinya. Tak jauh, sebuah kaki telanjang tak sengaja menendang printer ringkih yang ditempeli kertas bertuliskan “print warna 400/lbr hitam-putih 250/lbr (kertas sendiri) kertas + 50/lbr”. Pemilik kaki itu tidur lelap, kepalanya tepat berada di bawah bendera dengan lambang dan tulisan “Pusat Studi Humaniora”.

Hanya jam dinding yang menunjukkan pukul 1.15 dan dengkur pelan pemuda awal 20-an itu saja yang sedikit menunjukkan bahwa saat itu adalah tengah malam. Atau dini hari, tepatnya. Empat orang lain di ruangan itu, juga pemuda awal 20-an, sedang membuat partai. Truf, permainan wajib mahasiswa se-Indonesia.

“Tiga… tiga… dua… lima…,” salah seorang dari mereka, pemuda gondrong dengan kaus putih yang belel sekali, menyeringai. “Ca?”

“Haha! Turun tiga-lah!” pemuda berkemaja kotak-kotak di sebelahnya menjawab dengan bersemangat sambil mengambil kartu lima sekop-nya.

“Anjiiis!” pemuda yang duduk tepat di seberang si gondrong, berkaus hitam dengan tulisan “Since 1920”, mengumpat.

Permainan-entah-ronde-keberapa dimulai. Suara lembut kartu dibanting diselingi umpatan dan makian yang agak kurang intelek sebenarnya. Dan percakapan agak serius.

“Hah? Karin mana lagi nih?”

“Hehe, multifokus itu penting kawan,” si pemegang truf menyeringai.

“Maksud lo multifokus tapi gak dapet satupun?” teman di sebelahnya, pemuda keriting dengan kaus merah, menyambar.

“Gak gitu. Multifokus tuh investasi perasaan lo lebih kecil tapi peluang keberhasilan lebih gede.”

Jam dinding bergerak malas ke pukul 2.00. Kartu-kartu masih dikocok dan dibagikan.

“Masukin racun ke sumber air. Itu cara yang paling gampang.”

“Bukannya air Cikapundung itu emang udah beracun?”

“Hahaha! Lo pikir yang lo minum hari-hari tuh aer apaan?”

“Maksud lo taro sianida di reservoir-nya PDAM?”

“Yaa… kira-kira gitulah.”

“Kalo gue sih, total demolition. Ratain aja pakek bom.”

“Gak kreatif lo.”

“Oh yeah, dan ide meracuni sumber air itu original ya?”

“Kenapa gak culik aja anaknya walikota, trus minta tebusannya apa… gitu.”

“Hah! Lo abis nonton apaan?”

“Kalo gue sih, gue sebar sebelas insinerator raksasa, kontrolnya gue bikin online, gue penuhin plastik. Kalo operasinya bareng dengan temperatur di bawah tiga ratus, gue jamin Bandung mabuk sama dioksin.”

“…”

“Anjiiis! Udah truf lagi?”

Kangen. Kangen bugos. Kangen presidium malam. Kangen diskusi teologi. Kangen Jeproet Society.
Bonus track: tata cara bermain truf dan perangkat lunak yang mendukung

09 Mei 2008

335

Subj:aku telat magdalena lenny
Untuk week day (ataupun week end sama saja... sighhh), aku baru kelar lab work around 7pm. Paling cepet 6:30pm.
tergantung kerjaannya beres tepat waktu atau ngga.
Tapi pkknya seberesnya dr lab aku k hoevestein, ok?
Ih pengen ikut ke Nijmegemmmmm,,hikshikssss :(

Lenny
Subj:Re: aku telat ahmad komarulzaman
waduh len... kirain telat apaaaaaan, boro pas baca judulnya udah pucet:-S, koq ngadu telat ke gw, emang gw ngapainnnnn...
eeeeeh ternyata...#-o

-ak-

Subj:Re: aku telat Widyarani
Lho, kok elo yg pucet mad? emang lo ngapain??? :))

rani

Subj:[OOT]Re: aku telat ahmad komarulzaman
makanya prasaan pengalaman berkunjung ke kamar leni tuh baru 2 malem yang lalu deh..
itu juga cuman ngoprek2 sapedah...ga lebih ga kurang...iyakan len??:-/

Subj:[OOT]Re: aku telat awang maharijaya
POKOKNYA AHMAD HARUS TANGGUNG JAWAB...!!! kenapa baru sekarang? kenapa gak lima tahun yang lalu? kenapa gak setahun yang lalu? kenapa gak lima bulan yang lalu... :)

Subj:[OOT]Re: aku telat Widyarani
jadi inget ini :D

awang, ada apa dgn 5 bulan yg lalu? :-?

rani
(aduh maap jadi nge-junk, abisan seru)

Subj:[OOT]Re: aku telat PERDANA, Jimmy
Bapak setengah baya tinggi besar berkumis tebal dan berkacak pinggang (BSBTBBTBP): Siapa pelakunya?
Gadis dst dst (GDSTDST): Herman
BSBTBBTBP: Apa?
(disadur dari sini disitir dari email Rani sebelumnya)

Wah wah, teh rani..

Jadi inget film era 80an yang selalu disemarakkan dengan deburan ombak dan gadis india yang tercantik di zamannya, seperti yang ini.

rgds,
JIM (kok ikut ngejunk yaw)

Film-film taun '80-an (dan menurut hemat saya, juga film-film taun '70-an) memang disemarakkan sejumlah adegan fenomenal, yang menjadi klasik dalam sejarah perfilman Indonesia. Sebagai contoh adalah adegan Pak Haji mengusir setan. Atau pertengkaran suami istri sambil memecahkan piring.

Istri Cerewet Yang Diselingkuhi Suaminya (ICYDS): Terlalu! (Memecahkan satu piring) Kamu anggap apa aku ini Pa? Kamu pikir aku buta? (Memecahkan satu piring) Kamu pikir aku tak tau kau tidur sama perempuan pelacur itu?!
Suami Selingkuh Yang Tidak Mau Kehilangan Istrinya (SSYTMKI): Ma. Papa menyesal! Papa khilaf.
ICYDS: Menyesal! (Memecahkan satu piring) Semudah itu kamu menyesal? (Memecahkan satu piring) Kamu tidak tau betapa hancurnya hatiku! (Memecahkan satu piring)
SSYTMKI: Ma! Sabar Ma! Malu didengar tetangga!
ICYDS: (Memecahkan satu piring) Biar! Biar mereka dengar! (Memecahkan satu piring) Biar mereka tau lelaki macam apa kamu ini? (Memecahkan satu piring)

Kalau tidak salah, salah satu pengeluaran terbesar produksi film zaman itu adalah pembelian properti (piring).

Adapun mengenai nama, umumnya tokoh antagonis dalam film-film tersebut (pengusaha penipu, si ganteng maut yang menghamili tokoh utama lalu kabur ke luar negeri, si ganteng maut yang memacari tokoh utama demi membalas dendam pada ayahnya) menyandang nama seperti Herman, Roy, atau Johan, sedangkan tokoh protagonis (pengusaha baik hati, pria tulus yang menikahi tokoh utama yang hamil, pria tulus yang menikahi tokoh utama putri seorang pria yang mempunyai masa lalu kelam) menyandang nama seperti Gunawan, Boy, atau Joni. Nama Anton sering dipersepsikan sebagai antagonis, namun film fenomenal Kampus Biru menjadikan Anton tokoh utama yang protagonis.

Untuk nama-nama tokoh perempuan, tercatat beberapa nama populair seperti Vera, Rini, Poppy, dan Ida.

Hasil pencarian asal-asalan di Katalog Film Indonesia (Kristanto, 2005) hanya menemukan satu nama tokoh Ahmad, yaitu Ahmad Syarief (dipanggil Pak Syarief), ayah Samtidar "yang semula kaya raya jadi jatuh miskin, karena usahanya bangkrut" dalam film Samtidar. Adapun nama Lenny ditemukan secara tidak sengaja pada film Dimadu, sebagai adik Arifin yang dijadikin istri kedua oleh Mochtar. Sependek pengetahuan saya (tolong dikoreksi), nama Jimmy dan Awang tidak ada presedennya dalam sejarah perfilman Indonesia.

Disclaimer: Tulisan ini disusun secara asal-asalan, dalam pengaruh kafein, dan tanpa kajian menyeluruh terhadap sumber informasi yang terpercaya.

03 Mei 2008

334

I watched There Will Be Blood last night. To be frank, I didn’t really get the movie :D Well, it’s Paul Thomas Anderson’s for God’s sake (lame defense, eh :P). I can grasp the big picture but I think I missed lots of things, so I’ll just write about this and that.

Do I like it? Yes, I think it’s a good movie. Am I forced to say that because it’s PTA’s, Oscar nominee, has Daniel Day-Lewis in it, and I dragged The Dowty and Mba Fifi to watch it? Probably :D

Okay, this and that.

I insist to watch it in theatre because I always imagine a Punch-Drunk Love look-alike visualization will look amazing in big screen. Even after the trailer gave me obvious hints that the movie would look nothing like Punch-Drunk Love, I still eager to see it in big screen (well, it’s not that big, we have a small cozy theatre here, I’ll write about this sometime). The picture (oh, awrite, cinematography?) is still juara (champion). There were few scenes that still took my breath away. It was dry, harsh, but beautiful in a way.

The acting was brilliant. I guess there’s nothing more to discuss about Daniel Day-Lewis :D I particularly like (the young) H.W. Ugh, and yeah, I was confused about Eli/Paul. At one point we thought about multiple personality. I wonder where Paul went :-?

The scoring was, umm… corny (someone might kill me for saying that). The music was performed by Radiohead’s Jonny Greenwood. There were also some classical tracks. I mean, it’s not corny corny, it’s just predictable like playing tense music before thrilling scenes (I can’t really describe it well). Or perhaps it was meant to be like that, a kind of comic. Or I’m starting to be like those guys in dunia-film :D

I—being totally unfair—sometimes see Punch-Drunk Love as a short version of Magnolia. Kind of Paul Thomas Anderson for Beginners :D And I sort of think that There Will Be Blood is like a Magnolia rip-off, extended version of the Tom Cruise part. Well, it’s just a glimpse of thought and it’s not entirely true, but seeing Eli in his church, can’t help compare it to Frank T.J. Mackey (ugh, I’m being cynical). Anyway, the story is… hmm… will think about it later :D

01 Mei 2008

333

Koninginnedag or Queen's Day is an exaggerated made up festivity to celebrate the Queen’s three-months’-late birthday, which actually just an excuse to have party and get drunk. It’s very Dutch and I enjoyed it :D

I was looking for something :-? genuine(?), so I stayed in Wageningen. People had already packed at centrum very early in the morning for the traditional vrijmarkt (flea market). It’s when people grab a few shabby blankets and spread them on the street side, bring the most peculiar things from their attics or garages in a few boxes and hoping that other people will find something attractive in the lump. I went there at 10.30, had eyes on a few things but not exactly buying anything. But some fellow Indonesian students had already a bag full of I-don’t-know-what, and they were even starting the second round of shopping :D There were also children’s playing square and a couple of games including balap karung (I don’t know the English name—let alone Dutch—for this game). Too bad I missed them, just had the chance to see Mayor van Rumund posed with the proud winners before the town hall.

After having lunch and didn’t know what else to do, we grabbed our bikes and think of nothing. Then we just found out that bus ride was free for the day, so we decided to jump on a bus and went to Arnhem.

Arnhem was—of course—much more crowded than Wageningen. There were music concerts every few blocks away. We—had nothing particular in minds—decided to find the Rheine River and get crocodilized there. But it was too windy by the riverside. So we went to Arnhem’s vrijmarkt, took a look around and watched the unsold stuffs were tucked into the junk truck. I found a pair of boots, costs only 2 euros, which is perfect for a 125 euros conference I will attend watch this month :P. And then we grabbed coffee in an ice cream stall (well, I had coffee, Ahmad and Lenny had chocolate, Rian had spa and Reza had dropjes—this is unimportant details, innit?) and watched the crowd from the second floor of the stall.

Such a lazy and pleasant day :)