24 Januari 2008

314

eggophilia: gw ga bisa ninggalin sidejob gw
eggophilia: cause i like it
eggophilia: tp ga tau juga si kalo balik ke indo gw masi dipake ngga
eggophilia: sapa tau temen gue dah dpt scriptwriter laen :D
efrian_mhr: yah...side job lo kan for fun karena lo bukan dr pelosok leuwiliang :P
eggophilia: jd keyword nya: pelosok leuwiliang yah :D
efrian_mhr: :D
efrian_mhr: temen2 gw yg dpt kerja cepet tuch
efrian_mhr: krn bnyk ikut ekstrakurikuler
efrian_mhr: bukan karena IP nya 4
eggophilia: ergo, kalo elo dr pelosok leuwiliang, jgn jadi scientist?
eggophilia: begitu?
efrian_mhr: kl gak bs menghasilkan uang, knp harus?
eggophilia: haha
eggophilia: ntar kalo ga males gw posting d blog deh :D
efrian_mhr: gini ran....
efrian_mhr: sistem d indonesia itu udah kayak lingkaran setan...
efrian_mhr: sebelum gw terusin, bukannya lo kuliah jam 10?
eggophilia: 1030 :D
eggophilia: tapi dah mo brgkt
eggophilia: http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20070310.F05
efrian_mhr: :))
eggophilia: money is overrated by most indonesian :D
eggophilia: i don't because i never really lack of it :D

So, what we were told in elementary school, that people in the village living a modest life, put happiness upon wealth, etc, was only A MYTH?

I rephrase my words:
Money is overrated in Indonesia because most people still lack of it.

19 Januari 2008

313

My cheat sheet told me that Shiny Happy People means exuberance. Is it to be my surprise that... it's not? Apparently yes and no.

I first heard the song when I was in junior high, gazillion years ago, and I found the song as a really happy song. Then I lost the cassette (a mix-hits-tape, nothing of importance), just see the video occassionally on MTV. Then I used limited-bandwidth-paid-with-people's-money office internet to download the mp3, and I started to listen to the song again. Somewhere in the process, it's not a happy song anymore. Maybe I grew up or got wiser or something. The song became a fake happy song.

Of course, as often the case with R.E.M.'s work, it is a fake happy song. It is supposed to be a mock at Tiananmen tragedy. Even the video doesn't feel right. It's not as ironic as Pulp's Common People but things are still seem artificial.

However, the irony doesn't translate and that's how the song become the wussiest song of all time.

And why do I write about another R.E.M song? I'm not really sure. Probably because I just took Philosophy of Science class and had discussion about Descartes and suddenly I was reminded of existence.

Or maybe because Eyang Harto is sick. Tiananmen, massacre, dictatorship, Soeharto, get it? (Yeah, I believe he's a dictator, he made damage to Indonesia that's really not easy to recover because it's not all physical. And he also did some good things. But I still believe he should get trial (and verdict guilty). If then he's granted forgiveness, that's another thing. But he should finish his earthly business not with his children or his cronies, but with those whose families were kidnapped by military, those whose business went bankrupt due to monopoly, those who were arrested without trial and such. New order victims. Gus Mus put it nicely here)

Or maybe I was just cycling to class while listening to the song and realized, although it's not a happy song, I still like it. I don't think it's cheesy (or maybe I just like cheesy songs). I keep it in my Hitchin' a Ride playlist (which by the way, no, Bud, I'm not gonna change to Kring Kring Goes Goes by Bayu Bersaudara). So let's sing.

Putar-putar Jakarta Ancol-Mon... ups!

I mean,

Shiny happy people holding hands... :)

05 Januari 2008

312

Italia, 9 Hari dan 8 Malam. Bukankah hidup hanya sekali, kawan? :)

Tentang Kejeprutan Sebelum dan Selama Perjalanan. I really don't want to talk about it. Sudah habis di lintasan lari de Bongerd. Just leave it like that.

Isi Ulang Otak Kanan. Baru nyadar, terutama setelah ngobrol sama Alfa, bahwa selama beberapa bulan terakhir otak kanan gue kurang gizi. Bukannya di Indonesia sehat sejahtera juga sih, tapi seenggaknya masih sering nonton dan sok serius berdiskusi, ngamen di sana-sini, dan sedikit mengunyah kebudayaan sambil makan dan "makan" di pusat dunia.

Jadi di Milan gue liat pameran terbuka Equilibrium di Via Dante, ke Museum of Ancient Art di Castello, trus nonton pameran Annisettanta di Triennale. Sayangnya gak keburu liat Biennale di Venezia. Di Roma yang cuma sehari, abis di Musei Vaticani. Gempor sih, tapi puas.

Peningkatan Standar Kopi. Waduh, ini yang gawat. Di Italia minum kopi enak melulu. Padahal cappucino aja, paling berani cuma sampe macchiato. Nescafe plus koffie melk jadi serasa hambar. Duh. Apa siang ini ke Emauss cari pembuat espresso ya? Gawat gawat gawat!

Kepusingan Dengan Kamera. Gue tau gue fotografer yang biasa-biasa aja (yuhuuu, Jok? hehe :D) dan gue baru akhir-akhir ini jatuh cinta lagi sama kamera video (dan itu juga tidak serta-merta membuat gue kameramen yang bagus, hehe :D). Toh kemarin gue membawa keduanya, walopun gue cuma pake video di Venezia.

Kadang-kadang pingin moto ketika lagi pegang video. Kadang-kadang pingin nge-shoot (kata "merekam" agak kurang mewakili maksud gue euy) ketika lagi pegang foto. Kadang-kadang pingin dua-duanya. Kadang-kadang gak pingin dua-duanya (gue tidak melihat masalah sih pada situasi ini, hehe :D). Yang sering adalah melihat momen bagus, memegang Kodak Easyshare gue dan berharap sedang memegang Canon Digital Rebel XTi 10MP (hehe, gue gak peduli apa kata lo Jim, terlalu banyak alasan irasional di balik keinginan-keinginan gue kok).

Tapi bener juga sih, kamera bisa mendistraksi lo dari kenyataan. Waktu ngambil matahari terbit di Venezia, gue terbengong-bengong beberapa saat gitu sampe gue nyadar, why the hell am I looking through this viewfinder! Ada pemandangan nyata dan luar biasa indah di depan mata gue dan gue membatasi penglihatan gue pada layar 2,5 inci persegi. Agak bodoh bukan? (Dengan segala permintaan maaf kepada orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk menangkap momen-momen seperti itu dan menyajikannya untuk dinikmati orang lain, beberapa di antaranya teman-teman saya)

Italia Itu Indah Tanpa Orang Italia. Seenggaknya itu kata Indra, dan mungkin ada benarnya. Milan sebagai kota lumayan nyaman buat gue. Venezia cantik banget. Baru di Roma gue ngerasa, walaupun lo nemu objek wisata setiap lo ngedip, tapi kotanya sendiri gak menyenangkan. Fasilitas umumnya jorok. Mobil dan skuter ngebut di dalam kota dan berbalik arah seenaknya. Lampu kuning buat nyebrang lama banget (ini yang paling bikin gue heran, kenapa lampu KUNING yang dibikin lama sih?). Meskipun belum banyak perbandingan, selama ini gue ngerasa Belanda tu rada-rada katro. Tapi dibanding Italia mah mending deh.

Duh, gimana Indonesia ya? (It's still a beautiful city, though ;))

Sedikit Petualangan. Sedikit karena... gak banyak, hehe. Yang pertama di Stasiun Pisa, ketika menunggu satu orang belum datang-datang sementara waktu berangkat kereta udah mepet. Setelah sempat memutuskan untuk menunda dan naik kereta berikutnya, tiba-tiba terdengar teriakan histeris "Naiiik! Naiiik!" Bayangkan menaikkan 24 orang dengan bawaan segudang dalam waktu kurang dari 5 menit :D

Yang kedua ketika mengejar pesawat pulang. Otomat tiket rusak, sementara di jam 05.30, belum ada penjual tiket yang buka. Akhirnya kami bersebelas menyeret-nyeret tas ke metro yang jaraknya 10 menit jalan kaki tanpa bawaan. (ah, kalo diceritain kok kaya biasa aja ya? lema ini dihapus aja gitu? hihi :D)

Neruda. Haha, tau-tau bapak satu itu nyelonong di sini. Ketika orang bilang bepergian memberi lo kesempatan untuk ketemu orang-orang yang menarik, gue malah ketemu orang Indonesia lagi dan lagi. Kayanya emang banyak banget pelajar Indonesia di Eropa dan setengahnya memutuskan berlibur ke Italia, hihi.

Sempet juga sih ngobrol sama orang Chile yang lagi kuliah di Spanyol. Ketika gue bilang gue cinta sama Neruda, dia tampak agak terganggu. Gue pikir karena dia gak suka sama Neruda, tapi ternyata karena ketika dia bilang Chile, semua orang komentarnya kalo gak "Ooh... Pinochet," pasti "Ooh... Neruda." (Nampaknya tergantung apakah orangnya berorientasi politik atau seni, hehe) Akhirnya kita jadi berdiskusi tentang Neruda. Tepatnya, dia mengajari gue gimana cara mengucapkan Neruda dengan benar (dan gue ngetik ini sambil dengerin Puedo Escribir los Versos Más Tristes Esta Noche).

Scrapbook. Sempet terpikir untuk membuat scrapbook lalu menyadari bahwa gue terlalu praktis dan plegmatis untuk melakukannya, hehe. Dan bener juga kan, ternyata scrap-nya tidak terlalu banyak. Ngomong-ngomong, gue kangen coreldraw :(


Gak Tau Mau Ngebahas Apa Lagi. Dari pada kayak brosur pariwisata. Atau meracau gak jelas (hehe, biasanya juga gini bukan). Too many mixed feelings. Liat foto-foto aja deh. Mudah-mudahan video menyusul, tapi gak janji :D