Idenya Ahmad sih. Ceritanya pingin ngerasain nonton bioscoop di Belanda. Setelah memotivasi (istilahnya Lila) orang-orang, akhirnya terkumpullah pasukan: gue, Ahmad, Lila, Tia, Jimmy, Kak Ida, Mbak Eva. Sayang Mba Eva ga jadi ikut karena ga enak badan abis sesi foto-foto. Untung masih ada Kak Ida. Kalo enggak mah serasa mo nonton ke BIP, hihi
Kita berangkat sekitar jam setengah sepuluh. Malem? Iyalah. Dan tolong ya, udah musim dingin. Pohon-pohon dah pada putih-putih. Tapi nekat aja gitu.Begitu nyampe ke Cinemec, kita konfirmasi tiket. Sama mbak-mbaknya disuruh ke mesin pemindai barcode (apakah barcode sudah di-Indonesia-kan jadi kode batangan?
Sambil menunggu filmnya mulai, kita lirik-lirik tempat yang bagus untuk foto-foto karena prinsip orang Indonesia di manapun kan nonton rame2, jalan2 rame2, makan2 rame2, poto2 rame2 (Komarulzaman, 2007; Pusparani, 2007). Masalahnya adalah gimana caranya untuk foto-foto tanpa terlihat norak gitu, hihi. Jimmy, ayo dong diunggah foto-fotonya!
Trus pas kita dah duduk dan siap mo nonton, ada mas-mas gitu yang memberikan pengumuman. Apa pengumumannya? Ya gak tau... orang pake bahasa Belanda
Untunglah... filmnya selesai jam setengah satuan (heeuh...
Tapi seperti cerita-cerita dongeng, kisah ini berakhir bahagia (apa siiih...). Trus gimana dengan filmnya sendiri? Emm... yah... ada tembak-tembakan... trus... ada manusia kayak mutan gitu... trus... hehe
Kalo gua sih gak masalah filmnya apa.. yang penting nontonnya sama siapah. (Perdana, 2007)