27 November 2007

306

Once on a very productive chat, Edo and I developed a theory on how email hoax can sustain. It's not because of there are people out there who still attempt to bomb internet with fake stories (well, there are some, though). Part of the responsibility lays on companies who believe internet will decrease their employees' productivity, yet they need a cheap and easy way to communicate and also something elegant to put on business card. So they give their employees email access without internet. That's why their employees still get panicked when they receive email about the cancer risk of optical mouse, and forward it to everyone on their address book. Well, at least it shows that they have good network :D

Another thing about this email forwarding, even if it's not a hoax, is sometimes you just don't have any interest at all on what's being forwarded. One thing I learn about scriptwriting is this rule of thumb: know your audience. I guess it applies for all writing, including email. Ok, you're amused with cute power point slideshow about friendship, but I'm... not really (not to mention the fact that I already got that from another friend). For me, just a killer joke will do ;)

If you want to blab and don't bother about your audience reader, my advise would be, just BLOG IT. Blog is your home. You can write anything in it and people don't have to read it (of course, that's probably what I'm doing :D) And it probably also saves you from network loss due to nasty/outdated/hoax/ inappropriate joke forwarded email incident. The thing is, it's probably not so easy to blog if you don't get internet access (back to those poor employees on paragraph 1). Oh, well...

*I don't know where the above picture originated. Maybe I better google it
:D

23 November 2007

305

diosaesperanza: terus jadi peneliti kimia ini panggilan elo?
eggophilia: :-?
eggophilia: tricky question
eggophilia: harusnya iya
eggophilia: walopun sampe saat ini, or at least sampe terakhir d kantor, gue belum ngerasa ngelakuin apa yg gue bener2 pingin
eggophilia: tapi prosesnya k situ
eggophilia: mudah2an :D


Gue menyimpan berkas percakapan sama Stania ini. Sebenarnya lebih karena ada kutipan jenial di dalamnya. Tapi juga karena ada sesuatu yang menggelitik gue. Menyadarkan. Atau sebaliknya. Ngarurusuh. Bikin gak enak tidur. Dan terkadang pingin lari sore ala Chungking. Hihi, gak segitunya sih :D

Tentunya terkait sesuatu yang lebih "besar" dan mengganggu gue sejak lama. Tulisan di blog-nya Mas Romi (tentunya yang sebelumnya juga). Tulisan Pak Budi (yang ini dan yang ini). Sebuah artikel di Kompas. Dan "makan" entah dengan siapa aja. Memang ada dua hal yang terpisah tapi toh gak bisa dipisahin. Dan faktanya gue sekarang di sini. Dengan internet pita lebar. Dan mikropipet yang gak perlu nunggu setaun untuk mesen. Dan pH-meter yang gak berubah jadi komputer. Entah ini menjadi relevan atau tidak.

Seperti juga mengintip FS-nya Yandhrie. Dan bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi. Akan ada di mana gue. Seandainya nyali gue sedikit lebih tebal waktu itu.

06 November 2007

304

Kita kepisah jarak setengah bumi, dan lo masih bisa baca pikiran gue?
Impresif :D

Makasi ya :)

04 November 2007

303

Bangkai Creative MuVo gue. Rp 345.000 di BEC. Udah balik modal dari ngetik-ngetik di Cilaki.

iPod baru gue. EUR 138 di MediaMarkt Ede. Entah bisa balik modal atau nggak.

Kapitalisme dan konsumerisme menang.

Akal sehat dan rekening bank gue ngalah.

Tapi saya senang :D

03 November 2007

302

Udah berapa taun ya ngeblog, kadang-kadang masih gak bisa memutuskan harus menulis apa. Tentang gue? Tentang pemikiran-pemikiran cupu gue? Dan kalopun tentang gue, kejadian apa sih yang layak di-blog-kan (halah!) Yang lucu? Yang dramatis? Atau yang didramatisir dan dimaknai berlebihan :D

Perjalanan nengok Rina minggu kemaren sebenarnya sangat blogable menurut kriteria jurnalistik karena mengandung 5W+1H.

What. Hihi, apa ya. Dibilang reuni kok agak berlebihan. Pokonya nengok Rina dan keluarganya di Aachen.

Where. Dibilangin di Aachen. Abis itu jalan-jalan ke Köln juga.

When. Akhir pekan kemaren. Abis ujian PES (aaaaargggghhh!!!) Berangkat Jumat malem dan balik Minggu siang.

Why. Pungki lagi pelatihan dua minggu di Berlin. Sebelum balik pingin nengok Rina di Aachen. Biar sekalian rame Rina nyuruh gue dateng. Dan gue mo ngejajal KTP Belanda.

Who. Pertamanya hanya gue. Karena Pungki sampai Sabtu pagi, sementara kereta paling pagi dengan jalur Ede-Utrecht-Heerlen-Aachen baru sampai sekitar jam 11-an, jadi Rina minta gue berangkat malem. Wah, jiper juga gue. Jadilah gue pasang pengumuman di YM mencari teman. Eh, dapet Shima. Trus karena rumah gue di ujung dunia, gue transit di kamar Tia di Bornsesteeg. Eh, Tia-nya malah mau ikutan. Jadilah kita bertiga :D

How. Tadinya sempet ragu mau berangkat karena verblijf gue belum keluar, padahal visa gue Benelux, bukan Schengen. Eh emang nasib, tau-tau minggu itu KTP-nya keluar.

Terus hari Jumat-nya, sempet bete banget karena ujian yang menyebalkan. Dan itu menghasilkan kebloonan-kebloonan seperti menjatuhkan sarung tangan di De Bongerd dan tidak bisa memutuskan harus belanja apa buat ransum minggu malam. Singkat cerita (halah, jadul pisan), setelah sukses nyetanin Tia, bertiga kita menyeret-nyeret koper menuju halte terdekat (eh, Tia sama Shima ding yang nyeret koper). Sempet ketemu Ipul, Lila, dan Noval di bawah. Setelah menunggu beberapa saat, bis pun datang.

Sekitar pukul 19.20-an kita sampai di stasiun Ede-Wageningen. Beli tiket dan langsung naik ke peron, tepat ketika kereta menuju Utrecht menutup pintunya. Dan beberapa detik kemudian kita menyaksikan si kereta tercinta melaju dengan manisnya.

Karena tanggung ribet dan malu karena udah ada saksi mata, kita nekat jalan ke Utrecht dengan kereta berikutnya. Padahal kita gak tau bakalan bisa nerus atau enggak (kereta yang kita ketinggalan itu adalah kereta terakhir dengan jalur sebagaimana tersebut di atas). Tapi ya kita nekat aja menuju Heerlen yang entah di mana itu. Untunglah walopun udah gak ada kereta Heerlen-Aachen, ternyata masih ada bis. Itupun bis terakhir.

Dan ternyata ke Jerman itu kaya Bandung-Jakarta aja ya? Gak ada tu diperiksa dokumen-dokumen. Tau gitu gak usah nungguin KTP juga bisa jalan :D

Akhirnya, setelah merasakan gimana naik taksi ala Jerman, nyampe juga di tempat Rina. Sayang... karena kecapean lupa ngambil foto tiga anak ilang van Wageningen ketika baru datang :D

Besoknya sarapan bubur ayam (penting!), jalan-jalan ke pabrik coklat, makan kebab dan menyadari fakta bahwa Wageningen itu emang kecil banget yak :D Lanjut ke Köln, liat Dom dan museum coklat. Malemnya makan mi pangsit ayam dan baso. Hihi terbukti gue emang tukang nebeng makan ya :D

Ini foto yang dibuat khusus untuk Andrey.


Foto-foto lain bisa diliat di sini, sini, dan sini.

***
Fiuhh... cape juga nulis begini. Kayanya dunia jurnalistik beruntung gue gak jadi wartawan. Bukan begini ya cara nulis 5W+1H :D