Udah berapa taun ya ngeblog, kadang-kadang masih gak bisa memutuskan harus menulis apa. Tentang gue? Tentang pemikiran-pemikiran cupu gue? Dan kalopun tentang gue, kejadian apa sih yang layak di-blog-kan (halah!) Yang lucu? Yang dramatis? Atau yang didramatisir dan dimaknai berlebihan

Perjalanan nengok Rina minggu kemaren sebenarnya sangat
blogable menurut kriteria jurnalistik karena mengandung 5W+1H.
What. Hihi, apa ya. Dibilang reuni kok agak berlebihan. Pokonya nengok Rina dan keluarganya di Aachen.
Where. Dibilangin di
Aachen. Abis itu jalan-jalan ke
Köln juga.
When. Akhir pekan kemaren. Abis ujian PES (aaaaargggghhh!!!) Berangkat Jumat malem dan balik Minggu siang.
Why. Pungki lagi pelatihan dua minggu di Berlin. Sebelum balik pingin nengok Rina di Aachen. Biar sekalian rame Rina nyuruh gue dateng. Dan gue mo ngejajal KTP Belanda.
Who. Pertamanya hanya gue. Karena Pungki sampai Sabtu pagi, sementara kereta paling pagi dengan jalur Ede-Utrecht-Heerlen-Aachen baru sampai sekitar jam 11-an, jadi Rina minta gue berangkat malem. Wah, jiper juga gue. Jadilah gue pasang pengumuman di YM mencari teman. Eh, dapet
Shima. Trus karena rumah gue di ujung dunia, gue transit di kamar
Tia di Bornsesteeg. Eh, Tia-nya malah mau ikutan. Jadilah kita bertiga
How. Tadinya sempet ragu mau berangkat karena
verblijf gue belum keluar, padahal visa gue Benelux, bukan Schengen. Eh emang nasib, tau-tau minggu itu KTP-nya keluar.
Terus hari Jumat-nya, sempet bete banget karena ujian yang menyebalkan. Dan itu menghasilkan kebloonan-kebloonan seperti menjatuhkan sarung tangan di De Bongerd dan tidak bisa memutuskan harus belanja apa buat ransum minggu malam. Singkat cerita (halah, jadul pisan), setelah sukses nyetanin Tia, bertiga kita menyeret-nyeret koper menuju halte terdekat (eh, Tia sama Shima ding yang nyeret koper). Sempet ketemu Ipul, Lila, dan Noval di bawah. Setelah menunggu beberapa saat, bis pun datang.
Sekitar pukul 19.20-an kita sampai di stasiun Ede-Wageningen. Beli tiket dan langsung naik ke peron, tepat ketika kereta menuju Utrecht menutup pintunya. Dan beberapa detik kemudian kita menyaksikan si kereta tercinta melaju dengan manisnya.
Karena tanggung ribet dan malu karena udah ada saksi mata, kita nekat jalan ke Utrecht dengan kereta berikutnya. Padahal kita gak tau bakalan bisa nerus atau enggak (kereta yang kita ketinggalan itu adalah kereta terakhir dengan jalur sebagaimana tersebut di atas). Tapi ya kita nekat aja menuju Heerlen yang entah di mana itu. Untunglah walopun udah gak ada kereta Heerlen-Aachen, ternyata masih ada bis. Itupun bis terakhir.
Dan ternyata ke Jerman itu kaya Bandung-Jakarta aja ya? Gak ada tu diperiksa dokumen-dokumen. Tau gitu gak usah nungguin KTP juga bisa jalan


Akhirnya, setelah merasakan gimana naik taksi ala Jerman, nyampe juga di tempat Rina. Sayang... karena kecapean lupa ngambil foto tiga anak ilang
van Wageningen ketika baru datang

Besoknya sarapan bubur ayam (penting!), jalan-jalan ke pabrik coklat, makan kebab dan menyadari fakta bahwa Wageningen itu emang kecil banget yak

Lanjut ke Köln, liat Dom dan museum coklat. Malemnya makan mi pangsit ayam dan baso. Hihi terbukti gue emang tukang nebeng makan ya

Ini foto yang dibuat khusus untuk Andrey.

Foto-foto lain bisa diliat di
sini,
sini, dan
sini.
***
Fiuhh... cape juga nulis begini. Kayanya dunia jurnalistik beruntung gue gak jadi wartawan. Bukan begini ya cara nulis 5W+1H