Sebenarnya agak malas untuk menulis tentang Kala. Bukan karena (sok) sibuk atau gimana. Mungkin ada sedikit perasaan takut terlihat bodoh kalo gue tidak bisa membuat interpretasi yang cerdas tentang Ratu Adil atau Sang Penidur atau pedang Xena atau sampul buku Jayabaya yang agak mirip manusia Vitruvia. Tapi karena banyak yang meledak-ldak di kepala, ya sudahlah, akhirnya nulis juga.Yang gue suka dari Kala adalah film ini dibuat sangat rapi (di luar efek khusus yang cupu karena keterbatasan dana), sehingga mencekam dari awal dan tetap bertahan sampai akhir dengan tetap meyakinkan. Aktor-aktrisnya berakting cukup mantap untuk peran pseudo-Hollywood taun '40-an
Yang gue gak suka adalah gue gak begitu suka ceritanya. Hehe, fatal ya? Karena walaupun meyakinkan dan logis secara internal (huh, lagi-lagi gue dan logika dalam), tapi gak masuk dalam rangka berpikir gue. Screw me and my left-dominant brain!
Kalo Joko mencoba
Menurut gue, suka atau tidak suka, setiap orang terpaksa sependapat bahwa Kala adalah terobosan berani untuk perfilman Indonesia. Mungkin sama dengan ketika Garin Nugroho membuat Surat Untuk Bidadari 13 taun yang lalu. Oh, jadi pingin ngebandingin Kala sama Opera Jawa, yang memotret situasi Indonesia kontemporer yang vulgar dan brutal dengan sangat indah. Dua-duanya menghasilkan reaksi yang sama dari gue ketika filmnya selesai: bengong. Brilian!

(Baru saja menonton Kick Andy, tentang Tragedi Trisakti dan Semanggi. What the f*** do I know about violence?)

