Gue gak tau apakah produsernya
The Photograph itu naas atau bodoh. Mungkin naas. Baru satu minggu diputar di Ciwalk21—itu pun harus berbagi jam tayang dengan
Shrek 3—sudah harus menghilang lagi digusur
Harry Potter and the Order of the Phoenix yang menjajah 3 studio di CiwalkXXI dan menggusur Die Hard ke Ciwalk21 (ngomong-ngomong hirarkinya kebayang kan?). Kayanya film Indonesia yang bernasib lebih nista cuma Langitku Rumahku di jaman orde baru (mudah-mudahan Mas Slamet Rahardjo tergerak membikin VCD-nya, pliiiiisss...)
Mungkin juga bodoh sih. Tepatnya kurang perhitungan. Kok ya ngerilis film kek gini pas liburan sekolah, saatnya invasi film-film musim panas. Film
Maaf Saya Menghamili Istri Anda kan tidak bertaruh banyak dengan syuting-tujuh-hari-nya, itu pun bermain di ranah komedi. Kamulah Satu-satunya kayaknya mengandalkan basis massa penggemar Dewa (masih ada tah?). Hehe, gue sok pengamat gini. Ada satu kemungkinan lagi sih. Mungkin mereka optimis bahwa penonton Indonesia sudah bosen dengan film-film bertema kalo-gak-hantu-ya- gay-atau-cewek-cantik-kayak-gula-jatuh-cinta-sama-cowok-spak, atau pingin variasi dari film-film holiwut yang keren tapi yaa... gitu aja.
Kadang-kadang gelas itu memang setengah kosong, bukan setengah penuh

Baiklah, gue akan memulai lagi tulisan ini. Lupakan saja grundelan di atas. Kalo penasaran, filmnya masih 2 jam tayang di
Blitz.
* * *

Kalo lo suka kopi, sekali-kali mampirlah ke Toko Aroma di Jalan Banceuy. Bukan cuma dapet sekantong bubuk kopi asli, pemiliknya juga akan dengan senang hati menjelaskan pada lo tentang sisik-melik perkopian, mulai cara memproses hingga cara menyeduh. Pemiliknya ini buat gue adalah salah satu gambaran orang Cina lama di Bandung, ramah, nyunda, tapi tetep 'Cina'. Orang Cina sudah ada di bumi Nusantara sejak berabad-abad yang lampau dan budayanya sudah terakulturasi dengan budaya setempat. Tapi kemaren ngobrol sama Danti, orang tua beberapa temennya di Aloy masih mempertahankan nama tiga suku kata dan bahkan tidak lancar berbahasa Indonesia. Gue jadi inget pemilik toko di Gandok yang suka meladeni pembeli sambil membaca koran dan mendengarkan siaran radio berbahasa (kayaknya) Mandarin.
The Photograph sebenarnya tidak harus tentang Cina juga. (Tionghoa? Hokkian? Nggak ngerti

) Hanya saja penghormatan yang sedemikian terhadap leluhur untuk sebagian kita mungkin sudah 'tergerus' agama. Bukannya agama lain gak mengajari menghormati leluhur, cuma bentuk dan penempatannya mungkin beda.
Lanjut.
Gue nonton The Photograph tanpa ekspektasi tinggi, bahkan tidak dengan suasana hati yang tepat (selain prediksi akurat bahwa film ini akan segera menghilang—ah, ini sudah dibahas tadi). Dan pada adegan-adegan awal, gue sangat takut film ini berusaha terlalu keras. Berusaha keras untuk tampak artistik. Berusaha keras untuk 'dalem'. Berusaha keras untuk tampak serius dengan simbol-simbol yang membuat buku Semiotics for Beginners tampak seperti komik. (Ah ya, gue berusaha keras untuk membuat perbandingan yang cerdas

)
Tapi lalu ceritanya mengalir. Agak terbata-bata. Klise di sana-sini. Dan mungkin memang banyak simbol yang ditaburkan di sana, tapi gue dengan sangat-sangat sengaja berusaha mengunyah tiap adegan apa adanya. Gue menikmatinya sebagai film yang dengan rendah hati mencoba bercerita. Gue suka.
Memang ada yang ganjel. Proses kasting fotografer itu seperti usus buntu yang dibuang pun tak apa. Tapi katanya usus buntu sebenarnya punya fungsi juga. Ifan menunjukkan nuktah bahwa proses kasting itu adalah kali pertama Pak Johan terlihat tertawa. Kalo gue terganggu dengan logat Jawa Sita yang enggak banget. Kenapa latarnya mesti Jawa sih (terlepas dari syutingnya di Semarang)?
Orang-orang bilang film ini adalah perayaan sinematografi. Buat gue film ini adalah perayaan seni peran dengan gestur sebagai bahasanya. Lim Kay Tong bener-bener bikin gue nahan napas. Setiap gerak tubuhnya menyampaikan sesuatu. Dan bahasa Indonesianya yang patah-patah, alih-alih mengganggu malah membuat gue teringat cerita Danti.
I was watching a maestro on screen.Mungkin gue yang tidak berharap banyak, tapi rasanya ini salah satu film Indonesia terbagus yang gue tonton taun ini. Gue bahkan lebih suka The Photograph ketimbang
Kala, walaupun—atau justru karena—idenya yang tidak semenyentak Kala. Mungkin pemilik Toko Aroma di Jalan Banceuy juga sedang mencari orang yang bisa dididik untuk mencintai kopi. Siapa tau?