22 Juni 2007

285

Oleh-oleh dari saguling :D

16 Juni 2007

284

Tugas Yusuf sebenarnya sederhana saja: membawa seperangkat piring pusaka keluarga untuk pernikahan kakak sepupunya dari Jakarta ke Yogya lewat jalan darat, karena Sang Bude tidak rela piring itu dilempar-lempar di bagasi pesawat. Menjadi tidak sederhana ketika Ambar, adik calon pengantin, ketinggalan pesawat dan memutuskan ikut. Selama tiga hari (karena ada-ada saja yang terjadi), saudara sepupu yang sama-sama doyan giting ini menempuh perjalanan, singgah di pantai yang mistis, menginap di rumah pak haji yang doyan mengintip tamu perempuannya, dan menyapa Bunda Maria di Sendang Sono. Dalam perjalanan itu mereka saling mengenal lebih jauh. Ambar yang menyembunyikan kebingungan akan pilihan jalan hidupnya di balik sikap seenaknya yang dikatai Yusuf "manja". Yusuf yang menurut Ambar kurang lelaki karena terlalu sopan. Perjalanan itu akhirnya menjadi perjalanan mencari jati diri. Mereka akhirnya menemukannya. Mereka bercinta.

Ah, andai saja cerita Tiga Hari untuk Selamanya memang sedalam itu. Sayangnya enggak. Mungkin Riri Riza memang seorang jenius. Tiga hari dalam film ini terasa selamanya, dan gue ikut-ikutan tersesat bersama Ambar dan Yusuf.

Mungkin Mira-Riri naik kelas dari memasyarakatkan ciuman di Petualangan Sherina menjadi memasyarakatkan ML di film ini. Gak, gue gak terlalu mempermasalahkan ML (yang toh digunting dengan kejam oleh Titie Said) seandainya ceritanya memang mengharuskan demikian. Masalah gue adalah, kalau Sherina mencium Sadam yang terluka sebelum melanjutkan petualangan cuma jadi adegan kecil yang mengganggu, di film ini ML menjadi premis. Seolah-olah mereka memang harus ML di akhir film, baru disusunlah cerita dan percakapan-percakapan filosofis yang katanya berbau posmo. Sah-sah saja sih, sayang tidak meyakinkan. Maksud gue, anggap saja ending itu tidak ada trus gue bertanya sama diri gue sendiri apa yang akan gue lakukan setelah perjalanan yang merepotkan itu? Jawaban gue sih sederhana: tidur. Tapi apakah gue minus sembilan taun ditambah giting akan memberikan jawaban ML? Kok kayanya enggak.

Film ini sih gak (segitu) jelek(nya), cuma sebenarnya gak segitunya untuk gue bikin sebuah posting. Gue malah menunggu seseorang menulis di blog-nya tentang film ini untuk gue komentarin, tapi kok gak ada yang nulis-nulis ya? Malah baca Tempo,
Tapi film ini tentu mengganggu orang yang terbiasa menonton film yang mengandung banyak konflik dan dramatisasi. Untuk menyaksikan percakapan remeh-temeh selama lebih dari satu jam itu terasa lama.
yang membuat gue gatel pingin nulis. Kesel rasanya sama pengulas—di media arus utama lagi—yang menyalahkan penonton karena berada di luar segmen dan merasa bosan. Coba liat di bawah gambar anak ayam, kalo film ini memang the return of the real, berarti seharusnya film ini gue banget. Dan untuk apa membuat film tanpa konflik dan dramatisasi? Intinya bukan pada seberapa banyak tapi pada seberapa kuat.

Yang membuat gue bertahan nonton film ini adalah chemistry Riri, Nico, dan Asti yang gue akuin memang kuat. Secara mereka bagian dari team that brought you AADC kali ya? Skoring Float yang keren, entah jadi nilai plus atau minus, karena gue lebih nikmatin musiknya daripada filmnya. Melongok pada Garasi (dan AADC, dan OST Mendadak Dangdut), apa mungkin Miles Production harus mempertimbangkan untuk konsentrasi di musik? ;)

08 Juni 2007

283

Selasa, 29 Mei 2007
10:20 Mengisi batre HP.
11:11 Meneruskan surat-e tentang kecelakaan ketika men-charge HP ke beberapa teman. Dalam surat-e disebutkan kemungkinan bahaya disebabkan oleh penggunaan batre palsu berkualitas rendah.
11:30 Selesai mengisi batre HP. Hati-hati mencabut kabel-kabel, teringat surat-e yang baru dikirim.

Rabu, 30 Mei 2007
08:10 Mengeluarkan beberapa barang dari tas, bersiap-siap untuk pengambilan sampel. Memasukkan charger HP ke dalam kantong belanja multifungsi agar tidak tercecer.
08:30 - 16:00 Mengambil sampel air limbah di 4 pabrik di Cimahi.
17:30 - 22:00 Gerilya dari Empire, Ciwalk dan akhirnya Blitz untuk nonton Pirates of Caribbean.

Jumat, 1 Juni 2007
07:50 Menyadari kalo batre HP habis. Mencari charger tidak ketemu. Walaupun agak skeptis, berpikir mungkin tertinggal di kantor.
08:45 HP mati kehabisan batre.
10:05 Sampai ke kantor. Mulai mencari charger. Tidak ketemu. Mulai berpikir jangan-jangan tidak teliti ketika mencari di rumah. Pesimis.
10:45 Balik ke rumah. Mencari lagi lebih teliti, tapi tidak ketemu. Positif charger hilang. Mungkin jatuh ketika sampling.
11:25 Memutuskan ke Bagusrangin dulu, menitipkan kamera untuk +sali sambil berharap siapa tau Sonny bawa charger, setidaknya bisa ngisi batre untuk jumat-sabtu-minggu. Ternyata 9 Matahari masih kosong. Langsung cabut ke BEC.
11:55 Berpikir untuk sekalian membeli HP baru, tapi memutuskan tidak ada waktu. Menemukan charger bodong seharga 20 ribu. Mengisi batre sebentar di toko HP sekalian membeli pulsa.
12:15 Makan di Merdeka sekalian melanjutkan mengisi HP. Menelpon Baraya, ternyata penuh.
12:45 Melihat bis Dago-Leuwipanjang lewat dengan manisnya di Jalan Merdeka. Memutuskan mampir sebentar ke pameran komputer di Landmark.
13:15 Mencegat bis berikutnya di Viaduct, langsung ke Leuwipanjang.
17:25 Sampai rumah. Mengisi batre secara baik dan benar. Agak cemas karena batre bodong DAN charger bodong.
19:05 Batre belum penuh tapi Tining sudah menjemput. Tapi bersyukur tidak terjadi apa-apa.

Rabu, 6 Juni 2007
17:10 Belanja di 7/11. Bilang ke kasir tidak perlu kantong plastik. Mengambil kantong belanja multifungsi dari tas. Menemukan charger dalam kantong belanja multifungsi.

Hehe, bloon kok dipiara :D