26 April 2007

277

Sebenarnya agak malas untuk menulis tentang Kala. Bukan karena (sok) sibuk atau gimana. Mungkin ada sedikit perasaan takut terlihat bodoh kalo gue tidak bisa membuat interpretasi yang cerdas tentang Ratu Adil atau Sang Penidur atau pedang Xena atau sampul buku Jayabaya yang agak mirip manusia Vitruvia. Tapi karena banyak yang meledak-ldak di kepala, ya sudahlah, akhirnya nulis juga.

Yang gue suka dari Kala adalah film ini dibuat sangat rapi (di luar efek khusus yang cupu karena keterbatasan dana), sehingga mencekam dari awal dan tetap bertahan sampai akhir dengan tetap meyakinkan. Aktor-aktrisnya berakting cukup mantap untuk peran pseudo-Hollywood taun '40-an :D Penata artistiknya pasti berpesta pora, dan musiknya Zeke pas banget. Menurut gue, penyutradaraan yang ok adalah yang bisa membuat penonton merasakan apa yang sutradara ingin mereka rasakan, dan menurut gue di situ Joko udah berhasil.

Yang gue gak suka adalah gue gak begitu suka ceritanya. Hehe, fatal ya? Karena walaupun meyakinkan dan logis secara internal (huh, lagi-lagi gue dan logika dalam), tapi gak masuk dalam rangka berpikir gue. Screw me and my left-dominant brain!

Kalo Joko mencoba memotret me-recreate sebuah dunia yang paralel dengan kondisi Indonesia dengan segala luka dan boroknya, dia juga berhasil. Walopun gue inget ketika Joko bawa film Flirting ke LFM, lalu kita ngebahas sok mendalam ke mana-mana dan akhirnya Joko menyimpulkan, "Dan kalo sutradaranya ternyata gak bermaksud apa-apa, bahwa film ini isinya emang tentang pacaran, ya gak pa-pa."

Menurut gue, suka atau tidak suka, setiap orang terpaksa sependapat bahwa Kala adalah terobosan berani untuk perfilman Indonesia. Mungkin sama dengan ketika Garin Nugroho membuat Surat Untuk Bidadari 13 taun yang lalu. Oh, jadi pingin ngebandingin Kala sama Opera Jawa, yang memotret situasi Indonesia kontemporer yang vulgar dan brutal dengan sangat indah. Dua-duanya menghasilkan reaksi yang sama dari gue ketika filmnya selesai: bengong. Brilian!

(Baru saja menonton Kick Andy, tentang Tragedi Trisakti dan Semanggi. What the f*** do I know about violence?)

20 April 2007

276

Minggu sore di BEC-gramedia-BIP adalah semacam parade perasaan bersalah buat gue. Perasaan yang gak sederhana dan lalu membuat gue menyalahkan pemerintah, menyalahkan koruptor, menyalahkan kaum kapitalis pemegang modal, menyalahkan Amerika, dan tentu tak lupa menyalahkan kaum zionis ;) Perasaan yang muncul ketika gue menyadari hidup gue begitu enak sementara anak-anak kecil entah siapa emaknya tergeletak begitu saja di trotoar Jalan Merdeka dengan kaleng rombeng berisi beberapa ratus rupiah di sampingnya.

Kayaknya ini dimulai saat kuliah. Mungkin bentuk perasaan bersalah gue yang paling nyata adalah beberapa kali dalam periode 1998 - 2001 gue gak mau nonton di 21. Bukan karena gak punya duit dan bukan karena protes terhadap monopoli Sudwikatmono, tapi bener-bener karena gue ngerasa bersalah menghabiskan uang dalam jumlah besar (10 ribu perak, gitu?) hanya untuk bersenang-senang sementara ada orang yang menganggarkan uang segitu untuk makan sekeluarga selama dua hari.

Tapi tentu saja gue lalu mulai nonton lagi. Lalu gue lulus dan bekerja dan perasaan bersalah itu makin lama makin luntur karena, hell, this time I earn this! Gue kerja, kadang tujuh hari seminggu, dan gue berhak nonton di bioskop bagus bertata suara dahsyat. Gue berhak ngabisin uang dalam jumlah yang sama untuk makan siang atau, hell, mungkin sekedar ngemil menunggu film mulai. Gue berhak ngeborong DVD bajakan yang lalu menumpuk gak sempet gue tonton.

Gue lalu berpikir bahwa gue berhak ngelakuin apa aja yang gue mau selama gue bisa bayar untuk itu, tapi kenyataannya masih selalu ada saat-saat seperti minggu sore di Merdeka itu. Gue tidak menyebutnya nurani atau apa, sumpah kayanya itu ketinggian. Maybe I just wasn't born for that, that's all.

Kebetulan baca posting Pak Budi, yang merujuk ke posting ini. Seandainya R.E.M. atau Pearl Jam dateng ke Indonesia dengan tiket 4 juta, apa gue mau nonton? Rasanya tidak. Untuk 400 ribu pun mungkin tidak. I wasn't born for that. Mungkin itu patut buat orang lain, tapi tidak buat gue.

Inget 4 parameter? Parameter pertama; tidak terlalu sering karena sekarang ngopi di kantor. Tapi tetep kopi sachet ;) Parameter kedua; simply jomblo, hehe. Parameter ketiga; masih. Parameter keempat; sudah gue langgar berkali-kali untuk sekantung Lays. Apa gue memanjakan diri gue dengan kemewahan semacam itu? (Yap, berbelanja di circle-K sebelum jam 9 malam layaknya adalah kemewahan. Bandingin aja harganya sama toko sebelah :D) Apa gue udah berubah? Kalo boleh ngeles, beli Lays kan termasuk biaya operasional, buat nemenin ngetik malem-malem :D

10 April 2007

275

last weekend: junior high school days revisited, and not in the good sense of the words.


what's this, 1994?

-requote tining: may God be with her

06 April 2007

274

A picture of contemporary Indonesia through the eyes of two generations. The father, generation of pejuang (what’s the term? hero? warrior?), fought the Dutch colonialist to defend the new born Indonesia. The son, part of Gen-X, smart and successful, struggling to conquer today’s hardest and meanest battlefield: Jakarta. From their eyes we see the success story of economic development—tall buildings, real estate and new factory that provides jobs for the unemployed. We also see what’s behind it—slum, worn off nationalism morality value, compromised law and how the marginal class is eradicated in the dog eat dog world.

Yes, I’m talking about Nagabonar Jadi 2, the sequel of 1986’s Nagabonar which was written by the late Asrul Sani and directed by M.T. Risyaf. Deddy Mizwar who originally acted as the ex-pickpocket-then-general Nagabonar, now not only take the role of the old Nagabonar but also write the story (with scriptwriter Musfar Yasin) and direct the movie. Bonaga, the-British-graduate-with-Batak-dialect son is performed by Tora Sudiro, which is accompanied by best friends cum business partners Pomo (Darius Sinathrya), Ronny (Uli Herdinansyah) and Jaki (Michael Mulyardo), and the gorgeous Monita (Wulan Guritno).

Bonaga, a successful businessman, wanted to sell Nagabonar’s palm tree plantation to make a resort. He asked help and advice from his friends to convince his father, because on the plantation lays the tombs of Nagabonar’s beloved: his mother, his wife Kirana (Bonaga’s mother) and his best friend Bujang. The movie flows as the father-son conflict is built with fresh comedy, smart satire and love story.

It’s hard for me not to salute this movie as a successful sequel, but I’m actually agree with Riri Riza that this movie stands of its own and raise a different issue. Apart from that, it’s a neatly packed movie. Great story. Clever visualization (kudos for every parallel scene of Nagabonar and Bonaga). Great ensemble, especially Deddy Mizwar. Does anyone take notice of the unusual mouth expression? That’s probably the thing that connect me to the 1986’s movie, beside the appearance of Maryam (Nagabonar’s former rival performed by Nico Pelamonia) and the repetitious “Apa kata dunia!

The only annoyance for me probably the dragging last quarter of the movie, when Bonaga come back and forth with his decision. It’s probably to give room for the abundant messages. The explicit picture nationalism for example. But as Sinema Indonesia said, "Walaupun penonton tidak harus setuju dengan pendapatnya, tapi dengan film dengan kualitas seperti ini, siapapun filmmakernya layak untuk didengar." Oh, and the ending, what with Indra Birowo meet Tora Sudiro, become too Extravaganza’s suasana menjadi kacau kinda like.

Anyway, it’s a movie that made me think and laugh and cry. And speechless.