TUKGLING, ASAL USUL DAN PENERAPAN
oleh:
Widyarani*
Melalui posting ini, saya selaku saksi sejarah mencoba mendedah istilah 'tukgling' dari segi etimologi. Tentunya dengan segala hormat kepada kolega saya Joko Siswanto, yang tak lain tak bukan adalah pencipta istilah ini. Segala kekurangan dan rincian yang tidak akurat merupakan keterbatasan saya selaku penulis.
Asal-usul
Banyak sekali pihak-pihak yang mengklaim istilah tukgling merupakan plesetan dari kata-kata yang telah kita kenal sebelumnya seperti nungging, ngguling, dan lain sebagainya. Bahkan ada yang mengklaim kata tersebut berasal dari bahasa inggris seperti to tug-tugging, to toggle-toggling, to tuggle-tuggling, to tukgle-tukgling, dan entah apa lagi. Di sini saya—sekali lagi sebagai pelaku sejarah—akan menguraikan asal-usul istilah tersebut sebagaimana dituturkan oleh Saudara Joko Siswanto.
Saudara Joko Siswanto rupanya sering menonton pertunjukan lenong betawi yang ditayangkan di TV (kurang jelas tayangan mana dan TV apa yang menyiarkannya). Pada pertunjukan tersebut, setiap kali pemain melontarkan punch (lelucon) atau melakukan gerakan yang diharapkan mengundang tawa, biasanya akan muncul (efek) suara gambang kromong yang terdengar seperti "Tuk-glinggg..." Dari situlah Saudara Joko Siswanto mengadopsi bunyi yang ia dengar menjadi istilah yang kita kenal sekarang.
Makna Istilah
Dalam novelnya, Soulmate Too Late, Mbak Alia Asmara menggunakan istilah ini (dieja 'tugling') dan dalam glosarium memberikan penjelasan arti sebagai berikut:
tugling (istilah fiktif): aneh, janggal, kaku, kikuk, canggungSebenarnya agak sulit mendefinisikan makna istilah 'tukgling' ini. Biarlah kita serahkan pada para ahli bahasa untuk melakukannya. Saya hanya ingin memberikan ilustrasi suatu kejadian yang benar-benar memenuhi persyaratan untuk disebut 'tukgling'.
Pada suatu hari, seorang mahasiswa Teknik Kimia ITB angkatan '97 berinisial JS (18) yang juga adalah kru LFM terlihat duduk di halaman LFM dengan muka lesu. Beberapa kru yang lain menanyakan apa yang terjadi. JS bercerita bahwa ia gagal ikut ujian gara-gara tidak dapat menemukan ruangan ujian.
"Aku cari ke GKU Lama, GKU Baru, TVST, Oktagon, sampe satu setengah jam gak ketemu."
"Emang ruangan berapa?" kru yang lain jadi penasaran.
"9009."
Para kru berpandang-pandangan. "Jok, 9009 itu di situ," menunjuk ruang pertunjukan LFM yang juga merupakan ruang kuliah dengan kode ruangan 9009.
Tuk glingggg....
* Penulis adalah kru LFM-ITB 1997-2003, saat ini menetap di Bandung