29 November 2006

262

"Dalam pandangan saya, kita dapat bekerja sama dalam menyelesaikan konflik di Irak, menemukan solusi realistis bagi Irak, masyarakat dunia juga harus ikut bertanggungjawab. Bicara soal jangka panjang penyelesaian konflik Irak tentu saja ini bukan hanya tanggungjawab atau misi Amerika semata atau negara lain yang berada di sana saat ini, namun peran negara-negara lain juga sangat dibutuhkan. Indonesia percaya bila kita bekerjasama, berbagi pandangan mencari jalan keluar Irak maka penyelesaian Irak bisa tercapai sebagaimana kita menyelesaikan juga masalah Aceh. Mencari solusi yang baik bagi Irak, bagi Amerika, bagi Indonesia, bagi masyarakat bersama."

Reaksi pertama gue membaca kutipan itu di media-media Indonesia (tidak termasuk koran Media Indonesia :D) adalah tergeli-geli. Gue langsung membayangkan Taufik Savalas dengan tampang jaimnya. Rasanya seperti dagelan mengucapkan itu di depan presiden yang partainya baru kalah pemilu.

Tapi gak lama setelah itu gue gak bisa ketawa lagi. Gue baru sadar bahwa pernyataan itulah yang kemudian dikutip media internasional. Dalam bahasa Inggris tentu saja (gue belum pernah liat Taufik Savalas memparodikan SBY dalam bahasa Inggris). Sial. Apakah semua orang seperti gue yang melihat pernyataan itu sebagai normatif dan jaim (artinya gak usah dianggep gitu)? Rasanya tidak. Sial.

[halooo rani, ke mana aja? bush-nya udah ngacak-ngacak negara laen dan SBY baru dapet gelar doktor honoris causa yang untungnya tidak dari IMBI, lo baru posting sekarang :D]

Ngomong-ngomong, baru aja nyelesein chicklit berjudul Sammy's Hill yang bercerita tentang seorang cewek yang bekerja di Capitol Hill (hey, berima!). Buku ini cukup detail dan agak dalem menggambarkan pekerjaan staf seorang senator idealis. Di luar kesialan-kesialan konyol, satirnya lumayan cerdas. Agak naif, memang. Dan seperti umumnya ciklit, kita sudah tau dari awal siapa cowok-yang-akhirnya-akan-jadi- pacar-Sammy-dan-hidup-bahagia-selamanya.

Dalam buku itu ada tokoh Presiden Pile, yang digambarkan sebagai bencana.
Kabinetnya hanya bikin kacau selama tujuh tahun terakhir, dan praktis dalam semua segi, kekuasaannya menghasilkan malapetaka yang tak tanggung-tanggung. Kebijakan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidupnya, atau lebih tepatnya, tak adanya kebijakan lingkungan hidup, telah menerjunkan bangsa ini ke dalam resesi hebat yang membuat Amerika mundur sepuluh tahun, bahkan lebih. Komunitas internasional sudah terbiasa melihat berbagai permasalahan yang dialami Amerika dan berusaha sebaik mungkin mencegah kabinet Pile menyebarluaskan kebodohan mereka hingga melebihi perbatasan.

Hmm, mengingat buku ini terbit taun 2004, kenapa gak menggunakan "Bush" saja sekalian ketimbang nama samaran "Pile"? Hehe, gak ding. Gue gak begitu ngikutin situasi domestik Amerika (ngapainlah, bukan negara gue), tapi kalo Bush dibilang sebagai "malapetaka yang tak tanggung-tanggung" rasanya gak salah. Peningkatan anggaran militer rasanya pasti berdampak sama kondisi ekonomi. Dan bagaimana Bush menolak meratifikasi Protokol Kyoto (gue bersyukur Amerika negara federal) bisa merujuk kepada "tak adanya kebijakan lingkungan hidup". Sayang kalimat terakhir salah total. Komunitas internasional mana yang bisa mencegah Amerika?

Sammy's Hill ditulis oleh Kristin Gore yang tak lain adalah anaknya Al Gore. Mungkin dari situlah semua detail itu berasal. Dia kuliah di Harvard dan pernah menjadi penulis Saturday Night Live, bahkan mendapat nominasi Emmy. Adooh... kapan ya gue menulis ciklit dan mendapat nominasi Piala Vidia? ;)

Update: Baru baca kolomnya Bill Liddle di Tempo, ternyata yang disoroti New York Times justru dukungan Indonesia untuk segera menarik pasukan dari Irak. Hmm... memberi gue perspektif baru. Ngomong-ngomong, update bahasa Indonesia-nya apa sih?

24 November 2006

261



Gak ada orang yang pingin jatuh lagi, but you know what, honey, shit happens. Memang gak sesakit yang pertama, tapi lo ngerasa ada sesuatu di diri lo yang padam.

Yeah, shit does happen.

Dan lo jadi begitu rapuh sehingga perhatian kecil seperti "Kenapa Ran, lo sakit?" di telpon aja lo inget-inget berhari-hari. Playlist jeprut. Chungking Express. Playlist jeprut lagi.

Gue kirim SOS ke elo, Ang. Tapi kayaknya ESP Hotline kita dah putus. Heck, what do I expect? Sudah putus berabad-abad yang lalu. It's just sometimes I just miss you being there, just there, as you used to before all the mess.

Malam ini di Cicaheum-Ciroyom, Eka menyenandungkan salah satu brit pop-nya yang gue gak kenal. Entah kenapa kumbang di telinga bersenandung lain.

Nobody said it was easy...

Padahal Coldplay belum pernah jadi band favorit gue.

Kalo sedang ingin dramatis-hiperbolis, gue akan bilang kalimat itu menyengat gue bagai kilat. Walaupun yang biasa menyengat adalah lebah, sementara kilat biasanya menyambar. Gak penting.

Mereka benar. Malam ini, gue menggarisbawahi kalimat itu di otak gue.

Tidak mudah. But I hang in here.

"Karena sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan
Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan" (QS.Al-Insyirah:5-6)

PS: Buat Polpot yang barengan gue jatuh pertama kali, selamat ya! Ketemu di sana kita ;P

17 November 2006

260

Males atau Males-malesan?

"Ran, kasih harga ya," Sonny berpesan di telepon. "Tapi jangan mahal-mahal."

Soal kasih harga ini adalah hal yang gue hindari sejak lama, khususnya untuk proyek yang sedang gue kerjakan sama Sonny ini yang dimulai berabad-abad lalu dan akan naik cetak bulan depan. Dulu sebenarnya sempat sepakat harga sama Athun, tapi gue anggap mentah lagi ketika dalam keadaan desperate ditagih Ibu Ratu, Athun bilang, "Terserah deh, lo minta berapa juga." Tentu saja, ditambah Starbucks ;P

Kenapa gue segan menetapkan harga? Karena bingung sebenarnya. Terus terang gue males ngerjain proyek ini. Tapi udah telanjur, jadi terpaksa dikerjain juga. Karena males, rasanya gue pantes minta harga tinggi.

Tapi karena males, gue ngerjainnya jadi males-malesan. Hasilnya juga perasaan gue gak maksimal. Jadi gak enak juga minta gede-gede.

Jadi, pake standar males atau males-malesan?

Travel Rasa Artis atau Rasa Pejabat? Sejak tol Cipularang dibuka, travel Bandung-Jakarta tampaknya jadi bisnis paling menjamur. Terang aja. Waktu tempuh lebih singkat dari kereta, ditambah bisa pilih titik jemput dan titik antar terdekat dan biasanya di tengah kota, relatif lebih mudah diakses dibanding terminal bis yang sudah digusur ke pinggir-pinggir kota.

Kalo gak lagi terdesak waktu, sebenarnya gue lebih pilih naik bis daripada travel. Alasan ekonomi aja sih, karena karcis bis bisa cuma setengah ongkos travel. Alasan lainnya adalah gue bukan tukang ngobrol. Di bis, gak ngobrol dengan orang di sebelah lo rasanya bukan dosa. Tapi duduk selama dua jam di sebelah seseorang dalam mobil senyaman Kia Travel-O dan tidak bertukar sepatah kata pun membuat gue serasa makhluk individualis sejati. Dan kalo gue perhatiin, orang yang naik travel emang sibuk dengan dunianya sendiri. Kalo gak tidur, ya memandang sendu ke deretan papan penunjuk kilometer Cipularang yang melaju cepat (halah, ini gue!). Atau berbincang di ponsel. Yang masih suka ngobrol biasanya penumpang di kursi depan dan supir. Mungkin orang yang suka ngobrol memang memilih kursi sebelah supir tau gimana gue gak ngerti.

Dari obrolan-kursi-depan itu kadang-kadang gue dengar hal-hal menarik juga. Misalnya elo bisa investasi senilai sekian mobil di travel Cipaganti dengan dividen bulanan. Atau bahwa pemilik travel DAYTrans itu ternyata artis DR dan AP serta desainer YK. Atau bahwa X-Trans yang mengklaim sebagai pelopor on-time shuttle service itu ternyata kepunyaan HK yang sodaranya JK.[1]

Jadi, pilih mana? Kalo bisa, gue pilih Time Travel aja deh ;P

Masa Lalu atau Lalu Masa?

Why do birds, suddenly appear
By now you should somehow realize what you gotta do
And all the roads we have to walk are winding
In the morning when you feeling low
You worth your weight in gold

I can see through, I can see right through you
I don't believe that anybody feels the way I do about you now

Why do stars, fall down from the sky
And all the lights that light the way are blinding
What it's like to hold and just let go
There are many things that I would like to say to you but I don't know how

What it's like to fall and hit the end
To have and to hold
You are my only friend, you worth the gold I stole
I said maybe, you're gonna be the one that saves me
And after all...
[2]

Pulang, apalagi kalo lebih panjang dari sabtu-ke-dokter-gigi-minggu-balik-ke-bandung, sering berarti ketemu wajah-wajah dari masa lalu. Kemarin, Ko'eng.

Dan Joy! Pingin terpingkal rasanya. Jadi inget Mengejar Matahari ;P



[1]Ini mah gosip yah, tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya ;P

[2]Dengan segenap terima kasih kepada pemegang hak cipta lirik: The Carpenters, Oasis, dan Shed Seven