28 September 2006

255

Kalo ada yang nanya apakah gue suka film Rindu Kami PadaMu, jawaban gue tentu saja adalah, "Tentu saja." Cerita bagus, ensembel peran yang keren (dan aktor yang ganteng), penyutradaraan yang kuat. Ada satu lagi sih.

Gue suka liat pasar. Entah kenapa. Suka aja gitu :)

22 September 2006

254

Tetangga saya Soe Hok Gar memang suka cari sensasi. Lama menghilang dari Kampung Blog, menulis satu posting sok kontroversial, lalu menghilang lagi. Muncul lagi, menghilang lagi. Bikin orang-orang menebak-nebak. Bahkan ada yang bertaruh segala. Tapi setelah diselidiki, bandarnya ternyata bernama Badu. Para calon petaruh langsung bubar jalan.

Gara-gara itu (muncul-menghilangnya, bukan taruhan gagalnya) mbak rani-ruku a.k.a tjik rantje meninggalkan pesan di papan pesannya, bud, blog loe dah berhasil bikin orang-orang sok tau jadi semakin sok tau. life is much simpler than that, trust me. Heh, harusnya lo seneng Bud, masih banyak orang yang definisi.

Gimana dengan saya? Saya dan orang lain maksudnya, teman-teman saya yang sebenarnya baik-baik dan penuh pengertian. Selama ini saya kerap membangun pagar. Menjaga jarak. Membuat diri sulit dimengerti karena kayaknya sok misterius itu keren (halooo, rani, itu taun 2002 waktu nicholas saputra jadi rangga di ada apa dengan cinta?). Sayang saya gak konsisten, karena saya suka kesal kalo orang tidak mengerti saya.

Makanya di semacam-buku-harian saya dulu banyak tulisan seperti ini.

Hehe, sebenarnya gak niat posting menyambut ramadhan, tapi sekalian lah. Mohon dimaafkan segala kesalahan (termasuk buat fifteen-ers yang mungkin tersinggung karena saya singgung-singgung *halah*)

Selamat puasa buat yang merayakan!

>>> posting ini (terpaksa) saya dedikasikan untuk Soe Hok Gar yang gayanya saya contek dan karakternya saya pinjam

19 September 2006

253

Akhir-akhir ini gue meragukan kecerdasan otak gue. Bukan saja karena telmi menyadari korelasi ongkos ojeg terhadap angkot, tapi juga karena setelah belasan artikel gue baca tentang insiden banjir lumpur panas di Sidoarjo, gue tetap belum sepenuhnya mudeng apa yang terjadi. Mungkin juga karena wawasan gue soal geologi agak cupet sih. Selain kuliah Mektan 3 SKS (halo Pak Humi, pa kabar?) kayanya gak pernah lagi berurusan dengan tanah dan batuan.

Karena gue langganan milis migas Indonesia yang banyak diisi sama praktisi—tentunya—migas, gue banyak dapet informasi tentang LuSi (lumpur Sidoarjo—gak, Bud, gue gak bikin-bikin emang istilahnya itu) dari sudut pandang permigasan (halah, maksudnya eksplorasi dan sejenisnya) dan geologi. Waktu kemarin main ke milis lingkungan, sudut pandangnya beda banget (yaelah, ran, ke mana aja). Coba aja bandingin tulisannya Pak Koesoemadinata dengan analisisnya ecoton ini. Aduh, gue jadi inget membuka situs JIL sambil berselancar ke situs sabili, hehe.

Kayaknya ini bukan sesederhana ahli geologi vs ahli lingkungan (hmm... gue yakin kalopun emang ada pengkubuan seperti itu, niatnya sama-sama baik kok). Dari awal emang banyak informasi simpang-siur. Ada yang bilang fenol tinggi-lah, ada merkuri-lah. Dikutip wartawan pulak tanpa nyebutin hasil analisis siapa atau siapa. Secara Lapindo Brantas itu punyanya Bakrie, insiden ini jadi bermuatan politis. Belum lagi muatan ekonominya. Sosial? *hiks* Adakah yang benar-benar memikirkan ratusan pengungsi yang rumahnya tenggelam itu? Jangan-jangan cuma jadi komoditas politik aja. B*****t!

Gue tidak kompeten untuk beropini dari sudut pandangan geologi dan bahkan lingkungan (hehe), jadi agak lega juga akhirnya menemukan laporan kajian lingkungan dari UNDAC ini. Dengan berprasangka baik bahwa mereka netral dan gak punya kepentingan, gue anggap laporan ini cukup obyektif. Yang gue tangkep kira-kira gini:
- Hasil analisis tidak menunjukkan adanya komponen toksik (hidrokarbon atau logam berat) melebihi kadar normal dalam lumpur. Meskipun demikian beberapa studi terpisah (dari lembaga lain) memang ada yang menunjukkan kehadiran logam berat, utamanya merkuri. Kemungkinan besar lumpur tidak bersifat seluruhnya homogen, dan mungkin ada kontaminan lain seperti limbah industri.

- Meskipun demikian LAGI, lumpur ini memiliki kadar garam tinggi sehingga tidak mungkin dibuang langsung ke sungai karena akan membunuh biota perairan di dalamnya.

- Pembuangan langsung ke sungai juga akan menimbulkan masalah sedimentasi yang pada gilirannya membunuh biota dasar sungai dan mengakibatkan pendangkalan yang dapat menyebabkan banjir.

- Pembuangan langsung ke laut juga kayaknya gak disarankan. Istilah yang dipake sudden release. Kalo gradual release boleh gak?

- Di udara ambien tidak ditemukan gas-gas toksik. Kehadiran hidrogen sulfida hingga 700 ppm pada awal insiden disebabkan adanya deposit dalam tanah yang terlepas bersama semburan, dan kadarnya turun hingga 0 ppm pada hari ketiga.

Catatan gue: Argumen propembuangan ke sungai salah satunya adalah toh Kali Porong juga udah penuh limbah industri. Sebenarnya kelayakan pembuangan ke sungai kan bisa aja diitung dengan rumus pengenceran sederhana. Ada yang punya data debitnya gak? Kalo dibuang ke laut, akan menimbulkan sedimentasi di laut juga (yang kata Pak Kusuma gak masalah karena toh lumpur itu asalnya dari laut purba juga). Gimana kalo limpahannya aja?

Penanganan yang direkomendasikan UNDAC antara lain:
1. Penguatan tanggul
2. Memperkuat koordinasi untuk mempertajam analisis dan interpretasi
3. Menetapkan strategi jangka menengah
4. Mengkaji pemanfaatan kembali lumpur
5. Tetap memantau dampak pada manusia

Hmm, keknya umum banget ya. Di dokumennya lebih rinci kok. Yang menyedihkan, dokumen itu bertanggal Juli 2006. JULI. Sekarang SEPTEMBER dan nampaknya belum ada satupun dari kelima rekomendasi itu yang dijalankan. Hari Minggu kemarin tanggul jebol. Dan kalo pemerintah (atau siapapun!) mengeluarkan data resmi dan terpercaya mengenai kandungan lumpur itu, tentunya soal layak atau gak layak dibuang ke sungai gak akan jadi debat kusir kan?

*bingung mengakhiri tulisan ini. ada ide?*

15 September 2006

252

Kuliah di Ganesa (di LFM tepatnya) dan tinggal di Ciumbuleuit membuat gue terpaksa akrab dengan jasa ojeg. Khususnya kalo pulang malam dan gak ada orang yang bisa ditebengin atau bersedia mengantar. Gara-garanya, tentu, karena angkot St.Hall-Ciumbuleuit bernomer 12 (yang gak nyampe stasiun) dan 13 (nyampe stasiun) cuma beroperasi paling mentok sampe jam 7 malem. Lewat dari itu—terkadang malah sebelumnya—terpaksalah ojeg jadi pilihan.

Kerja di daerah Cisitu sekarang, kebutuhan pergaulan dan mata pencaharian membuat gue masih sering berkeliaran di daerah kampus dan sekitarnya pada pascajam kantor. Karena pulang lewat jam angkot, lagi-lagi konsekuensinya harus naik ojeg. *hmmpf* tidak berkembang!

Kalo diitung-itung, ketekoran yang gue derita akibat pulang naik ojeg adalah tiga kali ongkos pulang "normal". Misalnya sekarang, ongkos pulang naik angkot Kampus-Gandok (1000 rupiah) dan Gandok-Gunung Kareumbi (1000 rupiah) adalah 2000 rupiah. Dari Gunung Kareumbi bisa naik ojeg 1000 rupiah lagi, tapi normalnya sih jalan. Kalo kemaleman, ongkos angkot Kampus-Gandok (1000 rupiah) dan ojek Gandok-Rumah (5000 rupiah) jadi 6000 rupiah. Berarti gue tekor 200%.

Ternyata ini udah berlangsung dari dulu. Waktu ongkos angkot masing-masing 500 rupiah (total 1000 rupiah), ongkos ojeg 2500 rupiah (total 3000 rupiah). Waktu ongkos angkot masing-masing 200 rupiah (ya ampun, ongkos pernah semurah ini ya?), ongkos ojeg 1000 sehingga ongkos pulang total jadi 1200 rupiah. Wah, gue merasa jenius bisa menarik kesimpulan dari perjalanan gue selama ini.

Lalu gue mencoba menarik kesimpulan yang lebih umum, setidaknya yang berlaku di daerah Ciumbuleuit.
Jika A= ongkos angkot;
O= ongkos ojeg
ongkos angkot plus ojeg sama dengan 3 kali ongkos normal (2 kali ongkos angkot)
A + O = 3 (A + A)
A + O = 6 A
O = 5 A
Tiba-tiba gue tidak merasa jenius lagi.

*sambil nulis ini, kumbang di telinga gue menyenandungkan lagu Doel Soembang itu, "Ojeg, ongkos ngajegang..." Yaah... pulang naik ojeg lagi hari ini*