21 Juli 2006
19 Juli 2006
245
Beberapa bulan terakhir ini gue melihat spanduk bernada antikomunisme di beberapa sudut kota Bandung. Komunisme? Ya ampuuun basi banget gak sih? Hari gini! Gue mencoba mengaduk-aduk ingatan gue, dan satu-satunya peristiwa terkait komunisme yang gue inget cuma pemutaran film Lentera Merah di bioskop-bioskop[1]. Wah, kalo itu sih emang cocok dijadikan bahaya laten, hehe.
Nonton Good Night, And Good Luck (GNAGL), ternyata Amerika juga pernah paranoid kayak di Indonesia jaman Orde Baru gitu. Artinya ngubek-ngubek kehidupan pribadi sampai ke karuhun-karuhunnya, hingga mengorbankan hak-hak sipil dan prinsip-prinsip demokrasi gitu deh[2]. Kalo di sini mungkin litsus kali ya, kalo di sana namanya Red Scare. Hmm... apakah mereka juga punya semacam film G30S/PKI yang wajib ditonton tiap tanggal 30 September?
GNAGL sangat mengingatkan gue sama The Insider (Insider). Mungkin karena ceritanya sama-sama di CBS dan sama-sama mengangkat topik kontroversial. GNAGL bercerita tentang perseteruan antara Ed Murrow (dan ko-produsernya Fred Friendly) dengan Senator Joseph McCarthy. Dalam acaranya, See It Now, Murrow mengkritisi kebijakan McCarthy yang kerap menuding pihak-pihak tertentu sebagai komunis. Insider bercerita tentang kontroversi acara 60 Minutes yang menampilkan wawancara Mike Wallace dengan Jeffrey Wigand, mantan eksekutif bagian riset Brown & Williamson. Wigand mengungkapkan klaim-klaim palsu dan praktek yang dilakukan perusahaan rokok. Segmen tersebut ditunda penayangannya oleh CBS Corporate dan direncanakan tampil dengan sensor karena khawatir akan adanya tuntutan hukum dari B&W kepada Wigand dan CBS karena melanggar kebijakan kerahasiaan perusahaan. Akhirnya segmen tersebut ditayangkan secara utuh berkat usaha produser Lowell Bergman.
Kedua film itu menampilkan idealisme jurnalisme. Murrow dan Friendly lawan McCarthy. Bergman lawan CBS Corporate. Tentu saja masa Murrow adalah masa ketika idealisme masih dijunjung tinggi, sampai-sampai Murrow dan Friendly membiayai acara mereka sendiri karena tidak ada sponsor. Pada masa Bergman, taruhannya lebih tinggi namun—setidaknya dalam Insider—dia digambarkan berjuang sendiri. Wallace digambarkan berkompromi sampai kata-katanya dimanipulasi untuk membenarkan penyensoran tersebut. Sebenarnya di akhir GNAGL juga digambarkan pertentangan antara Murrow dan pihak eksekutif CBS.
Hingga saat ini Murrow dianggap sebagai figur besar dalam sejarah jurnalisme Amerika. Potret Murrow dalam berbagai media menunjukkan betapa legendaris figurnya. Dalam Insider sendiri CBS dikritik sebagai "mengkhianati warisan Edward R. Murrow".
Tapi yang membuat gue pertama-tama ingat Insider ketika menonton GNAGL sebenarnya adalah kontrasnya. Di antara semua kesamaan tersebut, ada dua fakta yang sangat bertolak belakang: Insider bercerita tentang perseteruan dengan perusahaan rokok, sementara dalam GNAGL Murrow selalu ngebul, baik di depan maupun di belakang kamera. Ngomong-ngomong, Murrow meninggal tahun 1965 karena kanker paru-paru. Ada yang tau rokok yang diisap Murrow? Jangan-jangan Lucky Strike ;P
Nonton Good Night, And Good Luck (GNAGL), ternyata Amerika juga pernah paranoid kayak di Indonesia jaman Orde Baru gitu. Artinya ngubek-ngubek kehidupan pribadi sampai ke karuhun-karuhunnya, hingga mengorbankan hak-hak sipil dan prinsip-prinsip demokrasi gitu deh[2]. Kalo di sini mungkin litsus kali ya, kalo di sana namanya Red Scare. Hmm... apakah mereka juga punya semacam film G30S/PKI yang wajib ditonton tiap tanggal 30 September?
GNAGL sangat mengingatkan gue sama The Insider (Insider). Mungkin karena ceritanya sama-sama di CBS dan sama-sama mengangkat topik kontroversial. GNAGL bercerita tentang perseteruan antara Ed Murrow (dan ko-produsernya Fred Friendly) dengan Senator Joseph McCarthy. Dalam acaranya, See It Now, Murrow mengkritisi kebijakan McCarthy yang kerap menuding pihak-pihak tertentu sebagai komunis. Insider bercerita tentang kontroversi acara 60 Minutes yang menampilkan wawancara Mike Wallace dengan Jeffrey Wigand, mantan eksekutif bagian riset Brown & Williamson. Wigand mengungkapkan klaim-klaim palsu dan praktek yang dilakukan perusahaan rokok. Segmen tersebut ditunda penayangannya oleh CBS Corporate dan direncanakan tampil dengan sensor karena khawatir akan adanya tuntutan hukum dari B&W kepada Wigand dan CBS karena melanggar kebijakan kerahasiaan perusahaan. Akhirnya segmen tersebut ditayangkan secara utuh berkat usaha produser Lowell Bergman.
Kedua film itu menampilkan idealisme jurnalisme. Murrow dan Friendly lawan McCarthy. Bergman lawan CBS Corporate. Tentu saja masa Murrow adalah masa ketika idealisme masih dijunjung tinggi, sampai-sampai Murrow dan Friendly membiayai acara mereka sendiri karena tidak ada sponsor. Pada masa Bergman, taruhannya lebih tinggi namun—setidaknya dalam Insider—dia digambarkan berjuang sendiri. Wallace digambarkan berkompromi sampai kata-katanya dimanipulasi untuk membenarkan penyensoran tersebut. Sebenarnya di akhir GNAGL juga digambarkan pertentangan antara Murrow dan pihak eksekutif CBS.
Hingga saat ini Murrow dianggap sebagai figur besar dalam sejarah jurnalisme Amerika. Potret Murrow dalam berbagai media menunjukkan betapa legendaris figurnya. Dalam Insider sendiri CBS dikritik sebagai "mengkhianati warisan Edward R. Murrow".
Tapi yang membuat gue pertama-tama ingat Insider ketika menonton GNAGL sebenarnya adalah kontrasnya. Di antara semua kesamaan tersebut, ada dua fakta yang sangat bertolak belakang: Insider bercerita tentang perseteruan dengan perusahaan rokok, sementara dalam GNAGL Murrow selalu ngebul, baik di depan maupun di belakang kamera. Ngomong-ngomong, Murrow meninggal tahun 1965 karena kanker paru-paru. Ada yang tau rokok yang diisap Murrow? Jangan-jangan Lucky Strike ;P
15 Juli 2006
244
Dulu itu, ngobrol sama Ang ketika kita sudah agak lama gak ngobrol. Waktu itu gue lagi depresi berat dan Ang bersedia mendengarkan curhat gue dengan imbalan makan malam di Cabe Rawit, tapi entah kenapa malah dia yang curhat duluan. Tentang proses yang sedang dia jalani. Mimpi yang sedang dia coba wujudkan. Gue pernah ada di situ, ikut ambil bagian walau sedikit. Mendengarkan dan mencatat kata-katanya. "Kita cuma pengen bikin sejarah."
"Kadang-kadang capek juga Ran."
Ngerti gue.
Pelan-pelan gue coba tanya. "Apa lo yakin ini benar? Apa ini bukan sekedar obsesi?"
Dia terdiam sejenak. Gue tau pertanyaan gue itu bukan untuk pertama kalinya dia dengar.
"Gak Ran, gue masih yakin," dia menguraikan panjang-lebar. "Entah kenapa tiap mentok selalu aja dikasih jalan."
Dan saat itu gue percaya. Gue percaya untuk dia.
Percakapan itu gue ceritain ke Anggi, di tengah kepulan asap rokok sebuah kamar petak rumah susun di pusat kota Jakarta.
"Kayanya dia obsesi deh," komentarnya waktu itu.
Dan gue menggeleng. Gue masih percaya.
Saat ini, Anggi sedang ada di tengah sesuatu. Dia memilih berada dalam sebuah lingkaran yang menguras waktu dan tenaganya dan gue tau dia gak harus berada di situ. Dan gue gak habis pikir.
"Kenapa lo bertahan?" pertanyaan itu bukan hanya sekali gue ajukan ke dia. Dan kemarin dia menjawab.
"Gue percaya mimpinya Angga."
"Mimpi lo gak kepenuhan di..." gue menyebutkan lingkaran lain yang dia ada juga di dalamnya.
"Bukan gitu. Angga punya mimpi, dan gue percaya itu."
Gue tercenung sesaat.
"Kayak gue percaya mimpinya Ang?"
"Ya, kayak gitu."
Perlahan-lahan gue merasakan suatu kehangatan.
Betapa indahnya orang-orang yang percaya akan mimpi.
"Kadang-kadang capek juga Ran."
Ngerti gue.
Pelan-pelan gue coba tanya. "Apa lo yakin ini benar? Apa ini bukan sekedar obsesi?"
Dia terdiam sejenak. Gue tau pertanyaan gue itu bukan untuk pertama kalinya dia dengar.
"Gak Ran, gue masih yakin," dia menguraikan panjang-lebar. "Entah kenapa tiap mentok selalu aja dikasih jalan."
Dan saat itu gue percaya. Gue percaya untuk dia.
Percakapan itu gue ceritain ke Anggi, di tengah kepulan asap rokok sebuah kamar petak rumah susun di pusat kota Jakarta.
"Kayanya dia obsesi deh," komentarnya waktu itu.
Dan gue menggeleng. Gue masih percaya.
Saat ini, Anggi sedang ada di tengah sesuatu. Dia memilih berada dalam sebuah lingkaran yang menguras waktu dan tenaganya dan gue tau dia gak harus berada di situ. Dan gue gak habis pikir.
"Kenapa lo bertahan?" pertanyaan itu bukan hanya sekali gue ajukan ke dia. Dan kemarin dia menjawab.
"Gue percaya mimpinya Angga."
"Mimpi lo gak kepenuhan di..." gue menyebutkan lingkaran lain yang dia ada juga di dalamnya.
"Bukan gitu. Angga punya mimpi, dan gue percaya itu."
Gue tercenung sesaat.
"Kayak gue percaya mimpinya Ang?"
"Ya, kayak gitu."
Perlahan-lahan gue merasakan suatu kehangatan.
Betapa indahnya orang-orang yang percaya akan mimpi.
14 Juli 2006
243
I adore directors. The reason(s) why I watch a movie is usually whether I'm interested in the story and/or I like the director. When I found a good movie, I mark the director for my future reference.
However, I can’t really tell who my favorite director is. The reason is, I don’t watch enough of their movies. Not representative enough to claim I prefer his/her work over the others. So I try to count my movie-per-director number as shown on graphic below.

The names are in alphabetical order (with N for Garin Nugroho). They're not exactly my favorites, just the names pop off in my head when I surfed through IMDb. In fact I forgot a few names that I also consider in my watch-or-not decision. But there they are. I also only consider feature film and exclude short movie, video and TV movie (as far as I know, I don’t check each one of them). That’s how I got 100% for Garin.
Well, because I’ve mentioned Garin twice, let’s discuss about him first. I only put one Indonesian director because on my recently-watch list, he’s the only one who has long enough career and still make movie until now. If I put Chaerul Umam, I probably get 30-40% (I’m really too lazy to check on Katalog Film Indonesia), but he doesn’t make movie anymore. I can also put Joko Anwar and get 100%, but of course he’s only made one movie so far.
I got 50-60% for David Fincher, Peter Jackson, Danny Boyle, Tim Burton and Robert Rodriguez. I like them all, they have style. I always thought that Tim Burton is the closest to what-so-called-my-favorite director, but apparently I missed more than 40% of his movies. I think I got above 50% for the rest because they’re young and haven’t made as much movie as—let say—Woody Allen (whom I like very much but only got 13%). But yeah, I like them and I wait for more work from them. (From this young-and-have-style lot I also count Alfonso Cuarón, Alejandro González Iñárritu and I think there is more but I can’t remember, hehe).
What the hell Tony Scott’s doing there? Well, I like him, hehe. Enemy of the State is one of my favorite movies even though it’s been played in TV for maybe the tenth time. And I put Lasse Hallström because I just enjoyed What’s Eating Gilbert Grape so much, again. Of course I got such low number because he made his early works (including adaptation of Astrid Lindgren’s Barnen i Bullerbyn) in Sweden.
And Bryan Singer? Well yeah, I watch Superman Returns because of him. Hate to say that even though the cast were great (and I like how Brandon Routh resembles Christopher Reeve) and the humor was also good, the movie was not dramatic enough nor heroic enough nor comical enough. Overall, it was dull.
However, I can’t really tell who my favorite director is. The reason is, I don’t watch enough of their movies. Not representative enough to claim I prefer his/her work over the others. So I try to count my movie-per-director number as shown on graphic below.

The names are in alphabetical order (with N for Garin Nugroho). They're not exactly my favorites, just the names pop off in my head when I surfed through IMDb. In fact I forgot a few names that I also consider in my watch-or-not decision. But there they are. I also only consider feature film and exclude short movie, video and TV movie (as far as I know, I don’t check each one of them). That’s how I got 100% for Garin.
Well, because I’ve mentioned Garin twice, let’s discuss about him first. I only put one Indonesian director because on my recently-watch list, he’s the only one who has long enough career and still make movie until now. If I put Chaerul Umam, I probably get 30-40% (I’m really too lazy to check on Katalog Film Indonesia), but he doesn’t make movie anymore. I can also put Joko Anwar and get 100%, but of course he’s only made one movie so far.
I got 50-60% for David Fincher, Peter Jackson, Danny Boyle, Tim Burton and Robert Rodriguez. I like them all, they have style. I always thought that Tim Burton is the closest to what-so-called-my-favorite director, but apparently I missed more than 40% of his movies. I think I got above 50% for the rest because they’re young and haven’t made as much movie as—let say—Woody Allen (whom I like very much but only got 13%). But yeah, I like them and I wait for more work from them. (From this young-and-have-style lot I also count Alfonso Cuarón, Alejandro González Iñárritu and I think there is more but I can’t remember, hehe).
What the hell Tony Scott’s doing there? Well, I like him, hehe. Enemy of the State is one of my favorite movies even though it’s been played in TV for maybe the tenth time. And I put Lasse Hallström because I just enjoyed What’s Eating Gilbert Grape so much, again. Of course I got such low number because he made his early works (including adaptation of Astrid Lindgren’s Barnen i Bullerbyn) in Sweden.
And Bryan Singer? Well yeah, I watch Superman Returns because of him. Hate to say that even though the cast were great (and I like how Brandon Routh resembles Christopher Reeve) and the humor was also good, the movie was not dramatic enough nor heroic enough nor comical enough. Overall, it was dull.
07 Juli 2006
04 Juli 2006
241
Writing your own reference letter is a damn hard thing to do. Well, I blog and blogging is all about existence and narcism, but this is different. I have to write something good about myself and pretend as someone else writes it (hmmm… did I say it’s different?). I have to write my own because my referee is such a busy man. I’m not trying to get a big shot or anything, he actually was my supervisor before.
What do I do then? Get a sample from internet, of course :D
What do I do then? Get a sample from internet, of course :D
03 Juli 2006
240
Waktu diskusi Roald Dahl di Pustakalana, gue dan Ifan berbagi pengalaman soal komik Siksa Neraka. Buat yang ABG, komik Siksa Neraka adalah komik tipis entah penerbitnya siapa yang berisi gambaran tentang—apa lagi kalo bukan—siksa neraka. Setiap dosa tertentu akan mendapatkan siksaan tertentu. Oh, setelah baca itu kamu pasti jadi langsung takut mengadu jangkrik dan bertanya-tanya apakah kebohongan kecil kamu tadi siang (bilang sudah makan padahal belum—jenis kebohongan khas anak kecil yang akan jadi terbalik ketika gede) akan bikin kamu terpaksa minum besi panas cair di neraka nanti. Jangan tanya kenapa diskusi tentang pengarang cerita anak dari Inggris bisa bergeser ke komik ini ;PEh, kemarin tulisan Enda juga menyinggung-nyinggung komik horor ini.
Ternyata banyak juga orang-orang yang kira-kira seangkatan gue yang pernah baca komik ini (yea... yea... kami memang sudah tua). Mungkin bisa dibilang ini salah satu pusaka '80-an, hihi. Dan bayangin aja. Gue baca itu di rumah uwak gue di Depok. Enda mungkin baca di Bandung. Ifan baca di Malang. Berarti peredaran komik itu seenggak-enggaknya nyampe seluruh pulau Jawa. Padahal kemasannya tidak seberapa meyakinkan. Haibat.
Salah satu siksaan paling fenomenal yang gue inget dari komik itu adalah setrikaan. Yap, setrikaan raksasa model kuno yang panas membara. Gue gak inget setrikaan ini untuk dosa apa. Ada yang inget?
Langganan:
Postingan (Atom)
