28 November 2005

Whatta weekend...
Akhir pekan yang *hmm* produktif, konsumtif, lifting up, pushing down...

Buat seseorang : Temen? Yeah, right, huehehehehehe (sambil dengerin Sebatas Teman-nya Sindentosca)

24 November 2005

Dengan menggunakan fasilitas Warnet atheroz pengguna setuju untuk tidak melakukan hal-hal yang berhubungan dengan:

- Pembajakan
- Kejahatan Internet
- Pornografi
- Minuman Keras & Narkoba
- Terorisme


Hmm hmm... Poin terakhir makes u wonder, eh? ;P

22 November 2005

The KRLs. Saya kangen KRL. Yep, seriously, lengkap dengan segala ke-tukgling-annya. Dan kemaren ke pulang dari Kamis sampe Minggu, sempet naek KRL tiga kali. Puas deh.

Gue seneng karena:
1. Ketemu Andrey dan Fitri
2. Si Tukang-Koran-Nyengir itu masih inget sama gue
3. Tentunya selalu ada si tukang tahu berhadiah cabe
4. Ketemu Yandhrie (eh, ini mah gak di KRL sih, tapi seneng aja)
5. Bisa beli mangga goceng lima biji (harga optimal yang dicapai di Kebayoran, di Tanah Abang harganya masih goceng tiga)
6. The pengamens yang Yang-Main-Biolanya rada cakep itu bawain lagu Peterpan (tapi abis itu bawain lagu Radja, *hiks*)

Hmm, ingat misteri transportasi Jakarta yang tidak bisa saya pecahkan? Well, gue dah tau satu jawabannya (a lil bit slow, actually). Pijakan kaki KRL ekonomi itu dibikin miring karena—entah jalurnya kekecilan atau bodi keretanya yang kegedean—kalo pijakan kaki itu dilurusin bakalan nabrak peron. Anyway, that leads to another mystery, secara hal tersebut tidak terjadi pada KRL eksekutif. Padahal KRL eksekutif itu bekas Jepang sedangkan KRL ekonomi itu bikinan PT INKA (pesanan?), apakah hal tersebut tidak terpikirkan ketika mendesain kereta dan atau peronnya? Hmm...

Tentang mikrolet gue masih belum nemu jawabannya. I leave that one to Bung Wildan to find the answer ;)

The Meeting of Indonesian Scientist in the 21st Century. Hehe, judulnya keren ya? Tapi lumayan asik kok. Inspiring lecture from 1996 Nobel Lauriate Douglas Osheroff, trus what-so-called "bright young scientists" mulai Danny Hilman yang pakar gempa sampe Puspita Lisdiyanti yang membuat buku-buku daras biologi harus ditulis ulang.

Pak Rodani, guru fisika gue di SMA pernah bilang gini. Ketika seorang ilmuwan mempelajari partikel dan bagian-bagiannya, dia akan merasa "besar". Sebaliknya ketika seorang ilmuwan mempelajari alam semesta, dia akan merasa "kecil".

Acara dua hari kemarin bikin gue berpikir, semakin banyak lo belajar dan ke arah manapun, lo akan semakin merasa "kecil dan tidak tau apa-apa".

The Anak SMU. Anak SMU (iya, SMU yang sekolah menengah umum) itu lucu. Pikirannya ruwet, suka menyusah-nyusahkan hal yang mudah. Sebagai contoh, Gbr 1 di sebelah adalah semacam peta konflik dari film Me vs High Heels yang gue tonton beberapa bulan yang lalu. No, I'm not trying to criticize the movie like these guys, gue cuma pingin menunjukkan betapa beratnya jadi anak SMU.

Nah, dalam situasi seperti Dina (ketika cowok lo ternyata suka sama cewek lain), di dunia yang lebih sederhana (also known as real world) kayanya gue akan melakukan salah satu dari dua hal ini. Kalo gak 1) ngomong baek-baek sama Sasha and ask her politely—sebagai sesama cewek—to step aside a lil bit, atau 2) ngomong baek-baek ke Roland, lo tuh sebenarnya sukanya sama siapa. But nooo, dalam dunia SMU, you don't do that. Yang lo lakukan adalah menambah satu tokoh yang suppose to be cowok sangat ganteng sebagaimana ditunjukkan pada Gbr 2.

Jadi Dina membuat skema yang sangat kejam untuk mempermainkan perasaan Sasha yang sebenarnya gak tau apa-apa, dengan memanfaatkan Arnold yang suka banget sama dia. Hmm... *gosok-gosok tangan*

Perlu diingat juga bahwa Sasha mempunyai latar belakang yang dalem untuk menjadi cewek tomboy. Dan endingnya pokoknya oke banget deh...

Oh, well, I promise I'm not talking about this movie as a movie.

See, berat kan jadi anak SMU? Gue ngerasain kok. In fact, I wrote several short stories with the same complicated tukgling plot, hehe.

(ditulis di pagi hari setelah mencoba mengonsep serial dengan segmen remaja *sigh*)

The Waiting. Harap-harap cemas menunggu besok.

13 November 2005

It was precisely this sort of behavior that made him dislike Fudge's visits so much. He was, after all, the Prime Minister and did not appreciate being made to feel like an ignorant schoolboy. But of course, it had been like this from his very first meeting with Fudge on his very first evening as Prime Minister. He remembered it as though it were yesterday and knew it would haunt him until his dying day.

He had been standing alone in this very office, savoring the triumph that was his after so many years of dreaming and scheming, when he had heard a cough behind him, just like tonight, and turned to find that ugly little portrait talking to him, announcing that the Minister of Magic was about to arrive and introduce himself.

Naturally, he had thought that the long campaign and the strain of the election had caused him to go mad. He had been utterly terrified to find a portrait talking to him, though this had been nothing to how he felt when a self-proclaimed wizard had bounced out of the fireplace and shaken his hand. He had remained speechless throughout Fudge's kindly explanation that there were witches and wizards still living in secret all over the world and his reassurances that he was not to bother his head about them as the Ministry of Magic took responsibility for the whole Wizarding community and prevented the non-magical population from getting wind of them. It was, said Fudge, a difficult job that encompassed everything from regulations on responsible use of broomsticks to keeping the dragon population under control (the Prime Minister remembered clutching the desk for support at this point). Fudge had then patted the shoulder of the still-dumbstruck Prime Minister in a fatherly sort of way.
(J.K. Rowling-Harry Potter and The Half-Blood Prince)


Mendengar berita kaburnya Umar Al Faruq dan tewasnya Dr. Azahari, saya kepikiran jangan-jangan ada tangan-tangan tak terlihat pemilik penguasa Indonesia yang sebenarnya yang memutuskan sudah waktunya Azahari di-gameover-kan. *conspirationist mode on*

Mungkin kejadiannya di Puri Cikeas setelah KPU resmi mengumumkan kemenangan pasangan SBY-JK terhadap Mega-Hasyim. Ketika wartawan-wartawan sudah pulang dan Ibu Ani sudah tertidur kelelahan, bapak presiden kita yang baru masih sendirian di ruang kerjanya, berusaha keras menahan keinginan kekanak-kanakan untuk melompat-menari dan berteriak "Whoaaa! I'm the president of Indonesia now! I don't care about my popularity though, but still, yaaaay!" Alih-alih, Bapak Presiden menyenandungkan pelan lagu Pelangi di Matamu yang sudah membuat anak-anak muda mengacungkan jempol, "Kapan lagi kita punya presiden keren?"

Tiba-tiba beliau sadar ada sosok lain di ruangan itu. "How... how come... how can you...," beliau tergeragap, lalu teringat kembali untuk bersikap jaim. "Siapa Anda? Bagaimana Anda bisa masuk ke sini?"

Sosok itu (bayangin kaya Cigarette-Smoking Man-nya X-Files) keluar dari kegelapan dan tersenyum tipis. "Pertanyaannya, tahukah Anda siapa Anda?" (versi parodinya akan ditambah "Dan plis ya, bukan Anda Bunga boo...")

"Saya?" pertanyaan itu terdengar begitu menghina. "Saya Presiden Republik Indonesia."

Sosok itu menggeleng, kali ini dengan senyum kebapakan. "Anda pejabat Presiden Republik Indonesia."

Dan selama dua setengah jam sosok itu menjelaskan siapa presiden republik indonesia yang sebenarnya sementara Bapak Presiden yang baru terpilih itu hanya bisa tercengang. *conspirationist mode off*

Di jaman orde baru, I might get arrested for this, eh? *wink*

10 November 2005

Hari ini saya ikhlas korupsi waktu dan korupsi bandwidth. Kerjaan dah beres jam setengah dua belas. Keluar bentar nyari makan. Balik, onlen yang gak penting-penting.

Meskipun telat, nitip...