28 Juli 2005

Akhirnya saya nonton Gie juga setelah dihina-hina dan dicela-cela.

Gue: Masa sih semua orang udah nonton Gie?
Ang: Ada sih yang belum nonton.
Gue: Siapa?
Ang: Elo.

Saya nonton bareng Soe Hok Gar (bukan nama sebenarnya), seorang teman yang sudah nonton dan percaya (atau berharap?) Soe Hok Gie itu gay. Saya dan Soe Hok Gar sama-sama lagi tepar tadi malem. Karena gak kebagian kursi pas nunggu, kita selonjoran aja gitu deket tangga. Lagi nunggu gitu, tebak siapa yang lewat. Joni! Tau kan, Joni, yang tukang nganter film itu *hehe*

Filmnya mulai jam delapan malem. Kira-kira jam sepuluh, ketika Wulan Guritno baru saja muncul, tiba-tiba keluar slide.
maaf tunggu film
Hehe, terang aja filmnya telat, orang Joni-nya lagi jadi Gie. Trus setelah lima menitan gitu akhirnya Otto jalan ke belakang. Lho kok jadi Janji Joni?

"Pak, lama banget sih?"
"Filmnya masih di Galaxy Mas."

Soe Hok Gar nyeletuk di sebelah saya. "Filmnya masih di Galaksi Andromeda, belum nyampe Bimasakti."

Ketika akhirnya filmnya nyala lagi, apa coba kalimat pertamanya Joni, eh, Gie.
"Udah biar aja. Nanti filmnya saya sendiri yang antar ke Goethe."

22 Juli 2005

Tentang Pagi Ini. Pagi ini ada Aldi AR di YM and it's sort of make my day in gak penting way. You know, seperti ketika seseorang tanpa disangka-sangka nawarin kursi buat lo di kereta, atau si mang yang pernah nemenin malem-malem lo begadang di SC lalu pindah ke mesin tiba-tiba nyapa lo ketika lo terburu-buru mau kuliah aerosol (and u think he wouldn't recognize u), atau cerita Riri when she had a bad day and an old man smiled at her and suddenly all things seemed easier than they were before.

Tentang Pagi Kemaren. I got a call on 6.25. Ang, emang dia bilang mau telpon. Ngobrolin kerjaan, catching up karena terakhir gue ketemu dia sebelum prajab. Itu hampir tiga bulan yang lalu and it's bad 'coz we should intensely communicate. Gue bahkan gak tau dia ke Bandung. But anyhoo, setelah "iya, ntar kalo ada ide gue sms apa telpon lo jam seginian", tau-tau dia ngomong,

"Ran, si Anggi ayeuna jadi reporter di XYZ."
"Oh yeah," sambil gak ngeh ini teh ngomongin apa.
"Tapi urang kalahkah pegat."

Upf! Hehe, jangan-jangan dia mo nelpon "banyak yang mesti didiskusiin" sampe gue bela-belain beli nomer simpati segala adalah untuk "ngediskusiin" ini, kakakakak.

Sesuatu yang gue heran tapi gue gak tanyain ('coz it's seem unlikely over long distance cellphone call) adalah ini:
Kenapa sih cowok—bukan cuma ang, tapi juga beberapa temen gue yang hampir/baru putus—seneng banget bilang, "Padahal gue tuh udah ngebimbing dia, from bla-bla-bla to blu-blu-blu."

Hehe, seriously. Kayaknya mereka menganggap "pacar" itu adalah seseorang yang harus di-upgrade dan mereka udah melakukannya hingga "kalo gak karena gue dia gak bakalan kayak gini."

Well, maybe it's true, but still...

Mungkin ini semacam florence-nightingale-syndrome di cewek kali ya? Atau gini, kan suka ada tuh di majalah-majalah remaja putri, cewek yang pacaran sama cowok brengsek trus bilang, "Kalo gue putusin ntar dia minum lagi, ngobat lagi."

Hehe, siapa gue ngomongin ginian? ;P

Ngomong-ngomong, inget posting gue yang dulu tentang already taken gay ;P
A friend sent this. Just compare.

Top reasons why ladies today are still SINGLE

1. The nice men are ugly.

2. The handsome men are not nice.

3. The handsome and nice men are gay.

4. The handsome, nice and heterosexual men are married.

5. The men who are not so handsome, but are nice men, have no money.

6. The men who are not so handsome, but are nice men with money think we are only after their money.

7. The handsome men without money are after our money.

8. The handsome men, who are not so nice and somewhat heterosexual, don't think we are beautiful enough.

9. The men who think we are beautiful, that are heterosexual, somewhat nice and have money, are cowards.

10. The men who are somewhat handsome,somewhat nice and have some money and thank God are heterosexual, are shy and NEVER MAKE THE FIRST MOVE!!!!

11. The men who never make the first move, automatically lose interest in us when we take the initiative.

NOW, WHO THE HELL UNDERSTANDS MEN?

"Men are like a fine wine. They all start out like grapes, and it's our job to stomp on them and keep them in the dark until they mature into something you'd like to have dinner with."

19 Juli 2005

Eh... gue lagi butuh lirik lagu Di Tepi(nya) Sungai Serayu, ada yang bisa bantu? Kalo ada yang mo kirim MP3-nya akan diterima dengan senang hati ;)

18 Juli 2005

Teman Seperjalanan. Saya sering pergi-pergi sendiri tapi termasuk jarang ngobrol sama orang yang ketemu di jalan. Mungkin tampang gue terlalu jutek kali *hehe* Anyway dari yang jarang itu, mmm, mungkin yang paling aneh adalah beberapa bulan yang lalu di kereta dari Bandung ke Jakarta. Yang di sebelah gue itu cowok dan anehnya gue baru inget sekarang kalo badannya tinggi gede. Kenapa aneh? Karena dia bilang kalo dia barusan kabur dari rehab bareng dua orang temennya. Kabur buat maen doang ke Bandung, balik ke Jakarta masuk rehab lagi. Tepu gak ya, mengingat badannya gede gitu (selama ini gue ngira kalo pemadat badannya mesti kurus kering).

Tapi dia bilang salah satu dari dua orang temennya itu pemain sinetron lho. Ya, gue sih maaf-maaf aja gak kenal ;P

Kalo kemaren, setelah ngobrol gak penting, ternyata yang di sebelah gue adalah anak oseano ITB 2001 yang pindah ke STISI. Dan setelah itu... obrolannya tetep gak penting siy...


Grogol, Sebuah Spanduk.
HINDARI JL. HASYIM ASYHARI (LAMPU MERAH ROXY)
ADA PEKERJAAN FLAY OVER

Pompa Bensin Techno Park, Spanduk Lain.
Sayangi diri anda. Narkoba bukan untuk dicicipi. Narkoba untuk dimusnahkan.
Is it just me atau spanduk ini mengundang pertanyaan-pertanyaan filosofis? Kalo untuk dimusnahkan, kenapa dibikin? Tapi bukannya kita (manusia) juga suatu saat akan musnah (baca: mati). Lalu kenapa Tuhan menciptakan manusia. Apakah benar Tuhan menciptakan manusia? Ah... *lieur*

Mungkin karena blogging type gue ;P

Your Blogging Type is Pensive and Philosophical
You blog like no one else is reading...
You tend to use your blog to explore ideas - often in long winded prose.
Easy going and flexible, you tend to befriend other bloggers easily.
But if they disagree with once too much, you'll pull them from your blogroll!


Kompas di Sebuah Kursi Kosong. Seumur-umur nih, baru dua kali gue ngeliat orang ninggalin Kompas (baru) di kendaraan umum. Sekali di Sudirman Express, dan kemarin di shuttle bus Mangga Dua-BSD. Kenapa itu noticable buat gue?

Pertama, Kompas itu mahal. Kalo dulu KoranTempo dan Media Indonesia dijual 1000 di kereta (kalo dari Lampu Merah sampe Warta Kota mah udah gak usah ditanya ya), Republika 1500, Kompas 2000. Kan mahal tuh.

Kedua, Kompas itu tebel. Bacanya lama. Bahasannya relatif lebih dalem dari KoranTempo. Satu jam Sudirman-Tanah Abang dengan segala gangguannya belum tentu selesai.

So what did I do with it? Gue ambil dan bawa pulang, tentunya ;P

13 Juli 2005

+ You know what people say, that all the best men are either already taken, or gay.
- Yeah, this one is gay AND already taken.
+ Oh, shoot!

* * *

+ Ran, gue seneng lo kerja lagi di Bandung.
- *speechless* (terharu...)

* * *

+ Fly me to the moon/And let me play among the stars (earbug pagi ini)

* * *

+ Inspirasiiii dateng dooong... Udah bulan Juli neeeh!

10 Juli 2005

Ada artikel norak di Intisari bulan ini. Bercerita tentang budaya ngopi orang Indonesia terkait dengan hadirnya kedai kopi waralaba asing di kota-kota besar.

Pertama soal pengetahuan. Narasumber artikel itu bilang apresiasi. Banyak orang Indonesia, termasuk pengunjung di kedai-kedai waralaba itu, yang belum ngerti apa itu espresso, cappuccino, dan latte.

Kedua, kutipan langsung dari narasumber yang manajer pemasaran salah satu kedai tersebut di atas, "Cara minum kopi dan teh orang Indonesia memang masih salah." Dan jangan salah, yang ngomong itu orang Indonesia lho.

Kirain cara minum yang salah itu kopinya dituang ke telinga atau gimana gitu. Atau dituang ke pisin (piring kecil) terus diseruput (haha, pernah minum dengan cara gini kan waktu masih kecil? tapi itu masih diminum lho). Ternyata cara minum yang salah itu adalah:
1. Langsung diteguk, bukannya diseruput pelan-pelan dengan gaya aristokrat.
2. Kopi—khususnya espresso—yang dikasih gula banyak-banyak.

Kalo soal kopi yang dikasi gula kebanyakan sih mengingatkan gue sama Mas Ulul dan Wildan. Dulu kalo bikinin kopi buat Mas'Lul pasti aja kurang manis. Sebaliknya, kalo nyicipin kopinya Mas'Lul pasti kemanisan. Dan gue selalu mencela, "Dasar orang Jawa. Kopi kok manis. Itu mah air gula dikasih kopi." Jawabannya Wildan, "Dasar orang Sunda gak bisa menikmati hidup. Hidup itu udah pait, makanya harus dibikin manis." :)

Soalnya budaya ngopi di Indonesia kali dari warung-warung kopi, dengan kopi tubruk kentel manis dalam gelas tinggi buntek. Bayangin kalo diseruput, berapa jam abisnya. Minumnya sih pake tata cara juga. Kaki sebelah diangkat, tangan nyomot pisang goreng, sambil ngobrolin isu-isu aktual seperti hasil panen atau siapa baru beli sapi berapa. Kalo warkopnya di daerah mahasiswa, yang diobrolin tentunya menyangkut masa depan bangsa seperti apakah si A sudah putus sama cowoknya atau mending mana nokia 6680 sama sony ericsson k700. Gitu deh.

My point is, budaya itu kale, yang dibawa ke kedai kopi waralaba asing (puih, ini istilah males banget). Ya mungkin salahnya di situ. Kalo emang pingin ngopi di sana, tata cara yang mesti dipakek emang tata cara bule. Aturan benar-salahnya juga versi bule. Minum kopi tubruk glek-glek-glek dianggap tidak mengapresiasi kopi. Mengapresiasi kopi adalah dengan secangkir keciiiil double espresso tanpa gula yang diseruput pelan-pelan sambil ngomongin nilai tukar dolar-rupiah ditemani musik jazz.

By the way, gue nulis ini sambil menyeruput secangkir kopi susu bikinan sendiri, di rumah, di depan PC (bukan laptop+blutut). Menyeruput bukan karena apresiasi, tapi sayang aja gitu kalo cepet abis.

Mungkin bukan artikel itu yang norak tapi guenya aja yang norak 'coz I can't afford hangin' in Starbucks or Coffe Bean. Olala...

09 Juli 2005

2:55
waa... terperangkap di warnet karena ujan, padahal masih harus ke pustakalana. Padahal juga dari tadi gak penting-penting banget. Benerin template yang makin acak-acakan (tapi saya mulai suka comment panel saya yang baru).

2:57
baca kompas di firefox tidak nyaman. atau di warnet ini aja ya? ada satu banner flash yang ngalangin getoh.

3:15
jadi ajah gue main otello. hehe, minggu kemaren juga gue main di warnet sambil ngetik extravaganza. jadinya kalah dong, gak konsen.

3:28
payah neh... lawannya nyerah. well, guee i bettr go walopun masi ujan tapi kayanya gak bakal tambah deras kali ya... mudah-mudahan gak jadi sakit
Hueeekhhh... Baca koran minggu ini bener-bener cape bikin kesel pingin marah. Trus kaya yang gue mo nulis di blog tau-tau udah ada berita laen. Hmmmpf!

Tapi sebagian gue keluarin di extravaganza, hehehe. Mudah-mudahan gak diedit di sonohnya.

Seminggu ini tiap hari keluar kantor, empat kali ke kampus. Hari Kamis dikasi undangan Home Coming lagi. Huaaa... Lagi tiap hari ke kampus gitu gak ada kangen-kangennya, hehe...

Yang penting sih, ITB Center udah hampir jadi. Gue kemaren jalan sampe kesandung-sandung gitu dong pingin ngeliat. Kemaren-kemaren kan yang tertutup seng dan gue cuma bisa lewat di sampingnya sambil dengerin Berhenti Berharap-nya Sheila on 7 yang liriknya berbunyi sebagai berikut.

Aku pulang tanpa dendam
Kuterima kekalahanku


(I reall did that, once, tidak bermaksud mendramatisir)

Jadi, Aryo, kapan niy kita berdiskusi tentang perbedaan?

07 Juli 2005



Hehehe, ini foto yang mau di-upload kemaren tapi buru-buru jadi gak selesai. Satu dari tiga foto yang gue temuin di organizer lama gue.
Informasi bakal ada dangdut dan lenong begitu cepat menyebar ke seantero pinggiran Jakarta. Dalam perjalanan mencari desa tersebut, misalnya, hampir semua orang yang ditanya tahu benar di mana letak keramaian itu berlangsung.

”Kan di undangan yang dikirim ditulis ada pertunjukan lenong. Makanya dari yang nongkrong-nongkrong sampai sopir angkot juga tahu bakal ada lenong di sini,” kata pengojek yang jadi juru parkir dadakan.
(Lenong Masih Menarik Warga Pinggiran, Kompas, 7 Juli 2005)


Jadi inget lagi itu gue balik dari Jakarta ke Serpong. Di angkot tuh bareng rombongan ibu-ibu gitu yang katanya mo ke kondangan. Tapi mereka gak tau undangannya di mana, yang punya acara siapa. Mereka cuma taunya(kalo gue gak salah inget nih ya), "ada topeng". Maksudnya ada pertunjukan.

Kok bisa sampe gak tau undangannya siapa segala? Jadi si pengantin pria punya sodara, dan sodaranya itu yang ngundang ibu-ibu tersebut di atas. Jadi si ibu-ibu itu kenalnya sama si sodara pengantin prianya, sama pengantin prianya mah enggak. Untuk jelasnya, ibu-ibu itu: 1) Gak bawa undangan, 2) Gak tau nama yang ngundang, which is adalah keluarga bapaknya) pengantin perempuan, dan 3) Gak tau juga nama pengantinnya.

Terus kenapa juga ibu-ibu itu bela-belain dateng? Ya, karena ada pertunjukan itulah.

Seno Gumira Ajidarma dalam salah satu artikel di affair: obrolan tentang jakarta yang gue lupa judulnya bercerita soal hajatan di kampung-kampung yang didahului sama suara petasan renteng (sumpeh, seperti dibahas di artikel itu, dulu juga gue ngira petasan itu suara tentara lagi latihan nembak). Menurut Bapak SGA Yang Terhormat, suara petasan itu pada hakikatnya adalah undangan untuk siapapun yang mendengar.

Jangan lupa dong, kalo bakal ada dangdutan dan layar tancep semalam suntuk. Jangan ngarepin makanan dalam hajatan kayak gini. Yang ada biasanya tukang-tukang dagangan udah stand-by. Soalnya gue pernah kecele, hehe. Biasanya sih di undangannya tercantum 2 hari (iya, 2 hari bukan 2 jam). Siang-siang buat orang tua, dan biasanya ada makanan. Malem-malem buat anak muda, gak ada makanan tapi itulah, dangdut sampe pagi. Jadi kalo tanggalnya Selasa-Rabu, 5-6 Juli ya memang begitulah adanya ;P

Terus gimana dengan ibu-ibu tadi? Mereka turun di suatu tempat yang ada undangan+pertunjukan. Kayaknya bener sih, jadi happy ending deh :)

PS: buat my old pal mulyadi, selamet yee...(nulis ini mengingatkan gue bahwa diriku ketika yang sudah lama berlalu itu tak bisa dateng) maafin, no hard feeling yak. abis ini gue dooong... *wink*

05 Juli 2005

tes...tes...nyobain upload foto directly from my flashdisk (which is sekarang hanya flashdisk biasa berukuran besar dan berkapasitas 128 mega *sigh*)
Kok saya ga dapet sms dari presiden ya? apakah karena:
1. gue tidak diakui sebagai warga negara. soalnya surat pindah dari tangerang udah keluar tapi ktp bandung blum jadi ;P
2. karena gue dianggap tidak akan terjerumus narkoba (is that flattering?)
3. or simply just because my number is prepaid ;P

01 Juli 2005

Reaktor penelitian fusi nuklir skala beneran pertama di dunia akan dibangun di Prancis (BBC News, 28 Juni 2005). Berarti (mudah-mudahan) satu langkah lagi menuju reaktor komersial fusi nuklir pertama di dunia. I think it's great. Tentu. Energi bersih dalam jumlah praktis tak terbatas.

Udah gitu Jan Vande Putte dari Greenpeace International komentar, "With 10 billion [euros], we could build 10,000MW offshore windfarms, delivering electricity for 7.5 million European households." Seriously, windfarm-nya segede apa dan apa gak ngeganggu ekosistem laut? Hehe, sok tau gue. Tapi mungkin dia ada benarnya. "Governments should not waste our money on a dangerous toy which will never deliver any useful energy. Instead, they should invest in renewable energy which is abundantly available, not in 2080 but today."

Ada ide yang berkeliaran di kepala gue beberapa bulan ini. Rada gak nyambung sama yang di atas sih. Di milis Migas sempet rame soal izin PLTN di Indonesia. Gue gak ngikutin banget waktu itu. Pro-kontra sih jelas. Milis tetangga (milis Lingkungan) gue gak langganan karena public. Tapi jelas banyak yang kontra di situ. Salah satunya menyanggah anggapan bahwa kalo ditangani dengan benar, nuklir adalah energi yang bersih.

However, the cleanliness of nuclear power is nonsense. Not only does it contaminate the planet with long-lived radioactive waste, it significantly contributes to global warming.
While it is claimed that there is little or no fossil fuel used in producing nuclear power, the reality is that enormous quantities of fossil fuel are used to mine, mill and enrich the uranium needed to fuel a nuclear power plant, as well as to construct the enormous concrete reactor itself.
(Helen Caldicott, 9/3/2001)


Gimana ya... gue sebenarnya gak terlalu ngerti dan gak bisa bilang pro atau kontra. The thing is, kita (Indonesia maksudnya) butuh sumber energi dengan kapasitas sebesar PLTN. But... there are so many external factors. Terutama politik dan kebijakan dan (mungkin) popularitas. Mungkin kaya kasus GMO (genetic modified organism, u know, the one that dragged sophia latjuba's husband), kasusnya udah di-push secara politis (sama LSM, sebelum bawa-bawa suaminya sophie) sebelum dibahas secara ilmiah.

Gue ngeliatnya gini, Jepang yang trauma bom atom aja punya 52 PLTN. Kalo soal dampak lingkungan nih, hampir semua power plant punya dampak lingkungan. Kecuali angin dan matahari, mungkin, yang sampai saat ini belum ekonomis. Cuma emisi radioaktif lebih serem dari emisi CO2 kali ya.

Untuk kasus Indonesia, gue ngutip dari milis Migas lagi.

Saya cuman kuatir aja, kalau masalah teknologi insyaallah kita mampu, cuman apa ada yang bisa jamin kalau dana pembangunannya nggak dikorupsi yang berdampak thd kekuatan bangunan dan instalasi PLTN tsb.

Hehe, that's exactly what I'm afraid of termasuk juga disiplin soal safety. We don't want someone like Homer Simpson to run our nuclear plant, right? Oh, ok, not as slobby as Homer, tapi kita emang masih lemah soal safety dan disiplin kan?

Dan dunia udah bergerak ke fusi. Indonesia, fusi, kapan ya?

Misalnya nih, sebelum reaktor fusi ini bener-bener running, tau-tau direktur ITER atau kepala lab atau apalah gitu ditemuin mati. Terus ada "perampokan" yang menyebabkan data-data penting ilang. Terus seorang jagoan mirip Keanu Reeves "kebetulan" tau soal pertemuan beberapa komisaris/direktur perusahaan minyak
terbesar di Texas. Trus... Hehehe... *slapme! slap me!*