Allah mendahulukan makhluk-Nya atas diri-Nya.
(Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Metro TV, 30 Oktober 2005)
Tadi pagi saya menulis posting agak panjang dengan lead di atas, tapi setelah tidak menemukan beberapa referensi dan hampir menyinggung BBM untuk ketiga kalinya, saya putuskan untuk membatalkan posting agak panjang itu.
Saya cuma ingin membagi kalimat di atas buat teman-teman yang tidak sempat nonton karena nonton Yuk Sahur Yuk ;P
Allah mendahulukan makhluk-Nya atas diri-Nya. Kenapa? Karena Allah tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan Allah.
How beautiful.
31 Oktober 2005
18 Oktober 2005
Star Power. A few participants receive a greater amount of high-value wealth chips than the other participants; these same participants are also provided the opportunity to change the rules of the game to protect their consolidation of power. The purpose of this game is to have the rules break down, as the disenfranchised powerless participants realize that they cannot win within the structure of the rules and react against their competitors who have abused the power. 2 1/2 - 3 hours. 18 to 35 players. High School - Adult.
Star power adalah simulasi dari kredo "Power tends to corrupt. Absolute power corrupt absolutely." Kalo gak salah game ini disusun oleh Dr. Joseph Jacovino yang entahlah siapa itu, dan... ah, enough with these facts. (in other words, this only what I can find in google, hehe)
Gue pertama dapet game ini pada jaman orde baru, ketika mas-mas dan mbak-mbak angkatan tua itu lagi giat-giatnya menurunkan bapak kita HM Soeharto. Beberapa taun kemudian sesudah jadi angkatan (ke)tua(an) juga, sudah jaman reformasi tentunya, we modify the game a little sebagai materi OSKM 2001. Gue lupa mulainya gimana waktu itu, pada akhirnya tarikannya (alah, ini kosa kata tim materi bangeud!) adalah potensi konflik pada struktur sosial dan ekonomi (cieee gaya ya?). The game was cancelled.*)
Gue teringat game ini lagi hari-hari ini, baca berita ada nenek-nenek meninggal waktu ngantri dana kompensasi, nonton orang-orang menyerbu kantor BPS dan rumah RW di TV, u know, the (un)usual stuff.
Ini sharing national income di Indonesia, dari tulisannya Fadjroel Rachman. Karena dimuat di Kompas kita asumsikan saja benar ;P
Kesadaran itu muncul suatu hari, lebih dari setaun yang lalu ketika memandangi orang-orang berpakaian fantastik-futuristik yang lalu lalang di WTC. Gue berpikir bahwa orang-orang ini adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan begini, yang pertama mengenal elle dan givenchy dari ibu mereka, yang pinjam dasi ysl untuk interviu kerja dari ayah mereka. Lahir-sekolah-kerja-kawin-beranak-mati sebagai kelas menengah (ke atas). Sedangkan orang-orang kayak Darmanto (office boy) ya emang dari lahir, dari bapaknya, dari bapak bapaknya, sampe ke anaknya nanti, ya segitu aja.
Orang-orang fantastik-futuristik ini mungkin (at first) gak dapet pekerjaan se-fancy orangtua mereka, tapi mereka gak akan sampai jadi sampe blue collar. Dan suatu saat mereka dapet suami kaya, atau suatu saat sahabat mereka waktu kuliah mencari partner bisnis, and they make a comeback to the league. Sedangkan Darmanto, setelah dua puluh taun, mungkin bisa jadi staf procurement dengan atasan seorang fresh graduate universitas terkenal yang cabut setelah 6 bulan jadi MT.
Kisah Keluarga Cemara atau Ketika mungkin terjadi... in a land far far away alias nowhere!
Cara untuk lompat kelas harusnya adalah pendidikan, tapi dengan biaya pendidikan semahal sekarang, yeah u know-lah... Walopun ada Irfan (office boy juga, di sarjay) yang sekarang lagi ngambil kuliah malam (keep goin' Fan!). Banyakkah yang kaya Irfan, yang punya motivasi untuk berkembang? Ini masalah kesempatan atau self-motivation?
Tulisan gue basi banget ya?
Empat taun lalu ketika kita membagi kelompok di mana 5 orang makan nasi-ayam, 20 orang makan nasi-tahu-tempe, dan 45 orang cuma dapet air sama apa ya (lupa), kita membayangkan si 45 orang ini pastinya akan berontak dong, sama ketidakadilan semacam itu. Yang gak kebayang adalah, semacam-pemberontakan-yang-sama akan terjadi empat taun kemudian di berbagai tempat di Indonesia demi uang 300 ribu.
*) hahaaa, it's a lot easier to talk about this OSKM jahanam setelah empat taun, sambil makan siang di gelael, bukan begitu wil?
#) btw, earbug pagi ini, "Satukan tinju kita, satu padu!" :)
Star power adalah simulasi dari kredo "Power tends to corrupt. Absolute power corrupt absolutely." Kalo gak salah game ini disusun oleh Dr. Joseph Jacovino yang entahlah siapa itu, dan... ah, enough with these facts. (in other words, this only what I can find in google, hehe)
Gue pertama dapet game ini pada jaman orde baru, ketika mas-mas dan mbak-mbak angkatan tua itu lagi giat-giatnya menurunkan bapak kita HM Soeharto. Beberapa taun kemudian sesudah jadi angkatan (ke)tua(an) juga, sudah jaman reformasi tentunya, we modify the game a little sebagai materi OSKM 2001. Gue lupa mulainya gimana waktu itu, pada akhirnya tarikannya (alah, ini kosa kata tim materi bangeud!) adalah potensi konflik pada struktur sosial dan ekonomi (cieee gaya ya?). The game was cancelled.*)
Gue teringat game ini lagi hari-hari ini, baca berita ada nenek-nenek meninggal waktu ngantri dana kompensasi, nonton orang-orang menyerbu kantor BPS dan rumah RW di TV, u know, the (un)usual stuff.
Ini sharing national income di Indonesia, dari tulisannya Fadjroel Rachman. Karena dimuat di Kompas kita asumsikan saja benar ;P
| 2002 | 2003 | 2004 |
| Highest Income (20%) Moderate Income (40%) Lowest Income (40%) | 42,19% 36,89% 20,92% | 42,33% 37,1% 20,57% | 42,07% 37,13% 20,8% |
Kesadaran itu muncul suatu hari, lebih dari setaun yang lalu ketika memandangi orang-orang berpakaian fantastik-futuristik yang lalu lalang di WTC. Gue berpikir bahwa orang-orang ini adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan begini, yang pertama mengenal elle dan givenchy dari ibu mereka, yang pinjam dasi ysl untuk interviu kerja dari ayah mereka. Lahir-sekolah-kerja-kawin-beranak-mati sebagai kelas menengah (ke atas). Sedangkan orang-orang kayak Darmanto (office boy) ya emang dari lahir, dari bapaknya, dari bapak bapaknya, sampe ke anaknya nanti, ya segitu aja.
Orang-orang fantastik-futuristik ini mungkin (at first) gak dapet pekerjaan se-fancy orangtua mereka, tapi mereka gak akan sampai jadi sampe blue collar. Dan suatu saat mereka dapet suami kaya, atau suatu saat sahabat mereka waktu kuliah mencari partner bisnis, and they make a comeback to the league. Sedangkan Darmanto, setelah dua puluh taun, mungkin bisa jadi staf procurement dengan atasan seorang fresh graduate universitas terkenal yang cabut setelah 6 bulan jadi MT.
Kisah Keluarga Cemara atau Ketika mungkin terjadi... in a land far far away alias nowhere!
Cara untuk lompat kelas harusnya adalah pendidikan, tapi dengan biaya pendidikan semahal sekarang, yeah u know-lah... Walopun ada Irfan (office boy juga, di sarjay) yang sekarang lagi ngambil kuliah malam (keep goin' Fan!). Banyakkah yang kaya Irfan, yang punya motivasi untuk berkembang? Ini masalah kesempatan atau self-motivation?
Tulisan gue basi banget ya?
Empat taun lalu ketika kita membagi kelompok di mana 5 orang makan nasi-ayam, 20 orang makan nasi-tahu-tempe, dan 45 orang cuma dapet air sama apa ya (lupa), kita membayangkan si 45 orang ini pastinya akan berontak dong, sama ketidakadilan semacam itu. Yang gak kebayang adalah, semacam-pemberontakan-yang-sama akan terjadi empat taun kemudian di berbagai tempat di Indonesia demi uang 300 ribu.
*) hahaaa, it's a lot easier to talk about this OSKM jahanam setelah empat taun, sambil makan siang di gelael, bukan begitu wil?
#) btw, earbug pagi ini, "Satukan tinju kita, satu padu!" :)
12 Oktober 2005
Why do I love it so much?
What kind of magic is this?
How come I can't help adore it?
It's just another musical
No one minds it at all
If I'm having a ball
This is a musical
And there's always someone
To catch me
There's always someone to catch me
There's always someone to catch me
There's always someone to catch me
When you fall
(Björk. In The Musicals. OST Dancer in The Dark)
Ever feel like being in a musical?
Hmm... cobain deh sekali-sekali.
Tadi sambil jalan, dengerin Mimpi dan Rumah Ketujuh (soundtrack bagus dari film jelek Rumah Ketujuh). Kaya mobil-mobil yang lewat bergerak dalam konfigurasi tertentu, dan orang-orang yang jalan seperti menari. Dan ketika masuk ke kantor, pas lagunya brenti, seperti entrance.
Hehe, really... I only had a cup of coffee this morning, not enough to make me drunk ;P
What kind of magic is this?
How come I can't help adore it?
It's just another musical
No one minds it at all
If I'm having a ball
This is a musical
And there's always someone
To catch me
There's always someone to catch me
There's always someone to catch me
There's always someone to catch me
When you fall
(Björk. In The Musicals. OST Dancer in The Dark)
Ever feel like being in a musical?
Hmm... cobain deh sekali-sekali.
Tadi sambil jalan, dengerin Mimpi dan Rumah Ketujuh (soundtrack bagus dari film jelek Rumah Ketujuh). Kaya mobil-mobil yang lewat bergerak dalam konfigurasi tertentu, dan orang-orang yang jalan seperti menari. Dan ketika masuk ke kantor, pas lagunya brenti, seperti entrance.
Hehe, really... I only had a cup of coffee this morning, not enough to make me drunk ;P
11 Oktober 2005
Sebuah SMS melemparkan saya pada melankoli. Melankoli yang rasa-rasanya bukan masa lalu, tapi mungkin juga masa lalu. Mungkin saya lagi sensitif. Seperti ketika tadi malam saya nonton lagi Dancer in The Dark dan berurai air mata. Tentu karena filmnya bagus sekali (bukan begitu saudara Soe Hok Gar dan Abang Sporty?)
Kadang-kadang satu langkah rasanya berat. Apa saya ada di masa lalu? Apa saya diam saja? Apa saya sudah melompat tapi saya gak sadar? Atau—lebih parah lagi—apa saya tidak bergerak ke mana-mana tapi saya tidak sadar?
Kadang-kadang satu langkah rasanya berat. Apa saya ada di masa lalu? Apa saya diam saja? Apa saya sudah melompat tapi saya gak sadar? Atau—lebih parah lagi—apa saya tidak bergerak ke mana-mana tapi saya tidak sadar?
Langganan:
Postingan (Atom)