SC Barat ITB, 2001. Beberapa wartawan lokal mengerumuni sosok berambut putih yang tampak lelah namun tetap berkharisma itu. Saya ada di antara mereka, terlalu gugup dan tidak berpengalaman dan kagum untuk mengajukan pertanyaan.Waktu itu suhu politik nasional sedang genting. Demonstrasi menuntut Gus Dur turun sedang marak-maraknya. Wartawan-wartawan beneran itu tentunya menanyakan hal itu, juga kemungkinan Nurcholis Madjid—Cak Nur—sosok kharismatik itu mencalonkan diri menjadi presiden. Semua dijawab dengan lugas dan fair.
Saya tidak tau banyak tentang pemikiran Cak Nur. Saya belum baca buku-bukunya. Tapi saya sependapat dengan apa yang disampaikan beliau pada diskusi sebelumnya, tentang kita, tentang Indonesia, tentang analogi orang-padang-software-dan-orang-jawa-hardware (dan ketika beliau tertawa waktu Rio teriak "Virusnya Orang Batak, Pak).
Mungkin ini adalah ingatan yang terlalu gak penting tentang sekali-kalinya saya ketemu Cak Nur.
Sama tidak pentingnya, tapi saya ingin bilang, saya berduka dan kehilangan.
