31 Agustus 2005

SC Barat ITB, 2001. Beberapa wartawan lokal mengerumuni sosok berambut putih yang tampak lelah namun tetap berkharisma itu. Saya ada di antara mereka, terlalu gugup dan tidak berpengalaman dan kagum untuk mengajukan pertanyaan.

Waktu itu suhu politik nasional sedang genting. Demonstrasi menuntut Gus Dur turun sedang marak-maraknya. Wartawan-wartawan beneran itu tentunya menanyakan hal itu, juga kemungkinan Nurcholis Madjid—Cak Nur—sosok kharismatik itu mencalonkan diri menjadi presiden. Semua dijawab dengan lugas dan fair.

Saya tidak tau banyak tentang pemikiran Cak Nur. Saya belum baca buku-bukunya. Tapi saya sependapat dengan apa yang disampaikan beliau pada diskusi sebelumnya, tentang kita, tentang Indonesia, tentang analogi orang-padang-software-dan-orang-jawa-hardware (dan ketika beliau tertawa waktu Rio teriak "Virusnya Orang Batak, Pak).

Mungkin ini adalah ingatan yang terlalu gak penting tentang sekali-kalinya saya ketemu Cak Nur.

Sama tidak pentingnya, tapi saya ingin bilang, saya berduka dan kehilangan.

26 Agustus 2005

Ya, anak-anak. Beginilah nasib orang-orang yang suka menunda pekerjaan sampe saat terakhir.

Hmmpf! I really thought I'd have a relax week. Gue pikir minggu ini gak bakal banyak kerjaan (di luar kantor) sehingga gue bisa fokus ngerjain skrip CP yang sudah agak lama terbengkalai. But nooo... Kerjaan yang gue pendem dan kerjaan baru datang menghantui bikin stres. Udah gitu di kantor lagi nyusun dokumen AMDAL. Catat ya, dokumen. Berarti gue harus menghabiskan banyak waktu di depan komputer. Artinya di kantor ngetik, di rumah ngetik :(

Gue pernah bilang sama Vira kalo gue gak mau menjadikan nulis sebagai pekerjaan. Writing is my runaway, my catarsist. But what can I say, I should make even my laptop, right ;P

Yaa gitu deh. Bangun jam dua, sholat isya (sengaja gak sholat biar kebangun), bikin kopi, nyalain kompie dan blank.

Agak melankolis (gue benci kalimat "Saya merasa sedikit melankolis malam ini" udah diambil Soe Hok Gie). Mendengarkan guilty pleasure, istilah jenial-nya Eka.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
'Tuk hapuskan semua sepi di hati


Entah kenapa jadi kangen Jakarta. Entah bagian mana yang dikangenin. Mungkin malam-malam di Prapanca. Mungkin ngobrol sama Pak Har dan gue sok you know tentang lagu-lagu '70-an (I do love seventies, but I do not know that much). Mungkin KRL, mungkin busway, mungkin sore di Merdeka Selatan, mungkin Blok M, tempat gue sering denger lagu itu.

Baru inget kalo Andri ngasih flash game cupu-cupu. Lumayanlah, daripada spider solitaire mulu. Hehe, thank's banget ya Ndri.

Yang ada sekarang ngantuuuk. Padahal ntar sore mo ngedit sama Sonny. Enaknya mampir di Circle-K dulu beli kopi kali ya? (Inget posting ini? ouch! gue liat lagi dan ternyata... sudah, sudah ah!)

24 Agustus 2005

...and my ties are severed clean
the less I have the more I gain
off the beaten path I reign
rover wanderer
nomad vagabond
call me what you will

but I'll take my time anywhere
I'm free to speak my mind anywhere
and I'll never mind anywhere
anywhere I may roam
where I lay my head is home


earbug pagi ini. ugh! i'm so f**kin messed up this week

18 Agustus 2005

peta MRT Jakarta Dapet link ini dari milis (alah, lupa milis apa. gara2 gmail gue ngadat kemarin)

Sebenarnya ngapain juga gue masih pusing sama transportasi Jabotabek yak ;P Setaun ini sih masih bolak-balik Jakarta, abis itu ntah. But still I'm curious. Tining, lo kan bekas panitia (alah, keukeuh) busway. Any comment?
Sometimes I get tired of this me first attitude
You are the one thing that keeps me smiling
That's why I'm always wishing hard for you

Cause your life shines so bright
I don't feel no solitude
You are my first star at night
I'd be lost space without you

And I'll never lose my faith in you

-for those who i used to count on: well, dream has to end sometimes

(words by Lighthouse Family)

10 Agustus 2005

Bocah SD itu melangkahkan kakinya. Sarungnya ia selempangkan di salah satu bahu. Begitulah kebiasaannya setiap Maghrib. Setiap azan menggema, ia bergegas ke masjid di bilangan timur Jakarta itu. Hanya, pada sore itu, ia melihat ada yang tak lazim baginya. Di halaman masjid terlihat beberapa batu persegi panjang yang ditumpuk di pikulan. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai batu asah atau ungkal. Sebuah batu yang dipakai untuk mengasah pisau di masa lalu.

Di awal abad 21 ini, batu itu ternyata masih dijual. Di tengah kota Jakarta pula. Sang penjaja, masih menjualnya seperti di masa-masa lampau. Yakni, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain dengan memikulnya. Siapa yang akan membeli? Berapa rupiah pula orang mau membayar harganya? Siapa yang masih merasa perlu batu buat mengasah pisau, ketika pisau yang baru pun dapat dibeli dengan harga yang murah. Bocah SD itu pun sudah tak tahu apa guna batu yang berwujud seperti bata tadi. Tapi, si pedagang ungkal itu tampaknya tak punya kata putus harapan.

(Ungkal. Zaim Uchrowi. 2004)

Kemarin sore di angkot Margahayu-Ledeng ada bapak-bapak tua yang jualan abu gosok. Abu gosok, hari geneee? Masih ada yang pake ternyata, walopun ada Khrisna Mukti yang mempromosikan sabun cuci sendok untuk semua cucian, juga sabun colek merk jaipong. Bapak itu jualannya di Lembang, sementara rumahnya deket RS Al Islam. Berarti daerah Soekarno-Hatta sana, alangkah jauhnya...

Gak kebayang deh gue, itungan ekonominya gimana. Mungkin gak seekstrim Bapak Ungkal di atas ya. Seenggaknya abu gosok kan barang consumable. Dan bukan buat nyuci piring aja kan? Seenggaknya bisa buat bikin telor asin.

Toh pengalaman di atas tidak membuat saya menahan diri ketika nemu CSD di Pustakalana. Edisi aslinya, tanpa Nicholas Saputra dan logo A-Mild. Satu-satunya yang berhasil saya lakukan cuma merayu Hamdan sehingga bisa bayar dua kali, hehe.

Kesimpulan setelah baca beberapa halaman: Kalo Soe Hok Gie hidup sekarang, dia pasti nge-blog.