28 Mei 2005

Sandra menggeser piringnya yang udah licin lalu mereguk coke-nya. Dengan gerakan yang udah dilatihnya bertaun-taun dia melirik jam tangan orang di depannya. Baru jam satu seperempat. Dia terusin baca The Firm-nya. Mitch harus pergi ke Washington untuk seminar pajak atau apalah.

Sementara itu kasetnya berputar pelan dalam walkman.

“It tastes like fear...,” gak sadar dia ngikutin suara Michael.

The Firm masuk ke bagian yang membutuhkan konsentrasi tinggi, ketika Mitch ketemu sama Denton Voyles, direktur FBI, di DC.
Tiba-tiba dia ngerasa ada yang aneh. Dia mengangkat mukanya. Orang di depannya, yang tadi dia intip jam tangannya, lagi merhatiin dia. Orang itu langsung ngebuang muka. Sandra berusaha mengingat-ingat orang itu, kali-kali pernah kenal di mana. Mula-mula dia ngebayangin Tom Cruise. Tapi, enggak ah.

(me, tanpa judul, 1999)


Kemarin itu di asrama gue lagi sikat gigi. Naili di sebelah gue entah lagi ngapain. Tau-tau dia bersenandung[1] pelan.

"Hearts and thoughts they fade... Fade... away..."[2]

Tanpa menoleh (biar dramatis kaya di film-film gitu) gue nanya, "Suka Pearl Jam juga?"

Dia jawab, "Banget..."

 

[1] No... not as in "Dendy tidak pernah bersenandung" Hehe, roaming ya?


[2] Dari Elderly Woman Behind The Counter in A Small Town, album Vs, 1994.

22 Mei 2005

Salah satu adegan paling memiriskan dalam film Indonesia, IMHO, adalah adegan di akhir film Cemeng 2005 (N. Riantiarno) di mana Nur Katonah berkeliling keluar-masuk gang-gang kecil ditemani Wak Bandri. Sang bekas primadona yang biasa berdandan cantik kini memakai hiasan bunga dari kertas. Gamelan lengkap diganti tape butut bersuara sember.

Edan! That scene gave an unpleasant feeling, just there in my stomach. Nyesek banget!

Trus gitu, gue kan lagi di Depok nih, Diklat Prajabatan Calon Pegawai Negeri Sipil (cieeh...) Hari Jumat kemaren gue lagi latihan upacara dong (bwahahaha!) denger suara musik trang-trung-trang-trung gitu kirain topeng monyet. Ternyata rombongan penari keliling gitu. Cokek kali ya? (gue gak apal dandanannya dan gue juga gak pernah liat cokek sih. tapi yang jelas bukan topeng cirebon) Ya gitu deh, yang nari masih anak-anak, mukanya didandanin merah banget kaya abis ditonjok merata. Tapi narinya masuk-masuk gitu, gak keliatan dari tempat kita. Dan gak usah berpikir bahwa mereka berupaya keras melestarikan kebudayaan tradisional deh. Lagu keduanya Cucak Rowo kok (hehe, itu lagu tradisional bukan sih, btw?)

Ya gitu aja sih, langsung mengingatkan gue sama adegan yang gue cerita di atas.

07 Mei 2005

Akhirnya blogging juga. Blumen lambat gini kalo Sabtu pagi yak.

Mo cerita apakah? Not much, macam kerikil-kerikil yang ganjel di sepatu aja.

Seperti... Oh iya! Pernah ngalamin saat-saat absurd dalam hidup? Saya kadang-kadang. Kalo mau, cobain ke Kampoeng Dago 1 jalan kaki deh. Jalan pintasnya lewat kuburan gitu. Pertama lewat situ gue malah nyengir-nyengir sendiri. Asa surreal gini.

Balik dari situ kemaren sama Sonny dan Ilang. Lewat Cisitu Lama, percakapannya gini.

S: Nu bieu baheula imah urang tah.
I: Nyaan? Lahir di dinya maneh?
S: Lahir mah di Dayang Sumbi. Terus basa leutik ulin di Taman Ganesa. Geus gede kuliah di dinya oge, digawe di dieu. Memang geus ditakdirkeun jadi urang Bandung.

Gue nyengir aja di bangku belakang. Gue sampe umur satu taun tinggal di Cisitu. TK di Cisitu. SD sih "jauh", di Cihampelas. Pindah Serpong, kuliah di Ganesa. Kerja balik lagi ke Cisitu. Naha urang Cisitu mania sugan? ;P

Oh yeah, saya mau menghilang nih sebulanan. Tungguin foto-foto cupu gue bulan depan yak! (kalo ada seeh)

05 Mei 2005

Hmm... tentang Janji Joni dan waktu internal dan Kompas.

Emang sih, gue nulis posting Janji Joni itu setelah baca Kompas. Tapi sebenarnya sih kalopun gak baca, gue akan tetap mempermasalahkan ketidaksesuaian waktu. Cuma mungkin istilahnya bukan "waktu internal" kali ya.

Dari gue sendiri sih dasarnya adalah pengalaman berada di sisi situ. Maksudnya jadi orang yang melaksanakan suatu pemutaran film. Walopun bukan bagian nganter-nganternya, toh gue ngerasain gimana tegangnya kalo rol udah mau abis, gimana nungguin orang buru-buru nge-rewind film (pake rewinder manual, hehe), gimana kalo rol film jatuh dan harus diulur sampe 20 meter untuk digulung lagi. Gue ngerasain tuh, walopun selama enam taun di LFM gue cuma sekali jadi teknik (hehe, sue me!).

Jadi... dari situlah gue (bukan Kompas) bilang bahwa waktu di film itu agak janggal. Gue cuma gak bisa (atau males) ngebahasain kejanggalan yang cuma feeling itu pake bahasa yang sistematis dan dimengerti orang lain. Jadi ya udah, pinjem bahasannya Kompas aja. Toh maksudnya sama ;P

Masalahnya adalah, kejanggalan itu bisa diterima apa enggak? Untuk urusan ini gue senang sekali mengutip JB Kristanto—unfortunately seorang wartawan Kompas yang lain (Badu pasti ketawa, minimal nyengir, liat saya ngutip ini lagi).

"Logika dalam" ini datang saat sang pencipta mengawali ciptaannya dalam bentuk apa pun. Ia bisa berimajinasi berupa karakter satu tokohnya, bisa juga plot sebuah cerita, sebuah masalah tertentu, sebuah citra tertentu atau sebuah gambar tertentu. Begitu sudah menetapkan awalan tadi, maka tercipta pulalah sebuah logika tertentu, yang secara teori tetap berpatokan pada ilmu logika umum. Pada saat itu, sang pencipta tidak lagi bebas. Ia harus mematuhi konsekuensi logis dari yang sudah ditetapkan sebelumnya. Ia tidak lagi bisa semena-mena memperlakukan tokoh ciptaannya, atau jalan cerita yang sudah disusun awalannya. Ini merupakan hukum umum dan dasar penciptaan karya seni dari jenis apa pun. Hal ini pula yang menyebabkan perlunya ada penelitian khusus dan mendalam mengenai apa yang diperlukan sampai ke soal-soal yang sangat sepele sekali seperti jenis tata rambut, pakaian, tingkah laku, dan lain-lain.
(JB Kristanto. Film Indonesia dan Akal Sehat. 2001)

Apa Janji Joni melanggar "logika dalam" itu?

Kata gue, iya.

Apa bisa diterima?

Kata gue lagi, bisa. Kenapa bisa? Hehe, pokoknya bisa aja.

Mungkin bisa karena kejanggalan itu mungkin (mudah-mudahan) tidak dirasakan semua orang. Mungkin bisa karena kejanggalan itu adalah perpanjangan dari ide dasar film ini. Mungkin bisa karena, overall, film ini komikal banget kok. Mungkin bisa karena—walaupun mungkin gak sopan membandingkan Janji Joni sama Citizen Kane—film sekelas Citizen Kane sekalipun mengandung kesalahan logika dalam (baca budibadabadu: senja truman yang lain).

Dan yang jelas sangat BISA sekali karena gue SUKA film ini, hehehe :D

NB: ngomong2 soal JB Kristanto, ada yang mau minjemin scanner+ocr untuk proyek demi kemajuan database perfilman indonesia? ;P

04 Mei 2005

We hate it when our friends become successful
Oh, look at those clothes
Now look at that face, it's so old
And such a video !
Well, it's really laughable
Ha, ha, ha ...

-Morrissey. We Hate It When Our Friend Become Successful

Gara-gara Eka nih jadi dengerin Morrissey mulu (hehe salahin aja yang gak ada)

Morrissey dan deadline, serasa malam-malam di Prapanca ;P
(ini posting daripada gak posting posting, eh?)