28 Februari 2005

Kongres, ritual taunan LFM yang kayanya makin stressing dari taun ke taun bagi peserta resminya tetapi selalu menyenangkan bagi cacamarica-ers seperti saya ;)

Taun ini tempatnya di Villa Manis Cihideung (bukan Paniisan *hiks*) dan kami datang: gue, Edo, Aswin, Wildan, Bret. Tentunya ada yang lain-lain juga, tapi mereka kan kru *wink* Seru juga sih, terlalu seru kali sampe berkali-kali ditegur dari bawah supaya gak ribut, dan akhirnya kita dikarantina di kamar dan teteup aja masih ribut. Beberapa kruba beruntung sempet dapet pendidikan organisasi dari mafia, mmm... sapa aja yah: Rani (she refused to change her name), Risa (?), Annisa, Icha-Dua aka Icha SBM (Icha-Satu FULL). Thanx yak (juga untuk kruba-kruba lain) sudah membuat senang mafia.

Memorable quotes:

"Kalo jauh dianggap jomblo."
(Kaka Jelek)

"Gue tau kalian akan membahas soal kecerdasan dan wawasan, jadi gue akan menyoroti dari sisi lain, mmm... Idungnya bagus."
(Mas Abang Sporty)

26 Februari 2005

Pada tanggal tersebut di atas... dan jam tersebut di bawah... ketika gue nangkring depan elizabeth, duduk-duduk sama Fikri, Ardi & Ardi, Mamin, nonton mobil-mobil yang lewat jalan cihampelas, menyaksikan satu fragmen "kekerasan dalam rumah tangga" (yang lalu nyasar dikit jadi small chat tentang feminisme), yang melintas di kepala gue adalah:
"Kok gue di sini ya?"

24 Februari 2005


Berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya budayawan Kuntowijoyo di Yogyakarta, Selasa, 22 Februari 2005. Semoga Allah menempatkannya di taman yang penuh bunga-bunga.

22 Februari 2005

Mungkin kebetulan, mendengarkan sebuah lagu dari masa lalu :)

Has our conscience shown?
Has the sweet breeze blown?
Has all the kindness gone?
Hope still lingers on.
I drink myself of newfound pity
Sitting alone in New York City
And I don't know why..don't know why..

Are we listening
To hymns of offering?
Have we eyes to see
That love is gathering?
All the words that I've been reading
Have now started the act of bleeding
Into one...into one..

So I walk up on high
And I step to the edge
To see my world below.
And I laugh at myself
While the tears roll down.
'Cause it's the world I know.
Oh it's the world I know.

(Collective Soul. The World I Know)

19 Februari 2005

Online dari Rumah Lagi, Yaay! Kemaren-kemaren-kemaren, line-nya yang ngaco. Line-nya bener, kompie-nya yang rusak. Hehe, aturan gue sedih sih. Kompie di-format ulang tanpa gue sempet nge-back up tea *snif* Kalo diitung-itung ga banyak siy, tapi teteup...

Untung cover buku corat-coret film ada di flashdisk. Males ngerjainnya lagi kalo ilang. Trus yang buat TA-nya Didit masih ada di folder Sent-nya layarkata gue. Lumayan...

Gue gak terlalu sedih karena... kayanya udah kelamaan stuck dengan ide yang itu-itu aja. Gak pa-pa deh mulai dari awal, itung-itung format ulang otak gue ;P

Oh yeah, thanx to Andrey for helping me with the connection :) Pokonya saya senang. Hmm... I must've done something nice in my previous life (maafkan, kebanyakan nonton FRIENDS neeh...)

Soundscape.

sound·scape (sound'skāp')
n.
An atmosphere or environment created by or with sound: the raucous soundscape of a city street; a play with a haunting soundscape.
(Answers.com)

Coba bangun jam empat pagi, mungkin lo akan berpikir bahwa dunia ini sepi sekali. But try to listen carefully. Mungkin akan terdengar bunyi tetesan air dari keran yang lupa dimatikan, keretak langkah pelan anjing tetangga yang menginjak kerikil, suara kodok yang sember (hehe, gue musuhan sama kodok di dini hari), mungkin bahkan lamat suara orang mengaji dari masjid terdekat.

Cobalah siang hari di Jakarta, dengarkan derum kendaraan tak henti-henti, klakson saling menyahut, kondektur bis yang gak bosen-bosen teriak, "Blok M, Blok M, masih kosong!", pengamen yang membawakan Ada Apa Denganmu, obrolan wajib esmud "makan di mana siang ini", mungkin juga suara bor beradu dengan aspal yang bikin stres.

Gue pernah baca tentang soundscape ini di sebuah kolom entah di mana, lupa. Dan teringat lagi ketika gue mencoba menikmatinya, beberapa hari yang lalu di KRL.

Bulan-bulan terakhir ini, karena jadwal yang sialan itu gue jadi terpaksa pulang-pergi naik kereta AC yang dingin dan... garing. So kalo gak ada temen ngobrol gue lebih sering tidur atau dengerin MP3. Tapi kemaren itu gue pulang-pergi naik KRL ekonomi dan menemukan bahwa MP3 player gue gak berguna. Lebih asik menikmati soundscape. Orang jualan ("Tahu berhadiah... tahu berhadiah cabe..."), ocehan dan celetukan karyawan-pulang-kerja dan anak-anak pulang sekolah (hey, we're one big happy KRL family), dan tentunya rombongan pengamen Tanah Abang lengkap dengan bas betot-nya yang menuh-menuhin jalan (gue penggemar lho...), semua dengan latar suara ritmis-monoton kereta menggilas rel.

So... maybe sometimes you need to turn off your winamp for a while and listen to the soundscape.

16 Februari 2005

Anjeli.

Titik-titik hujan
Masih membahasahi
Kala kau menyapa
Pelangiku...

(Sherina. Pelangiku)

Tiba-tiba saya ingat Anjeli. Anjeli, who?

Namanya pasti bukan Anjeli, karena dia pasti lahir sebelum film Kuch Kuch Hota Hai booming. She was a little girl from Padasuka, Bandung.

Jadi ceritanya, balik ke taun 2000, LFM ngadain Festival Seni Anak Indonesia. Salah satu acaranya adalah konser Sherina kerja sama dengan Saung Angklung Mang Udjo. Cuma tentunya gak mungkin kan Sherina yang tinggal di Jakarta berminggu-minggu tinggal di Bandung untuk latihan sama anak-anak Saung Udjo. Jadi, untuk latihan ada satu anak yang menggantikan Sherina sebagai vokalis. Gak tau siapa namanya, tapi kita manggilnya Anjeli karena dia suka pakek bandana lebar kayak Anjeli.

Suaranya bagus juga. Sebagai stand-in Sherina, sangat tidak mengecewakan. Mungkin kalo waktu itu taun 2004, kita suruh ikutan AFI junior ;P Sekarang sih mungkin udah SMA kali ya?

Tiba-tiba aja, mendengarkan Sherina dalam perjalanan bis Bandung-Jakarta, saya ingat Anjeli.

Anjeli, apa kabar?

Another Piracy Story. Yeah, gue tau bahwa pembajakan DAN membeli barang bajakan bukan perbuatan ber-etika, tapi kadang-kadang masih ada keinginan gue agar barang bajakan itu "dihargai". Hehe, ini kalimat paradoks ya?

What can I say... tadi siang gue nemu CD MP3 The Doors vs The Corrs. Astagi... Jim Morrison bisa bangkit dari kubur kalo gini sih ;P

15 Februari 2005

The heart is a bloom, shoots up through stony ground
But there's no room, no space to rent in this town
You're out of luck and the reason that you had to care,
The traffic is stuck and you're not moving anywhere.
You thought you’d found a friend to take you out of this place
Someone you could lend a hand in return for grace

IT'S A BEAUTIFUL DAY!


(U2. Beautiful Day)

10 Februari 2005

Meg Ryan dan Valentine

You could have been anyone at all
A stranger comin' out of the blue
I'm so glad it was you

(Carole King. Anyone At All)

Menjelang valentine yang 14 Februari (atau 14 Februari yang valentine?) wajah segar Meg Ryan dengan senyum pepsoden dan kernyitan dahi khas-nya seolah jadi menu wajib stasiun TV. Seorang teman bahkan memasang reminder "Sleepless in Seattle!" di ponselnya, lengkap dengan ikon hati yang sumpah-terlalu-centil untuk seorang cowok (dan Candil mungkin akan bernyanyi, "Cowok juga manusia... Punya rasa punya hati")

Ugh, ok, kembali ke Meg Ryan. Terlepas dari pertimbangan bisnis bahwa film-film Meg Ryan yang sudah agak lama harganya tentu sudah tidak terlalu mahal, ibu yang satu itu memang ikon untuk komedi-romantis. Nomer satu di hati saya masih When Harry Met Sally... Itu film fenomenal! Tapi saya masih terkantuk-kantuk nungguin ending-nya You've Got M@il dan tentunya... kelewat ;P

Setelah Meg, siapa ya? Cameron Diaz atau Sandra Bullock? Cameron sempat mencuri perhatian lewat There's Something About Mary dan lalu, tentu saja, dia jadi salah satu bidadarinya Charlie. Sandy sempat jadi kandidat kuat, tapi, ah, yang kena di hati saya cuma While You Were Sleeping.

So, who' next? Maybe... Renée?
Jakarta-1. Untuk merayakan hari terakhir bekerja di Jakarta, gue beli affair: obrolan tentang jakarta, kumpulan tulisan Seno Gumira Ajidarma. Walopun cukup suka, I'm not really a fan of SGA. Tapi buku itu benar-benar luar biasa, gue tadinya cuma mo baca satu-dua tulisan dan tau-tau gue sudah menyelesaikan buku itu! Sambil nyengir sendiri, tentunya. "Siaul! Bener juga ya. Kok tau sih?"

Sebagian besar tulisan (saya belum bisa mengenali "esai" dan apakah "kolom" itu hanya mengacu pada penempatan dalam surat kabar karena toh ada istilah kolumnis dan apakah "catatan pinggir" itu boleh dipakai untuk bentuk tulisan lain atau ekslusif milik seorang Goenawan Muhamad?) di buku itu diambil dari majalah Djakarta!, sebuah majalah dengan segmen kelas A, A-class wannabees, dan segelintir pengunyah kebudayaan seperti badu teman saya (tentunya di Timbuktu, struktur sosialnya agak sedikit berbeda). Gue sendiri sering merasa terpinggirkan-atau meminggirkan diri-di Jakarta, tidak termasuk dalam kelas A, B, C yang gue pahami. Seorang teman punya pengkategorian yang bagus:
- Indonesian Idol itu kelas A
- AFI itu kelas B
- KDI itu kelas C

Ah, jangan-jangan gue termasuk A-class wannabees juga, sehingga gue bisa menghayati banget buku itu sekaligus menertawakan diri sendiri.
What's The Frequency, Kenneth? Gue langsung jatuh cinta waktu pertama kali denger lagu ini, dan jatuh cinta sama Michael Stipe waktu liat videoklip-nya ;P Lagu ini powerful banget. Gue suka banget. Sempet denger juga entah di mana soal cerita-di balik-lagu-nya.

Beberapa minggu yang lalu cerita-di balik-lagu ini muncul di Tempo. Beritanya sih tentu tidak tentang lagu itu, tapi tentang Dan Rather, pembawa berita 60 Minutes yang bermasalah dengan sebuah dokumen tentang Presiden Bush yang diduga palsu. Ternyata Rather adalah inspirasi dari lagu tersebut.

Oktober 1986, di Park Avenue, Manhattan, Rather diserang dan dipukuli seseorang yang berulang-ulang berseru "Kenneth, what is the frequency?" Saking anehnya kejadian itu, "Kenneth" sempat jadi istilah untuk seseorang yang tidak jelas. Belakangan setelah pelakunya diidentifikasi, ternyata yang diucapkan bukan "Kenneth" melainkan "Goniff, what's the frequency?" Dalam bahasa Yahudi, goniff berarti pencuri atau orang yang tidak jujur. Masih aneh juga ya? (diringkas dari Terjungkal Karena Warta, Tempo, 23 Januari 2005, Akmal Nasery Basral)

For more stories, click here or here
Jakarta-2. Kayanya ini masalah persepsi, obrolan gue dan Shafiq pada malam setelah gue nyerahin surat pengunduran diri gue. Kita ngobrol tentang Jakarta dan ketika Shafiq bilang load kerjanya gila-gilaan, suasananya bikin stress, dan macetnya kaya neraka, gue bilang, “Gue senang kerja di Jakarta.”

Dan terus gue ketawa. “Gue gila ya?”

Setelah gue pikir-pikir, gue tidak cinta Jakarta.

At least, not exactly. Gue dan Jakarta punya love/hate relationship yang terbangun atas momen. Saat.

Saat gue turun tangga di Stasiun Tanah Abang, mendengarkan orkes klakson dan berkata ke diri gue sendiri, “Welcome to Jakarta.”
Saat gue ngobrol sama Pak Pulisi sambil mendengarkan orang demo di BI.
Saat gue melihat pekerja konstruksi tanpa PPE dan melanggar semua peraturan K3.
Saat gue diwawancara sepanjang perjalanan Kedoya-Kemang sambil berpikir, “Do I really want this job?”
Saat gue liat matahari sore bergerak pelan di latar gedung-gedung bertingkat.
Saat gue liat citylight dari meja Ady di lantai 10.
Saat gue lewat Jalan Sudirman yang luar biasa lengang di Sabtu jam dua pagi.

Those countless moments. Those moments that I love/hate. Those moments that I’m gonna miss.
You Can Have It All atau You Can’t Have It All? Lagu jaman SMA yang gue cariin gak ketemu-ketemu.

Dengan semangat YOU CAN have it all gue tinggalin offline-message buat seorang teman, yang dibalas dengan kabar bahwa proyek yang harusnya mulai pertengahan Februari ditunda sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Well, kalo waktu-yang-tidak-dapat ditentukan itu ngelewatin waktu gue mulai kerja, guess I CAN’T have it all, then.

Seorang teman Sabtu kemarin just HAVE IT ALL. Buat Christy dan Wida, selamat ya!
Farewell.

But it’s you and
Me... are will... always...
Be together!
You and me... always...
And forever!

(The Wannadies. You And Me Song)

06 Februari 2005

My only
The answer to the night so lonely
You will always be my one and only
My only...

(lagunya siapa ya, lupa)

Sesiangan hangin sama anak-anak Colliers—sebab kapan lagi?* Ketemuan di nikahannya Deva, trus karena tadinya gue mo ke Crowne Plaza, minta anter Dani ke Semanggi dan akhirnya kita malah muter-muter Plangi ;P Nyari sendal (cos Mbak Lila pakek high heel gitu) dan tentunya gak dapet (quote Aldiar "What is it with girls and shoes?"). Bikin keramaian di EsTeler 77 (people actually turn around and stare, and there was air of relief when we left the place), trus nyari foto studio yang ternyata baru buka jam 5. Yaah...

And if u think sebuah mobil kijang harusnya cukup untuk memuat 8 orang, well, gimana ya... Karena bagian belakangnya penuh sama barang-barang FM2U, pralon, selang, toolbox, tau deh apaan lagi yang membuat security yang meriksa pas kita dateng tersenyum. Pas cabut, giliran tukang parkirnya yang nyengir. Dua orang di depan dan enam orang di tengah, hehe, agak mempermalukan nama baik perusahaan nih (as di samping mobil ada tulisan: Colliers International-Facilities Management Mobile Unit) Pokonya kemaren menambah memorable pasedek-sedek experience gue jadi tiga. Dua yang pertama:

1. Dari Hotel Jayakarta-Dago (nikahan Mas Donny) ke rumah Mbak Rinso di Antapani gitu? 10 orang di katana-nya Shafiq, udah kaya kampanye ;P

2. Dari SMA 8 ke kampus, pas bazar8 taun 2001. Naik feroza-nya Johan, di depan Johan, gue, sama Milla gitu? (atau jangan-jangan gue doang? hehe, ini masalah hijab) Di belakang, hmmm, let me think. Seenggak-enggaknya ada enam orang dan jangan bayangin orangnya kecil-kecil kaya gue. Kalo gak salah Novin, Iman, Hendi, Bret, Arief, Bengbeng. Eh, Iman apa Aswin ya? Well, u imagine ;P
_________________
* Kadang-kadang gue gampang kepengaruhan sama gaya bahasa orang. Kayanya belum lama badu pakek bentuk kalimat yang mirip. Hehe, pinjem ya bud!