Setun. Lirik yang rock bang-get itu yang kaya gimana sih? Abis akhir-akhir ini suka denger lagu-lagu yang ngakunya rock dengan segala atributnya, tapi liriknya ményé-ményé. Gak kalah mendayu-dayu dari Nia Daniaty. FYI, untuk urusan musik gue termasuk oldschool banget, generasi MTV Classic yang menganggap music stop at '97 ;P
Abis udah seru ikutan Chester,
I've become so numb I can't feel you there
I've become so tired so much more aware
I'm becoming this all I want to do
Is be more like me and be less like you
Nngg... untuk lagu setereak-tereak itu liriknya asa gak matching.
Tapi gak cuma lagu sekarang sih. Gue pingin tau si Kang Eddie lagi patah hati sama siapa ya waktu nulis "Black" yang keterlaluan cengengnya itu (I know you'll be somebody else's sky but why, why can't it be mine...) The Rolling Stones punya "Angie" (But Angie, I still love you, baby Ev'rywhere I look I see your eyes)
Tapi emangnya lagu-lagu rock itu harus mengangkat tema yang berat-berat ya? Kayak perang, kekerasan, kritik sosial, hate-everything syndrome. Emang siapa yang ngeharusin ;)
Mungkin jawabannya ada pada lagunya Seurieus.
Rocker juga manusia
Punya rasa punya hati
Jangan samakan dengan pisau belati
Seken. Someone told me years ago, "Ran, lo tuh second bestfriend gue." Gue gak begitu ngerti artinya waktu itu. Sekarang juga enggak.
Terakhir ketemu dia, gue protes karena dia gak pernah mampir ke blog ini. Dia cuma nyengir. Hehe, maybe that's what I am to him, always the second :D
Kalo hape seken kan artinya hape bekas. Kalo temen seken? Temen bekas? Apa bedanya sama bekas temen? Kalo hape seken tuh, hape bekas tapi masih bisa dipake. Kalo bekas hape, mmm... once upon a time pernah berfungsi sebagai hape tapi sudah tidak lagi. Mungkin jadi ganjel lemari yang oyag atau buat ngabalédog cucunguk. Tapi kan masih berfungsi, cuma tidak sebagaimana seharusnya.
How many special people change
How many lives are living strange
Where were you while we were getting high
Someday you will find me
Caught beneath the landslide
In a champagne supernova in the sky
Oasis. "Champagne Supernova"
(lagu ini buat Jusi Imelda, I do hope that-wherever u are now-u're just allright)
Sepurcalifragilisticexpialidocious. Tadi siang liat statusnya Gitong di YM cuma kebaca setengah "apa yang tidak membunuhmu..." Gue tebak lanjutannya "...membuatmu lebih kuat." "What doesn't kill you makes you stronger."
Trivia nih. Kalo gak salah di Friends episode 1 season 1, Phoebe nyanyi lagu "My Favourite Things" untuk menghibur Rachel. Di finale episode, Phoebe bilang "this is like in the musical" dan mulai menyanyi dan mulai merasa seperti keluarga Von Trapp. Hmmm, tolong dikoreksi kalo salah.
Enak kali kalo hidup kaya di musical. Lagi bingung mo ngomong apa, tinggal nyanyi "Supercalifragilisticexpialidocious!" (Mary Poppins). Lagi sedih tinggal nyanyi, "Girls in white dresses and blue satin sashes," (The Sound of Music). And everything will be allright (walopun kalo nonton Dancer in The Dark, lagu "My Favourite Things" itu jadi lagu sedih ding ;)
Senja. Tadi ketemu Anto di dukuh. Mmm...aneh juga baru ketemu sekarang. Tapi gue juga gak tiap hari ke dukuh sih.
Senja di Jakarta sekarang berarti hujan dalam berbagai gradasi. Gak siap payung di tas berarti siap-siap kebasahan. Hujan juga bikin mood jadi sendu. Mellow.
Hujan juga menghilangkan satu scene favorit gue. Kalo lagi melintas di Medan Merdeka Selatan ke arah barat, gue seneng liat matahari bulat merah bergerak pelan di belakang Gedung BI. Biasa? Well, itu satu-momen yang gue suka dari hari gue.
What's yours?
30 November 2004
29 November 2004
Let's go away for a while
You and I
To a strange and distant land
Where they speak no word of truth
But we don't understand anyway
Holiday
Far away
to stay
Weezer - "Holiday"
Pernah gak ngalamin kejadian kayak gini? Lo terpaksa harus nginep di rumah temen lo, trus ketika nyampe rumahnya, di rumah itu lagi ada kesibukan kaya mo bikin pesta kecil gitu, and... waddaya know, the next day was your friend's engagement!
Tapi entah kenapa gue gak gitu kaget ya. Soalnya temen gue itu (untuk sementara pake term "temen gue" ya, soalnya kayanya bukan gue yang harus memberikan pengumuman) salah seorang manusia yang hidupnya paling "lurus" yang pernah gue kenal. I mean it as compliment. Pinjem istilahnya bubin, "seandainya hidup punya buku petunjuk", dia cocok dijadikan contoh soal ;) Anyway, congratz ya! Sooo happy for u and wish u all the best!
Yang jelas weekend di bandung kemaren pooollll banget! Just great! Pokonya asik banget! Blom puas rasanya tapi dah harus balik (mmm... i'm trying to explain something here tapi tidak jelas ya?)
Yang kesampean di bandung:
- halal bi halal di LFM
- proyek...mmm...negotiate a project (red pill-blue pill situation lagi neh *hiks*)
- ke rumah kopi (cozy place, great talks, dan musik latar peterpan: band sejuta umat)
- ke pizza hut (walopun seperti kata vira, pizza hut di jakarta juga ada. tapi dendam sih)
Yang gak kesampean:
- kencan sama e'ndut. gue ke bandung dianya ngapel ke jakarta. dasar!
- nonton virgin ;P
- ke omuniuum. gak sempet :( next time deh
Thanks buat semua orang yang sudah memberikan saya saat-saat menyenangkan kemarin :)
This is your last chance. After this, there is no turning back. You take the blue pill - the story ends, you wake up in your bed and believe whatever you want to believe. You take the red pill - you stay in Wonderland and I show you how deep the rabbit-hole goes.
Morpheus - "The Matrix" (Wachowski, Wachowski, 1999)
You and I
To a strange and distant land
Where they speak no word of truth
But we don't understand anyway
Holiday
Far away
to stay
Weezer - "Holiday"
Pernah gak ngalamin kejadian kayak gini? Lo terpaksa harus nginep di rumah temen lo, trus ketika nyampe rumahnya, di rumah itu lagi ada kesibukan kaya mo bikin pesta kecil gitu, and... waddaya know, the next day was your friend's engagement!
Tapi entah kenapa gue gak gitu kaget ya. Soalnya temen gue itu (untuk sementara pake term "temen gue" ya, soalnya kayanya bukan gue yang harus memberikan pengumuman) salah seorang manusia yang hidupnya paling "lurus" yang pernah gue kenal. I mean it as compliment. Pinjem istilahnya bubin, "seandainya hidup punya buku petunjuk", dia cocok dijadikan contoh soal ;) Anyway, congratz ya! Sooo happy for u and wish u all the best!
Yang jelas weekend di bandung kemaren pooollll banget! Just great! Pokonya asik banget! Blom puas rasanya tapi dah harus balik (mmm... i'm trying to explain something here tapi tidak jelas ya?)
Yang kesampean di bandung:
- halal bi halal di LFM
- proyek...mmm...negotiate a project (red pill-blue pill situation lagi neh *hiks*)
- ke rumah kopi (cozy place, great talks, dan musik latar peterpan: band sejuta umat)
- ke pizza hut (walopun seperti kata vira, pizza hut di jakarta juga ada. tapi dendam sih)
Yang gak kesampean:
- kencan sama e'ndut. gue ke bandung dianya ngapel ke jakarta. dasar!
- nonton virgin ;P
- ke omuniuum. gak sempet :( next time deh
Thanks buat semua orang yang sudah memberikan saya saat-saat menyenangkan kemarin :)
This is your last chance. After this, there is no turning back. You take the blue pill - the story ends, you wake up in your bed and believe whatever you want to believe. You take the red pill - you stay in Wonderland and I show you how deep the rabbit-hole goes.
Morpheus - "The Matrix" (Wachowski, Wachowski, 1999)
23 November 2004
"Little is sometimes BIG"
-vira-
"God works in details"
-badu-
Hari ini ada tiga hal yang bikin saya tersenyum.
Yang ketiga, di stasiun tanah abang sore-sore ada pengumuman "Kepada para penumpang jurusan Bogor dan Bekasi, harap menggunakan alat angkutan lain."
Yang kedua, berhasil nge-kick A***** dalam berbalas garing di telpon, "Hari gini gak punya pacar?" Hehe, kayak gue punya aja.
Yang pertama, lagi ngebalik-balik buku catetan di kantor dan di tanggal 29 Juli 2004 nemu tulisan kecil, "work smart, ok"
-vira-
"God works in details"
-badu-
Hari ini ada tiga hal yang bikin saya tersenyum.
Yang ketiga, di stasiun tanah abang sore-sore ada pengumuman "Kepada para penumpang jurusan Bogor dan Bekasi, harap menggunakan alat angkutan lain."
Yang kedua, berhasil nge-kick A***** dalam berbalas garing di telpon, "Hari gini gak punya pacar?" Hehe, kayak gue punya aja.
Yang pertama, lagi ngebalik-balik buku catetan di kantor dan di tanggal 29 Juli 2004 nemu tulisan kecil, "work smart, ok"
22 November 2004
Hari Ini Setaun yang Lalu (Atawa One Thing Lead to Another...and Another...and Another...)
Jam delapan pintu kamar saya udah diketuk. Blingsatan saya nyambar jaket dan kerudung.
"Mbak, mau pulang ke Jawa?"
Saya mengangguk agak bingung ke arah penjaga hotel separuh baya itu.
"Ada pesawat tambahan ke Sorong. Tadi orang di bandara telepon saya."
Saya gak sempat bingung lama-lama. Langsung saya iya-kan tawaran si bapak itu, memberi tau Pak Slamet--"anak buah" saya, dan packing secepat yang saya bisa. Untung dari kemarin-kemarin saya sudah bersiap untuk cabut kapan saja, walaupun nyaris tanpa harapan untuk dapat tiket. Dan akhirnya saya tinggalkan juga kamar empat kali empat meter dengan AC yang remote control-nya hilang itu.
Awalnya, mungkin, satu sesi kesra di warung steak boong-boongan di Jalan Sumatra, satu atau dua bulan sebelumnya. (Warung yang tidak direkomendasikan oleh Ibu Cicin tapi, hey, kita mementingkan kuantitas di atas kualitas. Lha wong makan steak-nya pada pakek nasi gitu loh...) Sebagai produser sebuah film pendek yang diproduksi satu setengah taun sebelumnya (buset deh...) saya merasa berkewajiban memberikan kesejahteraan kepada beberapa mulut kelaparan yang jadi kru saya.
Lalu Fajar-the-cameraman meng-SMS saya, memberitahukan bahwa seniornya di lab mencari anak TL untuk sebuah proyek di Papua. Saya mencatat dalam hati bahwa SMS itu secara tidak langsung berhubungan sebab-akibat dengan kesra tersebut di atas, karena saya sempat lama jadi kaum marjinal tidak ber-HP dan tanpa kesra itu Fajar nggak bakal tau nomer HP saya.
Itu kira-kira tanggal 6 atau 7 November 2003. Tanggal 13 November malam saya ada di penerbangan Jakarta-Jayapura, lalu Jayapura-Biak 16 November siang, dan akhirnya Biak-Fakfak, subuh 17 November.
Fakfak buat saya...kota kecil yang menyenangkan--in its own way. Mungkin karena saya tergila-gila dengan ide kota kecil, atau mungkin hanya menyenang-nyenangkan diri saya sendiri aja biar gak (terlalu) stres. Yang jelas, tidak seperti Jayapura yang kereng, saya bahkan berani jalan-jalan sendiri di malam hari. Orang-orangnya ramah. Yang disebut kota sebenarnya cuma seruas jalan tempat what-so-called hotel saya berada itu aja. Topografinya ekstrim banget, awfully hilly (yang menimbulkan masalah pada sistem distribusi air bersih, but we're not talking about that). Buat penggemar duren, Fakfak mungkin serasa surga. Saya yang gak suka duren cukup bahagia menemukan restoran chinese food yang bisa memasak dengan baik dan benar walaupun harganya cukup mahal, bahkan untuk ukuran Papua.
Masalah dengan Fakfak adalah, hard to come, even harder to go. Pesawat susah banget dan waiting list sangat panjang. Orang bisa berkelahi gara-gara rebutan tiket. Kenyataan itu yang harus saya hadapi ketika saya baru sampai. Point of no return.
Jangan salah. Seperti udah saya bilang, saya sih betah-betah aja di Fakfak. Hanya saja it was just few days before Lebaran, hari yang se-ndablek2-nya saya tetap aja sakral. Hari untuk dirayain bareng keluarga.
Saya tidak pernah merasa jadi orang yang terlalu religius. Secukupnya aja menurut standar umum. Mungkin kurang menurut standar orang berjilbab, kalau memang standarnya beda. Seorang teman malah pernah bilang saya kekiri-kirian justru ketika saya sedang merasa kekanan-kananan (yang kemudian membuat bingung, apa sih kiri dan kanan?). Tapi mungkin pengaruh bulan Ramadhan, saya cenderung memaknai hari-ini-setaun-yang-lalu dengan religius. Semacam Ramadhan miracle gitu.
Karena mendapat tiket tidak mudah. Pak Yulius (belakangan dari Afrie saya baru tau panggilannya Mas Tok), orang Toraja nan halus dan baik hati yang kebagian sial harus nyariin tiket buat kita itu bahkan sampai melobi ketua DPRD segala. Sementara batin saya perang. Dapet tiket berarti ngembat tiket orang lain. Kasarnya mencuri, atau setidaknya, mengambil yang bukan hak. Walaupun sama-sama bayar dan mungkin bahkan lebih. Sementara itu seingat saya baik di Quran maupun hadits nggak ada perintah untuk merayakan Idul Fitri sama orang tua. Tapi toh saya ingin pulang.
Jadi ketukan pintu di pagi hari itu benar-benar terasa seperti keajaiban. Bukan saja karena ada pesawat, tapi juga karena pesawat itu pesawat tambahan, artinya di luar jadwal rutin, artinya saya tidak mencurangi jatah siapapun. Artinya saya bisa pulang dengan hati enteng. Sepanjang jalan dari hotel ke bandara, selama menunggu pesawat, dan hingga akhirnya naik ke pesawat dan take-off, saya masih berdoa, takut ada apa-apa. Rasanya saya baru bisa bernafas lega ketika sore harinya, di Sorong, saya akhirnya menggenggam tiket ke Jakarta.
Ternyata "naif" tidak selalu membawa ketidakberuntungan (tapi juga platinum album--aduh!maaf, tolong hentikan saya mulai garing)
(posting ini dibuat untuk mengingatkan saya jikalau kapan-kapan ngalamin perjalanan jeprut lagi)
Jam delapan pintu kamar saya udah diketuk. Blingsatan saya nyambar jaket dan kerudung.
"Mbak, mau pulang ke Jawa?"
Saya mengangguk agak bingung ke arah penjaga hotel separuh baya itu.
"Ada pesawat tambahan ke Sorong. Tadi orang di bandara telepon saya."
Saya gak sempat bingung lama-lama. Langsung saya iya-kan tawaran si bapak itu, memberi tau Pak Slamet--"anak buah" saya, dan packing secepat yang saya bisa. Untung dari kemarin-kemarin saya sudah bersiap untuk cabut kapan saja, walaupun nyaris tanpa harapan untuk dapat tiket. Dan akhirnya saya tinggalkan juga kamar empat kali empat meter dengan AC yang remote control-nya hilang itu.
Awalnya, mungkin, satu sesi kesra di warung steak boong-boongan di Jalan Sumatra, satu atau dua bulan sebelumnya. (Warung yang tidak direkomendasikan oleh Ibu Cicin tapi, hey, kita mementingkan kuantitas di atas kualitas. Lha wong makan steak-nya pada pakek nasi gitu loh...) Sebagai produser sebuah film pendek yang diproduksi satu setengah taun sebelumnya (buset deh...) saya merasa berkewajiban memberikan kesejahteraan kepada beberapa mulut kelaparan yang jadi kru saya.
Lalu Fajar-the-cameraman meng-SMS saya, memberitahukan bahwa seniornya di lab mencari anak TL untuk sebuah proyek di Papua. Saya mencatat dalam hati bahwa SMS itu secara tidak langsung berhubungan sebab-akibat dengan kesra tersebut di atas, karena saya sempat lama jadi kaum marjinal tidak ber-HP dan tanpa kesra itu Fajar nggak bakal tau nomer HP saya.
Itu kira-kira tanggal 6 atau 7 November 2003. Tanggal 13 November malam saya ada di penerbangan Jakarta-Jayapura, lalu Jayapura-Biak 16 November siang, dan akhirnya Biak-Fakfak, subuh 17 November.
Fakfak buat saya...kota kecil yang menyenangkan--in its own way. Mungkin karena saya tergila-gila dengan ide kota kecil, atau mungkin hanya menyenang-nyenangkan diri saya sendiri aja biar gak (terlalu) stres. Yang jelas, tidak seperti Jayapura yang kereng, saya bahkan berani jalan-jalan sendiri di malam hari. Orang-orangnya ramah. Yang disebut kota sebenarnya cuma seruas jalan tempat what-so-called hotel saya berada itu aja. Topografinya ekstrim banget, awfully hilly (yang menimbulkan masalah pada sistem distribusi air bersih, but we're not talking about that). Buat penggemar duren, Fakfak mungkin serasa surga. Saya yang gak suka duren cukup bahagia menemukan restoran chinese food yang bisa memasak dengan baik dan benar walaupun harganya cukup mahal, bahkan untuk ukuran Papua.
Masalah dengan Fakfak adalah, hard to come, even harder to go. Pesawat susah banget dan waiting list sangat panjang. Orang bisa berkelahi gara-gara rebutan tiket. Kenyataan itu yang harus saya hadapi ketika saya baru sampai. Point of no return.
Jangan salah. Seperti udah saya bilang, saya sih betah-betah aja di Fakfak. Hanya saja it was just few days before Lebaran, hari yang se-ndablek2-nya saya tetap aja sakral. Hari untuk dirayain bareng keluarga.
Saya tidak pernah merasa jadi orang yang terlalu religius. Secukupnya aja menurut standar umum. Mungkin kurang menurut standar orang berjilbab, kalau memang standarnya beda. Seorang teman malah pernah bilang saya kekiri-kirian justru ketika saya sedang merasa kekanan-kananan (yang kemudian membuat bingung, apa sih kiri dan kanan?). Tapi mungkin pengaruh bulan Ramadhan, saya cenderung memaknai hari-ini-setaun-yang-lalu dengan religius. Semacam Ramadhan miracle gitu.
Karena mendapat tiket tidak mudah. Pak Yulius (belakangan dari Afrie saya baru tau panggilannya Mas Tok), orang Toraja nan halus dan baik hati yang kebagian sial harus nyariin tiket buat kita itu bahkan sampai melobi ketua DPRD segala. Sementara batin saya perang. Dapet tiket berarti ngembat tiket orang lain. Kasarnya mencuri, atau setidaknya, mengambil yang bukan hak. Walaupun sama-sama bayar dan mungkin bahkan lebih. Sementara itu seingat saya baik di Quran maupun hadits nggak ada perintah untuk merayakan Idul Fitri sama orang tua. Tapi toh saya ingin pulang.
Jadi ketukan pintu di pagi hari itu benar-benar terasa seperti keajaiban. Bukan saja karena ada pesawat, tapi juga karena pesawat itu pesawat tambahan, artinya di luar jadwal rutin, artinya saya tidak mencurangi jatah siapapun. Artinya saya bisa pulang dengan hati enteng. Sepanjang jalan dari hotel ke bandara, selama menunggu pesawat, dan hingga akhirnya naik ke pesawat dan take-off, saya masih berdoa, takut ada apa-apa. Rasanya saya baru bisa bernafas lega ketika sore harinya, di Sorong, saya akhirnya menggenggam tiket ke Jakarta.
Ternyata "naif" tidak selalu membawa ketidakberuntungan (tapi juga platinum album--aduh!maaf, tolong hentikan saya mulai garing)
(posting ini dibuat untuk mengingatkan saya jikalau kapan-kapan ngalamin perjalanan jeprut lagi)
20 November 2004
Kamar saya lagi, berantakan-banget-minta-diberesin. Sudah 3 jam 29 menit sejak saya menggeser sofa one-seater saya ke depan "instalasi" laptop-adaptor-kabel telpon ini. Sekitar 15 jam setelah kembali dari perjalanan terlunta-lunta di bis bukan-eksekutif Wonogiri-Solo-Jakarta. 19 jam (terhitung sejak menunggu di pool Jalan Veteran, Solo) yang menguji rasa humor saya, sebagian berkenaan dengan "hari-hari gini" setaun yang lalu (saya punya cerita lagi, tapi belum sekarang).
Saya orangnya panikan. Orang-orang yang kenal dekat saya seharusnya tau. Tapi saya cenderung panik sendiri. Artinya kalo ada orang lain yang sudah duluan panik, saya malah cenderung tidak panik. Hehe, gimana ya. Ya pokoknya gitu.
Ini ada hubungannya dengan sebuah pesan singkat hari Senin 15 November malam dari +6281808649xxx, yang intinya menyuruh saya mengakses website sebuah lembaga pemerintah untuk melihat apakah nama saya ada di situ atau tidak sebagai salah seorang yang "lolos prakualifikasi untuk mengikuti tes tertulis". Saat itu saya baru sampai di Solo dan karena malam sebelumnya saya baru saja melihat website tersebut (dan menemukan nama saya), saya tidak merasa harus mencari warnet dan mengikuti anjuran SMS tersebut. Dan ketika akhirnya saya buka website-nya, sekitar dua setengah jam yang lalu, saya baru tau kalo saya seharusnya mendaftar pada hari Jumat 19 November 2004 pukul 08.00-09.30. Tepatnya ketika saya masih mengulek bawang merah-bawang putih-merica untuk sop iga masakan nyokap di rumah eyang saya di Solo.
Karena tadi belum ada teman yang panik, maka jadinya sayalah yang panik. Panik yang beda-beda tipis dengan kesal, karena sebenarnya akal sehat saya sudah memberi tau bahwa nggak mungkinlah 4489 orang bisa hadir di Jakarta pada hari Kamis-Jumat kemarin di hari-hari libur dan semua moda transportasi fully-booked seperti ini. Ditambah pikiran bahwa saya belum mengajukan cuti untuk hari Rabu dan gara-gara ini saya harus minta ijin keluar kantor hari Senin besok. Tapi nyokap tercinta mengingatkan saya bahwa biar gimanapun saya masih jauh lebih beruntung dibandingkan banyak orang. Gimana dengan mereka yang tinggal di (atau mudik ke) Makassar atau Palembang? Saya masih beruntung mudik cuma ke Solo. Tinggal pun di Serpong saja dan kerja di daerah Thamrin, cuma setengah jam ber-taksi ke Gatot Subroto. Jadi mikir, kalo saya jadi apply ke ESDM malah tinggal nyebrang jalan ;)
Ada hantu yang ikut saya mudik kemarin. Sialan bener. Hantu yang mengganggu ketika saya dalam perjalanan, menunggu nasi liwet, menyesap secangkir kopi, hingga menonton sinetron Menuju Puncak. Hari-hari tanpa internet dan siklus monoton makan-tidur (sesekali diselingi memelototi infotainment dan ejaan keriting Dibawah Bendera Revolusi Djilid Pertama) bikin hantu itu tambah rajin datang. Bahkan menyelinap di mimpi-mimpi saya. Sebelumnya nggak pernah!
Mudah-mudahan besok-besok dia nggak dateng lagi. Capek saya.
Saya orangnya panikan. Orang-orang yang kenal dekat saya seharusnya tau. Tapi saya cenderung panik sendiri. Artinya kalo ada orang lain yang sudah duluan panik, saya malah cenderung tidak panik. Hehe, gimana ya. Ya pokoknya gitu.
Ini ada hubungannya dengan sebuah pesan singkat hari Senin 15 November malam dari +6281808649xxx, yang intinya menyuruh saya mengakses website sebuah lembaga pemerintah untuk melihat apakah nama saya ada di situ atau tidak sebagai salah seorang yang "lolos prakualifikasi untuk mengikuti tes tertulis". Saat itu saya baru sampai di Solo dan karena malam sebelumnya saya baru saja melihat website tersebut (dan menemukan nama saya), saya tidak merasa harus mencari warnet dan mengikuti anjuran SMS tersebut. Dan ketika akhirnya saya buka website-nya, sekitar dua setengah jam yang lalu, saya baru tau kalo saya seharusnya mendaftar pada hari Jumat 19 November 2004 pukul 08.00-09.30. Tepatnya ketika saya masih mengulek bawang merah-bawang putih-merica untuk sop iga masakan nyokap di rumah eyang saya di Solo.
Karena tadi belum ada teman yang panik, maka jadinya sayalah yang panik. Panik yang beda-beda tipis dengan kesal, karena sebenarnya akal sehat saya sudah memberi tau bahwa nggak mungkinlah 4489 orang bisa hadir di Jakarta pada hari Kamis-Jumat kemarin di hari-hari libur dan semua moda transportasi fully-booked seperti ini. Ditambah pikiran bahwa saya belum mengajukan cuti untuk hari Rabu dan gara-gara ini saya harus minta ijin keluar kantor hari Senin besok. Tapi nyokap tercinta mengingatkan saya bahwa biar gimanapun saya masih jauh lebih beruntung dibandingkan banyak orang. Gimana dengan mereka yang tinggal di (atau mudik ke) Makassar atau Palembang? Saya masih beruntung mudik cuma ke Solo. Tinggal pun di Serpong saja dan kerja di daerah Thamrin, cuma setengah jam ber-taksi ke Gatot Subroto. Jadi mikir, kalo saya jadi apply ke ESDM malah tinggal nyebrang jalan ;)
Ada hantu yang ikut saya mudik kemarin. Sialan bener. Hantu yang mengganggu ketika saya dalam perjalanan, menunggu nasi liwet, menyesap secangkir kopi, hingga menonton sinetron Menuju Puncak. Hari-hari tanpa internet dan siklus monoton makan-tidur (sesekali diselingi memelototi infotainment dan ejaan keriting Dibawah Bendera Revolusi Djilid Pertama) bikin hantu itu tambah rajin datang. Bahkan menyelinap di mimpi-mimpi saya. Sebelumnya nggak pernah!
Mudah-mudahan besok-besok dia nggak dateng lagi. Capek saya.
15 November 2004
Lebaran di Puspiptek (Report buat Tining Seorang ;P). Biasa-biasa aja, kaya lebaran di tempat-tempat laen. Ada takbir, ada salat ied, ada petasan (jam sembilan malem!). Taun ini rame juga. Mungkin karena sudah banyak yang beranjak jadi "generasi tua" di sini sehingga tidak mudik tapi di-mudik-i (eh, ini bahasa bener-kah?). Mungkin banyak yang menghindari arus mudik seperti gue.
Ketemu Dee-J, Andrey, Foppa. Ade langsung pulang (malah ketemu di YM, cupu 'kali). Ketemu Ardi di rumah (yea... ini sih keterlaluan kalo gak ketemu).
Slanjutnya, agak seperti hari-minggu-biasa. Cuma menu pagi-siang-malem sama: ketupat-sambel goreng-opor ayam. Hey Ning, ada ketupat gak di sono? Rina bikin ketupat tuh ;)
Mentari. Mentari tidak menyala di sini. Huhu... Dari tadi siang something's wrong with Mentari-ku. Gak sopan sekali! IM3 aja ada sinyal gitu :(
Chat Board. Pengumuman pengumuman. Saya mo ganti chatboard nih. Salah satu alasannya adalah: gue sering ga bisa posting di chatboard gue sendiri! Cuma...yang lama-lama jadi keapus. Yea...kalo ada yang merasa ada sesuatu yang berharga di situ, dicatet-catet aja dulu. Mungkin ta' ganti mulei minggu depan.
Mudik. Hari ini saya mudik. Sungkem sama eyang tercinta (hiks, miss my late grandpa). Buat semua, dadah dulu ya... :)
Ketemu Dee-J, Andrey, Foppa. Ade langsung pulang (malah ketemu di YM, cupu 'kali). Ketemu Ardi di rumah (yea... ini sih keterlaluan kalo gak ketemu).
Slanjutnya, agak seperti hari-minggu-biasa. Cuma menu pagi-siang-malem sama: ketupat-sambel goreng-opor ayam. Hey Ning, ada ketupat gak di sono? Rina bikin ketupat tuh ;)
Mentari. Mentari tidak menyala di sini. Huhu... Dari tadi siang something's wrong with Mentari-ku. Gak sopan sekali! IM3 aja ada sinyal gitu :(
Chat Board. Pengumuman pengumuman. Saya mo ganti chatboard nih. Salah satu alasannya adalah: gue sering ga bisa posting di chatboard gue sendiri! Cuma...yang lama-lama jadi keapus. Yea...kalo ada yang merasa ada sesuatu yang berharga di situ, dicatet-catet aja dulu. Mungkin ta' ganti mulei minggu depan.
Mudik. Hari ini saya mudik. Sungkem sama eyang tercinta (hiks, miss my late grandpa). Buat semua, dadah dulu ya... :)
13 November 2004
Saya keabisan kata-kata indah taun ini. Jadi saya pinjam puisinya Bung Chairil aja ya.
Aku berada kembali. Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;
Semoga kita semua "berada kembali". Teramat banyak kesalahan. Tolong dimaafkan.
Selamat Idul Fitri 1425H.
Aku berada kembali. Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

Semoga kita semua "berada kembali". Teramat banyak kesalahan. Tolong dimaafkan.
Selamat Idul Fitri 1425H.
10 November 2004
Mbak Nina. Kemaren pagi begitu masuk gerbong 2 langsung melihat familiar face at unfamiliar place. Mbak Nina! Mau mudik, berangkat dari rumah kakaknya yang di batan. Hiks, hiks, orang-orang udah pada mudik saya masih saja bekerja :(
Polusi. Jakarta sudah terpolusi berat ternyata (hallow...rani, ke mana aja?). Naik ke atap ngeliat ke arah monas udah agak-agak nge-blur gitu, kaya berkabut. Padahal jaraknya gak nyampe lima ratus meter.
Bandung sih emisinya mungkin gak separah jakarta. Tapi bentuknya yang kaya mangkok itu gawat juga, because it traps dirty air. Dulu gue pikir yang parah tuh daerah bottom, lebak siliwangi dan sekitarnya. Tapi ngobrol sama orang swisscontact, yang parah tuh justru ke atas-atas sebangsanya dago atas, ciumbuleuit... hehe, ternyata...
Mungkin sudah saatnya mempertimbangkan untuk pake masker?
Sinetron. Sinetron bego? Gak aneh. Tapi ngomong-ngomong soal masker, I just want to add the list.
Pasien : "Saya masih harus pake masker dok?"
Dokter : "Maskernya boleh anda buang. Selamat, anda ternyata tidak menderita SARS."
Percakapan yang sudah cukup bodoh. And u think it happened in hospital? Nggak, ternyata. Dokternya di RS, pasiennya di rumah and they talked over telephone. Bagus ya, ada pasien terindikasi penyakit sangat berbahaya, airborne pula, boleh pulang sebelum ketauan penyakitnya. Nice...nice...
Email. Ini potongan email yang gue kirim ke temen gue. Hehe, cupu ya, mengutip email sendiri ;) Biarin, kita kan narsis.
gue sih orang yg berpikir bhw sesuatu yg lebih nyata terlihat manfaatnya drpd mudharat-nya, kerjain aja sih! drpd lo bingung dan malah ga dikerja2in. gw pernah ada di situ, di sebuah ruang-waktu ketika gue merasa "gue shalat harus jelas kenapa", "gue dzikir harus jelas kenapa". i spent hours with my friends in discussions titled "theology". itu berguna buat gue. tp kalo gue maksain jawabannya dan belum ketemu dan terus gue gak shalat, gue jd nanya ke diri gue sendiri, "gue males apa sok ilmiah?". diskusi itu salah satu cara nyari jawaban. cara lain, tanya sama yg nyuruh. tanya sama Allah. dan Dia jawab. pernah denger ayat ini, gue lupa persisnya "ketika kamu mendekat pada-Nya satu langkah, Dia mendekatimu lima langkah", something like that. dan sisanya adalah gue berperang dgn setan di diri gue. udah jelas2 tau harus shalat, ya shalat. jangan males dan berlindung di balik alasan "gue belum dapet esensinya"
Eh ralat, ternyata bukan ayat tapi hadits. Hehe, kalo bulan puasa omongannya jadi religius gini yak? ntah bulan depan ;P
“Jika ia manusia bertaqarrub (beribadah) kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia berataqarrub kepada-Ku satu hasta, maka Aku mendekat kepada-Nya satu depa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari.” (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At Tarmidzi, dan Ibnu Majah).
Parcel. Klien gue (sebut saja yang punya gedung) ngirim parcel ke bosnya caltex. Lampu duduk, guci, hiasan perak, estimasi gue sih sekitar 2,5 jutaan, tapi ntah juga ya. Eh, dibalikin. Keren juga. Yang jelas kemaren sore sibuk ngurusin tu parcel supaya dibalikin ke rumahnya bos. Kebetulan ada orang pusat yang mau balik (rumahnya bos dan kantor pusat di daerah kuningan), disuruh bawa. Tapi mobilnya sedan, gak bisa masuk tu parcel. Nelpon ke pusat si bos ngomel-ngomel lagi. "Harus dibawa sekarang, mau dikasiin pejabat!" Nah lu, dikasiin pejabat apa gak dibalikin lagi yak? ;P
Internet. Kacau ni internet, nyambung susah banget, sekalinya nyambung cuma 16.8 kbps. Buka google aja ga bisa.
Manglé. Kemaren-kemaren di kamar gue ada tiga kuntum melati layu. Dari sanggulnya Vira yang merit minggu kemaren (bukan vira tanka, vira kakak kelas smp gue). Nyokapnya Vira sendiri yang ngambilin dan ngasih buat gue. *sigh*
"Ya no la quiero, es cierto, pero tal vez la quiero.
Es tan corto el amor, y es tan largo el olvido."
(Neruda--whoelse?)
hey,wonderwall,kita masi temenan kan?
Polusi. Jakarta sudah terpolusi berat ternyata (hallow...rani, ke mana aja?). Naik ke atap ngeliat ke arah monas udah agak-agak nge-blur gitu, kaya berkabut. Padahal jaraknya gak nyampe lima ratus meter.
Bandung sih emisinya mungkin gak separah jakarta. Tapi bentuknya yang kaya mangkok itu gawat juga, because it traps dirty air. Dulu gue pikir yang parah tuh daerah bottom, lebak siliwangi dan sekitarnya. Tapi ngobrol sama orang swisscontact, yang parah tuh justru ke atas-atas sebangsanya dago atas, ciumbuleuit... hehe, ternyata...
Mungkin sudah saatnya mempertimbangkan untuk pake masker?
Sinetron. Sinetron bego? Gak aneh. Tapi ngomong-ngomong soal masker, I just want to add the list.
Pasien : "Saya masih harus pake masker dok?"
Dokter : "Maskernya boleh anda buang. Selamat, anda ternyata tidak menderita SARS."
Percakapan yang sudah cukup bodoh. And u think it happened in hospital? Nggak, ternyata. Dokternya di RS, pasiennya di rumah and they talked over telephone. Bagus ya, ada pasien terindikasi penyakit sangat berbahaya, airborne pula, boleh pulang sebelum ketauan penyakitnya. Nice...nice...
Email. Ini potongan email yang gue kirim ke temen gue. Hehe, cupu ya, mengutip email sendiri ;) Biarin, kita kan narsis.
gue sih orang yg berpikir bhw sesuatu yg lebih nyata terlihat manfaatnya drpd mudharat-nya, kerjain aja sih! drpd lo bingung dan malah ga dikerja2in. gw pernah ada di situ, di sebuah ruang-waktu ketika gue merasa "gue shalat harus jelas kenapa", "gue dzikir harus jelas kenapa". i spent hours with my friends in discussions titled "theology". itu berguna buat gue. tp kalo gue maksain jawabannya dan belum ketemu dan terus gue gak shalat, gue jd nanya ke diri gue sendiri, "gue males apa sok ilmiah?". diskusi itu salah satu cara nyari jawaban. cara lain, tanya sama yg nyuruh. tanya sama Allah. dan Dia jawab. pernah denger ayat ini, gue lupa persisnya "ketika kamu mendekat pada-Nya satu langkah, Dia mendekatimu lima langkah", something like that. dan sisanya adalah gue berperang dgn setan di diri gue. udah jelas2 tau harus shalat, ya shalat. jangan males dan berlindung di balik alasan "gue belum dapet esensinya"
Eh ralat, ternyata bukan ayat tapi hadits. Hehe, kalo bulan puasa omongannya jadi religius gini yak? ntah bulan depan ;P
“Jika ia manusia bertaqarrub (beribadah) kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia berataqarrub kepada-Ku satu hasta, maka Aku mendekat kepada-Nya satu depa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari.” (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At Tarmidzi, dan Ibnu Majah).
Parcel. Klien gue (sebut saja yang punya gedung) ngirim parcel ke bosnya caltex. Lampu duduk, guci, hiasan perak, estimasi gue sih sekitar 2,5 jutaan, tapi ntah juga ya. Eh, dibalikin. Keren juga. Yang jelas kemaren sore sibuk ngurusin tu parcel supaya dibalikin ke rumahnya bos. Kebetulan ada orang pusat yang mau balik (rumahnya bos dan kantor pusat di daerah kuningan), disuruh bawa. Tapi mobilnya sedan, gak bisa masuk tu parcel. Nelpon ke pusat si bos ngomel-ngomel lagi. "Harus dibawa sekarang, mau dikasiin pejabat!" Nah lu, dikasiin pejabat apa gak dibalikin lagi yak? ;P
Internet. Kacau ni internet, nyambung susah banget, sekalinya nyambung cuma 16.8 kbps. Buka google aja ga bisa.
Manglé. Kemaren-kemaren di kamar gue ada tiga kuntum melati layu. Dari sanggulnya Vira yang merit minggu kemaren (bukan vira tanka, vira kakak kelas smp gue). Nyokapnya Vira sendiri yang ngambilin dan ngasih buat gue. *sigh*
"Ya no la quiero, es cierto, pero tal vez la quiero.
Es tan corto el amor, y es tan largo el olvido."
(Neruda--whoelse?)
hey,wonderwall,kita masi temenan kan?
08 November 2004
I promised someone this posting. Sebenarnya ntah juga kenapa masih butuh penjelasan 'cause I did make looooong explanation (believe me, it's long) over YM. And I didn't know he logged out (hehe, siapa yang bego coba). I think I just need to scold at him.
The question was about jilbab, in relation with his girlfriend. Gue jawab menurut gue--for myself--jilbab itu wajib. Then he asked more explanation ("gak usah pake ayat"), and he added "menurut gue semua yang pake jilbab itu penipu." Hey...!
Sebelumnya gue jelaskan dulu, konteks percakapannya adalah gue lagi di Prapanca ngejar presentasi. It's really late, the day was quite tiring, I hadn't understand all the stuff for the next day's training. So I didn't pay a lot attention to the side statement (I was doing "electrical safety" on powerpoint, btw). But after a while, I just realized...
WOOOY! CUPET BANGET SIH TU PEMIKIRAN!!!
Really, that is so unfair. Lo boleh gak setuju dengan jilbab, lo boleh gak suka sama orang yang pake jilbab, but u can't accuse someone's fraud or hypocrite just like that. Even if emang ada yang "penipu" (I don't really get this term, actually), lo kan gak bisa menggeneralisir semua orang! And I'm not saying this because I wear jilbab. Kalo lo bilang "semua yang pake rok mini itu penipu," gue tetep akan bilang lo cupet juga. (Why, why u always have to be extreme about everything? And u're a journalist now, how come u be so unreasonable and...biased?)
I think it's kinda tiring have to explain about this, because I know where u're at. But, hey, siapa tau ini bisa bikin puasa gue yang taun ini gak mutu banget jadi rada lumayan.
Jadi gini (my favorite line to start an explanation, innit?). Pakaian, punya tiga fungsi: proteksi, estetika, etika. Proteksi artinya melindungi dari sengatan matahari, tergores, masuk angin, hal-hal seperti itulah. Estetika artinya pakaian harus terlihat bagus, pantas (well, cut the grunge fashion out of this). Etika artinya pantas juga. Sopan. Dengan batasan yang mungkin berbeda dalam fungsi ruang dan waktu. That's why Islam memberi batasan yang kita kenal dengan nama aurat.
Kenapa harus dibatasi seperti itu? Ada banyak argumen sih. Yang ekstrim bilang supaya terlihat tidak menarik di depan cowok, jadi gak ada yang macem-macem. Ada juga yang bilang untuk menegaskan identitas sebagai seorang muslimah (hehe, jadi inget AACC suatu malam dan sali dan... Blue Velvet ya sal?). Lo pingin jawaban yang menyenangkan atau gimana? How about 'coz we're only human and that's what we do. Setting rules and guidances. Toh etika juga aturan. Melanggar demokrasi dan kebebasan berekspresi? Really... It's a choice. U go to a theme party, u follow the dress code. U chose Islam as ur religion, u take the whole package. Aduh! Kenapa gue jadi kaya yang fundamentalis gini ya?
Maksud gue, well, at first u should agree that batasan itu harus ada. Kalo nggak ya udah, perspektif lo sama gue dah beda. Hasta la vista baby. Tapi kalo lo sepakat bahwa batasan itu harus ada, pertanyaan selanjutnya adalah apakah dalam berpakaian ada batasan juga. Kata gue harus ada, karena berpakaian itu sebagian wilayah publik (tidak semata-mata privat).
Kalo ada cewek pake rok mini naik angkot dan terus sibuk sendiri narik-narik roknya (yang toh gak akan tambah panjang) sementara di depannya ada cowok yang dalam pikirannya perang antara pingin berpaling sama pingin melotot, yang salah siapa? Bingung kan? Gue sih gak mau nyalahin, cuma ngasih contoh bahwa pakaian itu wilayah publik.
Kalo pertanyaannya, kenapa batasannya begitu, I just can only guess. It's the safest, I think. Pengertian aurat tuh apa sih? Yang nafsuin kali ya? Manalah gue tau sampe segimana sebenarnya yang nafsuin itu, kan conditional juga. Kadang-kadang segini, kadang segitu. Ya ambil batas atas aja. Gitu kali. Tapi yang ini tebakan gue sih.
Kalo lo tanya gue, kenapa gue dulu memutuskan pake jilbab, sayangnya lo gak bakal dapet jawaban filosofis. I'm way too pragmatist, gue cuma--as I said--berkeyakinan bahwa itu wajib. That's all. Cuma masalah waktu aja. Tapi setelah gue pake, it feels right:
- People give a lil more respect. At least mengurangi orang yang iseng godain (altough some do change "hai cewek!" jadi "assalamu alaikum" dengan nada yang sama, tetap menyebalkan)
- Gue merasa lebih secure, lebih nyaman dengan diri sendiri, lebih bebas
Ah, screw! Susah ngejelasinnya. Jadi muter-muter ga jelas gini. Gue saranin lo baca buku ini deh, Pingkan, Sehangat Mentari Musim Semi. Ada penjelasan yang bagus di situ. I can't explain better than that. Kalo buat gue sendiri, as simple as that. It feels right.
Dan kalo ada yang menganggap jilbab gak wajib, jilbab wajib tapi belum siap, tapi belum ini belum itu, I totally respect. Tapi kalo lo emang ada di ekstrim yang lain, hormatin juga dong orang yang pake jilbab apapun alasan mereka.
Kalo lo bilang lo pingin cewek lo lepas jilbab dan lo tanya gue, u know where I'm at. But hey, it's ur life, ur girlfriend. Kalo dia mau, no business of mine. I just don't think that's right.
The question was about jilbab, in relation with his girlfriend. Gue jawab menurut gue--for myself--jilbab itu wajib. Then he asked more explanation ("gak usah pake ayat"), and he added "menurut gue semua yang pake jilbab itu penipu." Hey...!
Sebelumnya gue jelaskan dulu, konteks percakapannya adalah gue lagi di Prapanca ngejar presentasi. It's really late, the day was quite tiring, I hadn't understand all the stuff for the next day's training. So I didn't pay a lot attention to the side statement (I was doing "electrical safety" on powerpoint, btw). But after a while, I just realized...
WOOOY! CUPET BANGET SIH TU PEMIKIRAN!!!
Really, that is so unfair. Lo boleh gak setuju dengan jilbab, lo boleh gak suka sama orang yang pake jilbab, but u can't accuse someone's fraud or hypocrite just like that. Even if emang ada yang "penipu" (I don't really get this term, actually), lo kan gak bisa menggeneralisir semua orang! And I'm not saying this because I wear jilbab. Kalo lo bilang "semua yang pake rok mini itu penipu," gue tetep akan bilang lo cupet juga. (Why, why u always have to be extreme about everything? And u're a journalist now, how come u be so unreasonable and...biased?)
I think it's kinda tiring have to explain about this, because I know where u're at. But, hey, siapa tau ini bisa bikin puasa gue yang taun ini gak mutu banget jadi rada lumayan.
Jadi gini (my favorite line to start an explanation, innit?). Pakaian, punya tiga fungsi: proteksi, estetika, etika. Proteksi artinya melindungi dari sengatan matahari, tergores, masuk angin, hal-hal seperti itulah. Estetika artinya pakaian harus terlihat bagus, pantas (well, cut the grunge fashion out of this). Etika artinya pantas juga. Sopan. Dengan batasan yang mungkin berbeda dalam fungsi ruang dan waktu. That's why Islam memberi batasan yang kita kenal dengan nama aurat.
Kenapa harus dibatasi seperti itu? Ada banyak argumen sih. Yang ekstrim bilang supaya terlihat tidak menarik di depan cowok, jadi gak ada yang macem-macem. Ada juga yang bilang untuk menegaskan identitas sebagai seorang muslimah (hehe, jadi inget AACC suatu malam dan sali dan... Blue Velvet ya sal?). Lo pingin jawaban yang menyenangkan atau gimana? How about 'coz we're only human and that's what we do. Setting rules and guidances. Toh etika juga aturan. Melanggar demokrasi dan kebebasan berekspresi? Really... It's a choice. U go to a theme party, u follow the dress code. U chose Islam as ur religion, u take the whole package. Aduh! Kenapa gue jadi kaya yang fundamentalis gini ya?
Maksud gue, well, at first u should agree that batasan itu harus ada. Kalo nggak ya udah, perspektif lo sama gue dah beda. Hasta la vista baby. Tapi kalo lo sepakat bahwa batasan itu harus ada, pertanyaan selanjutnya adalah apakah dalam berpakaian ada batasan juga. Kata gue harus ada, karena berpakaian itu sebagian wilayah publik (tidak semata-mata privat).
Kalo ada cewek pake rok mini naik angkot dan terus sibuk sendiri narik-narik roknya (yang toh gak akan tambah panjang) sementara di depannya ada cowok yang dalam pikirannya perang antara pingin berpaling sama pingin melotot, yang salah siapa? Bingung kan? Gue sih gak mau nyalahin, cuma ngasih contoh bahwa pakaian itu wilayah publik.
Kalo pertanyaannya, kenapa batasannya begitu, I just can only guess. It's the safest, I think. Pengertian aurat tuh apa sih? Yang nafsuin kali ya? Manalah gue tau sampe segimana sebenarnya yang nafsuin itu, kan conditional juga. Kadang-kadang segini, kadang segitu. Ya ambil batas atas aja. Gitu kali. Tapi yang ini tebakan gue sih.
Kalo lo tanya gue, kenapa gue dulu memutuskan pake jilbab, sayangnya lo gak bakal dapet jawaban filosofis. I'm way too pragmatist, gue cuma--as I said--berkeyakinan bahwa itu wajib. That's all. Cuma masalah waktu aja. Tapi setelah gue pake, it feels right:
- People give a lil more respect. At least mengurangi orang yang iseng godain (altough some do change "hai cewek!" jadi "assalamu alaikum" dengan nada yang sama, tetap menyebalkan)
- Gue merasa lebih secure, lebih nyaman dengan diri sendiri, lebih bebas
Ah, screw! Susah ngejelasinnya. Jadi muter-muter ga jelas gini. Gue saranin lo baca buku ini deh, Pingkan, Sehangat Mentari Musim Semi. Ada penjelasan yang bagus di situ. I can't explain better than that. Kalo buat gue sendiri, as simple as that. It feels right.
Dan kalo ada yang menganggap jilbab gak wajib, jilbab wajib tapi belum siap, tapi belum ini belum itu, I totally respect. Tapi kalo lo emang ada di ekstrim yang lain, hormatin juga dong orang yang pake jilbab apapun alasan mereka.
Kalo lo bilang lo pingin cewek lo lepas jilbab dan lo tanya gue, u know where I'm at. But hey, it's ur life, ur girlfriend. Kalo dia mau, no business of mine. I just don't think that's right.
07 November 2004
Kemaren siang blusukan di Glodok, serasa sauna. Hmm, salah tempat ternyata. Dusit yak Ndrey? Minggu depan masih buka-kah? Ujung-ujungnya beli DVD juga. Hey, Budi, gue dapet si botak-sexy buat lo ;)
Abis dari situ ke Electronic City di SCBD. Saya kirain teh Electronic City tuh kaya BEC gitu, taunya segitu-gitunya doang yak? Tau gitu mendingan ke Ratu Plaza. Mana SCBD tuh benar-benar dirancang untuk orang yang bermobil ato minimal ber-taksi deh. Gue ke dalem kan pakek ojek, naa...keluarnya hanya tampak satu orang tukang ojek. Saya samperin, eh, doi ternyata sudah di-booking. Ya sudah, terpaksa jalan deh. Sebenarnya gak terlalu jauh sih. Cuma puasa-puasa gitu. Tapi ya mau gimana lagi?
Sambil jalan saya menetapkan empat parameter yang akan saya gunakan untuk menjawab pertanyaan "Am I the same Rani as I used to?" Sebenarnya sih pertanyaan ini belum ada yang nanyain (walopun pernah saya tanyain ke seseorang), tapi buat jaga-jaga aja siapa tau suatu saat butuh. Sebenarnya sebelum menetapkan parameter harusnya yang ditetapkan inisialnya dulu sih, Rani yang mana yang sudah atau belum berubah. Patokannya rada kabur, tapi kayanya dua taun ke belakang cukup aman. And the parameters are:
1. Apakah saya masih selalu membawa-bawa kopi sachet di tas
2. Apakah saya masih suka keluyuran ke mana-mana sendirian kaya kemaren
3. Apakah saya sudah bisa naik taksi dengan bebas untuk urusan pribadi (yang gak di-reimburse kantor ato pakek vocer)
4. Apakah saya sudah bisa belanja di Circle-K sebelum jam 9 malam
Kontemplasi (yeah, right) itu sukses mengantar saya ke pinggir Jalan Sudirman. Well, u know, CBD area is just about the right spot where you can expect to bump into someone's familiar face. Tapi kemaren tuh hari Sabtu gitu, when people should stay away from office area. Jadi saya tidak langsung ngeh mendengar nama saya dipanggil. Tapi ternyata beneran ada yang manggil, Fitri! Hehe, sori Fit. Fitri sama Andrey tentunya. Dan mau pulang. Hehe, lumayan banget daripada blusukan di 76 belum tentu dapet duduk. Lagian ada hiburan gangguin Andrey ;)
Jadi inget kata-katanya Aji, "Andrey udah besar." Hwahahahahahaha!
Kata-kata itu keluarnya minggu kemaren, pas jalan ke Karawaci. Udah lama juga gak jalan bareng, dan lebih lama lagi gak sama anak-anak cowo. (Hey, ngambil barang-barangnya Aji ke Depok itu Agustus taun kemaren ya?) Kemaren berdelapan aja sih, Ririn-the-birthday-girl (altough it's October 15, actually), Mia, Intan, Ira, gue, Aji, Fitri ma Andrey. Lumayan, forum yang jauh dari kuorum ini menghasilkan satu keputusan untuk bikin blok 97 di Puri Serpong. Ntar tetanggaan lagi kita ;P
Abis makan, keliling-keliling nemu CD Lightning Seeds di DutaSuara-yang-displaynya-asik-kaya-gudang-tea. 115 ribu, *sniph* Gak jadi aja deh... Mia nyari kompilasi yang ada Daniel Bedingfield-nyah. Ketemu sih. Pas diputer di mobil, well, that song is OK. But the next songs happen to be from our high school and even junior high days. Asa-asa, hmmm, some of the songs are OMG banget deh. Pelajaran hari ini, teliti sebelum membeli.
Anyway, thanks to Mia for not questioning when it's still raheut badly :)
Oh yeah, buat yang mau liat foto-foto nikahannya Rihsa-Reza, bisa klik di sini. Saya link abisan blog-nya Ibu Rihsa-saya-kan-menikah gak di-update2. Baik kan gue ;)
Selamat counting down ke liburan yak! Me, five more days...
Abis dari situ ke Electronic City di SCBD. Saya kirain teh Electronic City tuh kaya BEC gitu, taunya segitu-gitunya doang yak? Tau gitu mendingan ke Ratu Plaza. Mana SCBD tuh benar-benar dirancang untuk orang yang bermobil ato minimal ber-taksi deh. Gue ke dalem kan pakek ojek, naa...keluarnya hanya tampak satu orang tukang ojek. Saya samperin, eh, doi ternyata sudah di-booking. Ya sudah, terpaksa jalan deh. Sebenarnya gak terlalu jauh sih. Cuma puasa-puasa gitu. Tapi ya mau gimana lagi?
Sambil jalan saya menetapkan empat parameter yang akan saya gunakan untuk menjawab pertanyaan "Am I the same Rani as I used to?" Sebenarnya sih pertanyaan ini belum ada yang nanyain (walopun pernah saya tanyain ke seseorang), tapi buat jaga-jaga aja siapa tau suatu saat butuh. Sebenarnya sebelum menetapkan parameter harusnya yang ditetapkan inisialnya dulu sih, Rani yang mana yang sudah atau belum berubah. Patokannya rada kabur, tapi kayanya dua taun ke belakang cukup aman. And the parameters are:
1. Apakah saya masih selalu membawa-bawa kopi sachet di tas
2. Apakah saya masih suka keluyuran ke mana-mana sendirian kaya kemaren
3. Apakah saya sudah bisa naik taksi dengan bebas untuk urusan pribadi (yang gak di-reimburse kantor ato pakek vocer)
4. Apakah saya sudah bisa belanja di Circle-K sebelum jam 9 malam
Kontemplasi (yeah, right) itu sukses mengantar saya ke pinggir Jalan Sudirman. Well, u know, CBD area is just about the right spot where you can expect to bump into someone's familiar face. Tapi kemaren tuh hari Sabtu gitu, when people should stay away from office area. Jadi saya tidak langsung ngeh mendengar nama saya dipanggil. Tapi ternyata beneran ada yang manggil, Fitri! Hehe, sori Fit. Fitri sama Andrey tentunya. Dan mau pulang. Hehe, lumayan banget daripada blusukan di 76 belum tentu dapet duduk. Lagian ada hiburan gangguin Andrey ;)
Jadi inget kata-katanya Aji, "Andrey udah besar." Hwahahahahahaha!
Kata-kata itu keluarnya minggu kemaren, pas jalan ke Karawaci. Udah lama juga gak jalan bareng, dan lebih lama lagi gak sama anak-anak cowo. (Hey, ngambil barang-barangnya Aji ke Depok itu Agustus taun kemaren ya?) Kemaren berdelapan aja sih, Ririn-the-birthday-girl (altough it's October 15, actually), Mia, Intan, Ira, gue, Aji, Fitri ma Andrey. Lumayan, forum yang jauh dari kuorum ini menghasilkan satu keputusan untuk bikin blok 97 di Puri Serpong. Ntar tetanggaan lagi kita ;P
Abis makan, keliling-keliling nemu CD Lightning Seeds di DutaSuara-yang-displaynya-asik-kaya-gudang-tea. 115 ribu, *sniph* Gak jadi aja deh... Mia nyari kompilasi yang ada Daniel Bedingfield-nyah. Ketemu sih. Pas diputer di mobil, well, that song is OK. But the next songs happen to be from our high school and even junior high days. Asa-asa, hmmm, some of the songs are OMG banget deh. Pelajaran hari ini, teliti sebelum membeli.
Anyway, thanks to Mia for not questioning when it's still raheut badly :)
Oh yeah, buat yang mau liat foto-foto nikahannya Rihsa-Reza, bisa klik di sini. Saya link abisan blog-nya Ibu Rihsa-saya-kan-menikah gak di-update2. Baik kan gue ;)
Selamat counting down ke liburan yak! Me, five more days...
05 November 2004
Tadi Sueb (tukang-segala-macem-dan-kebetulan-pagi-ini-sedang-jualan-tahu) nunjukin jamur di halaman depan rumah gue. Seperti kata pepatah, bagaikan jamur di musim hujan, gitu. Ada beberapa gerombol yang menunggu disayur. Yumm!
Saya jadi inget Agi, temen jaman TK. Nyokapnya kerja di LIPI juga. Jadi dulu pulang sekolah (eh, TK sekolah bukan?) kita maen di kantor nungguin nyokap masing-masing pulang. Waktu itu jam kantor masih sampe jam 2. Maennya gagambaran, manjat-manjat pohon, dan ya itu, ngumpulin jamur. Dulu kompleks LIPI Cisitu belum kaya pabrik kaya sekarang. Bangunannya kecil-kecil dan familiar. In between-nya ada petak taman kecil-kecil. Dan menyenangkan. Sebenarnya dulu kadang-kadang ada Ardi Bagong juga, tapi dia mah TK-nya beda. Beda almamater gitu ;P
Eh, BTW, maafkan posting saya kemaren yang sepotong-potong. Ide datangnya diskrit euy ;P
"Taman yang paling indah, hanya taman kami
Taman yang paling indah hanya taman kami!
Tempat bermain, berteman banyak
Itulah taman kami taman kanak-kanak!"
(lagunya siapa ya? tolong dinyanyikan dengan suara se-cempreng mungkin)
Saya jadi inget Agi, temen jaman TK. Nyokapnya kerja di LIPI juga. Jadi dulu pulang sekolah (eh, TK sekolah bukan?) kita maen di kantor nungguin nyokap masing-masing pulang. Waktu itu jam kantor masih sampe jam 2. Maennya gagambaran, manjat-manjat pohon, dan ya itu, ngumpulin jamur. Dulu kompleks LIPI Cisitu belum kaya pabrik kaya sekarang. Bangunannya kecil-kecil dan familiar. In between-nya ada petak taman kecil-kecil. Dan menyenangkan. Sebenarnya dulu kadang-kadang ada Ardi Bagong juga, tapi dia mah TK-nya beda. Beda almamater gitu ;P
Eh, BTW, maafkan posting saya kemaren yang sepotong-potong. Ide datangnya diskrit euy ;P
"Taman yang paling indah, hanya taman kami
Taman yang paling indah hanya taman kami!
Tempat bermain, berteman banyak
Itulah taman kami taman kanak-kanak!"
(lagunya siapa ya? tolong dinyanyikan dengan suara se-cempreng mungkin)
04 November 2004
Di intisari bulan ini ada artikel soal AC untuk daerah tropis. Siaul! Harusnya gue ikutan seminarnya tuh, bulan september kemaren. tepat seminggu sesudah bom kuningan. gara-gara banyak kerjaan (yang salah satu penyebabnya adalah bom brengsek itu juga), jadi gak bisa dateng.
Ngomong2 soal bom kuningan, quote of the day:
"Agar lebih semarak saya usul agar bom KPU, bom Kuningan, dan bom di Kedubes Indonesia di Paris dimasukkan sekalian (ke dalam tuntutan), supaya seremnya lebih lengkap."
(Eksepsi Abu Bakar Ba'asyir atas tuduhan keterlibatan dalam kasus bom bali dan bom JW Mariott)
Ustadz, anda punya rasa humor yang hebat! :D
Ngomong2 soal bom kuningan, quote of the day:
"Agar lebih semarak saya usul agar bom KPU, bom Kuningan, dan bom di Kedubes Indonesia di Paris dimasukkan sekalian (ke dalam tuntutan), supaya seremnya lebih lengkap."
(Eksepsi Abu Bakar Ba'asyir atas tuduhan keterlibatan dalam kasus bom bali dan bom JW Mariott)
Ustadz, anda punya rasa humor yang hebat! :D
Vira nulis ini di blog-nya, "Whatever it is that you've experienced is what makes the today you." Kayanya lo pernah nulis ini juga sebelumnya ya Vir?
Jadi inget percakapan gue sama Budi Bokut (bukan budibadabadu) dengan topik garing "fungsi komputer apa yang pingin lo pindahin ke kehidupan nyata?" Budi adalah temen gue dengan sudut pandang yang sering kali gak konvensional (salah satu testimonial-nya di frenster bunyinya "a true artist stuck in an engineer's body"). Kemaren sabtu itu jawabannya "save". Jawaban gue sih standar aja, "undo".
Kalo soal undo, ada percakapan yang gak kalah garingnya sama Aryo, "seandainya hidup bisa di-undo." Aryo (a true artist stuck in...umm... an artist's body ;P) menunjukkan ke gue bahwa hidup bisa di-undo. Hanya gak seluruhnya. Sesuatu bakal hilang. Kayanya ini ada hubungannya sama hukum termodinamika (kalo ini sih gue yang bilang).
Ketika lo membolak-balik tulisan-tulisan bapuk di diary, membuka album foto lama, membaca SMS yang belum di-delete dari inbox, lo sedang meng-undo. Karena--sialan!--Budi benar ternyata. Hidup gak bisa di-save.
Life can be undone, but not completely. Maybe because it's suppose to move forward ;)
In the silk sheet of time
I will find peace of mind
Love is a bed full of blues
And I've got the blues for you
And I've got the blues for you
("I Got The Blues". The Rolling Stones)
Jadi inget percakapan gue sama Budi Bokut (bukan budibadabadu) dengan topik garing "fungsi komputer apa yang pingin lo pindahin ke kehidupan nyata?" Budi adalah temen gue dengan sudut pandang yang sering kali gak konvensional (salah satu testimonial-nya di frenster bunyinya "a true artist stuck in an engineer's body"). Kemaren sabtu itu jawabannya "save". Jawaban gue sih standar aja, "undo".
Kalo soal undo, ada percakapan yang gak kalah garingnya sama Aryo, "seandainya hidup bisa di-undo." Aryo (a true artist stuck in...umm... an artist's body ;P) menunjukkan ke gue bahwa hidup bisa di-undo. Hanya gak seluruhnya. Sesuatu bakal hilang. Kayanya ini ada hubungannya sama hukum termodinamika (kalo ini sih gue yang bilang).
Ketika lo membolak-balik tulisan-tulisan bapuk di diary, membuka album foto lama, membaca SMS yang belum di-delete dari inbox, lo sedang meng-undo. Karena--sialan!--Budi benar ternyata. Hidup gak bisa di-save.
Life can be undone, but not completely. Maybe because it's suppose to move forward ;)
In the silk sheet of time
I will find peace of mind
Love is a bed full of blues
And I've got the blues for you
And I've got the blues for you
("I Got The Blues". The Rolling Stones)
Bisa loh jalan dari kantor ke stasiun tanah abang (in other case, jalan ke bandung juga bisa ;P). Maksudnya kemaren pulang gue jalan kaki ke tanah abang, di tengah riuh-rendah kemacetan, paduan suara klakson, dan hujan rintik-rintik. Romantis deh. Sempurna untuk kontemplasi.
(Saya, yang mungkin mengambil keputusan tergesa-gesa tanpa memahami keseluruhan masalah padahal sudah diperingatkan untuk hati-hati, dan siang itu "terjadi" juga)
(Saya, yang mungkin mengambil keputusan tergesa-gesa tanpa memahami keseluruhan masalah padahal sudah diperingatkan untuk hati-hati, dan siang itu "terjadi" juga)
01 November 2004
Ada yang berminat baksos keliling-keliling jakarta? Bos gue forward proposal ini, kayanya asik juga.
Ikutan yuks (hehe, the truth is, gue gak boleh ikutan kalo gak ada temen yang gue kenal.sedikit sisi gak enak masih tinggal sama nyokap). Sori nih, mepet. Yang mau ikutan, calling-calling gue yak, ASAP :)
Ikutan yuks (hehe, the truth is, gue gak boleh ikutan kalo gak ada temen yang gue kenal.sedikit sisi gak enak masih tinggal sama nyokap). Sori nih, mepet. Yang mau ikutan, calling-calling gue yak, ASAP :)
Langganan:
Postingan (Atom)