30 Mei 2004

Kenapa ya hari ini, eh, kemaren (will I be stucked in this pattern--hari Sabtu yang sangat melelahkan, ketiduran dan kelewatan AFI, dan bangun jam dua pagi--forever?) gue kedempet-dempet seharian? Hehe... hiperbolis sih. Just twice, tapi karena pagi sama sore jadi kerasa seharian. Pagi-pagi ketinggalan KRL dong, jadi naek lansam. Gue udah bertaun-taun tuh gak pernah naek kereta bombay, until last Thursday (mmm, this is another what-so-called adventure journey, kapan-kapan gue cerita). Tapi itu kan malem, gak terlalu rame. Tadi, eh, kemaren pagi tuh gue ampe bingung, naeknya gimana? Mana berentinya cuma sebentar lagi. Tapi tadi tuh relatif "gak penuh" sih. At least masih ada yang nawarin gue duduk(!)

Talking about "penuh", sore-sore dong naek AJA Kampung Melayu-Cimone. Edan, itu mah nyaris gak bisa masuk in metromini way tea, stuck di tangga. Tapi akhirnya bisa rada ke dalem juga. Percaya deh, naek bis ini sambil bediri (dan tentunya naek bis-bis laen yang se-rute), you'll feel a little sensation of riding a roller coaster waktu naek ke jalan layang. Hihi... atau gue aja yang kampring yak? Tapi kalo naek mobil biasa gak pernah tuh.

Just heard about an old pal, stelah lebih dari setaun gak ada kontak. Gak ada yang penting sih. It just, he used to be one of my closest friend. Gue tau dia lagi punya masalah sama seorang temen gue yang laen, but it's got nothing to do with me. He's got my handphone number (I know someone did give him my number, ntah kalo ilang--it's so like him), he's got my email address (atau jangan-jangan dia ngimel ke account gue yang bapuk?). Gak tau deh. Dan akhirnya, mungkin, gak peduli juga.

Gue cuma takut gue tidak cukup jadi temen dia in his hardest time (or what I assumed as his hardest time). Karena gue sendiri lagi punya masalah waktu itu, which is ironically the opossite of his. I don't know if it's a guilt leads to ignorance or an ignorance leads to guilt.

Nyadar gak, posting ini banyak banget dalam kurung-nya?

27 Mei 2004

*sigh* Susah banget nyempetin nulis dua-tiga kalimat aja. It's not that I'm so f***in´ busy or anything, tapi emang kemarin-kemarin telpon keluar error sementara line Puspiptek as usual penuh banget, jadi gue tak bisa online at normal hour (ie. jam 8-10 malem gitu). Smentara untuk online jam-jam segini butuh effort berat melawan kantukh yang dateng satu paket. Belum lagi kondisi badan lagi gak fit dan cuaca gak bersahabat, membuat gue lebih rela meneruskan sembunyi di balik selimut.

Lagi bermasalah dengan pulang malam nih. Haha! Gak di Bandung gak di Jakarta. Masalahnya di sini gue gak bisa dengan kolokan bilang "Anterin pulang ya..." *DZIG!* Emangnya Ganesha-Ciumbuleuit? Sudirman-Serpong gitu lho...(OMG, ini Aldi banget seh!). Taksi? 50 rebu? Ngg... gak deh... not worthed with my salary ;P

Jadi inget kalimat ini:
"Orang berdasi pada kere-kere! Masa´ 5000*) aja patungan!"
(courtesy by an unknown taxi driver, told by Andrey)
Huahaha!

*)Sepanjang Sudirman-Thamrin dan sekitarnya sih gak aneh liat orang berdasi ngejar-ngejar metromini. Nah, taksi dari stasiun Dukuh ke Atmajaya aja sih paling tekor emang 5000. Kalo dibagi empat kan beda-beda tipis sama metromini. There ;)

23 Mei 2004

I don't want to share today, eh, yesterday (since I woke up at 2am) with anyone. So, what's the point of writing this? ;P

21 Mei 2004

Satu setengah bulan kerja di sebuah gedung yang setiap hari-I mean-SETIAP HARI (´cuali minggu, kali) ada pameran lukisan, baru hari ini gue bener-bener ngeliat pameran as back to Galeri Sumardja's days. Asik banget. Pamerannya "Indian Artists Network's Annual International Exhibition-2004" (panjang bener judulnya). Yup, pameran lukisan-lukisan dari India (bukan Indian!).

Kalo kata gue (yang pengalaman berkeseniannya mostly di Galeri Sumardja dalam kurun waktu 1997-2004), kebanyakan bagus-bagus. Ada yang biasa, ada yang bagus tapi biasa, ada yang gak bagus tapi gak biasa. "Gak biasa" means kerasa beda. Pinginnya sih bilang kerasa ´India´-nya, but I don't know India that much. Inget bumper MTV Non-Stop Hits? Ada yang secara visual kayak gitu (I don't know how to describe it in words). Ada yg secara filosofis (a***s*)! berat nih). Kasih contoh aja ya. Ada satu lukisan, judulnya kalo gak salah Nature Circle (Iya...ntar gue cek lagi. Pamerannya masih sampe Kamis kok). Gambar elemen-elemen alam dalam lingkaran-lingkaran sepusat. Gambarnya kayak sketsa gitu tapi kuat banget.

Ada dua pelukis yang langsung narik perhatian gue, Suhas Bhujbal dan Siddharth Parasnis. Gayanya mirip, cuma teksturnya sedikit beda. Dua-duanya mengingatkan gue sama cerita-ceritanya RK Narayan.
This is I found about them in a website.

Siddharth Parasnis en Suhas Bhujbal are originally from Pune (India) and have been inspired by rural areas of India, especially architecture (mud houses, backyards) and typical rustic utensils. Suhas and Siddharth are young emerging painters, currently pursuing M.F.A.´s at the Academy of Art College in San Francisco, California. They have found the similar kind of houses in the countryside of Mexico and Santa Fe, New Mexico (USA) which have given new direction to their paintings in America.

Just about right, I guess.

*)Sebuah kata yang tidak saya tulis lengkap demi kesopanan, tapi kalo di Bandung sih fungsinya kurang lebih sama dengan koma.

20 Mei 2004

Baru menamatkan Mantra Pejinak Ular, buku yang belinya gak sengaja ituh. A really nice book, altough not Kuntowijoyo's best. I haven't read much of his novel, actually. Di sini hero-nya agak terlalu obvious, terlalu beda dengan yang lain. Di cerpen-cerpennya, biasanya hero yang keluar adalah hero yang "hero", orang biasa-biasa aja yang bahkan tidak menjadi luar biasa juga. Hanya "sekedar" tokoh utama.

Tapi tetap buku yang sangat menyenangkan. Seperti biasa kita bisa menangkap "kesederhanaan" sebagai kekuatan. Dan ketika tadi malam gue naik kereta ekonomi terakhir dengan bangku yang sama sekali tidak ergonomis (just two piece of straight board, about 100 degrees edge), ngeliat orang-orang pulang, pedagang dari stasiun-ke-stasiun, karyawan, I don't know what else, masih juga ada pedagang-pedagang yang seperti biasa menawarkan jualannya (kali ini gak ada buku tafsir mimpi seharga seribu rupiah), Jakarta malam hari, liat aliran sungai bercampur limbah, apartemen-apartemen senayan-eh, gue mo ngomong apa sih? Ya... sebenarnya gue kagum aja sama orang-orang yang bisa menghayati dan mengamalkan satu kalimat Tuhan, "Fabiayyi alaa i´ Rabbiku maa tukaddzibaan" (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?), walaupun mungkin mereka nggak familiar dengan kalimat itu.

Mmm... ngelanturnya terlalu jauh kali ini :)

17 Mei 2004

Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Slamanya rasa ini
Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini...

(Project Pop)

I had a job interview last week. Di tengah-tengah wawancara tiba-tiba orangnya nanya, "Kenapa sih, kamu selalu me-refer ´teman-teman´ kamu?" Gue kaget, iya gitu?

Iya sih, gue bisa muterin MTA sampe kaki sakit, sama temen-temen gue. Gue bisa diskusi "teologi" sampe tengah malem. Gue paling males makan sendiri (apalagi "makan"). Gue selalu nyalain Y!Messenger kalo connect pake puspiptek.

Tapi gue menikmati saat-saat gue cuma ditemani secangkir teh dan sebuah novel. Dan gue bisa bilang "Tidak" kalo temen-temen gue ngajakin pergi dan gue lagi don't feel like it. Dan gue bisa pergi ke Pamulang atau Blok M atau Pasar Baru atau Cikapundung atau Tegallega sendiri (initial point Serpong atau Ciumbuleuit), kalo gue emang lagi pingin atau butuh.

So, is it really necessary to define what kind of person we are, in term of friendship? (Bagaimana kalo in term of friendster? Temen gue baru 42 neeh ;P

Yang jelas "hari ini" yang akan selalu gue ingat adalah Minggu, 8 Februari 2004. It's my last day in Bandung, and I spent it with truf, a cup of coffee, watching Keanu as either Bill or Ted, and, of course, my friends.

16 Mei 2004

Ugh! Bandung emang tempat yang paling tepat buat pemuja arogansi visual*). Gue udah muter-muterin ciputat ampe pegel (eh, ya gak se-ciputat sih, cuma sekitaran UIN ajah), gak nemu juga rentalan komputer yang bisa nge-print transparan. Damn!
Padahal di Bandung tuh ada rentalan yang gak nyediain program ms-word, program berjuta umat ituh. Nyediainnya cuma program-program grafis (iyalah, di luarnya jelas-jelas ditulis "Graphical Printing".

Ah, leganya weekend ini gak usah bawa HP helpdesk, gak usah nerima on-call, gak usah nelpon-nelpon FM2U, tapi tanpa extra-money ;)

Hari ini Widi yang tetangga-temen-SD-SMP-kuliah gue itu nikah sama Tyas yang tetangga-temen-SD-SMP. Oke deh, have a nice wedding... and marriage (which come first sih? ;P

Balik lagi ke muter-muter di ciputat, karena BT akhirnya gue masuk ke sebuah toko buku dan keluar dengan sebuah novel Kuntowijoyo. Hihi, padahal buku yang gue baca sekarang aja belum kelar-kelar dari Januari. Belum lagi pram-nya christy. Tapi Mbah Kunto emang top abis. Niatnya cuman skimming, sekarang dah bab-3 ;)

*)istilah yang dipake sama athun GTV, sayangnya, untuk ngomentarin Animatrix

09 Mei 2004

Nngg, ok, this is first posting. Pertanyaan: ada yang baca gak ya? Well, not much to tell selaen gue dari jam 10 tadi pagi berkutat di depan komputer, diselingi telepon2 "bisnis" dan ajakan maen (hehe... sori guys). Yup! This blog is officially published.

01 Mei 2004

000

widyarani, rani, a phlegmatic borderline-arian, enjoys her freshly brewed coffee with christopher brookmyre and sheila on7 radiohead, depend on the stars' position writes interchangeably in indonesian and english about things she bumps into both online and in real life, her quirky ideas, and bunch of her useless procrastinating logs.